NovelToon NovelToon
Wanita Sang Raja Iblis

Wanita Sang Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jee44

Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Batas Akhir sebuah Sandiwara

Gemuruh petir emas di atas langit Kota Gusu kian berdentum liar, meretakkan kubah awan hitam yang menggantung rendah di atas atap-atap genting distrik utara.

Tekanan spiritual dari barisan prajurit langit tingkat tinggi membuat pilar-pilar batu di pelataran rumah halaman sewaan baru tersebut mulai memancarkan retakan halus. Debu emas sisa hantaman petir pertama masih melayang di udara, menciptakan atmosfer tiruan surgawi yang teramat mencekam dan menindas.

Panglima Gao berdiri tegak di tengah puing gerbang kayu yang hancur. Jubah zirah emasnya yang megah memancarkan pendaran cahaya suci yang menyilaukan, kontras dengan pedang panjang surgawinya yang mengalirkan hawa pembunuhan absolut. Sepasang matanya yang dingin menatap lurus ke arah sosok Shen Liya yang berdiri bergetar di ambang pintu kamar utama.

"Dewi Shen Liya, kesabaran langit sudah habis!" suara Panglima Gao menggelegar dahsyat, menggetarkan setiap keping bambu dan genting rumah halaman.

"Kau telah menodai kehormatan ras dewa dengan melahirkan benih kutukan di tanah fana yang kotor ini! Menyerahlah sekarang juga, atau aku sendiri yang akan memastikan seluruh kota fana ini hancur menjadi abu bersama jiwamu!"

Mendengar ancaman absolut yang sarat akan pemusnahan massal tersebut, seluruh tubuh Shen Liya seketika menegang kaku dilingkupi oleh rasa bersalah dan ketakutan yang teramat pekat.

Di dalam benak sucinya, ia tidak lagi memikirkan keselamatan nyawanya sendiri. Yang ia takuti adalah kehancuran pria rami abu-abu di depannya—"Ah Jue" sang tabib fana yang selama ini merawatnya dengan penuh perhatian tersembunyi—dan masa depan Gu Yu kecil yang baru berusia tujuh tahun.

Jika pasukan zirah emas di atas sana memutuskan untuk menjatuhkan kutukan pembantai langit, manusia mortal selemah Ah Jue tidak akan memiliki kesempatan untuk menyusun kembali sukmanya. Pria itu akan lenyap dari muka bumi murni karena keegoisannya yang melarikan diri ke tempat pengasingannya delapan tahun lalu.

Aku harus menghentikan ini... aku tidak boleh membiarkan Ah Jue mati karena aku, tekad Shen Liya mengeras di tengah tangisnya yang pecah.

Dengan sisa-sisa tenaga dari kultivasi sucinya yang baru saja pulih berkat ekstrak bunga obat tadi pagi, Shen Liya menyibakkan gaun katun biru mudanya. Ia melangkah maju dengan tergesa-gesa, berniat melompati pelataran tengah untuk berjalan mendekati Panglima Gao demi menyerahkan dirinya sendiri sebagai jaminan keselamatan keluarga kecilnya.

"Panglima Gao! Hentikan! Aku akan ikut bersamamu kembali ke langit!" teriak Shen Liya dengan suara parau yang menyayat hati. "Tangkap aku! Tapi aku memohon padamu, lepaskan pria fana dan anak kecil ini! Mereka tidak tahu apa-apa tentang urusan Istana Surgawi!"

Namun, baru saja kaki kecil Shen Liya melangkah melewati batas teras kamar, sebuah telapak tangan yang teramat panjang, kokoh, dan hangat dengan sangat cepat menyusup dari samping, mencengkeram erat pundak kirinya dengan cengkeraman yang begitu kuat dan tidak bisa dibantah.

Shen Liya tersentak kaku, langkah kakinya terhenti seketika di atas ubin batu yang dingin. Ia menoleh dengan cepat, menatap wajah suaminya dengan pandangan yang dipenuhi oleh permohonan yang teramat mendalam.

"Ah Jue! Lepaskan aku! Kau tidak mengerti seberapa mengerikannya mereka!" tangis Shen Liya kian pecah, sebelah tangannya mencoba memukul dada bidang Gu Jue dengan pukulan yang lemas.

"Pria zirah emas di depanmu itu adalah Panglima Gao! Dia adalah tangan kanan Dewa Tinggi Ling Cang! Dia bisa membunuhmu hanya dengan sekejap mata fana, Ah Jue! Pergilah bawa Yu'er lewat gerbang belakang sekarang juga, aku memohon padamu!"

Gu Jue tidak bergeming satu milimeter pun di bawah pukulan lemas istrinya. Tubuh tegaknya berdiri sekokoh gunung abadi yang tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh badai mana pun di jagat raya. Ia menurunkan pandangan sepasang matanya yang sehitam tinta, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Shen Liya yang dilingkupi kabut penderitaan batin yang teramat pekat.

Hawa kehangatan manusia di tubuh Gu Jue telah menipis hingga ke titik nadir, digantikan oleh gelombang hawa dingin mematikan yang perlahan-lahan mulai merayap keluar dari balik pori-pori kulitnya.

"Liya... lihat mataku," ujar Gu Jue, suaranya terdengar sangat rendah, berat, dan dipenuhi oleh sebuah vibrasi otoritas absolut yang seketika mengunci seluruh pergerakan udara di dalam pelataran halaman rumah tersebut seutuhnya.

Shen Liya terpaku, secara tidak sadar tatapannya terkunci oleh pandangan mata suaminya. Saat itulah, jantung sang Dewi terasa seolah berhenti berdetak seketika. Di dalam kedalaman manik mata hitam milik Gu Jue, sebuah pendaran cahaya berwarna ungu pekat kian berkobar hebat bak api neraka hitam yang tersulut di tengah kegelapan ruang hampa.

Itu bukan mata seorang manusia mortal. Itu adalah tatapan mata yang memancarkan kebuasan, keagungan, dan otoritas mutlak penguasa kegelapan yang berada di puncak tertinggi alam bawah.

"Sandiwara sebagai tabib rami abu-abu yang lemah... sudah mencapai batas akhir kelayakan dimensinya pagi ini," kelanjutan kalimat Gu Jue mengalun sangat pekat, bergetar bersama rasa sayang yang teramat mendalam sekaligus murka yang teramat masif kepada para pemburu langit.

Gu Jue mengulurkan tangan kanannya yang besar, dengan sangat lembut menyeka air mata yang membasahi cadar sutra tipis Shen Liya, sebelum ia mendorong tubuh istrinya secara perlahan kembali ke balik punggung tegapnya, menempatkannya di bawah pengawasan ketat Lan Xi yang saat ini sudah memegang belati kembar esnya dengan posisi siaga penuh di ambang pintu kamar.

"Jaga ibumu dengan baik, Yu'er," perintah Gu Jue datar tanpa menoleh sedikit pun.

Gu Yu kecil yang berdiri di sisi kanan kaki ayahnya, menengadah menatap wujud perubahan Gu Jue dengan sepasang mata sehitam tintanya yang berkilat dipenuhi semangat kegelapan cilik yang berkobar hebat. "Aku mengerti, pria dingin. Selesaikan serangga zirah emas itu secepat teknik jarummu kemarin fajar."

Panglima Gao yang menyaksikan interaksi aneh di antara keluarga fana tersebut, menyipitkan sepasang matanya dengan pandangan penuh penghinaan yang meluap-luap. Di matanya, pria berbaju rami abu-abu itu hanya sedang melakukan aksi bunuh diri yang konyol demi melindungi wanitanya.

"Kultivator manusia bodoh! Berani sekali kau membelakangi pedang surgawiku!" bentak Panglima Gao, wajahnya memancarkan hawa pembunuhan yang kian membara. Ia mengangkat pedang panjang emasnya tinggi-tinggi ke udara. "Prajurit langit! Maju dan cabik tubuh pria mortal ini menjadi serpihan debu fana sekarang juga!"

Empat prajurit langit berbaju zirah emas dengan tombak surgawi yang terhunus melompat maju bersamaan dari empat penjuru halaman, meluncur cepat mengincar leher, dada, dan jantung Gu Jue dalam satu formasi pembunuhan yang teramat presisi tanpa cela.

Gu Jue berdiri diam di tengah pelataran halaman yang hancur, tangan kanannya perlahan keluar dari balik lipatan jubah rami abu-abunya. Sepasang mata hitamnya kini telah berubah menjadi warna ungu menyala yang teramat mengerikan di tengah kegelapan awan badai fana, memancarkan seluruh esensi kebuasan mutlak Mo Jue—sang Raja Iblis penguasa tertinggi Alam Kegelapan yang sesungguhnya.

Kalian... benar-benar anjing langit yang paling bosan hidup, batin Mo Jue, sudut bibirnya terangkat membentuk guratan senyum pembunuh yang teramat kejam di dalam kegelapan malam.

Sang Raja Iblis menghentakkan kaki kanannya ke atas lantai batu halaman dengan hentakan yang sangat pelan namun berbobot energi raksasa.

BOOM!

Sebuah lingkaran gelombang hawa dingin kegelapan sepekat malam meledak keluar dari bawah sepatunya, meluncur cepat merayap di atas tanah fana dan seketika merobek seluruh formasi energi suci milik para prajurit langit tersebut dalam waktu kurang dari sepertiga detik.

Di tengah pusaran angin kegelapan yang mengamuk hebat itu, Xiao Bai melompat lincah dari atas tanah, mendarat dengan kokoh di atas pundak jubah zirah katun hijau lumut milik Lan Xi yang sedang bersiap di ambang pintu kamar.

Harimau kecil itu mengeluarkan raungan bariton yang pekat, sepasang mata biru kristalnya menatap lurus ke depan dengan kilatan ungu misterius yang menyala terang, ikut merayakan runtuhnya belenggu energi penyamaran yang selama ini mengunci potensi kekuatannya di dunia fana fana ini, bersiap menyongsong momen kejatuhan absolut sangkar sandiwara sang suami

1
Aisyah Suyuti
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!