"Bagaimana setangkai mawar membalas dendam saat kelopaknya ditarik habis?"
Dicap kutukan karena berambut red wine dan bermata storm silver, Annaline diusir dan kamarnya dibakar oleh keluarga kandungnya. Namun, pelarian ke Imperium Aethelgard justru membangkitkan rahasia darah 400 tahun lalu: Thread Magic, sang Sihir Benang Takdir.
Bersama prajurit misterius bermata perak yang menyimpan otoritas tertinggi, Annaline mulai merajut jaring perang dan bisnis lewat butik barunya.
Siapakah pria itu sebenarnya? Dan rahasia kelam apa yang akan terkoyak saat sang putri terbuang mulai menarik benang kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SweetMoon2025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Ciuman Pertama
"Kudengar ada musang dari Ibukota yang berani menatap wajahmu terlalu lama siang tadi di butik, Anna-ku."
Suara bariton yang parau dan sarat akan ancaman berbahaya itu memecah keheningan studio jahit lantai dua yang luas. Anna yang sedang merapikan gulungan benang merah di dekat perapian sihir seketika membeku. Detik berikutnya, hawa dingin menusuk tengkuknya, bersamaan dengan suara desisan permusuhan yang tertahan dari Mimi di sudut ruangan. Bulu putih kucing kecil itu meremang, menatap tajam ke arah kursi kayu besar di kegelapan sudut kamar.
Aethan Cassian Solaris duduk bersandar di sana. Jubah militer terhampar berat di lantai, sementara sepasang mata peraknya berkilat pekat, memancarkan aura kemurkaan tirani dan kecemburuan yang membakar akal sehatnya setelah menerima laporan dari Leon.
Anna membalikkan tubuhnya perlahan, mencoba mengontrol debaran jantungnya yang mendadak menggila. "Tuan Panglima ... bagaimana Anda bisa masuk? Ini rumah batu, bukan lagi rumah pohon."
Aethan tidak menjawab dan bangkit, tubuh besarnya bergerak lambat namun pasti memotong jarak di antara mereka. Tekanan aura militernya begitu pekat hingga pasokan udara di dalam studio mendadak menipis. Sebelum Anna sempat melangkah mundur, tangan besar Aethan yang hangat dan sekeras baja sudah mencengkeram kedua sisi bahu Anna, menyentak tubuh mungil itu hingga punggungnya membentur dinding kayu studio tanpa celah.
"Jawab pertanyaanku, Anna," bisik Aethan, menundukkan wajah tampannya begitu dekat hingga napas maskulinnya yang memburu menyapu permukaan kulit wajah Anna. "Apa yang ksatria bernama Gideon itu lakukan padamu?"
"Dia ... dia hanya melakukan pemeriksaan rutin karena kompas sihirnya bereaksi pada kain di butik," jawab Anna terengah, matanya bergerak gelisah menghindari tatapan perak yang mengunci matanya. "Tidak ada hal lain, Tuan."
"Jangan berbohong!" Desis Aethan, jemari kasarnya bergerak naik, mencengkeram dagu Anna dengan tekanan kuat namun anehnya tidak menyakiti. Ia memaksa sepasang mata perak Anna untuk menatap langsung ke dalam kegelapan netranya. "Dia menatapmu dengan cara yang salah dan aku menolak keras ada sepasang mata pria lain yang memandang apa yang telah menjadi milikku."
Kedekatan yang begitu intim dan sarat akan emosi posesif ini secara tidak sengaja memicu luapan Mana murni di dalam tubuh Anna. Benang-benang energi merah anggur tak kasat mata perlahan menguar, bergesekan dengan aura gelap Aethan. Seketika itu juga, rasa sakit dari kutukan hitam yang biasa menyiksa dada sang Panglima mereda, digantikan oleh rasa tenang yang memabukkan.
Aethan mengerang rendah, ketegangan di tubuhnya melonggar digantikan oleh hasrat dominasi yang kian memuncak. Mengabaikan protes lirih dari bibir Anna, Aethan menundukkan kepalanya lebih dalam, meraup bibir ranum gadis untuk pertama kalinya dalam sebuah kecupan yang menuntut, dalam, dan penuh kepemilikan sebelum akhirnya melepaskannya dengan napas yang saling memburu.
"Ingat ini baik-baik, Anna-ku," bisik Aethan di telinga sang gadis, suaranya parau dan bergetar seiring cengkeramannya yang melonggar. "Seluruh kekuatan militer Solmara adalah tamengmu, tapi jiwamu ... adalah teritoriku. Jangan biarkan pria lain mendekatimu, atau aku tidak akan segan mencungkil mata mereka."
Dengan gerakan kilat, Aethan membalikkan tubuh dan melangkah keluar dari studio jahit lewat koridor lantai dua yang remang. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan menuju balkon, langkah kakinya terhenti.
Di ujung koridor yang gelap, Paul sudah berdiri tegak bersedekap dada, dengan kapak besarnya yang bersandar di dinding batu. Mantan Grandmaster itu ternyata telah menyadari kehadiran sang Panglima sejak awal.
"Anda terlalu sering menyelinap ke kamar putriku, Tuan Panglima," ucap Paul dengan nada berat, sepasang mata tuanya menatap tajam tanpa rasa takut sedikit pun pada sang penguasa militer.
Aethan memperbaiki posisi jubahnya, wajahnya kembali dingin dan datar bak pualam dengan bisikan sarat makna. "Ksatria Penyelidik dari Ibukota sudah mulai mengendus silsilah Thread Magic putri Anda, Tuan Paul. Cepat atau lambat, rahasia bahwa dia adalah keturunan Penyihir Benang Darah yang tersisa akan bocor ke telinga Kaisar."
Rahang Paul mengeras, tangannya secara refleks mengepal kuat.
"Aku menawarkan perlindungan nyata menggunakan seluruh otoritas dan militerku untuk menyembunyikan kalian," lanjut Aethan, melangkah mendekati Paul dengan tatapan yang tidak terbantahkan. "Kaisar tidak akan bisa menyentuh Anna selama dia berada di bawah pengawasanku. Sebagai gantinya ... jangan pernah berpikir untuk membawa Anna pergi dari sisiku. Apakah kita sepakat, Grandmaster?"
Paul terdiam lama, menatap tajam pria muda di depannya yang memiliki kuasa tak terbatas ini. Demi keselamatan cucu mendiang Oma Rosa, Paul akhirnya mengembuskan napas panjang dan mengangguk pelan. "Jaga dia dengan nyawamu, Panglima."
"Pasti. Dan aku tahu persis kalau dia bukan anakmu dengan istrimu itu."
Belum sempat Paul menanggapi, Panglima sudah berlalu dengan kecepatan kilat dalam gelap malam. Paul hanya bisa berdiri mematung sendirian di lorong lantai dua.
Keesokan paginya, saat sisa ketegangan malam hari masih membekas di benak Anna, sebuah kepakan sayap terdengar dari jendela studio jahitnya.
TAK! TAK! TAK!
Bukan burung merpati biasa, melainkan seekor burung elang mekanik berkilau perak milik utusan khusus Kekaisaran Pusat yang mendarat di ambang jendela. Di paruhnya, burung itu menjepit sebuah gulungan perkamen hitam dengan segel sihir lilin merah, sebuah tanda titah tertinggi dari Kaisar yang tidak bisa diganggu di abaikan begitu saja.
lanjut yaaaaa