"Bagaimana setangkai mawar membalas dendam saat kelopaknya ditarik habis?"
Dicap kutukan karena berambut red wine dan bermata storm silver, Annaline diusir dan kamarnya dibakar oleh keluarga kandungnya. Namun, pelarian ke Imperium Aethelgard justru membangkitkan rahasia darah 400 tahun lalu: Thread Magic, sang Sihir Benang Takdir.
Bersama prajurit misterius bermata perak yang menyimpan otoritas tertinggi, Annaline mulai merajut jaring perang dan bisnis lewat butik barunya.
Siapakah pria itu sebenarnya? Dan rahasia kelam apa yang akan terkoyak saat sang putri terbuang mulai menarik benang kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SweetMoon2025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Pelukan Hangat Panglima
"Bertahanlah sedikit lagi, Anna. Pegang pundakku dan jangan pernah melepaskannya!"
Suara Aethan menggelegar di antara dentum reruntuhan Aula Agung. Petir perak di sekujur tubuhnya menyambar buas, merubuhkan pilar-pilar marmer untuk memblokir kepungan ratusan Ksatria Istana.
Kilatan perak itu melesat layaknya naga murka, menghantam barisan tameng baja musuh hingga hancur berkeping-keping. Udara dipenuhi hawa panas pembakaran dan bau besi yang pekat. Anna mencengkeram erat jubah hitam Aethan, sementara Mimi yang berada dalam wujud mistis raksasanya mengaum dahsyat, mengibaskan ekornya untuk mencerai-beraikan formasi musuh hingga para ksatria terpental ke dinding batu.
"Aku tidak akan melepaskannya, Tuan!" balas Anna setengah berteriak, jemarinya bergerak lincah merajut benang Mana merah anggur, membentuk jaring-jaring pelindung di sekitar mereka dari hujan anak panah sihir. Setiap kali anak panah beracun mendekat, benang magis Anna akan melilit dan memurnikan energinya dalam sekejap, menjatuhkannya menjadi abu di lantai.
Gideon yang kesakitan di sudut aula berteriak murka, memerintahkan pasukan cadangannya untuk mengepung jalan keluar. Namun, Aethan tidak memberi mereka celah. Dengan satu hentakan kaki yang menghancurkan lantai aula menjadi retakan raksasa, Aethan memeluk pinggang Anna, melompat menerobos langit-langit gedung yang runtuh. Mereka melesat menembus kegelapan malam Ibukota, meninggalkan kekacauan di istana dalam. Didukung oleh segelintir pasukan bayangan setianya, Aethan membawa Anna melarikan diri jauh ke pinggiran kota diikuti Mimi di belakangnya, menuju sebuah benteng rahasia militer bawah tanah yang tersembunyi di balik hutan pinus.
Begitu pintu besi benteng rahasia itu tertutup rapat dan terkunci oleh sihir pelindung, atmosfer yang menegangkan mendadak menguap, digantikan keheningan yang pekat. Mimi kembali menyusut menjadi kucing putih kecil yang kelelahan, langsung meringkuk di sudut ruangan.
Aethan membalikkan tubuhnya. Begitu melihat jemari Anna yang gemetar dan menyisakan luka gesekan kemerahan akibat menarik benang Mana terlalu kuat, pertahanan emosinya yang sediakala sekeras pualam runtuh seketika. Tanpa peringatan, pria itu menarik Anna ke dalam pelukannya. Sangat erat, seolah-olah dunia di luar sana bisa merebut gadis itu jika ia melonggarkan dekapannya barang satu detik. Anna bisa mendengar detak jantung Aethan yang berdegup kencang tak beraturan, berpacu dengan napasnya sendiri yang memburu.
"T-Tuan ...." Anna tertegun, wajahnya terbenam di dada bidang Aethan yang hangat, mencium aroma maskulin bercampur sisa bau tembaga yang samar dari zirah pria itu.
"Bodoh. Kau benar-benar gadis bodoh yang nekat, Anna," bisik Aethan parau, suaranya bergetar oleh rasa cemas dan ketakutan kehilangan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Cengkeramannya di punggung Anna kian mengerat, menyalurkan rasa posesif yang teramat dalam. "Kenapa kau harus melepas sihirmu di depan Kaisar tua itu? Kau tahu apa konsekuensinya?"
Anna perlahan membalas pelukan itu, meremas kain kemeja Aethan, mencari perlindungan di balik ketegangan yang mulai surut. "Mereka mengancam keluargaku, Tuan. Gideon bilang Solmara sudah dikepung oleh pasukannya. Aku ... aku tidak bisa tinggal diam melihat orang-orang yang kusayangi terluka."
Aethan mengembuskan napas berat, melonggarkan pelukannya namun kedua tangannya tetap menangkup pipi Anna secara posesif. Ibu jarinya mengusap lembut kulit pipi Anna yang halus, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam netra peraknya. Mata peraknya menatap intens, sarat akan letupan kasih sayang yang kian tak terbendung setelah insiden hidup dan mati tadi. "Sudah kubilang, kau adalah teritoriku. Siapapun tidak boleh menyentuhmu, termasuk ketakutanmu sendiri. Jiwamu, ragamu, segalanya adalah milikku untuk kulindungi."
Jarak yang teramat dekat itu membuat napas mereka saling bertautan. Keintiman dalam sunyi ini mendadak membuat jantung Anna berdegup jauh lebih kencang daripada saat menghadapi pasukan istana tadi.
Pria itu menuntun Anna untuk duduk di tepi ranjang kayu. Dengan sangat telaten dan lembut, sebuah pemandangan yang mustahil dibayangkan dari seorang Dewa Perang yang baru saja menghancurkan paviliun istana, Aethan mengambil salep sihir dan mengoleskannya ke jemari Anna yang terluka. Sentuhan kulit mereka yang saling bertemu—jemari kasar penuh kapalan milik Aethan yang mengusap kulit sensitif Anna—memicu debaran aneh di dada Anna, membuatnya merona merah di bawah temaram lampu minyak secara tiba-tiba. Aethan sesekali meniup lembut ujung jari Anna, memastikan salep itu tidak menyengatnya.
"Bagaimana dengan situasi di istana sekarang?" tanya Anna, mencoba mengalihkan fokusnya dari tatapan Aethan yang terlalu memabukkan untuk dia tatap balik.
"Permaisuri berhasil selamat berkat sihir pemurnianmu yang secara tidak sengaja memotong inti racun saat kau membongkar sabotase Gideon," jawab Aethan, matanya menggelap. "Namun, dia adalah ular bermuka dua. Saat ini, dia dan Lord Vane pasti sudah memutarbalikkan fakta. Mereka akan mengumumkan kepada publik bahwa aku adalah pemberontak yang bersekutu dengan penyihir hitam."
Anna menarik napas panjang, menatap cincin elang bersayap kembar di jarinya. "Jadi, kita terjebak dalam perang terbuka sekarang?"
"Ini bukan lagi sekadar mempertahankan diri, Anna," Aethan mengecup lembut ujung kepala Anna sebelum berdiri, menatap pintu keluar dengan aura mengintimidasi. "Ini adalah awal dari akhir tirani mereka. Namun sebelum aku bergerak menghancurkan istana, kita harus memastikan keselamatan Paul dan Marry di Solmara."
"Tentang itu ... Anda tidak perlu cemas, Panglima."
Sebuah suara yang sangat familier mendadak terdengar dari arah pintu masuk benteng yang perlahan terbuka. Leon melangkah masuk dengan setelan jasnya yang sedikit berdebu, namun senyum misteriusnya tetap terukir di wajah. Di belakangnya, dua sosok paruh baya melangkah masuk dengan napas terengah-engah dan wajah penuh kekhawatiran.
"Ayah? Ibu?!" Anna terpekik, langsung bangkit berdiri tak percaya melihat Paul dan Marry berada di tempat ini.
"Anna ...."
"Nak ...."
lanjut yaaaaa