NovelToon NovelToon
Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Orang Disabilitas
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: ELIYONA_5758

Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.

Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.

Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.

Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Den ....

"Lha, bukannya kamu ada rumah kontrakan ya?" Eko melangkah mendekat, menaruh rasa curiga pada gelagat sahabatnya yang tak biasa sejak pagi tadi.

"Iya. Tapi ... ada teman, kena masalah. Jadi aku membiarkannya tinggal sementara. Sampai dia dapat kos." Satya meletakkan kunci pas, menatap Eko dengan pandangan serius untuk menegaskan situasinya yang pelik.

"Kenapa nggak tinggal bareng?" pancing Eko, mencondongkan badannya ke depan dengan senyum penuh selidik.

"Cewek, Ko." Satya menghela napas pendek, memalingkan wajahnya yang cacat ke arah remang-remang sudut bengkel.

"Oh." Eko tersenyum menggoda.

"Cewekmu?" Ia menyenggol lengan Satya jahil, mencoba mencairkan ketegangan yang mendadak melingkupi obrolan keduanya.

"Bukan." Satya menggeleng. Matanya menatap lurus ke aspal, membayangkan senyum getir Melati yang terus membayangi pikirannya.

"Halah, iya lho juga nggak apa. Aku malah ikut senang." Eko terkekeh, memakai jaketnya dengan santai. “Masa iya, sekali saja kamu nggak pernah pacaran. Mana maen jadi laki.”

"Beneran bukan, Ko." Satya meyakinkan, meski dadanya bergemuruh menahan debaran aneh setiap kali mengingat nama gadis buta itu.

"Ya wes. Terserah kamu. Aku pamit dulu ya." Eko menepuk Satya, lalu berlalu, menuju motornya. Deru mesin motor Eko perlahan menjauh, meninggalkan keheningan yang mencekam di area bengkel.

Hingga jingga mulai ditelan gelap. Barulah suara deru mobil terdengar. Satya langsung bangkit dari kursi. Bersiap menghampiri. Namun, baru akan melangkah. Suara sumbang menahan.

"Jelek!"

Satya berhenti. Menelan ludah. Ia mematung di tempat, merasakan atmosfer bengkel mendadak berubah menjadi sangat dingin dan penuh intimidasi dari balik punggungnya.

"Ngapain jam segini masih di bengkel? Nggak pulang kamu?" bentak Rina ketus, melangkah maju dengan tatapan menghina. Tajam dan menusuk. Menuntut penjelasan dari pemuda buruk rupa.

"Jangan membentak Satya!" Seorang pria paruh baya, menghampiri. Menggertak Rina. Tatapannya nyalang, penuh emosi yang ditahan. Langkah kakinya yang berat berdegup kencang di atas lantai bengkel, memecah ketegangan malam.

"Kenapa sih, Bapak membela dia terus?" Rina menunjuk Satya tajam. "Dia cuma pria yatim piatu, Pak. Nggak usah segitunya sama dia." Wajah Rina memerah padam, urat-urat di lehernya menegang karena tak terima dipojokkan di depan si muka burik.

"Bapak nggak tahan lagi. Dengar Rina, Satya ini sebenarnya ...." Pak To mengepalkan tangannya kuat-kuat, napasnya memburu, siap membongkar intrik besar yang selama ini dipendamnya rapat-rapat.

"Pak To, sudah," sela Satya cepat. Mengalihkan wajah dari Pak To ke Rina. Ia menggeleng tegas, memberi isyarat mata agar rahasianya, tidak bocor ke telinga yang salah. "Saya belum pulang, karena menunggu Bapak menjemput Mbak Rina."

"Cih, mau apa kamu nunggu bapakku? Mau cari muka kamu?" tuding Rina dengan nada tinggi. Ia melangkah maju, menatap Satya dengan sejuta kejengkelan yang mendalam.

"Rina cukup!" Pak To membentak. Menunjuk ke arah mobil. "Kamu tunggu di mobil. Aku mau bicara sama Satya." Suara bariton Pak To menggelegar, membuat suasana remang bengkel terasa kian mencekam.

Rina mengeram. "Aku curiga Satya itu anak rahasia Bapak sama gundik. Dibelain terus," sungutnya. Wanita itu melirik tajam penuh selidik, mencoba mencari tahu konspirasi apa yang disembunyikan dua pria di hadapannya.

"Tunggu di mobil!" ulang Pak To setengah menggertak. Ia melangkah maju, memotong pergerakan putrinya dengan tatapan yang tak terbantahkan.

Rina menghentak tanah. Melangkah cepat menuju mobil. Masuk dan membanting pintu kasar. Suara dentuman pintu mobil itu menggema, meninggalkan keheningan yang sarat akan drama di sudut bengkel.

Pak To menghela napas. Menatap Satya. "Maafin anak Bapak, ya, Den." Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menaruh hormat yang teramat besar kepada pemuda di depannya.

"Pak, tolong jangan panggil saya Den. Saya bukan lagi juragan jenengan." Satya tersenyum kecil. Ia melangkah mendekati Pak To, menepuk pundak pria tua itu untuk menenangkan hatinya yang gundah.

"Jenengan masih Tuan saya." Pak To menggeleng pelan. Ada titik sendu di bola matanya. "Andai saya bisa membuka identitas jenengan." Ia mengepalkan tangan, merutuki ketidakberdayaannya sebagai mantan orang kepercayaan.

"Itu percuma, Pak. Toh, saya juga tidak akan bisa kembali lagi, ke rumah keluarga Utama. Saya ...." Satya mengusap titik bulirnya. " .... Saya hanya anak yang sudah dianggap mati." Ia membalikkan badan ke arah kegelapan jalan, meraba luka parut di wajahnya dengan kepedihan mendalam.

"Bapak jadi merasa tidak berguna, Den. Andai waktu itu Bapak nggak nurut Tuan Heru, pasti Den Satya masih ada di rumah itu," suara Pak To bergetar. Menahan tangis. Pria paruh baya itu meremas jemarinya sendiri, membayangkan kelicikan paman Satya yang merebut paksa harta keluarga Utama.

"Justru saya terimakasih sama Pak To. Kalau Pak To tidak membawa saya ke panti itu ... saya tidak akan kenal sama dia," sela Satya lembut. Tatapannya menerawang menembus temaram lampu bengkel, menghadirkan kehangatan di tengah intrik masa lalunya yang kelam.

"Dia siapa, Den?" tanya Pak To, mengernyitkan dahi seraya melangkah selangkah lebih dekat.

"Melati." Satya tersenyum kecil. Sudut bibirnya terangkat, menyembunyikan sejenak rasa minder atas cacat rupa di wajahnya.

"Ah, gadis cantik itu. Dia masih di panti kah?" Pak To mencoba mengingat-ingat, ketegangan di wajah tuanya sedikit menyurut.

"Tidak, Pak. Melati sekarang ada di rumah kontrakanku." Satya berbisik lirih, seketika membuat atmosfer di antara mereka kembali menegang.

"Apa? Kok bisa?" Pak To tersentak mundur, matanya membelalak panik membayangkan risiko besar yang mengintai.

"Dia lari dari pengejaran orang jahat. Bibinya ... mau menjualnya." Satya mengepalkan tangan kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan amarah yang membakar dada.

"Waduh. Harus lapor polisi ini, mah. Sudah masuk tindak kriminal." Pak To mengusap wajahnya yang mendadak pias, menyadari konspirasi kejam ini juga melibatkan nama besar Juragan Herwanto.

"Lapor juga butuh duit, Pak." Satya mendengkus getir. Ia memalingkan muka, menatap miris pada pakaian kerjanya yang bernoda oli.

"Iya juga sih." Pak To mengelus tengkuknya. "Bukan masalah uangnya. Lebih ke, kita kayak ikut campur yak." Pria tua itu melirik ke arah mobil putih di sudut ruangan, merasa tak berdaya.

"Karena itu. Saya minta izin tidur di bengkel selama Melati di rumah kontrakan." Satya memohon, menatap Pak To dengan penuh harap agar menyanggupi. Meski hampir mustahil.

"Ya gak bisa begitu, Den," sergah Pak To. "Nanti bisa jadi omongan tatangga kalau ada gadis, satu atap sama perjaka." Pak To menggeleng tegas, memikirkan kehormatan keduanya.

"Lalu bagaimana, Pak?" desak Satya panik, napasnya mulai memburu tegang.

"Antar balik aja, ke rumah saudaranya," tutur Pak To dengan logat sundanya. "Bukan nggak mengizinkan Den Satya tidur di bengkel. Hanya saja ... dilihatnya nggak pantas, pisan, euy." Pak To menepuk pundak Satya, memberikan petuah berat yang dilematis.

"Iya, juga sih, Pak. Nanti saya coba bicara sama Melati.”

“Saran saya. Antar pulang. Kasih paham sama bibinya. Supaya tidak melakukan tindakan kriminal. Kalau perlu … hehe … sebenarnya kalau Den mau satu atap itu mudah.” Pak To tersenyum menggoda.

“Maksudnya?” Satya mengerutkan keningnya.

“Ah, masa gitu aja nggak ngerti.” Pak To menautkan dua telunjuk, seakan kode. “Kalau mau serumah harus nikah dulu, mah. Baru ….”

“Siapa sih, Pak mau sama jejaka buruk rupa begini. Miskin pula.” Satya terkekeh getir. “Sudahlah. Sebaiknya memang saya bicara sama Melati.” Ia mengangguk, usai berpikir lama. Beban berat kini bergelayut di pundaknya demi keselamatan gadis buta itu. "Saya pamit, Pak."

"Hati-hati Den." Pak To melepasnya dengan pandangan cemas yang mendalam.

Satya berjalan. Menembus gelap malam. Menuju rumah kontrakan. Di bawah langit malam yang kian pekat, hatinya bergolak hebat. Tak tega harus melepas atau melindunginya, tapi harus menghadapi pandangan miring tetangga.

Suara ketukan terdengar, diiringi ucapan salam. "Asalamualaikum."

Melati begergas meraba. "Itu Satya." Ia berjalan dengan bantuan tongkat pancing pemberian Satya. Ujung tongkat itu mengetuk lantai semen dengan irama yang teratur, menuntun langkah ragunya di dalam kegelapan.

Sampai di pintu. Ia membuka. Embusan angin malam langsung menerpa wajahnya, membawa aroma tubuh Satya yang familier.

"Maaf, lama." Satya masuk. "Kenapa lampu nggak dinyalakan?" Sambil menekan saklar. Seketika ruangan remang itu menjadi terang benderang.

Satya kaget saat mendapati rumahnya dalam keadaan bersih. Kain-kain yang tadinya berserakan kini tertata rapi. "Kamu bisa bersih-bersih?"

"Iya, hehehe." Melati terkekeh. Ia menyandarkan tongkat pancingnya ke dinding, lalu menoleh ke arah sumber suara dengan senyum tulus. "Aku hanya mengerjakan sebisaku, Sat. Masa iya, sudah numpang malah leha-leha.”

"Aku malu, kamu jadi tahu kalau rumahku kotor." Satya tersenyum kikuk. Ia meraba luka parut di pipinya yang terasa perih di bawah sorot lampu, mendadak merasa sangat minder. Berhadapan dengan ketulusan dan kecantikan gadis di hadapannya.

1
Harsoemi Akm
lanjutksn
Hesty Gemini
lanjut, jangan lupa mampir ya di karya aku. 🙏
ELIYONA: makasih.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!