NovelToon NovelToon
Saat Asa Berkahir Duka

Saat Asa Berkahir Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:155
Nilai: 5
Nama Author: TastyTeaTime Time

Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

Sejak sampai di sekolah, ketiga gadis itu nampak tidak tenang. Mereka bolak-balik mengecek handphone yang sedari tadi berada di genggamannya, membuat sebagian murid lain kebingungan saat melihatnya.

"Prisha, Anaya, Laksha, kalian kenapa sih?" sergah ketua kelas membuat mereka menoleh ke belakang secara bersamaan. Mereka bertiga, sedang berdiri di depan kelas.

"Udah satu minggu, Valeska nggak ada kabar dan nggak masuk sekolah," jawab Prisha, dengan raut wajah murung.

"Ya iyalah, kan terakhir masuk, dia sakit. Memangnya kalian nggak ada inisiatif buat ke apartemennya?"celetuk seorang siswa bernama Bima.

"Kita udah pernah ke sana, Bim. Tapi, apart nya kosong, motor abangnya pun nggak ada di lobi atau garasi."

Laksha beranjak, membuat kedua temannya mendongak, menatapnya.

"Lo, mau ke mana?" tanya Anaya.

"Ke ruang guru, siapa tahu ada kabar tentang teman kita. Nggak mungkin seorang Valeska tiba-tiba seperti ini, gue nggak yakin kalau ini semua baik-baik saja."

Laksha berlalu, meninggalkan Anaya dan Prisha, yang masih setia berdiri di depan kelas. Anaya dan Prisha pun mengikutinya dari belakang. Sesampainya di depan ruang guru, mereka langsung masuk sembari mengucapkan salam.

"Eh kalian, ada perlu apa ke sini?" tanya seorang guru keagamaan. Bukannya menjawab, mereka malah menangis dengan kepala menunduk.

"Hei, anak-anak cantik, kalian kenapa? Kok seperti ini? Apakah kalian kena bully? Coba kasih tahu Ibu sekarang, siapa yang udah berani membully kalian."

Guru tersebut melemparkan sederet pertanyaan, dan hanya dibalas dengan gelengan kepala oleh mereka.

"Terus kalian kenapa?" Ketiganya menatap Bu guru dengan tatapan sendu.

"V-valeska Bu ... dia ke mana?" tanya Anaya, sedikit terbata-bata.

Guru itu pun terdiam sejenak, lalu mengeluarkan sebuah surat dari rumah sakit. "Teman kalian sedang dirawat, dan surat ini diberikan oleh dokter Rijal."

Dengan berat hati, dia berkata demikian.

"Dokter Rijal? Itu Ayah saya, Bu ..." isak tangis semakin terdengar.

"Ibu tahu Nak, dan dokter Rijal mengatakan kalau kabar ini jangan diberitahukan kepada kalian. Karena ini permintaan dari Valeska sendiri sebelum dia kritis,"

"Ibu nggak bohong'kan?" tanya Laksha, memastikan.

Bu guru hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.

"Teman macam apa kita ini?" pertanyaan itu keluar dari mulut Prisha.

Detik berikutnya, air matanya meluruhl ebih deras. Semua guru yang berada di sana, terlihat kebingungan. Sedangkan guru tersebut, membawa tubuh mereka ke dalam dekapan, mengusap surai milik gadis di dekatnya secara bergantian.

"Kalian jangan dulu ke sana ya, karena kalau kalian ke sana sekarang, takutnya semakin membuat pihak keluarga sedih."

***

Kaivandra dan Delina, berhenti tepat di depan ruangan ICU. Keduanya mengintip dari jendela kaca, terlihat seorang gadis yang kondisinya masih sama seperti hari kemarin. Kaivandra merangkul mamanya dengan kondisi tangan bergetar.

"Bang, adek belum ada perkembangan sama sekali,"

"Iya Ma, pasti di alam bawah sadarnya, adek sangat nyaman sampai lupa kalau di sini ada kita yang menunggu kehadirannya. Dan kata dokter Fahru, kondisi adek semakin tidak terkendali," jelas Kaivandra, membuat mamanya semakin merasa bersalah.

Delina melangkah menuju pintu masuk, dan hal itu pun disadari oleh Kaivandra. "Mama mau ke mana?"

"Mama mau peluk adek ..."

"Tapi adek belum bisa dijenguk. Nanti kita masuknya setelah mendengar arahan dari dokter ya, Ma ..."ucapnya, kemudian membawa sang mama ke tempat semula.

"Adek, cantiknya Mama ..." Delina berkata dengan tatapan lurus ke depan.

"Dek, maafin semua kesalahan Mama yaa ... Mama belum jadi orang tua yang baik, Mama belum memenuhi keinginan adek, tolong cepat pulih ya cantik, nanti kita ngumpul lagi seperti dulu."

"Ma ... maafin abang juga ya, abang menyembunyikan hal ini dari Mama atau Papa karena permintaan Adek sendiri. Abang tahu, ini salah. Tapi, abang juga nggak mau bikin adek sedih, abang egois. Coba saja kalau Mama dan Papa tahu dari awal vonis dijatuhkan, pasti Adek bakal berobat ke sana sini pakai uang kalian."

Kaivandra pun mulai menyesali, padahal ini semua bukan salah dirinya. Delina tersenyum hangat dan menghapus jejak air mata di pipi Kaivandra.

"Ini bukan salah abang juga, mungkin adek meminta abang untuk menutupi semuanya karena adek nggak mau bikin Mama khawatir."

"Abang ... kamu?" panggil seorang pria dewasa yang baru saja tiba. Keduanya menoleh ke belakang,

"Papa?" panggil Kaivandra dengan terkejut.

"Bukannya Papa ada meeting? Kok bisa ada di sini?" lanjutnya, masih heran.

"Papa nggak bisa fokus meeting, Bang. Pikiran Papa kacau, khawatir sama adek," jawabnya pelan, suara penuh kekhawatiran.

"Mumpung kalian ada di sini, abang ingin mengungkapkan sesuatu. Ini salah satu impian adek sejak lama," kata Kaivandra sambil mengajak orang tuanya duduk.

"Tapi kenapa harus itu, bang?" tanya Girga.

Setelah mendengar penuturan dari putra sulungnya, Girga terdiam, air matanya menetes tanpa bisa dibendung. Pria yang dulu tampak begitu gagah, kini seolah rapuh mudah terisak. Kata-kata kasar pun sering keluar dari mulutnya saat kesal dengan diri sendiri, terutama tentang kesalahan yang dirasakan terhadap anak-anaknya.

"Adek memang meminta itu, Pa. Sederhana, tapi kenapa sulit diwujudkan? Setiap manusia pasti pernah khilaf, atau melakukan dosa. Mungkin ini saatnya kita semua menerima, dan berusaha untuk bersatu dalam versi yang lebih baik versi yang bisa menerima satu sama lain," ujar Kaivandra, yang kalimatnya membuat kedua orang tuanya tersentuh.

Dengan perlahan, Kaivandra berlutut di depan mereka. "Adek ingin kalian rujuk, bukan hanya karena keinginannya semata. Mungkin ini juga jalan Tuhan untuk menyatukan kembali hati kalian. Buktinya apa?Mungkin ini adalah teguran dari Tuhan, untuk menunjukkan bahwa kalian masih bisa bersama."

"Bang, Mama mau ke kantin dulu ya, ada yang harus dibeli," ucap Delina, yang kemudian berdiri dan pergi, seolah mencari alasan untuk menghindari ketegangan yang terasa semakin menggigit.

Sementara Girga menunduk sejenak, sebelum dengan cepat mengalihkan pembicaraan. "Abang kenapa nggak masuk kuliah? Bolos lagi? Ingat bang, uang UKT mahal. Kuliah itu harus serius."

Kaivandra menatap ayahnya dengan tajam, sedikit sindiran terdengar dalam suaranya. "Abang kuliah kok, Pa. Yang perlu diingat itu Papa, kerja yang benar. Kan katanya Papa suka bekerja."

***

Katanya, kebahagiaan itu milik orang yang pandai bersyukur. Namun hingga kini, Vikara, Arjuna, dan Satya masih menunggu kebahagiaan itu datang. Setiap hari mereka bersyukur, bahkan saat tugas kuliah membanjiri mereka. Kebahagiaan yang utuh, rasanya belum sepenuhnya milik mereka. Masuk ke universitas atau fakultas favorit, dan kelulusan pun harus mereka raih bersama-sama. Di rumah yang tampak begitu megah, Satya masih merasa kesal. Sementara kedua temannya, tetap terfokus pada laporan tugas mereka.

"Bang Sat ..." Tiba-tiba, Riko memanggil dari lantai dua. Satya tidak langsung menanggapi, karena masih asyik dengan tugas kuliahnya. Bukan karena tidak mendengar.

"Bang Sat, beliin es kepal milo yang ada di depan komplek."

Begitu mendengar permintaan keponakannya, Satya menoleh dan membelalakkan matanya. Tak lama, Riko yang berusia sepuluh tahun itu berlari menuruni anak tangga dan duduk di samping Satya.

"Minta apa tadi?" tanya Satya, dengan nada yang sedikit kesal.

"Es kepal milo, budek banget, sih!" jawab Riko sambil mencibir.

Sungguh, Riko memang anak yang tidak bisa menahan omelannya. Ia langsung menyambung.

"Kira-kira, bang Sat mau ngomong apalagi ya? Aku duga, dia mau ngomel." Ucapnya dalam hati, sambil menarik napas panjang dan menutup telinga.

Satya hanya menggelengkan kepala. "Nggak tahu diri! Lo masih sakit, cil! Orang sakit itu makan yang sehat-sehat, bubur, sayur, buah, bukan es kepal milo yang manis dan dingin gitu. Yang ada malah radang lo, makin lama sembuhnya!" Satya menyemprot dengan nada khas kekesalannya.

"Inget, seminggu ini yang ngurusin lo itu bokap sama nyokap gue. Ih, masih bocah aja udah nyusahin!"

Riko mencebikkan bibirnya. "Awas aja ya, bang, kalau lo ngomong kayak gitu terus."

"Huh! Perawakan cowok, tapi bibirnya kayak bibir tetangga," gerutu Riko sambil pergi dan duduk di sofa.

Vikara dan Arjuna yang mendengar pertengkaran antara Satya dan Riko hanya bisa menggelengkan kepala.Tak lama, mereka tertawa kecil. Tugas kuliah yang menggunung di depan mereka seolah terlupakan sesaat.

"Satya udah kayak ibu-ibu punya anak bandel, ya Jun?" bisik Vikara kepada Arjuna, sambil terkikik geli.

"Kasian juga Riko, kena omel terus tinggal di sini, nggak stress apa?" tanya Arjuna, tanpa sadar mengarahkan pandangannya pada Satya.

Satya langsung menatapnya tajam. "Baru stress, belum sampai gila," jawabnya datar.

Arjuna dan Vikara pun tertawa terbahak-bahak. Sementara itu, Satya kembali fokus pada laporannya, yang semakin mendekati batas waktu pengumpulan.

Di sisi lain, Riko tampak tenang, menonton sesuatu di layar ponselnya, sambil asyik memainkan spinner yang baru dibelikan oleh sang ayah.

Uhuk!

Tiba-tiba, Arjuna menerima pesan masuk dari Kaivandra. Isi pesan tersebut cukup mengejutkan dan membuat mereka akhirnya paham kenapa Kaivandra tidak hadir kuliah atau aktif di grup mereka selama satu minggu terakhir.

"Bang Sat, jangan mati dulu, abang belum beliin mobil remote buat Riko," canda Riko.

Satya mengabaikan ucapan keponakannya, dan raut wajahnya tiba-tiba berubah serius. "Guys, dengerin deh, katanya Valeska sedang kritis di ruang ICU. Jadi ... selama ini dia menemani adiknya di rumah sakit?"

Satya dan kedua temannya langsung berdiri, mata mereka membelalak tak percaya. Suara serak dalam voice note yang baru saja dikirimkan terasa seperti hal yang sulit mereka percaya.

"Valeska sakit apa? Waktu kita ke apartemennya, rasanya dia baik-baik aja, kan? Malah malamnya dia bilang lagi di Cakrawala. Tapi kok bisa begini?" tanya Arjuna dengan bingung.

"Yuk, kita ke rumah sakit sekarang!" ajak Arjuna, hampir tidak sabar dan Satya segera menahannya.

"Jangan dulu. Dia nggak ngizinin kita ke sana. Dia bilang, cukup doa yang kita kirimkan untuknya, biar Valeska cepat pulih. Valeska sempat sadar sehari, tapi sekarang kembali tak sadarkan diri."

Mereka pun mengangguk paham. Satya kemudian mengajak untuk menyelesaikan laporan tugas kuliah terlebih dahulu. Setelah itu, baru beranjak ke lantai dua untuk melaksanakan shalat berjamaah, sekaligus mendoakan kesembuhan Valeska, berharap doanya dapat menguatkan dan menyembuhkan adik sahabat mereka yang sedang berjuang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!