Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 : AKU TERTARIK DENGAN TUAN-MU
Dante berdiri di sudut lorong yang gelap, ia mendengar setiap kata yang diucapkan Elara, dan melihat bagaimana Adrian gemetar.
Tenyata Dante tidak sendirian di lorong itu.
Hanya beberapa meter di sampingnya, Julian berdiri dengan tangan di saku celana, bersandar santai pada pilar marmer.
Ia telah memperhatikan semuanya sejak awal. Senyum tipis yang biasanya menghiasi wajah Julian kini sedikit memudar, digantikan oleh tatapan yang jauh lebih serius.
"Kau beruntung, Dante," bisik Julian, suaranya sangat rendah hingga hampir tak terdengar oleh siapapun selain Dante.
Dante melirik Julian dengan tatapan dingin. Tangannya secara naluriah bergerak ke arah pistol yang terselip di balik jasnya. "Apa maksudmu?"
Julian tertawa kecil, "Dia melindungimu. Bukan sebagai bawahan, tapi sebagai sesuatu yang berharga."
Julian memiringkan kepalanya, menatap ke arah pintu kantor yang baru saja ditutup oleh Adrian yang berjalan dengan wajah pucat.
"Kau mencintainya, bukan?" tanya Julian tiba-tiba, sebuah pertanyaan yang lebih terasa seperti sebuah pernyataan.
"Dan kau rela mati untuknya. Tapi apa kau tidak sadar? Dia baru saja menyatakan kepemilikannya atas dirimu di depan ayahnya. Itu bukan sekadar pembelaan. Itu adalah 'tanda' bahwa kau adalah miliknya."
Dante menatap Julian dengan tatapan membunuh. "Jaga bicaramu, orang baru. Kau tidak tahu tempatmu di sini."
Julian malah melangkah mendekat, mengabaikan ketegangan yang memancar dari Dante. "Aku tahu tempatku, Dante. Aku di sini untuk mengamati. Dan jujur saja... aku semakin tertarik dengan tuanmu. Dia tipe wanita yang bisa membunuhmu bahkan sebelum kamu sadar kamu sedang sekarat."
Julian menepuk bahu Dante, lalu berjalan pergi melewati lorong dengan langkah yang tenang. "Jaga dia baik-baik, Dante. Karena jika kau tidak cukup cepat, mungkin akan ada orang lain yang datang untuk 'menguji' seberapa kuat tuanmu itu sebenarnya."
Julian melangkah menyusuri lorong panjang kediaman Ouroboros dengan sepasang tangan kembali terbenam di saku celananya.
Langkah kakinya sengaja dibuat santai, namun otaknya bekerja dengan kecepatan penuh, memetakan setiap variabel baru yang baru saja ia saksikan.
Senyum tipis kini kembali terukir di sudut bibirnya. Senyum puas seorang pria yang baru saja menemukan permainan yang sepadan.
𝘔𝘦𝘯𝘢𝘳𝘪𝘬, pikir Julian.
Di Eropa Timur, Julian terbiasa melihat wanita di lingkaran sindikat yang hanya jadi pajangan, alat politik, atau boneka rapuh yang butuh validasi kekuasaan. Tapi Elara adalah pengecualian. Dia tidak butuh menodongkan pistol untuk membuat Adrian ciut. Dia bahkan tidak butuh restu ayahnya untuk menegaskan siapa yang memegang kendali atas Dante. Elara menghancurkan lawannya tanpa perlu mengotori tangan.
Julian berhenti di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke halaman tengah kediaman.
Dari posisinya, ia bisa melihat pantulan dirinya sendiri di kaca yang gelap, bersanding dengan siluet sayap bangunan tempat kamar Elara berada.
Ia meraba dadanya yang berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Sesuatu di dalam dirinya terpancing hebat.
Untuk bisa mendekati Elara, ia tahu ia harus menyingkirkan Dante terlebih dahulu. Mengingat reaksi Dante di lorong tadi malah membuat Julian ingin tertawa.
Pria itu terlalu mudah dibaca jika sudah menyangkut Elara. Gerakan tangan yang menyentuh senjata, rahang yang mengeras, dan kilat membunuh di matanya—semuanya mengonfirmasi teori Julian. Dante sudah gila karena wanita itu.
Julian mengeluarkan ponselnya, menatap layar yang menampilkan cetak biru digital dari sistem keamanan Ouroboros.
Pikirannya kembali pada Adrian. Adrian adalah pion yang bodoh, dipenuhi emosi dan dendam kekanak-kanakan. Julian tahu pasti bahwa setelah penghinaan di kantor barusan, Adrian pasti akan melakukan tindakan nekat yang kotor untuk menyingkirkan Dante.
Julian menyipitkan matanya, kilat licik melintas di manik matanya.
"Silakan lakukan bagianmu yang kotor, Adrian," gumam Julian sambil menyunggingkan senyum miring. "Buat kekacauanmu. Pancing anjing itu keluar dari kandangnya."
Julian tidak berniat menghentikan Adrian, tidak juga berniat membantunya. Bagi Julian, rencana kotor apa pun yang sedang disusun Adrian di ruang bawah tanah saat ini hanyalah sebuah eksperimen gratis.
Julian ingin menggunakan kegilaan Adrian sebagai umpan untuk melihat bagaimana Elara bereaksi. Ia ingin melihat apakah Elara akan tetap berdiri dengan keangkuhan yang sama, atau apakah ia akan menunjukkan retakan emosi yang selama ini ia sembunyikan dengan rapat.
"Mari kita lihat, Nona Elara..." Julian berbalik dari jendela, melanjutkan langkahnya menuju kamarnya sendiri. "...seberapa kuat rantai yang kau pasang pada monstermu saat badai yang sesungguhnya datang."
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..