Vincent Lawson rela meletakkan pistolnya demi menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Ia percaya, cincin itu akan menjadi awal dari selamanya. Namun pada malam yang sama, wanita itu mengganti janjinya dengan sepasang borgol.
Di tengah raungan sirene dan hancurnya seluruh impian, Vincent tak lagi mempertanyakan mengapa ia ditangkap. Ia hanya ingin tahu...
“Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun... adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?” 💔
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Efa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
[ Malam Sebelum Pertunangan ]
Malam pertunangan tinggal satu hari lagi.
Seluruh rumah yang dipenuhi mawar putih itu telah selesai dihias. Lampu-lampu kecil menggantung di setiap sudut taman, memancarkan cahaya hangat yang membuat rumah itu terasa hidup kembali.
Vincent berdiri sendirian di halaman.
Tatapannya tertuju pada kursi-kursi yang telah tersusun rapi.
Besok...
Di tempat inilah ia akan memulai hidup baru.
"Bapak... Ibu..." bisiknya pelan.
"Aku akhirnya menemukan seseorang yang ingin kujadikan rumah."
"Bos."
Damian menghampiri sambil membawa beberapa berkas.
"Semua tamu sudah dikonfirmasi."
"Anak-anak panti juga akan datang."
Vincent mengangguk.
"Bagus."
"Bagaimana dengan surat pengunduran diri Bos?"
Vincent mengambil sebuah amplop putih dari meja.
"Besok malam, setelah pertunangan selesai..."
"...aku akan menyerahkan semuanya."
Damian menatap Vincent beberapa saat.
"Bos benar-benar tidak menyesal?"
Vincent tersenyum tipis.
"Dulu aku hidup untuk membalas dendam."
"Sekarang..."
"...aku ingin hidup untuk seseorang."
Di apartemennya, Rhea duduk memandangi gaun sederhana berwarna putih yang akan dikenakannya besok.
Gaun itu dipilih sendiri oleh Vincent.
Katanya, warna putih paling cocok untuknya.
Air mata Rhea menetes tanpa suara.
Ponselnya kembali berdering.
"Zhava."
Suara Komandan terdengar tegas.
"Besok pukul enam sore, seluruh tim sudah berada di sekitar lokasi."
"Jangan sampai target curiga."
"Dimengerti."
"Lalu dengarkan baik-baik."
Komandan terdiam sesaat sebelum melanjutkan.
"Kalau Vincent mencoba kabur..."
"...kami akan menembak."
Tubuh Rhea langsung membeku.
"Apa?"
"Itu perintah."
"Dia target paling berbahaya yang pernah kita hadapi."
Rhea mengepalkan ponselnya hingga jemarinya memutih.
"Tapi dia—"
"Zhava."
Suara Komandan memotongnya.
"Jangan biarkan perasaanmu menghancurkan operasi."
Sambungan telepon terputus.
Rhea perlahan menjatuhkan ponselnya ke lantai.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Isak tangisnya akhirnya pecah.
"Tidak..."
"Aku tidak ingin dia mati..."
Malam semakin larut.
Tanpa sadar, Rhea berjalan menuju toko bunganya.
Tempat itu sunyi.
Ia duduk di bangku kayu tempat mereka biasa minum kopi bersama.
Setiap sudut toko mengingatkannya pada Vincent.
Tawa mereka.
Percakapan sederhana.
Tatapan hangat yang perlahan membuatnya lupa bahwa semua ini hanyalah penyamaran.
Bel pintu tiba-tiba berbunyi.
Rhea terkejut.
"Vincent?"
Pria itu berdiri di depan pintu sambil tersenyum.
"Aku tahu kau pasti ada di sini."
Rhea buru-buru menghapus air matanya.
"Kau belum tidur?"
Vincent menggeleng.
"Aku juga tidak bisa tidur."
Ia berjalan mendekat, lalu duduk di samping Rhea.
Beberapa menit berlalu tanpa satu kata pun.
"Besok..." ucap Vincent pelan.
"...adalah hari paling penting dalam hidupku."
Rhea menggigit bibirnya.
"Aku tahu."
Vincent mengeluarkan sebuah surat yang sudah mulai kusut karena berkali-kali dibuka.
"Aku menulis ini semalam."
"Apa itu?"
"Surat untukmu."
Rhea menerimanya dengan bingung.
"Bacalah setelah besok selesai."
"Kenapa tidak sekarang?"
Vincent tersenyum kecil.
"Karena setelah besok..."
"...aku berharap tidak ada lagi rahasia di antara kita."
Kalimat itu menghantam hati Rhea begitu keras.
Tidak ada lagi rahasia.
Kalimat yang begitu indah...
Namun justru mustahil terjadi.
Karena rahasia terbesar dalam hubungan mereka adalah dirinya sendiri.
Saat Vincent berdiri untuk pulang, ia tiba-tiba berhenti.
"Rhea."
"Iya?"
Vincent menatapnya lama.
"Sebelum bertemu denganmu..."
"...aku tidak pernah takut kehilangan apa pun."
"Lalu sekarang?"
Vincent tersenyum, tetapi matanya menyimpan ketakutan yang belum pernah Rhea lihat sebelumnya.
"Sekarang..."
"...aku takut kehilanganmu."
Air mata Rhea akhirnya jatuh.
Ia langsung memeluk Vincent tanpa berkata apa-apa.
Vincent membalas pelukan itu dengan lembut.
Tanpa mereka sadari...
Dari kejauhan, seorang anggota kepolisian memotret momen tersebut.
Foto itu segera dikirim kepada Komandan.
"Target dan agen masih bersama. Operasi tetap berjalan sesuai rencana."
Malam itu menjadi pelukan pertama mereka.
Dan juga...
pelukan terakhir sebelum cinta mereka dihancurkan oleh suara sirene, borgol, dan sebuah cincin yang tak pernah sempat menjadi awal dari selamanya. 💔