NovelToon NovelToon
Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Putra

"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 002: Tamparan untuk Sang Guru

Garis pertama itu pendek, tapi cukup untuk membuat seluruh hidup Arka berubah arah.

Di luar, pintu besi dihantam.

BRAK!

"Arka! Buka pintunya!"

Arka tidak menjawab. Ia membuka jaringan leher lapis demi lapis. Tangannya seharusnya gemetar, tapi justru stabil. Setiap aturan yang ia langgar berdiri jelas di kepalanya, namun label merah di atas jenazah lebih jelas lagi.

[Pembunuhan]

Ia tidak boleh hanya percaya pada sistem. Ia harus menemukan bukti.

"Kalau kau merusak jenazah itu, kariermu selesai!" teriak dr. Suherman dari luar.

Arka memperdalam irisan.

Jaringan subkutan terbuka. Di area otot sternokleidomastoideus, warna merah gelap tampak menyusup ke dalam serat otot. Memar itu berada di jaringan dalam. Tekanan setelah mati tidak akan membentuk pola seperti itu.

Korban masih hidup saat lehernya ditekan.

[Temuan pendukung terdeteksi.]

[Perdarahan dalam otot leher: ante-mortem.]

"Satu," bisik Arka.

Di koridor, suara perempuan terdengar tegas. "Apa yang terjadi?"

Teknisi menjawab gugup, "Bu Iptu, anak magang itu mengunci ruang autopsi. Dia membedah sendiri."

"Apa?"

Arka mengenali nama dari berkas: Adira Larasati, Kanit Reskrim Polrestabes Surabaya.

dr. Suherman cepat berkata, "Bu Iptu, dia tidak stabil. Saya menegurnya, lalu dia melakukan tindakan bodoh."

Arka mendengar semuanya, tapi tidak berhenti.

Satu bukti bisa diperdebatkan.

Dua bukti membuat orang diam.

Tiga bukti memaksa ruangan berpihak pada kebenaran.

Ia membuka jaringan sekitar laring. Ujung instrumen menyentuh struktur keras. Kartilago tiroid.

Ada retakan melintang.

Tekanan kuat dari depan atau samping. Terarah. Tidak cocok dengan gantung diri biasa pada perempuan muda.

[Fraktur kartilago tiroid terkonfirmasi.]

"Dua."

Adira berbicara di luar, "Mundur."

Koridor hening.

Arka tahu pintu akan segera didobrak. Ia mengarahkan lampu kecil ke alur jeratan. Bekas tali besar terlalu mencolok, seolah sengaja disiapkan agar semua mata berhenti di sana.

Di bawahnya, ada garis lain.

Tipis.

Hampir horizontal.

Lebarnya sekitar dua milimeter.

Alur itu tidak cocok dengan tali gantungan. Jejaknya lebih sesuai dengan tali kecil atau kabel yang mencekik korban lebih dulu, lalu disamarkan dengan bekas gantungan kasar.

"Tiga."

Adira menghitung di luar. "Satu. Dua. Tiga."

Benturan keras meledak. Pintu terbuka ke dalam.

Adira masuk lebih dulu. Wajahnya dingin, marah, dan sepenuhnya sadar bahwa ia sedang melihat pelanggaran prosedur.

"Siapa yang memberi Anda wewenang mengunci ruang autopsi?" tanyanya tajam. "Ini jenazah dalam perkara polisi, Dok. Bukan ruang praktik pribadi."

dr. Suherman menyusul masuk. Napasnya berat. "Bu Iptu, anak ini baru datang hari ini. Dia bahkan belum pernah menyentuh jenazah. Dia membedah tanpa izin. Arka, kau sudah gila?"

Kalimat itu kembali muncul.

Belum pernah menyentuh jenazah.

Tapi kali ini jenazah sudah terbuka, dan bukti sudah ada di depan mata.

Arka meletakkan skalpel di nampan. Ia mengangkat kedua tangan sedikit.

"Saya siap bertanggung jawab, Bu Iptu. Tapi lihat dulu tiga temuan ini."

Adira menatapnya satu detik. "Tunjukkan."

dr. Suherman terdiam.

Arka membuka bagian otot leher dengan pinset. "Pertama, perdarahan luas pada otot sternokleidomastoideus. Ini ante-mortem. Korban masih hidup saat tekanan terjadi."

Adira mendekat. "Lanjut."

"Kedua, fraktur melintang pada kartilago tiroid. Pada kasus gantung diri biasa, temuan ini tidak mudah terjadi, apalagi pada korban muda. Ini lebih sesuai dengan pencekikan kuat."

Teknisi di ambang pintu tidak lagi tertawa.

Arka menggeser lampu. "Ketiga, alur tipis dua milimeter di bawah bekas tali besar. Arah dan lebarnya berbeda. Saya menduga korban dicekik lebih dulu dengan tali kecil atau kabel, lalu digantung untuk membuat TKP terlihat seperti bunuh diri."

Ruang autopsi diam.

Adira membungkuk, memperhatikan garis itu. Kemarahannya berubah menjadi fokus.

"Foto semua temuan," katanya kepada teknisi. "Pakai skala ukur. Hubungi Inafis. Minta mereka kembali ke TKP dan cari tali kecil, kabel, atau serat tipis. Status perkara naik menjadi dugaan pembunuhan."

"Siap, Bu Iptu."

"Tunggu," kata Arka.

Teknisi berhenti.

dr. Suherman langsung menoleh. "Apa lagi?"

Arka menunjuk area leher tanpa menyentuh. "Ambil foto alur besar dan alur kecil dalam satu frame dulu, Dok. Kalau dipisah, pembela nanti bisa bilang itu dua temuan yang tidak berhubungan. Harus terlihat bahwa alur kecil tertutup sebagian oleh alur besar."

Adira menatap teknisi. "Lakukan seperti itu."

Teknisi cepat mengambil penggaris skala. Tangannya tidak setenang tadi. Kamera berbunyi beberapa kali.

"Dan swab serat di tepi alur kecil," lanjut Arka. "Kalau pelaku memakai kabel atau tali sintetis, mungkin ada transfer mikro. Saya tidak bisa memastikan tanpa Labfor, tapi jangan sampai hilang karena jenazah langsung dibersihkan."

Adira mengangguk singkat. "Catat. Swab serat sebelum pembersihan jenazah."

Kali ini tidak ada yang tertawa. Bahkan teknisi yang paling muda otomatis menulis ulang label bukti dengan tangan lebih hati-hati.

Teknisi bergerak cepat.

Adira menoleh ke dr. Suherman. "Dokter Suherman, Anda tadi sudah akan menulis kesimpulan bunuh diri?"

dr. Suherman menelan ludah. "Data pemeriksaan luar dan TKP memang mengarah ke sana."

"Mengarah," kata Adira. "Belum selesai."

Wajah dr. Suherman memucat.

Arka melepas sarung tangan luar dan membuangnya ke wadah limbah medis. Tangannya tetap stabil.

Adira kembali menatapnya. "Anda sadar tindakan Anda bisa diserang penasehat hukum nanti?"

"Sadar, Bu Iptu. Karena itu saya tidak akan menulis kesimpulan. Temuan harus difoto, dicatat, dan diverifikasi oleh Dokter Suherman sebagai Sp.F. Saya hanya membuka jalan."

"Kenapa Anda berani mengambil risiko sejauh itu?"

Tatapan Arka tetap pada jenazah. "Karena kalau malam ini ditulis bunuh diri, jenazah akan dimakamkan. Besok alur kecil itu mungkin sudah tidak bisa diperiksa dengan kondisi yang sama. Pelaku akan punya satu malam penuh untuk membersihkan TKP."

Bambang belum hadir di sana, tapi logika itu adalah logika penyidik. Adira jelas menangkapnya.

"Jadi Anda mengunci pintu untuk membeli waktu?"

"Untuk mencegah kesimpulan salah keluar lebih dulu, Bu Iptu."

Jawaban itu membuat semua orang diam lagi.

Adira menahan pandangannya. "Nama Anda?"

"Arka Pratama."

"Dokter Muda?"

"Benar."

"Hari pertama?"

"Benar."

Di pintu, dua teknisi saling pandang. Satu jam lalu mereka melihat Arka mencuci botol spesimen. Sekarang ia berdiri di depan meja autopsi dan memaksa kasus berubah arah.

Adira mengangguk pelan, lalu berkata kepada dr. Suherman, "Kalau dia tidak mengunci pintu ini, Dokter, malam ini Anda hampir menandatangani VeR yang membuat seorang pembunuh pulang dengan tenang."

Kalimat itu tidak keras.

Tapi cukup untuk membuat dr. Suherman kehilangan warna di wajahnya.

Arka tidak tersenyum. Ia tidak menatap teknisi. Ia tidak menikmati momen itu.

Ia hanya melihat label merah di atas leher jenazah.

[Pembunuhan]

Kali ini, kata itu tidak lagi sendirian di kepalanya.

Sekarang ruangan ini juga sudah mendengarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!