Darah Pewaris Dewa
Atlas dan Oliver menjalani hidup sebagai manusia biasa, hingga kematian ibu mereka membangkitkan kekuatan kuno yang tersembunyi dalam darah mereka.
Mereka ternyata adalah pewaris terakhir dari pendekar legendaris yang pernah melindungi Alam Dewa dari kegelapan.
Namun saat rahasia masa lalu mulai terbuka, mereka menemukan bahwa para dewa menyimpan pengkhianatan besar yang mengubah sejarah.
Dengan ancaman yang semakin dekat, Atlas dan Oliver harus mencari kebenaran tentang warisan mereka...
sebelum kekuatan dalam darah mereka menjadi penyebab kehancuran dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KOTA YANG MULAI RETAK
Hujan berhenti menjelang fajar.
Langit Kota Senja masih dipenuhi awan kelabu, sementara embun tipis menggantung di antara pepohonan dan atap-atap rumah. Jalanan yang biasanya mulai ramai pada pagi hari justru terasa lengang, seolah seluruh kota sedang menahan napas setelah malam yang tidak seharusnya terjadi.
Di dalam rumah sederhana itu, suasana masih diselimuti keheningan.
Atlas berdiri di dekat jendela kamar ibunya. Pecahan kaca yang berserakan belum sempat dibersihkan. Angin pagi terus masuk membawa udara dingin yang menusuk kulit.
Tatapannya kosong.
Semalam, semuanya berubah.
Ia masih bisa mengingat dengan jelas makhluk hitam yang menyerang, cahaya yang keluar dari tubuhnya, dan kata-kata terakhir sang ibu.
"Darah itu... akhirnya kembali."
Sementara itu, Oliver duduk di lantai sambil memeluk lututnya. Matanya sembap karena menangis semalaman, tetapi pikirannya jauh lebih kacau daripada air matanya.
"Mas..."
Atlas tidak menoleh.
"Menurutmu... apa yang sebenarnya terjadi?"
Tidak ada jawaban.
Beberapa detik kemudian Atlas mengembuskan napas panjang.
"Aku tidak tahu."
"Itu bukan mimpi, kan?"
"Bukan."
Oliver kembali menunduk.
"Berarti... selama dua puluh tiga tahun hidupku, aku bahkan nggak tahu siapa diriku sendiri."
Ucapan itu membuat Atlas mengepalkan tangan.
Selama ini mereka hidup sederhana. Ayah mereka telah meninggal sejak Oliver masih kecil. Sang ibu membesarkan mereka berdua seorang diri tanpa pernah mengeluh.
Namun ternyata...
Ibunya menyimpan rahasia sebesar itu.
Rahasia tentang darah yang mengalir dalam tubuh mereka.
Beberapa jam kemudian, pemakaman sederhana selesai dilaksanakan.
Tetangga berdatangan memberikan belasungkawa.
Tak seorang pun mengetahui kejadian semalam.
Bagi mereka, ibu Atlas dan Oliver meninggal karena sakit yang telah lama dideritanya.
Atlas memilih diam.
Oliver juga.
Mereka sadar tidak ada yang akan percaya jika mereka menceritakan tentang makhluk bayangan.
Setelah seluruh pelayat pulang, rumah kembali sunyi.
Atlas sedang merapikan barang-barang ibunya ketika matanya tertuju pada sebuah peti kayu tua yang tersembunyi di bawah ranjang.
"Aneh..."
Selama bertahun-tahun tinggal di rumah itu, ia tidak pernah melihat peti tersebut.
Debunya tebal, tetapi tidak terlihat lapuk.
Seolah waktu tidak pernah menyentuhnya.
Oliver ikut mendekat.
"Itu punya Ibu?"
"Mungkin."
Atlas mencoba mengangkatnya.
Berat.
Sangat berat.
Padahal ukurannya tidak terlalu besar.
Di bagian atas peti terdapat lambang berbentuk matahari yang dikelilingi sembilan lingkaran.
Begitu Atlas menyentuh lambang itu...
Brak!
Cahaya merah keemasan menyala dari telapak tangannya.
Lambang tersebut ikut bersinar.
Oliver membelalakkan mata.
"Mas..."
Terdengar bunyi klik dari dalam peti.
Kuncinya terbuka sendiri.
Atlas perlahan mengangkat tutupnya.
Di dalamnya hanya ada tiga benda.
Sebuah gulungan kain hitam.
Kalung batu giok berwarna putih kebiruan.
Dan sebuah surat.
Atlas mengambil surat itu terlebih dahulu.
Di bagian depan hanya tertulis dua kata.
Untuk Anak-anakku.
Tangannya bergetar ketika membuka lipatan surat yang sudah menguning itu.
Tulisan tangan ibunya memenuhi halaman.
"Jika kalian membaca surat ini, berarti aku sudah tidak lagi bersama kalian."
Oliver menahan napas.
"Maafkan Ibu karena menyembunyikan semuanya. Bukan karena Ibu tidak percaya kepada kalian, tetapi karena semakin lama darah pewaris tertidur, semakin aman hidup kalian."
Atlas membaca semakin cepat.
"Kalian bukan manusia biasa. Kalian adalah keturunan langsung Penjaga Langit dari Alam Dewa. Nenek moyang kita bersumpah menjaga keseimbangan dunia dari makhluk yang lahir dari kegelapan."
Oliver perlahan mundur.
"Alam Dewa..."
Atlas melanjutkan.
"Makhluk yang datang semalam hanyalah prajurit paling lemah. Setelah segel darah kalian terbuka, mereka semua akan mengetahui keberadaan kalian."
Ruangan mendadak terasa lebih dingin.
"Pergilah ke Kuil Gerbang Langit jika ingin mengetahui kebenaran. Jangan percaya kepada siapa pun sebelum kalian menemukan Penjaga Terakhir."
Surat itu berakhir dengan satu kalimat yang membuat Atlas membeku.
"Atlas... Oliver... perang yang berakhir ribuan tahun lalu akan dimulai kembali."
Keheningan memenuhi ruangan.
Tak seorang pun berbicara.
Hanya suara detak jam dinding yang terdengar pelan.
"Apa kita benar-benar harus pergi?"
Oliver memecahkan keheningan.
Atlas menatap surat itu sekali lagi.
"Kita tidak punya pilihan."
"Tapi kita bahkan nggak tahu kuil itu ada di mana."
Atlas mengangguk pelan.
"Itu sebabnya kita harus mencarinya."
Oliver menghela napas panjang.
"Rasanya baru kemarin kita masih ribut soal tagihan listrik."
Ucapan itu membuat Atlas tersenyum tipis untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal.
Namun senyum itu tidak bertahan lama.
Karena tiba-tiba...
Lampu rumah berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lalu padam.
"Mas..."
Oliver berdiri perlahan.
Suara angin di luar menghilang.
Tidak ada burung.
Tidak ada suara kendaraan.
Bahkan suara dedaunan pun lenyap.
Sunyi.
Sunyi yang sama seperti semalam.
Atlas langsung mengambil gulungan kain hitam dari dalam peti.
Begitu kain itu dibuka...
Sebuah pedang kuno bersarung hitam muncul.
Sarungnya dipenuhi ukiran emas yang membentuk naga dan burung garuda saling berhadapan.
Saat Atlas menggenggam gagangnya, cahaya merah kembali muncul di sepanjang lengannya.
Pedang itu bergetar pelan.
Seolah mengenali pemiliknya.
Oliver mengambil kalung batu giok.
Begitu kalung menyentuh telapak tangannya, cahaya biru lembut menyelimuti tubuhnya.
Kalung itu otomatis menggantung di lehernya.
"Ini..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya...
DUARRR!!
Pintu depan rumah hancur berkeping-keping.
Debu beterbangan memenuhi ruang tamu.
Dari balik asap, tampak tiga sosok berjubah hitam berdiri tanpa bergerak.
Wajah mereka tertutup topeng putih tanpa ekspresi.
Di tangan masing-masing terdapat tombak berwarna hitam.
Salah satu dari mereka melangkah maju.
Suaranya berat, dingin, dan tidak memiliki emosi.
"Atlas."
"Oliver."
"Kalian diperintahkan untuk ikut bersama kami."
Oliver menelan ludah.
"Kalau kami menolak?"
Ketiga sosok itu mengangkat tombaknya secara bersamaan.
"Kalau begitu..."
"...kami akan membawa mayat kalian ke Alam Dewa."
Atlas perlahan menghunus pedangnya.
Suara logam kuno bergema memenuhi rumah.
Matanya yang semula dipenuhi kesedihan kini berubah tajam.
"Aku tidak tahu siapa kalian."
"Tapi satu hal yang pasti..."
Ia mengarahkan ujung pedang ke depan.
"Kalian salah memilih rumah."
Di luar, langit Kota Senja kembali menghitam.
Awan berputar membentuk pusaran raksasa.
Dan untuk pertama kalinya...
Perang yang diwariskan oleh darah para dewa benar-benar dimulai.
Angin dingin berembus memasuki rumah yang pintu depannya telah hancur.
Debu masih beterbangan ketika tiga sosok berjubah hitam melangkah masuk dengan tenang. Langkah mereka seragam, tanpa suara, seolah kaki mereka tidak benar-benar menyentuh lantai.
Atlas berdiri di depan Oliver, menggenggam erat pedang kuno yang baru saja diwariskan kepadanya. Bilah pedang itu memancarkan cahaya merah keemasan yang berdenyut mengikuti detak jantungnya.
Sementara itu, kalung batu giok di leher Oliver memancarkan sinar biru lembut yang perlahan menyelimuti tubuhnya.
Ketiga sosok berjubah itu berhenti sekitar lima meter di depan mereka.
"Serahkan diri kalian," ujar salah seorang di antaranya dengan suara datar. "Perlawanan hanya akan mempercepat kematian."
Atlas mengangkat pedangnya.
"Aku tidak mengenal kalian."
"Kami juga tidak ingin mengenalmu," balas sosok itu. "Kami hanya menjalankan perintah."
"Perintah siapa?"
Tidak ada jawaban.
Sebagai gantinya, ketiga sosok itu mengangkat tombak hitam mereka secara bersamaan.
Dalam sekejap, mereka menghilang.
"Mereka di belakang!" teriak Oliver.
Atlas berbalik secepat mungkin.
Trang!
Pedang dan tombak bertemu, memercikkan cahaya merah yang menerangi seluruh ruangan.
Benturan itu membuat lantai rumah retak.
Atlas terdorong beberapa langkah ke belakang, tetapi berhasil menahan serangan pertama.
"Tenaga mereka... luar biasa."
Belum sempat ia mengambil napas, dua penyerang lain sudah datang dari sisi kanan dan kiri.
Oliver mengangkat kedua tangannya secara refleks.
Cahaya biru dari kalungnya melebar membentuk lingkaran.
Gerakan kedua penyerang itu tiba-tiba melambat.
"Bisa sekarang, Mas!"
Atlas memanfaatkan kesempatan itu.
Ia melesat maju sambil mengayunkan pedangnya.
Sreet!
Ujung pedang berhasil menggores lengan salah satu penyerang.
Namun bukannya mengeluarkan darah, tubuh berjubah hitam itu berubah menjadi asap pekat sebelum kembali menyatu.
"Mereka bukan manusia..." gumam Atlas.
"Tentu saja bukan," jawab sosok berjubah itu. "Kami adalah Penjaga Gerbang."
Kalimat itu membuat Atlas teringat isi surat ibunya.
"Makhluk yang datang hanyalah prajurit paling lemah."
Kalau ini adalah prajurit terlemah...
Seberapa kuat musuh yang sesungguhnya?
Pertarungan kembali pecah.
Salah satu Penjaga Gerbang menghentakkan tombaknya ke lantai.
Seketika bayangan hitam menyebar ke seluruh ruangan seperti air.
Bayangan itu bergerak menuju kaki Atlas dan Oliver.
"Hati-hati!" teriak Atlas.
Begitu bayangan menyentuh meja kayu, meja itu langsung membusuk hingga hancur menjadi debu.
Oliver membelalakkan mata.
"Itu bisa menghancurkan apa saja!"
Atlas melompat menghindar, tetapi bayangan tersebut terus mengejarnya.
Pedang di tangannya tiba-tiba bergetar.
Suara yang sangat pelan terdengar di dalam kepalanya.
"Ikuti aliran darahmu..."
Atlas terkejut.
Ia menoleh ke kanan dan kiri.
Tidak ada siapa pun.
"Jangan gunakan tenaga. Gunakan warisan."
Suara itu kembali terdengar.
Tanpa sadar, Atlas memejamkan mata selama satu tarikan napas.
Ketika membukanya kembali, dunia di sekelilingnya terasa berbeda.
Ia bisa melihat aliran energi merah yang mengalir di tubuh ketiga Penjaga Gerbang.
Ia juga dapat melihat titik cahaya kecil di dada masing-masing.
"Itu... kelemahan mereka."
Tanpa ragu, Atlas melompat.
Gerakannya jauh lebih cepat daripada sebelumnya.
Salah satu Penjaga Gerbang mencoba menusukkan tombaknya.
Namun Atlas berputar di udara, menghindari serangan itu, lalu mengayunkan pedangnya tepat ke titik cahaya di dada lawannya.
Crassh!
Tubuh Penjaga Gerbang itu retak seperti kaca.
Sesaat kemudian, seluruh tubuhnya berubah menjadi pecahan cahaya hitam yang lenyap tertiup angin.
"Dihancurkan...?"
Dua Penjaga Gerbang yang tersisa tampak terkejut.
"Keturunan darah itu sudah mulai terbangun."
"Kita harus menghabisinya sekarang!"
Mereka menyerang bersamaan.
Oliver kembali mengaktifkan kekuatannya.
Lingkaran cahaya biru kali ini jauh lebih besar.
Seluruh ruang tamu dipenuhi simbol-simbol kuno yang berputar perlahan.
Waktu di dalam lingkaran itu kembali melambat.
Namun Oliver mulai terengah-engah.
"Mas... aku nggak bisa menahan mereka lama!"
Atlas mengangguk.
"Aku selesai secepat mungkin."
Ia menerjang Penjaga Gerbang kedua.
Pedangnya beradu dengan tombak berkali-kali.
Setiap benturan memunculkan gelombang energi yang memecahkan kaca-kaca jendela rumah.
Akhirnya Atlas menemukan celah.
Satu tebasan lurus menghancurkan titik cahaya di dada lawannya.
Penjaga Gerbang kedua lenyap.
Kini tinggal satu.
Sosok terakhir itu tidak lagi menyerang.
Ia justru mundur beberapa langkah.
Di balik topeng putihnya terdengar suara tawa pelan.
"Kami memang bukan lawan kalian."
"Tugas kami hanya memastikan satu hal."
"Apa maksudmu?" tanya Atlas.
Sosok itu mengangkat satu tangannya ke langit.
"Segel kalian benar-benar telah terbuka."
Begitu kalimat itu selesai diucapkan, tubuhnya berubah menjadi kabut hitam dan menghilang.
Rumah kembali sunyi.
Hanya napas Atlas dan Oliver yang terdengar berat.
Belum sempat mereka merasa lega, langit di luar berubah.
Awan hitam membentuk pusaran raksasa tepat di atas Kota Senja.
Kilatan petir merah menyambar tanpa suara.
Seluruh kota mendadak gelap meskipun hari masih siang.
Oliver keluar rumah sambil menatap langit.
"Itu... bukan badai biasa."
Atlas mengikuti pandangannya.
Di tengah pusaran awan, perlahan terbuka sebuah celah bercahaya keemasan.
Sangat jauh.
Namun cukup jelas untuk dilihat.
Di balik celah itu tampak siluet bangunan-bangunan megah yang berdiri di atas awan.
Istana.
Menara.
Jembatan cahaya.
Sebuah dunia yang tidak mungkin berada di langit manusia.
"Alam Dewa..." bisik Oliver.
Namun pemandangan itu hanya berlangsung beberapa detik.
Celah tersebut kembali menutup.
Langit kembali normal seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Atlas menggenggam surat peninggalan ibunya.
"Apa pun yang terjadi..."
"Kita harus menemukan Kuil Gerbang Langit."
Oliver mengangguk mantap.
"Dan kita harus mencari Penjaga Terakhir."
Atlas menatap rumah yang kini porak-poranda.
Rumah yang selama ini menjadi tempat mereka tumbuh telah berubah menjadi medan pertempuran.
Ia sadar...
Tidak ada jalan untuk kembali menjalani kehidupan seperti dulu.
Di tempat yang sangat jauh, di singgasana tertinggi Alam Dewa, sepasang mata perlahan terbuka.
Suara berat bergema memenuhi aula yang sunyi.
"Para pewaris telah bangkit."
"Mulailah persiapan."
"Perang Langit akan segera dimulai."