evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penggoda
Pikiran Cristian yang semula dipenuhi berbagai rencana langsung buyar ketika terdengar ketukan di pintu kamarnya.
Tok... tok... tok...
Cristian berdiri lalu membuka pintu. Di depan sana berdiri seorang pelayan wanita yang pernah ia lihat di dapur. Dengan mengenakan pakaian tidur warna putih tipis dan transparan, semakin jelas lekuk tubuhnya saat berada dibawah cahaya lampu.
"Kamu..." Cristian mengernyit, mencoba mengingat namanya.
"Ema. Aku Ema," jawab wanita itu sambil mengulurkan tangan.
Cristian hanya mengangguk singkat, tak menyambut tangan ema yang menggantung di udara.
"Ada apa?"
Matanya memperhatikan keadaan sekitar secara refleks. Lorong asrama pekerja sudah cukup sepi malam itu.
Ema tersenyum kecil. "Aku tidak bisa tidur. Tadi kulihat lampu kamarmu masih menyala."
"Lalu?"
"Emmm... lampu di kamarku mati. Sepertinya rusak. Bisakah kamu membantu melihatnya?" suara Ema dibuat selembut mungkin.
Cristian menatapnya beberapa detik. Permintaan itu terdengar sederhana, tetapi pengalaman hidup mengajarinya untuk tidak mudah percaya pada siapa pun. Namun menolak tanpa alasan juga bisa membuatnya terlihat mencurigakan.
"Baik," jawabnya akhirnya.
Wajah Ema langsung tampak senang.
"Terima kasih."
Ia segera berjalan lebih dulu menyusuri lorong. Cristian mengikuti dari belakang. Sepanjang perjalanan, pikirannya justru bekerja lebih aktif. Ia sudah melihat berbagai macam orang selama hidupnya. Ada yang tulus, ada yang hanya ingin memanfaatkan kedekatan dengan orang lain untuk keuntungan pribadi.
Dan Ema...
Entah kenapa membuatnya merasa harus tetap waspada daripada rasa tertarik.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan kamar Ema. Wanita itu membuka pintu.
"Lampu Kamar ini."
Cristian berdiri di ambang pintu dan langsung melihat sakelar serta lampu di langit-langit.
Ia tidak langsung masuk.
"Kapan lampunya mati?"
"Tadi malam."
Cristian mengangkat alis.
"Tadi malam?"
"Iya."
"Kenapa baru sekarang minta diperbaiki?"
Ema tampak sedikit gugup.
"A_aku... sibuk bekerja."
Cristian tidak berkomentar. Ia memeriksa sakelar dengan penerangan cahaya ponselnya beberapa saat, lalu menemukan bahwa masalahnya ternyata sederhana. Sambungan kabel di dekat fitting lampu sedikit longgar.
Saat Cristian sedang sibuk memperbaikinya, terdengar bunyi klik dari belakang. Untungnya lampu sudah berhasil menyala, Ia menoleh. Ema baru saja mengunci pintu kamar. Tatapan Cristian langsung berubah dingin.
"Apa yang kamu lakukan?"
Ema tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru melangkah mendekat dengan senyum genit yang membuat Cristian semakin tidak nyaman.
"Tuan Cristian..." ucapnya pelan.
Cristian mundur setengah langkah.
"Aku bertanya, kenapa pintunya dikunci?" Nadanya tegas.
Namun Ema tetap mendekat.
Cristian bisa melihat dengan jelas bahwa wanita itu tidak benar-benar membutuhkan bantuan memperbaiki lampu. Sesuai dugaannya saat Ema datang menemuinya, hanya ingin menggodanya.
Rasa kesal mulai muncul dalam dirinya.
"Aku cukup jelas tadi. Lampumu sudah selesai diperbaiki. Sekarang buka pintunya."
Bukannya minggir, Ema malah semakin mendekati Cristian, hingga kedua tangan Ema dengan lancang meraba dada bidang Cristian.
Tetapi bukannya tertarik, Cristian justru merasa sangat muak dengan situasi itu.Dan yang membuatnya semakin kesal adalah kenyataan bahwa ia sedang berada di lingkungan yang penuh kamera pengawas. Ia tidak bisa membuat keributan yang akan menarik perhatian orang lain.
Cristian menarik napas panjang, berusaha tetap tenang meskipun rasa ingin membunuh wanita dihadapannya sudah tak tertahankan.
"Ema hentikan!"
Nada suaranya dingin tapi lebih tegas. Ia menyingkirkan tangan nakal Ema dari dadanya.
"Maukah kamu disini semalam saja! kita bisa saling menghangatkan." Ucap Ema manja. Ia mulai menyentuh Cristian lagi, kali ini dengan mengalungkan tangannya di leher Cristian.
Melihat Ema masih bersikeras menghalangi jalannya, Cristian akhirnya memilih cara tercepat untuk mengakhiri situasi tanpa keributan.
Ia memutar tubuh Ema lalu mendorongnya, sehingga wanita itu terduduk di atas ranjang dan tidak lagi menghalangi pintu.
Kesempatan itu langsung dimanfaatkan oleh Cristian membuka kunci pintu lalu keluar dari kamar.
Begitu berada di lorong, ia berjalan cepat kembali ke asrama sopir. Wajahnya merah padam menahan amarah.
"Jalang tak tau diri..." gerutunya lirih.
Malam yang seharusnya tenang justru diakhiri dengan kejadian yang mengganggu.
Sesampainya di kamar, Cristian segera mengunci pintu dari dalam.
Sedangkan situasi Ema saat ini sedang berdiri di tengah ruangan dengan wajah memerah karena malu dan marah.
Belum pernah sebelumnya ia diperlakukan seperti itu.
Biasanya para pekerja laki-laki akan berusaha mendekatinya atau setidaknya tersanjung oleh perhatiannya. Namun Cristian berbeda. Pria itu bahkan terlihat tidak tertarik sedikit pun. padahal Ema sudah berdandan, memakai wewangian, dan sengaja memilih baju transparan tanpa mengenakan dalaman. Tujuannya sangat jelas, ingin menarik Cristian dibawah pahanya.
Ema mengepalkan jemarinya.
"Sok sekali dia..." gerutunya kesal.
Ia berjalan mondar-mandir di kamar sambil berkacak pinggang.
"Sama-sama pekerja di rumah ini, dia malah jual mahal padaku."
Rasa kesal dan harga dirinya yang terluka membuat pikirannya dipenuhi berbagai keluhan. Namun pada akhirnya ia hanya bisa menjatuhkan diri ke atas ranjang sambil mengomel sendiri. Padahal awalnya ia sudah membayangkan malam panas yang akan ia habiskan bersama Cristian.
Sementara itu, di kamar para sopir, suasana jauh lebih sunyi. Cristian duduk di tepi ranjang dengan rahang mengeras.
Kejadian tadi benar-benar merusak suasana hatinya. Ia tidak suka dimanipulasi. Tidak suka dijebak. Dan terlebih lagi, ia tidak suka ada orang yang memaksakan kehendaknya.
Napasnya masih terasa berat karena amarah yang belum reda. Namun setelah beberapa menit, ia memaksa dirinya untuk tenang.
Ia datang ke rumah Alberto untuk tujuan yang jauh lebih besar daripada terlibat konflik dengan seorang pelayan.
"Benar-benar sialan..." gumamnya pelan.
Cristian mengusap wajahnya lalu berbaring. Dalam pikirannya, ia tidak akan membiarkan wanita bernama Ema itu tetap hidup. Besok ia pastikan akan menjadi hari terakhir Ema, bernafas didunia ini.