Hukum tidak berpihak pada Anggita, jadi aku yang akan jadi hukumnya. Satu misi yang menjadi tujuanku hancurkan Arvin Teriaz. Aku Nabila Azzahra, topengku sekretaris, senjataku kode. Rencana sempurna begitu sempurna sampai Galen Teriaz, dokter yang membenci darahnya sendiri, mengulurkan tangan dalam misiku.
Apakah misi mereka berhasil dalam, menghancurkan seorang Arvin Teriaz ?
Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 JANJI SUCI PERNIKAHAN DAN ANCAMAN TERAKHIR
Hari Minggu pagi, Gereja Bethany Bandung penuh. Bukan karena kebaktian, tapi karena ada pengumuman ‘Hari ini ada lamaran’.
Laras sudah dari jam 5 subuh, dia yang ngatur bunga
"Ini mawar putih buat altar, ini buat kursi mempelai" Ucap Laras
"Kuenya 3 tingkat, bentuk salib di atasnya" Ujar Astrid
Dito sudah live dari pintu gereja
"Guys ini dia hari pernikahan Galen sama Nabila! Target 50M views!" Ucapnya
Anggita nangis…
"Akhirnya bestieku menikah juga, dan menghapus masa lajangnya” Ucap Anggita
*****
Di ruang ganti, Nabila duduk menggunakan gaun putih dan rambutnya disanggul memakai bando mutiara.
"Nak, makan dikit, nanti lemas" Ucap Astrid
"Ma, kalo Galen grogi gimana?" Tanya Nabila
Mendengar itu Alea tertawa …
“Hahaha, kamu tenangin diri kamu dan percaya Tuhan akan memberikan kelancaran” Jawab Alea sambil tersenyum menenangkan
Di ruang sebelah, Galen pake jas hitam.
"Nak, tenangkan dirimu" Ucap Wijaya, menenagkan anak tunggalnya
“Iya, ayah dan doakan aku semoga di lancarkan” Jawab Galen
*****
Jam 10 kebaktian selesai, pendeta naik mimbar.
"Jemaat yang dikasihi Tuhan, hari ini kita bukan cuma beribadah tapi kita jadi saksi janji suci dua anak Tuhan."
Pintu gereja kebuka …
Musik piano "How Great Thou Art" mulai.
Nabila jalan masuk, diigandeng oleh Udin lalu seluruh jemaat berdiri sedangkan Astrid langsung nangis.
"Cantiknya putri kecilku kayak bidadari" Lirih Astrid
Galen nunggu di depan altar, pas liat Nabila napasnya tercekat. Mereka berdiri di depan Pendeta.
"Galen Teriaz, apakah kamu bersedia menjadikan Nabila sebagai istri. Mengasihi dia dalam suka dan duka, sakit dan sehat, sampai Tuhan memisahkan?" Tanya Pendeta
"Saya bersedia, dengan pertolongan Tuhan" Jawab Galen dengan suara serak
"Nabila, apakah kamu bersedia menjadikan Galen sebagai suami. Mendukung dia, mendoakan dia, sampai Tuhan memisahkan?" Tanya Pendeta
"Saya bersedia, Tuhan yang jadi saksinya" Jawab Nabila dengan air mata jatuh karena terharu
"AMEN!" Ucap Jamaat
Galen buka kotak kecil yang berisikan cincin emas simpel. Di dalamnya ada ukiran kecil lalu dia pasang di jari Nabila dengan tangan gemetar.
"Maaf ya Bila, cincinnya simpel. ATapi aku janji, aku kasih kamu dunia aku" Ujar Galen
Nabila ketawa sambil nangis …
"Aku gak butuh cincin, aku hanya butuh kamu" Jawab Nabila
Giliran Nabila pasang cincin ke jari Galen.
"Atas nama Tuhan Yesus Kristus dan gereja, saya menyatakan kalian resmi menjadi suami istri. Yang Tuhan persatukan, jangan diceraikan manusia" Ucap Pendeta
Abis pemberkatan, ada acara ramah tamah di halaman gereja. Meja panjang. Isinya: rendang, air teh dan air kope.
"Ini kue berkat. Makan ya jemaat" Ucap Pendeta
Galen dan Nabila foto bareng sama semua orang, dan berfoto dengan keluarga mereka.
"Bu, makasih udah jadi saksi kita juga" Kata Galen ke Bu Dewi.
"Iya, asal jangan bawa rantang ke gereja ya" Jawab Dewi membuat Galen terkekeh
Tiba-tiba suasana hening.
Di gerbang gereja, ada mobil hitam.
Pintu kebuka.
Dia Bram, memakai jas hitam dengan wajah datar dan di tangannya amplop coklat.
Semua diem dan musik mati, Dito langsung stop livenya.
"Mau apa kamu kesini?!" Tanya Udin
"Bertamu, masa keponakan menikah omnya gak dateng" Jawab Bram
Bram berhenti 3 meter dari Galen dan Nabila.
"Selamat ya," Katanya dingin.
"Cocok, sama-sama keras kepala" Lanjut Bram
Galen nahan amarah
"Om mau apa ?" Tanya Galen waspada
Bram memberikan angkat amplop
"Ngasih kado, surat gugatan baru. Soal tanah di Lembang, oh iya sama undangan pemakaman perusahaan kita" Jawab Bram
Ia lempar amplop itu ke meja dan jatuh di atas kue
"Kalian boleh menang di pengadilan, tapi di dunia bisnis? Aku yang pegang" Sarkas Bram
Nabila maju selangkah
"Om, hari ini hari baik jangan dirusak" Ujar Nabila
Bram senyum meremehkan
"Hari baik? Buat kamu iya, buat aku? Ini hari aku ngingetin perang belum selesai" Balas Bram
Ia nengok ke Pendeta
"Maaf ya pendeta, numpang" Ucap Bram, lalu ia pergi menuju mobil dan melaju cepat
Hening 5 detik.
"UDAH! JANGAN RUSAK SUASANA! MAKAN KUENYA!" Ucap Astrid mengdinginkan suasana
Alea membawa amplop itu, lalu mmebuangnya ke tempat sampah
"Ini kado dari iblis, kita buang saja" Ujar Alea
Galen genggam tangan Nabila erat.
"Maaf ya, hari kita dirusak" Bisik Galen
Nabila menggeleng
"Gak, hari ini hari paling bahagia aku. Karena kamu milih aku, di tengah semua kekacauan ini" Balas Nabila
Galen cium kening Nabila
"Makasih ya, udah mau sama aku" Ucap Galen
“Aaaa… mata aku ternodai, kalian ini tidak tahu tempat” Celetuk Dira
“Siapa suruh di sini, sana gabung sama mama” Jawab Nabila, membuat Dira cemberut
Dari kejauhan, di dalam mobil, Bram liat dari spion. ponselnyanya berbunyi ada pesan dari pengacaranya
… {Gugatan ditolak hakim. Bukti kurang}
Karena kesal Bram melempar ponselnya
"SIALAN! BAHKAN DI HARI BAHAGIA DIA JUGA MENANG!" Teriak Bram begitu kesal