NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Pelakor / Kelahiran kembali menjadi kuat / Rumah Tangga
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.

Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Suara mesin mobil Dimas terdengar memasuki halaman rumah.

Brak!

Pintu mobil dibanting begitu keras hingga membuat beberapa pelayan yang sedang menyapu halaman saling berpandangan.

"Kenapa Tuan Dimas pulang secepat ini?" bisik salah seorang pelayan.

"Tidak tahu. Wajahnya serem sekali."

Dimas berjalan cepat memasuki rumah tanpa menyapa siapa pun.

"Bi Darmi!" panggilnya dengan suara keras.

Bi Darmi yang baru saja turun dari lantai dua langsung bergegas menghampiri.

"Iya, Tuan."

"Di mana Karin?"

"Nyonya ada di kamar."

Dimas langsung melangkah menuju tangga.

"Eh, Tuan..." Bi Darmi mencoba menghentikannya. "Nyonya sedang..."

Namun Dimas sama sekali tidak menghiraukannya. Langkah kakinya terdengar berat menaiki anak tangga.

Tok!

Tok!

Tok!

Bukan ketukan. Melainkan kepalan tangan yang menghantam pintu kamar Karin.

"Karin! Buka pintunya!"

Di dalam kamar, Karin yang sedang menyusun beberapa dokumen di atas meja hanya melirik ke arah pintu.

Ia sudah menduga Dimas akan pulang secepat ini. Dengan tenang ia menutup map di hadapannya, lalu berjalan menuju pintu.

Klik.

Pintu terbuka. Dimas berdiri di depan dengan wajah merah padam.

"Apa yang kamu lakukan dengan kartuku?"

Karin menyandarkan bahunya di kusen pintu sambil menatap suaminya datar.

"Kartu yang mana?"

"Jangan pura-pura tidak tahu!"

"Kartu hitam yang kuberikan padamu!"

"Oh..." Karin mengangguk pelan seolah baru mengerti.

"Yang itu."

"Iya."

"Aku pakai."

Dimas hampir meledak.

"Kamu menghabiskan ratusan juta hanya dalam satu hari!"

Karin mengangkat sebelah alisnya.

"Lalu?"

"Lalu?" ulang Dimas dengan nada tak percaya. "Kamu masih berani bertanya 'lalu'?"

"Aku hanya ingin tahu, memangnya ada masalah?"

Dimas menunjuk wajah Karin dengan penuh emosi.

"Masalahnya, kamu menggunakan kartuku tanpa izin!"

Karin terkekeh pelan, lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Tanpa izin?"

"Iya!"

"Dimas, apa kamu lupa? Kartu itu kamu sendiri yang memberikannya kepadaku sebagai jaminan saat semua harta dan asetku kamu jual untuk perusahaan."

"Itu bukan berarti kamu bebas menghabiskan uang sesukamu!"

Karin menatap suaminya tajam.

"Lucu sekali."

"Apa yang lucu?" bentak Dimas.

"Selama bertahun-tahun aku hampir tidak pernah menggunakan kartu itu. Bahkan saat ingin membeli pakaian, aku selalu berpikir berkali-kali karena tidak ingin dianggap boros."

Karin melangkah satu langkah mendekat.

"Tapi hari ini, saat aku akhirnya membeli beberapa kebutuhan untuk diriku sendiri, kamu langsung datang meminta pertanggungjawaban."

Dimas terdiam sejenak.

"Kebutuhan?" katanya sinis. "Kamu menyebut belanja ratusan juta sebagai kebutuhan?"

"Iya." Karin mengangguk mantap. "Bagiku itu kebutuhan. Aku membeli pakaian karena isi lemariku sudah bertahun-tahun tidak pernah diperbarui. Aku pergi ke salon karena aku ingin merawat diriku. Aku membeli kosmetik karena kosmetik yang kupunya bahkan sudah kedaluwarsa."

Ia menatap Dimas tanpa berkedip.

"Atau menurutmu, seorang istrimu tidak pantas tampil cantik?"

Dimas langsung kehilangan kata-kata. Ia tidak menyangka Karin bisa membalikkan ucapannya seperti itu.

Beberapa detik kemudian, Dimas kembali menemukan alasan.

"Bukan itu maksudku."

"Lalu apa?"

"Kamu seharusnya berdiskusi dulu denganku."

Karin tersenyum tipis.

"Berdiskusi? Kamu lucu sekali, Dimas."

Karin tertawa pelan, tetapi tidak ada sedikit pun kehangatan dalam tawanya.

"Ketika kamu memutuskan ingin menikahi Vina, apakah kamu berdiskusi denganku lebih dulu?"

Wajah Dimas langsung menegang.

"Itu beda."

"Apa bedanya?"

"Aku laki-laki."

Jawaban itu membuat Karin menggeleng pelan.

"Jadi menurutmu, seorang suami boleh mengambil keputusan sepihak yang mengubah hidup istrinya. Tetapi ketika istrinya menggunakan kartu yang diberikan suaminya untuk membeli kebutuhan pribadinya, itu harus meminta izin?"

Dimas mengatupkan rahangnya erat.

"Kamu sengaja memutarbalikkan pembicaraan."

"Bukan." Karin menatapnya tajam. "Aku hanya sedang menggunakan cara berpikirmu."

Suasana di depan kamar mendadak sunyi. Beberapa pelayan yang sejak tadi berpura-pura membersihkan lantai di ujung lorong saling bertukar pandang. Mereka belum pernah melihat Tuan Dimas dibuat tidak berkutik seperti ini.

Dimas menarik napas panjang, berusaha meredam emosinya.

"Aku tidak ingin berdebat."

"Bagus."

"Aku hanya ingin kamu lebih bijak menggunakan uang."

Karin tersenyum tipis.

"Kalau begitu mulai sekarang berlaku adil."

"Apa maksudmu?"

"Kalau aku harus meminta izin setiap memakai uangmu..." Karin menatap tajam Dimas. "...maka mulai hari ini Vina juga harus meminta izinku setiap kali menggunakan uang suamiku."

Kalimat itu membuat wajah Dimas berubah drastis.

"Kamu tahu Vina tidak punya siapa-siapa."

"Itu bukan urusanku."

"Karin!"

Karin memotong ucapan Dimas dengan tenang.

"Selama dia masih hidup dari uangmu, berarti uang yang dia pakai juga berasal dari harta bersama kita sebagai suami istri."

Karin berhenti sejenak agar Dimas bisa mencerna ucapannya.

"Jadi mulai sekarang... setiap rupiah yang digunakan Vina akan kuhitung." Senyum di bibir Karin perlahan memudar.

"Dan aku akan meminta semuanya kembali."

1
Thewie
terlalu bertele tele.
Dede Dedeh
perasaan setiap episode nya kok cina and the geng yg selalu menang, karin terlalu lambat memberi balasan,,, kecewa aku thor/Pray/
Thewie
sikarin kayak jadi bodoh. keluar dr rmh itu kenapa. bawa smua berkas2 penting. ini pake acara belanja belanja . bodoh bodoh
Irma
puas banget 🤣🤣🤣 lanjut Thor semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!