NovelToon NovelToon
Bos Galak Jadi Papa

Bos Galak Jadi Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Single Mom / Pernikahan rahasia / Pernikahan Kilat / CEO / Romansa
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

"Lu ngapain tidur di samping gue?"

Gimana jadinya, kalau tiba-tiba bos mu yang galak kebangun di samping kamu tidur? Nggak kebayang, kan? Mana malah disalahpahami sama warga dan dikira udah berbuat mesum. itulah yang terjadi sama Galuh. Seorang single Mom yang berjuang untuk bertahan hidup. Yuk baca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15

Ranu hanya menatap punggung Galuh yang perlahan menjauh dari ruangannya.

Langkah perempuan itu terlihat biasa saja, tetap tenang seperti sekretaris profesional yang sudah bertahun-tahun bekerja dengannya. Namun entah kenapa, tatapan mata Galuh barusan terus terbayang di kepala Ranu.

Tatapan yang terluka.

Tatapan yang berusaha menyembunyikan sesuatu.

Dada Ranu mendadak terasa sesak.

"Pak?"

Suara Cindy membuyarkan lamunannya.

Perempuan itu masih berdiri di samping meja kerja Ranu dengan senyum yang menurutnya paling manis.

"Pak, nanti siang saya mau jelasin laporan pemasaran langsung sama Bapak ya. Biar lebih gampang."

Ranu mengalihkan pandangan.

Tatapannya dingin.

"Cindy."

"Iya, Pak?"

"Kamu tahu prosedur perusahaan?"

Cindy sedikit bingung.

"Tahu, Pak."

"Kalau tahu, kenapa kamu berkali-kali melewati atasan langsungmu?"

Senyum Cindy langsung memudar.

"Saya... saya cuma pengin pekerjaan cepat selesai."

"Itu bukan alasan."

Nada suara Ranu datar, tapi cukup membuat udara di ruangan terasa mencekam.

"Mulai hari ini, semua laporan kamu disampaikan ke kepala divisi dulu. Setelah beliau setujui, baru sampai ke meja saya."

"Tapi Pak...."

Belum sempat Cindy menyelesaikan ucapannya, Ranu sudah menekan tombol interkom.

"Tolong panggil Bu Ratih ke ruangan saya."

Tak sampai semenit, Ratih, kepala divisi pemasaran, masuk dengan wajah heran.

"Selamat pagi, Pak."

"Duduk."

Ratih menurut.

Ranu melipat kedua tangannya di atas meja.

"Bu Ratih, saya ingin meluruskan satu hal."

"Baik, Pak."

"Mulai sekarang, semua urusan Cindy yang berhubungan dengan saya harus melalui Ibu."

Ratih mengangguk pelan.

"Siap, Pak."

"Saya tidak ingin ada staf yang datang langsung ke ruangan saya tanpa koordinasi."

Ranu menoleh ke arah Cindy.

"Ini bukan soal saya tidak mau menerima laporan."

"Tapi soal etika."

"Kamu masih staf."

"Atasan langsungmu adalah Bu Ratih."

"Kalau kamu melewati beliau dan langsung datang ke saya, itu sama saja kamu tidak menghormati struktur perusahaan."

Cindy mulai salah tingkah.

"Tapi saya nggak bermaksud begitu, Pak."

"Maksudmu tidak penting."

Yang penting adalah sikapmu.

Ruangan mendadak sunyi.

Ratih sendiri ikut merasa canggung.

Ranu melanjutkan dengan suara tetap tenang.

"Saya tidak suka ada karyawan yang mencari perhatian dengan cara seperti ini."

Kalimat itu membuat wajah Cindy seketika pucat.

"Pak... saya...."

"Mulai sekarang jangan pernah masuk ke ruangan saya tanpa kepentingan yang benar-benar mendesak."

"Kalau ada laporan, lewat Bu Ratih."

"Kalau ada revisi, lewat Bu Ratih."

"Kalau ada pertanyaan, lewat Bu Ratih."

"Tidak ada pengecualian."

Air muka Cindy berubah merah padam.

Harga dirinya seperti diinjak.

Padahal di dalam hatinya, ia sudah membayangkan dirinya akan menjadi tunangan Ranu.

Kedua keluarga mereka bahkan sedang membicarakan rencana itu.

Lalu kenapa...

Kenapa Ranu memperlakukannya seperti orang asing?

Bahkan lebih dingin daripada kepada sekretarisnya sendiri.

"Tapi Pak...."

Ranu memotong.

"Kalau kamu merasa keberatan mengikuti aturan perusahaan, silakan ajukan surat pengunduran diri."

Cindy membelalak.

"Atau..."

Tatapan Ranu semakin tajam.

"Saya sendiri yang akan mengeluarkan kamu."

Tak ada sedikit pun nada mengancam.

Justru karena diucapkan dengan begitu tenang, kalimat itu terdengar jauh lebih mengerikan.

Cindy menunduk.

Dadanya sesak.

Ia ingin membela diri, tetapi tidak ada satu alasan pun yang bisa ia gunakan.

"Bu Ratih."

"Iya, Pak."

"Saya titip anak buah Ibu."

"Kalau sampai kejadian seperti ini terulang lagi, saya anggap divisi Ibu gagal mendisiplinkan staf."

Ratih langsung mengangguk.

"Maaf, Pak. Saya akan lebih memperhatikan lagi."

"Bagus."

Ranu kembali membuka laptopnya.

"Silakan kembali bekerja."

Ratih berdiri.

"Ayo, Cindy."

Namun Cindy masih terpaku.

Matanya berkaca-kaca menatap Ranu.

Berharap lelaki itu berubah pikiran.

Sayangnya...

Ranu bahkan tidak lagi melihat ke arahnya.

"Cindy."

Ratih menepuk pelan lengannya.

"Keluar."

Dengan langkah berat, Cindy akhirnya mengikuti atasannya keluar.

Begitu pintu tertutup.

Ranu mengembuskan napas panjang.

Ia menyandarkan tubuh di kursinya.

Lalu mengusap wajahnya pelan.

Entah kenapa.

Setelah semua itu selesai, rasa sesak di dadanya justru tidak berkurang.

Bayangan Galuh kembali muncul.

Wajah pucat perempuan itu.

Senyumnya yang dipaksakan.

Tatapan matanya yang seperti ingin menangis.

Ranu membuka mata.

Pandangannya langsung mengarah ke meja sekretaris.

Kosong.

"Ke mana dia?"

Biasanya kalau jam kerja seperti ini, Galuh tidak akan meninggalkan mejanya tanpa alasan.

Ranu berdiri.

Keluar dari ruangannya.

Matanya menyusuri lorong.

Saat melewati pantry kecil di dekat ruang sekretariat, langkahnya terhenti.

Dari balik pintu kaca, ia melihat sosok Galuh.

Perempuan itu berdiri membelakanginya.

Kepalanya tertunduk.

Bahu kecilnya tampak bergetar pelan.

Ranu langsung membuka pintu.

Brak.

Pintu kembali ditutupnya rapat.

Galuh sontak berbalik.

Matanya membesar.

"Pak...?"

Cepat-cepat ia mengusap pipinya.

Ranu berdiri di depan pintu.

"Kenapa nangis?"

Galuh menggeleng.

"Saya nggak nangis."

"Jangan bohong."

"Nggak, Pak."

"Kalau nggak nangis, kenapa mata kamu merah?"

Galuh memalingkan wajah.

"Tadi masuk debu."

Ranu mendekat satu langkah.

"Galuh."

"Saya baik-baik aja."

"Kamu bohong."

Galuh mengepalkan tangannya.

"Nggak ada apa-apa."

"Terus kenapa kamu sembunyi di sini?"

"Saya cuma mau istirahat sebentar."

Ranu menatapnya lekat.

"Apa karena Cindy?"

Pertanyaan itu membuat Galuh terdiam.

Beberapa saat kemudian ia menggeleng.

"Bukan."

"Lihat saya."

Galuh tetap menunduk.

"Lihat saya."

Perlahan Galuh mengangkat wajah.

Tatapan mereka bertemu.

Di sana Ranu melihat genangan air mata yang masih berusaha ditahan perempuan itu.

Ranu mengembuskan napas pelan.

"Galuh."

"Kita harus bicara."

Galuh langsung merasa tidak enak.

"Apa lagi yang mau dibicarakan, Pak?"

"Soal kita."

Kalimat itu membuat jantung Galuh berdetak lebih cepat.

Ranu merapatkan rahangnya.

"Dulu kita menikah karena kesalahpahaman warga."

"Hanya keluarga kamu dan saya yang tahu."

"Tidak ada orang lain."

"Termasuk seluruh karyawan di kantor ini."

Galuh menggigit bibirnya.

"Jadi..."

Ranu menarik napas panjang.

"Jangan terbawa suasana."

Air mata Galuh langsung menggenang lagi.

"Jangan terbawa perasaan."

Kalimat itu terasa seperti pisau yang menusuk tepat ke dadanya.

Ia memaksakan senyum kecil.

"Iya, Pak."

"Saya tahu."

"Saya sadar diri."

Galuh melangkah hendak melewati Ranu.

"Kalau nggak ada lagi yang dibicarakan, saya izin kembali bekerja."

Baru selangkah.

Pergelangan tangannya ditahan.

Galuh berhenti.

"Pak...."

"Jawab saya dulu."

"Saya sudah jawab."

"Belum."

Galuh berusaha menarik tangannya.

Namun genggaman Ranu justru semakin erat.

Tanpa sadar lelaki itu menarik tubuh Galuh hingga punggungnya menempel ke dinding pantry.

Napas Galuh langsung memburu.

"Pak Ranu..."

Ranu ikut terdiam.

Jarak mereka begitu dekat.

Sangat dekat.

Ia bisa melihat bulu mata Galuh yang masih basah oleh air mata.

Bisa mendengar napas perempuan itu yang mulai tidak beraturan.

Entah dorongan apa yang menguasai dirinya.

Padahal beberapa detik lalu ia sendiri yang meminta Galuh untuk tidak terbawa perasaan.

Namun saat melihat air mata itu, seluruh pertahanannya runtuh.

Tangannya terangkat, mengusap pelan sisa air mata di pipi Galuh.

"Pak..."

Suara Galuh nyaris berupa bisikan.

Belum sempat perempuan itu mengatakan apa pun, Ranu tiba-tiba menundukkan wajahnya.

Lalu membungkam bibir Galuh dengan ciuman yang dalam, seolah meluapkan seluruh emosi yang sejak lama ia pendam. Galuh membelalak, napasnya tercekat. Kedua tangannya refleks mencengkeram dada Ranu, sementara pikirannya benar-benar kosong, tak mampu memahami mengapa lelaki yang baru saja memintanya menjaga batas, kini justru menjadi orang pertama yang menghancurkan batas itu.

1
ᴍɪᴍɪ💋🅢🅐🅛🅢🅐🅑🅘🅛🅐👻ᴸᴷ
karyawan julid bukannya kerja malah ghibahin istri bosnya pula minta dihempaskan ke planet Mars kyaknya klo tau faktanya bakal nyesel tuhh mereka🤣
𝐈𝐬𝐭𝐲
Ranu omes...🤣🤣🤣
Sri Wahyuni
gaassss juga kak up nya😍
Cinta_manis: siap kak. tunggu ya🙏😍
total 1 replies
Sri Wahyuni
wah sudah dapat lampu Hijau....gasss Ranu 🤣
Cinta_manis: iya, tuh 🤭
total 1 replies
delis armelia
kirain udh mau gol gawang
Cinta_manis: 🤭🤭🤭 nanti ya kak
total 1 replies
Sastri Dalila
😅😅
Cinta_manis: makasih komennya kak🙏
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
pasangan yg bikin gemes🤣🤣
eh malah bumer udah minta mantunya cepetan hamil, ayo di gas ranu jgan kelamaan 😂😂
Cinta_manis: 🤭🤭🤭 iya tuh
total 1 replies
imel
pelan pelan Buu🤣🤣🤭
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
delis armelia
ayo ranu gol gawang
ᴍɪᴍɪ💋🅢🅐🅛🅢🅐🅑🅘🅛🅐👻ᴸᴷ
Wkwkwk mama Anggun langsung gercep to the point suruh bikin Galuh hamil setelah dijulidin mamanya Cindy emang bener sih harus buktikan ya Ma kalo anak Mama bibitnya premium sekali semburrr langsung jadi kembar nnti🥳
Kiki Sugiarti
bagus ceritanya saya suka
Cinta_manis: makasih kaka bintang 5nya😍
total 1 replies
sutiasih kasih
up banyak" thor
Cinta_manis: 😭😭😭tunggu ya kak. next time dicoba🙏
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor ceritanya bagus bgt aku suka..😍
Cinta_manis: makasih kak😍🙏
total 1 replies
sutiasih kasih
lanjutkan thor....
double up
Cinta_manis: heheh, tunggu ya, kak. doblenya🙏
total 1 replies
sutiasih kasih
ap g makin klepek" nntinya si Ranu.... dpt istri hatinya baiknya g ktulungan...
Cinta_manis: makasih komennya kak😍
total 1 replies
Sastri Dalila
👍👍
Cinta_manis: makasih kk🙏
total 1 replies
Rahma Lia
lanjut kesini setelah Yuda,,
Sastri Dalila
👍👍👍
Cinta_manis: cihuy! makasih bintang 5nya kak😍🫰
total 1 replies
Sastri Dalila
🤣🤣
Cinta_manis: kena juga si Ranu 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!