NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / CEO / Selingkuh / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:41.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32 - Bekas Luka di Punggung Bagas

Bagas menolak pindah ke apartemen Ratna.

"Saya bukan barang yang setelah ditemukan langsung dipindahkan," katanya saat Ratna menawarkan kamar kosong. Nada suaranya sopan, tapi batasnya jelas.

Ratna menerima. "Kalau begitu, saya carikan kos yang aman."

"Saya bisa bayar sendiri."

"Saya tidak bilang kamu tidak bisa."

"Tapi Ibu ingin membayar."

Ratna berhenti.

Mereka duduk di warung soto dekat bengkel, bukan restoran. Bagas yang memilih tempat. Katanya ia lebih nyaman makan di tempat biasa. Arga menunggu di mobil karena Bagas belum siap makan satu meja dengan laki-laki kaya yang terlalu rapi. Ratna tidak memaksa.

"Aku ingin membantu," kata Ratna.

"Bantuan orang tua kadang rasanya seperti utang."

Ratna menunduk. "Siapa yang membuat kamu berpikir begitu?"

Bagas mengaduk sotonya. "Rumah."

Kata itu pendek, tapi isinya penuh.

Tari tidak menerima hasil DNA. Ia datang ke bengkel, menuduh Ratna merekayasa tes, lalu menampar Bagas karena dianggap mempermalukan keluarga. Bagas tidak membalas. Ia hanya keluar dari rumah membawa ransel kecil berisi dua baju, ijazah SMK yang tidak selesai, dan satu foto lama Darma.

Saat itu Ratna ingin langsung membawa Tari ke kantor polisi. Bagas menahannya.

"Saya belum siap."

"Dia memukul kamu."

"Dia sudah biasa."

Kalimat itu membuat Ratna tidak tidur semalaman.

Hari ini, setelah dibujuk Siska, Bagas setuju memeriksa luka di klinik. Ratna menemaninya. Dokter perempuan yang memeriksa keluar dengan wajah tertahan.

"Ada bekas luka lama di punggung dan bahu," katanya kepada Ratna dengan izin Bagas. "Sebagian seperti bekas sabuk, sebagian luka bakar kecil. Tidak baru, tapi pola berulang."

Ratna merasa lantai bergeser.

Di ruang periksa, Bagas memakai kembali kaosnya. Ia tidak menatap Ratna.

"Jangan lihat saya seperti itu."

"Seperti apa?"

"Seperti saya barang rusak."

Ratna duduk di kursi seberang. "Saya melihat anak saya terluka."

"Saya sudah biasa."

"Saya tidak."

Bagas memandangnya. Ada sesuatu yang retak di matanya, tapi ia cepat menutupnya.

"Kalau Ibu menangis terus, saya jadi merasa bersalah."

"Kamu tidak perlu menjaga perasaan saya."

"Di rumah lama, saya hidup dengan menjaga perasaan orang. Kalau Ibu Tari marah, saya diam. Kalau Reno minta uang, saya kasih. Kalau Pak Darma pulang mabuk, saya sembunyi. Setelah dia meninggal, saya pikir lebih mudah. Ternyata tidak."

Ratna ingin mengatakan seribu hal. Bahwa semua itu salah. Bahwa Bagas pantas sekolah. Bahwa ia seharusnya makan cukup, tidur aman, punya ibu yang menunggu di pintu. Namun ia tahu kata-kata tidak bisa membalik waktu.

"Bagas, saya tidak bisa memperbaiki masa kecilmu."

"Saya tahu."

"Tapi saya bisa memastikan mulai hari ini tidak ada yang memukul kamu tanpa konsekuensi."

Bagas menunduk.

"Saya tidak suka ribut."

"Saya juga dulu begitu." Ratna tersenyum pahit. "Lalu orang-orang memakai diam saya sebagai karpet."

Bagas hampir tersenyum.

Sore itu Raka datang ke klinik. Ia membawa tas kertas berisi baju baru dan sandal. Pilihannya buruk: kemeja terlalu formal, sandal terlalu mahal, warna semua hitam.

"Maya yang suruh beli," katanya cepat ketika Bagas menatap tas itu. "Aku tidak tahu ukuranmu."

Bagas menerima tas itu tanpa membuka.

"Terima kasih."

Raka mengangguk kaku.

Ratna pura-pura mengurus administrasi agar mereka punya ruang.

Raka berdiri di samping Bagas. "Aku dengar kamu keluar dari rumah."

"Iya."

"Mau tinggal di tempatku dulu?"

Bagas menoleh. "Dengan istri dan anakmu?"

"Maya di rumah ibunya. Aku juga belum tentu boleh pulang." Raka menggaruk kepala. "Jadi apartemenku kosong. Maksudku, apartemen lama dari Papa. Aku tahu itu terdengar buruk."

"Sangat."

"Iya." Raka menarik napas. "Tapi kalau kamu butuh tempat dan tidak mau langsung ke Mama, pakai saja. Aku bisa tidur di kantor."

Bagas menatapnya lama. "Kamu menawarkan karena kasihan?"

"Karena bersalah."

"Itu juga tidak enak."

"Aku tahu. Aku sedang belajar tidak membuat semuanya tentang aku."

Bagas tidak menjawab. Tapi ia tidak langsung menolak.

Malamnya Ratna duduk di mobil bersama Arga. Mereka berhenti di depan masjid kecil karena sopir menunggu jalan agak kosong. Azan isya sudah lewat, orang-orang keluar perlahan.

"Aku ingin memeluk dia terus," kata Ratna. "Tapi kalau aku bergerak terlalu cepat, dia mundur."

Arga mengangguk. "Bagas hidup dengan orang yang memakai kedekatan untuk mengontrol. Dia perlu tahu kedekatan denganmu tidak punya jebakan."

Ratna menatapnya.

"Kamu bicara seperti pernah belajar psikologi."

"Aku belajar dari Bu Laras."

"Ibumu?"

"Dia selalu bilang anak yang keras kepala biasanya bukan kurang ajar. Kadang mereka hanya sedang menjaga pintu yang pernah didobrak."

Ratna tersenyum lemah. "Bu Laras pasti senang kalau tahu kamu mengutipnya."

"Dia akan bilang aku akhirnya punya manfaat."

Ratna tertawa kecil. Tawa pertama yang tidak sepenuhnya patah sejak hasil DNA.

Arga melihatnya sebentar, lalu kembali menatap depan.

"Aku suka mendengar kamu tertawa."

Ratna terdiam.

Dulu kalimat seperti itu akan membuatnya mundur. Sekarang ia hanya merasa hangat dan takut sekaligus.

"Arga."

"Ya?"

"Aku tidak tahu kapan hidupku akan berhenti berantakan."

"Aku tidak menunggu hidupmu rapi."

"Kamu selalu menjawab begitu sampai aku tidak bisa marah."

"Itu strategi?"

"Buruk. Tapi berhasil."

Mereka tertawa pelan.

Di ponsel Ratna, pesan dari Bagas masuk.

"Kalau kosnya dekat bengkel dan tidak terlalu mahal, saya mau lihat."

Ratna membaca pesan itu dua kali.

Ia tidak memeluk Bagas hari itu. Ia tidak membawanya pulang. Ia tidak memaksa dipanggil Ibu lagi.

Tapi untuk pertama kalinya, Bagas mengizinkan dirinya dicari.

Ratna membalas pesan itu dengan hati-hati.

"Besok kita lihat bersama. Kamu pilih sendiri. Saya hanya menemani."

Lama tidak ada balasan. Ratna hampir meletakkan ponsel ketika layar menyala.

"Kalau saya pilih yang murah, Ibu jangan marah."

Ratna tersenyum sedih.

"Saya tidak marah. Tapi kalau murahnya tidak aman, saya boleh protes."

"Boleh."

Satu kata itu membuat Ratna duduk lebih lama di tepi tempat tidur. Dulu Raka kecil mudah sekali memeluknya, mudah meminta makan, mudah menangis di pangkuannya. Bagas sudah dewasa ketika ditemukan. Setiap izin kecil darinya harus ditunggu seperti pintu yang dibuka satu sentimeter.

Arga menelepon beberapa menit kemudian.

"Kamu terdengar lebih tenang."

"Bagas mengizinkan aku protes."

"Itu kabar baik?"

"Sangat baik."

Arga tidak menertawakan. Ia hanya berkata, "Besok aku kosongkan jadwal sore. Kalau kamu butuh."

"Aku butuh, tapi jangan terlihat seperti mau membeli seluruh gedung kos."

"Aku akan berusaha tampak sederhana."

"Itu sulit untukmu."

"Aku menerima tantangan."

Setelah telepon selesai, Ratna membuka aplikasi catatan dan menulis tiga hal: kos aman, pekerjaan Bagas, sekolah lanjutan jika dia mau. Ia berhenti di poin ketiga. Kata "jika dia mau" ia garis bawahi dua kali, sebagai pengingat agar cintanya tidak berubah menjadi perintah.

1
adisty aulia
Karakter Ratna kuat meski telat sadarnya🙁🙁🙁
adisty aulia
🌺🌺🌺
adisty aulia
Suka alur ceritanya🌺🌺🌺
Nicky
Ratna memandang mantan suaminya? Raka? ga panggil mama lagi?
Nicky
Arga melamar Ratna lagi? mengajak menikah? bukannya di part² sebelum hamil ini sudah menikah di KUA dan pulangnya mereka yang menghadiri lanjut makan soto. Agak membingungkan ini KK author.
Nicky
ada part yg ga sinkron, mulai dr panggilan ibu yg di beberap bab sebelumnya setelah hasil tes DNA Bagas di ketahui sebagai anak Ratna, sudah panggil ibu, di bab ini malah bukan anak kandung, panggil nama saja dan baru mulai panggil ibu?
Endang Sulistia
pengen tampol keluarga hendra😤😤😤
Hertanti Mandanya Dhafin
novel yg keren saya suka sama bahasanya, authornya hebat 👍
Fia Ayu
Knpa up nya pelit banget, pertama rilis langsung banyak, lagi tegang2nya di gantung 😢
Fia Ayu
Lanjut kak,, penasaran weee
Fia Ayu
Wkwkwk
Fia Ayu
Sokor,
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃
Fia Ayu
Tuman😏
Fia Ayu
Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!