NovelToon NovelToon
TA'ARUF SETELAH TALAK

TA'ARUF SETELAH TALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Duyung Indahyani

Empat belas hari.
Hanya selama itu Ghazi Farhan dan Adzra Hanum saling mengenal sebelum akhirnya menikah melalui proses ta'aruf.
Siapa sangka, pernikahan yang awalnya dipenuhi ketenangan justru berakhir dengan satu talak setelah sepuluh bulan bersama.
Sejak hari itu, Adzra meyakini bahwa dirinya hanyalah perempuan yang pernah gagal menjadi istri.
Sementara Ghazi memilih memikul penyesalan yang bahkan tidak pernah berani ia jelaskan.
Sepuluh tahun berlalu.
Mereka sama-sama belum menikah.
Bukan karena belum ada yang datang, tetapi karena ada luka yang belum benar-benar selesai.
Ketika sakit sang ibu mempertemukan mereka kembali, Ghazi tidak meminta Adzra kembali menjadi istrinya.
Ia hanya meminta satu kesempatan.
"Bolehkah... kita mengulang empat belas hari itu?"
Namun, apakah ta'aruf kedua mampu menyembuhkan luka yang ditinggalkan oleh satu talak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duyung Indahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Sang Penyokong

Keheningan di ruang rapat utama Arafah Medika menggantung cukup lama, hanya diselingi detak jarum jam dinding dan derum tipis AC. Farid duduk di ujung meja kayu mahoni, pandangannya lurus, tenang, seolah tidak terburu-buru oleh waktu.

Di sudut ruangan, Rina dan Nabila saling melempar tatapan bertanya. Keduanya sama-sama penasaran dengan sosok pria paruh baya berpenampilan sederhana namun memancarkan wibawa yang tak bisa diabaikan itu.

Pintu ruang rapat terbuka pelan. Adzra melangkah masuk. Aroma khas antiseptik masih samar merambat dari jas laboratorium yang belum sempat ia lepas sepenuhnya. Wajahnya menyiratkan keletihan setelah maraton penanganan pasien darurat di ruang tindakan, namun sorot matanya tetap jernih.

"Mohon maaf membuat Bapak menunggu lama," kata Adzra seraya mengangguk hormat, lalu mengambil tempat duduk di seberang Farid. "Saya Adzra. Ada emergency di bawah yang harus segera ditangani."

Farid mengamati Adzra sejenak, menyatukan jemarinya di atas meja. Tidak ada senyum berlebihan, tidak ada formalitas yang kaku.

"Tidak masalah, Dokter Adzra. Pasien selalu jadi prioritas utama," suara Farid berat dan mantap. "Saya Farid."

Ia tidak mengulurkan kartu nama. Tidak pula menyebutkan jabatan atau asal instansinya. Sebaliknya, Farid bersandar ke sandaran kursi, menatap Adzra tajam namun hangat.

"Sebelum kita membicarakan hal lain, saya ingin mengajukan satu pertanyaan sederhana," ucap Farid tiba-tiba.

Rina mengerutkan dahi, sementara Nabila menggeser posisi duduknya. Atmosfer ruangan mendadak berubah seperti ruang ujian.

"Apabila Arafah Medika berkembang pesat—cabangnya berlipat ganda, dan nilainya bertambah puluhan kali lipat—hal apa yang paling ingin Anda jaga dan paling takutkan untuk hilang?"

Adzra tertegun sejenak. Ia menyandarkan jemarinya di tepi meja. Di kepala Adzra, bayangan wajah-wajah pasien berpenghasilan rendah yang saban hari mengetuk pintu kliniknya mendadak melintas.

"Rasa takut kehilangan amanah, Pak Farid," jawab Adzra tanpa keraguan. Suaranya tenang namun berisi. "Sistem bisa dibangun, modal bisa dicari, dan teknologi bisa dibeli. Tapi kalau niat awal mendirikan tempat ini—yaitu menjadi jalan kesembuhan dan perlindungan bagi mereka yang membutuhkan—bergeser menjadi sekadar angka-angka keuntungan di atas kertas, maka Arafah Medika sudah mati, terlepas seberapa besar gedung yang kita miliki."

Ruangan kembali hening. Farid tidak langsung merespons. Ia menatap Adzra selama beberapa detik, lalu garis tipis di sudut bibirnya perlahan terangkat. Ia mengangguk pelan.

"Jawaban yang persis seperti yang saya harapkan dari catatan pengamatan tim kami selama empat bulan terakhir," ujar Farid.

Ia menjangkau tas kulit di samping kursinya, menarik keluar sebuah dokumen tebal berkover gelap, lalu meletskkannya di tengah meja. Di bagian depannya, tertera lambang dan tulisan emas: Yayasan Wakaf Produktif Kesehatan.

"Saya Farid, Direktur Program dari Yayasan Wakaf Produktif Kesehatan," lanjutnya memperkenalkan diri secara resmi. "Selama beberapa bulan ini, kami mengamati dinamika perkembangan klinik-klinik medis independen di kota ini. Dan nama Arafah Medika selalu muncul di puncak radar kami."

Nabila menahan napas pelan. Rina tampak menegakkan tubuhnya, terperanjat.

"Mengapa kami memilih Adzra dan tim ini?" Farid memotong pandangan heran di mata mereka sebelum ada yang sempat memotong. "Bukan karena klinik ini yang terbesar. Bukan pula karena fasilitas Anda paling canggih. Kami memilih Arafah Medika karena integritas tim ini, keteguhan pelayanan kepada pasien tanpa memandang status sosial, dan transparansi amanah yang selama ini Anda jaga."

Farid membentangkan map tersebut. Di dalamnya tampak cetak biru arsitektur dan berkas legalitas lahan yang cukup luas.

"Ini adalah rencana pengembangan cabang kedua Arafah Medika. Tanah seluas dua hektar di batas kota, sepenuhnya atas nama tanah wakaf produktif yang diperuntukkan bagi rumah sakit pelayanan masyarakat," kata Farid, menatap Adzra tepat di manik matanya.

"Yayasan kami tidak sedang mencari investasi atau pemegang saham yang mengejar deviden tahunan, Dokter Adzra. Kami sedang mencari orang yang sanggup memikul amanah ini."

***

Adzra terpaku melihat lembar cetak biru yang terbentang di hadapannya. Garis-garis rancangan bangunan rumah sakit itu tampak megah, namun yang membuat dadanya berdesir bukan ukuran fisiknya, melainkan bobot tanggung jawab yang terbayang di baliknya.

"Dua hektar..." gumam Rina pelan, matanya tak berkedip menatap berkas legalitas tanah di atas meja. Sebagai orang yang mengurus manajemen operasional Arafah Medika sejak awal, ia paham betul berapa biaya dan sumber daya yang dibutuhkan untuk menggerakkan proyek sebesar ini.

"Pak Farid, ini bukan sekadar ekspansi. Ini lompatan yang sangat jauh bagi klinik kecil kami."

"Tentu," Farid menyandarkan punggungnya ke kursi, jemarinya bertaut di atas meja.

"Dan lompatan besar selalu menuntut daya tahan yang tidak biasa. Yayasan kami menyediakan lahan dan dana pembangunan awal dari dana wakaf produktif. Namun, pengelolaan harian, standar mutu medis, hingga keberlanjutan layanannya... sepenuhnya ada di tangan Dokter Adzra dan tim."

Nabila, yang sejak tadi menyimak dengan cermat, memajukan posisi duduknya.

"Bagaimana dengan sistem pengawasan dari pihak Yayasan? Dalam skema wakaf produktif, biasanya ada batasan-batasan ketat terkait fleksibilitas keputusan manajemen."

Farid tersenyum tipis, mengapresiasi kejelian Nabila. "Pertanyaan yang bagus, Bu Nabila. Kami membundel kerjasama ini dalam bentuk syirkah pengelolaan amanah. Yayasan bertindak sebagai Nadzir—pengawas yang memastikan aset wakaf tidak dialihfungsikan dan tujuan utamanya tidak melenceng. Sepanjang Arafah Medika berjalan di atas koridor pelayanan dan ketransparanan, keputusan medis dan manajemen internal seratus persen tetap menjadi otoritas kalian."

Adzra akhirnya mengangkat wajah. Pandangannya tidak tertuju pada berkas, melainkan lurus menatap Farid.

"Pak Farid, proyek sebesar ini tidak hanya membutuhkan niat baik," ujar Adzra tegas namun santun.

"Klinik kami saat ini sedang diproduksi secara maksimal oleh tim yang terbatas. Menambah cabang kedua—terutama berstatus rumah sakit pelayanan masyarakat—artinya kami harus melipatgandakan SDM tanpa mengorbankan kultur integritas yang sudah kami bangun. Jika kami terburu-buru, kami riskan runtuh dari dalam."

Ruangan mendadak sepi. Rina menatap Adzra dengan raut kaget—tidak menyangka Adzra akan menunjukkan sikap sehati-hati itu di depan penawaran emas yang diimpikan banyak pemilik klinik.

Namun, repons Farid justru sebaliknya. Senyum di wajah pria paruh baya itu makin lebar.

"Itulah alasan utama mengapa Yayasan menyaring puluhan kandidat dan bertahan pada nama Anda, Dokter Adzra," kata Farid hangat.

"Seorang pemimpin yang matang tidak akan silau oleh besarnya peluang, melainkan mengukur ketahanan pijakannya terlebih dahulu. Kami tidak meminta keputusan Anda hari ini."

Farid berdiri, merapikan jas gelapnya, lalu merapatkan map dokumen tebal itu kembali.

"Kami berikan waktu satu minggu untuk tim Arafah Medika melakukan kajian internal. Diskusikan dengan seluruh jajaran. Jika Anda sekalian siap memikul amanah ini, pekan depan kita tanda tangani nota kesepahaman."

Farid mengulurkan tangan. Adzra berdiri dan menyambut genggaman tangan itu dengan mantap.

"Terima kasih atas kepercayaan dan penilaian Bapak terhadap kami," kata Adzra.

Setelah Farid berpamitan dan dilangkahkannya kaki keluar dari area klinik, suasana di ruang rapat berubah drastis. Rina menghela napas panjang seolah baru saja menahan napas selama sejam.

"Adzra... ini kesempatan sekali seumur hidup," ujar Rina, nada suaranya campur aduk antara antusias dan cemas. "Tanah dua hektar, tanpa bunga pinjaman bank, tanpa tekanan investor yang mengejar target profit margin. Ini mimpi kita untuk punya rumah sakit sendiri."

"Tapi beban moralnya berlipat ganda, Rin," sahut Nabila pelan. Ia menatap Adzra yang masih berdiri mengamati jendela, menatap mobil Farid yang perlahan menghilang di gerbang depan. "Uang wakaf itu uang umat. Kesalahan kecil dalam pengelolaannya bukan cuma urusan kerugian finansial, tapi pertanggungjawaban di hadapan Tuhan."

Adzra membalikkan badan, menatap dua rekannya yang telah berjuang bersama dari nol.

"Nabila benar," kata Adzra pelan. "Amanah ini ibarat pedang bermata dua. Kalau kita siap, ini jadi jalan keberkahan luar biasa. Tapi kalau kita goyah sedikit saja, Arafah Medika yang kita bangun dengan keringat dan air mata ini bisa hancur."

Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan.

"Malam ini, kita kumpulkan seluruh tim inti. Saya ingin mendengar suara mereka semua—bukan cuma kita bertiga."

**Bersambung

1
Elyanna
yuk update lagiiiii
Anonim
cerita cewek lemah lagi ? cewek gampang dibujuk lagi? ah kusooo
RahmaYesi
Cerita yang bagus. Semangat ya ...
Duyung Indahyani: hai kak rahma, terima kasih
total 1 replies
nunu
next lanjut kak ceritanya
Duyung Indahyani: thank sudah membaca kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!