Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Tidak Apa-apa, Aku Sudah Datang
Pintu utama studio pecah pada pukulan kelima.
Suara kayu runtuh menggema sampai ke ruang ganti. Vivi mematikan senter ponsel, mengambil perangkat itu dari rak, lalu mundur ke deretan lemari kostum besi.
“Dia sudah masuk,” bisiknya.
Di layar, wajah Sebastian berguncang bersama mobil yang melaju. “Masuk ke lemari paling jauh. Jangan tutup panggilan.”
“Kalau dia menemukanku?”
“Aku akan tiba sebelum itu.”
Ia mengatakannya seperti sebuah kepastian, meski suara navigasi dari mobil menyebut dua puluh enam menit.
Vivi membuka lemari besi paling bawah. Bagian dalamnya dipakai untuk menyimpan kotak aksesori panggung. Ia mengeluarkan dua kotak, mendorong tas ke sudut, lalu merangkak masuk sambil membawa batang logam.
Ruangnya begitu sempit hingga lututnya harus ditekuk ke dada. Sebelum menutup pintu, Vivi meletakkan ponsel di antara gaun gantung pada lemari sebelah, kameranya mengarah ke celah ruangan. Panggilan tetap terhubung, tetapi cahaya layar tertutup kain.
Ia menarik pintu besi sampai hanya tersisa celah untuk udara.
Di luar, langkah berat memasuki ruang latihan.
“Keluar saja,” seru seorang lelaki. “Saya cuma mau bicara.”
Ujung batang logam bergetar di tangan Vivi.
Lelaki itu menendang sesuatu. Pengeras suara jatuh dan pecah. Setelahnya terdengar bunyi pintu ruang ganti dihantam.
Sekali.
Dua kali.
Bangku dan rak sepatu menahan pukulan pertama, tetapi pada pukulan berikutnya salah satu roda rak patah. Kayu bergeser sedikit demi sedikit.
Vivi menggigit bibir agar tidak bersuara.
***
Sebastian menyetir dengan satu tangan dan menahan ponsel pada dudukan dasbor.
Hujan membuat jalan tol tampak seperti lembaran abu-abu. Wiper bergerak pada kecepatan tertinggi, tetap tidak mampu membersihkan seluruh air. Dua kali mobil di depannya mengerem mendadak. Dua kali ia berpindah jalur tanpa memperlambat lebih dari yang diperlukan.
Kepala keamanan berbicara melalui sambungan lain. “Tim di lokasi belum berhasil membuka gerbang otomatis, Pak. Penggerak manualnya dirusak. Mereka mencoba akses dari bangunan sebelah.”
“Tembus gerbangnya.”
“Peralatannya sedang dibawa.”
“Gunakan kendaraan.”
“Risiko cedera untuk tim cukup tinggi.”
“Tagihkan semua kerusakan kepadaku. Tembus sekarang.”
Dari panggilan Vivi, terdengar benturan lain.
Sebastian menekan pedal gas lebih dalam.
Sebuah bayangan terus meledak di kepalanya: pintu terbuka, tangan asing menyentuh Vivi, dan dirinya datang satu menit terlambat. Setiap kali bayangan itu muncul, pandangannya menyempit sampai hanya tersisa jalan dan titik merah lokasi di layar.
Ia tidak boleh terlambat.
Lelaki di studio harus dihentikan. Jika perlu, lelaki itu tidak akan keluar dengan tubuh utuh.
Pikiran itu tidak mengejutkannya.
Yang menakutkan justru betapa tenang ia menerimanya.
***
Pintu ruang ganti akhirnya terbuka dengan suara patahan keras.
Langkah lelaki itu masuk. Air menetes dari pakaiannya ke lantai. Vivi melihat sepatu bot hitam melalui celah lemari.
“Saya tahu kamu di sini.”
Satu pintu loker ditarik terbuka.
Kosong.
Pintu kedua berderit. Gantungan baju berdenting.
Vivi menekan punggung ke dinding besi. Udara terasa habis. Betisnya mulai kram, tetapi ia tidak berani mengubah posisi.
Ponsel yang tersembunyi di balik gaun masih membawa suara Sebastian, begitu pelan hingga hanya terdengar sebagai desir.
“Vivi. Aku sudah dekat.”
Lelaki itu membuka pintu ketiga.
Kemudian keempat.
Di luar gedung, suara benturan logam besar terdengar. Mungkin kendaraan keamanan menghantam gerbang. Lelaki itu berhenti sesaat, lalu mempercepat pencarian.
“Jangan bikin susah.”
Ia menendang pintu lemari bagian atas. Beberapa kostum jatuh. Jaraknya tinggal dua bagian dari tempat Vivi bersembunyi.
Vivi mengangkat batang logam. Jika pintunya dibuka, ia akan mengarahkannya ke tangan, lalu lutut. Satu celah saja. Ia hanya membutuhkan satu celah.
Pegangan lemari di sebelahnya bergerak.
Pintu terbuka.
Lelaki itu membungkuk ke bagian paling bawah. Wajahnya tertutup masker, tetapi matanya menyipit puas ketika melihat celah pada lemari Vivi.
Ia menarik pintunya.
Cahaya abu-abu masuk.
“Ketemu kamu.”
Vivi mengayunkan batang logam. Ujungnya mengenai lengan lelaki itu. Ia mengumpat dan mundur, tetapi tangan satunya mencengkeram pintu besi sebelum Vivi sempat menutupnya kembali.
“Berani juga.”
Vivi menendang dari dalam. Tumitnya mengenai tulang kering. Lelaki itu tersandung, lalu mengangkat palu yang sejak tadi tersembunyi di sisi pahanya.
Sebuah tubuh menghantamnya dari samping.
Lelaki itu terlempar menabrak deretan loker. Palu jatuh dan berputar di lantai.
Sebastian berdiri di antara Vivi dan penyerang dengan kemeja basah menempel pada punggung. Napasnya kasar. Ada darah tipis di pelipisnya, entah akibat gerbang atau pecahan pintu.
Penyerang baru sempat mengangkat kepala ketika sepatu Sebastian menghantam dadanya.
Tubuhnya terpental lagi.
“Sebas.”
Sebastian tidak menoleh.
Ia meraih kerah lelaki itu, menariknya berdiri, lalu meninju wajahnya. Sekali. Suara tulang bertemu buku jari terdengar tumpul. Darah langsung keluar dari hidung di balik masker.
Tinju kedua merobek kulit buku jari Sebastian.
Tinju ketiga membuat kepala lelaki itu membentur loker.
“Siapa yang menyuruhmu?”
Lelaki itu batuk darah. “Saya tidak tahu namanya.”
Sebastian menghantam perutnya sampai tubuh itu terlipat. Ia menahan tengkuknya, membanting wajahnya ke bangku yang tadi dipakai Vivi untuk menghalangi pintu.
Kayu berderak. Satu gigi kecil jatuh ke lantai bersama darah.
“Siapa?”
“Seorang perempuan.”
Jawaban itu tidak menenangkan apa pun.
Sebastian menjatuhkannya, lalu menginjak tangan yang mencoba meraih palu. Jeritan memenuhi ruang ganti. Tumitnya menekan lebih keras sampai jari-jari lelaki itu tertekuk pada arah yang tidak wajar.
Ia ingin tangan itu tidak pernah bisa menyentuh Vivi.
Ia ingin mulut yang tadi mengucapkan `ketemu kamu` berhenti bernapas.
Sebastian menekuk lutut dan kembali mengangkat tinjunya.
Vivi keluar dari lemari dengan kaki mati rasa. Ia hampir jatuh, tetapi memaksa diri berjalan. Pada saat tinju Sebastian terangkat lagi, ia memeluk pinggang pria itu dari belakang.
“Cukup!”
Tubuh Sebastian membeku.
“Sebas, aku takut.” Suara Vivi pecah. “Tolong berhenti.”
Tangan yang berlumur darah tetap menggantung di udara selama satu detik. Dua detik.
Lalu Sebastian melepaskan penyerang itu.
Lelaki tersebut jatuh miring, mengerang, masih bernapas.
Sebastian berbalik begitu cepat hingga Vivi kehilangan keseimbangan. Kedua lengannya mengurung tubuhnya. Satu tangan menekan belakang kepala Vivi, tangan lain merapatkan pinggangnya sampai hampir menyakitkan.
“Lihat aku.”
Vivi mengangkat wajah. Baru sekarang ia melihat mata Sebastian. Bukan dingin. Bukan marah. Pupilnya melebar, dan sesuatu yang liar bergerak di sana.
“Dia menyentuhmu?”
“Tidak.”
“Kamu terluka?”
“Tidak. Hanya sedikit terbentur.”
Sebastian memeriksa wajah, leher, dan kedua lengannya dengan tangan gemetar. Ketika tidak menemukan darah, ia menarik Vivi kembali ke dada dan membenamkan wajah di sisi lehernya.
“Tidak apa-apa,” bisiknya berulang kali. “Aku sudah datang.”
Kalimat itu menghancurkan sisa pertahanan Vivi.
Ia menangis keras di bahu Sebastian, bukan lagi tangis yang ditahan agar tidak ditemukan. Pria itu memeluknya di tengah pintu pecah, kostum berjatuhan, dan bau besi dari darah penyerang.
Tim keamanan masuk kurang dari satu menit kemudian, disusul polisi. Salah satu petugas segera memisahkan palu dari jangkauan dan memasukkannya ke kantong barang bukti. Dua petugas lain memeriksa napas penyerang sebelum memanggil ambulans.
Sebastian tidak melepaskan Vivi.
***
Menjelang malam, ruang pemeriksaan di kantor polisi terasa terlalu terang.
Vivi sudah menjalani pemeriksaan medis singkat. Hanya ada memar di siku dan goresan pada lutut akibat merangkak ke lemari. Penyerang berada di rumah sakit dalam pengawasan polisi, sadar, dengan patah hidung, cedera tangan, dan beberapa luka yang tidak mengancam nyawa.
Rekaman panggilan, waktu sinyal darurat, palu, kerusakan pintu, kamera lorong, serta rekaman gerbang telah dicatat. Pengacara Gunawan Group duduk di meja sebelah bersama penyidik.
“Dugaan masuk tanpa izin, perusakan, kepemilikan alat untuk menyerang, dan percobaan kekerasan sudah cukup untuk penahanan awal,” kata pengacara setelah kembali. “Ponselnya juga disita melalui prosedur. Tim akan menelusuri pemberi perintah.”
“Apakah kami masih dibutuhkan?” tanya Vivi.
“Untuk malam ini, tidak. Pernyataan awal sudah ditandatangani. Besok kami akan mengatur pemeriksaan lanjutan dengan pendamping.”
Sebastian duduk di samping Vivi dengan satu lengan tetap melingkari bahunya. Sejak tiba, ia hampir tidak bicara. Tubuhnya sesekali bergetar sangat kecil, seolah baru sekarang menyadari apa yang hampir terjadi.
Vivi meminta kotak pertolongan pertama kepada petugas. Ia mengambil kapas berantiseptik, lalu menarik tangan kanan Sebastian ke atas pahanya.
Kulit di tiga buku jarinya pecah. Darah sudah mengering sampai ke sela jari.
“Ini akan perih,” katanya.
“Tidak apa-apa.”
Vivi menyentuhkan kapas. Sebastian tidak bergerak, tetapi otot lengannya menegang.
“Kamu hampir membunuhnya.”
Tatapan pria itu turun ke wajah Vivi. “Aku tahu.”
Tidak ada penyangkalan. Tidak ada permintaan maaf palsu.
Vivi seharusnya takut pada kejujuran itu. Sebagian dirinya memang takut. Namun saat ia melihat tangan Sebastian yang bergetar di atas roknya, rasa takut lain terasa lebih besar: pria ini benar-benar membayangkan kehilangan dirinya.
Ia membalut buku-buku jari itu satu per satu.
“Kalau aku tidak memelukmu, apa kamu akan berhenti?”
Sebastian menatap perban putih. “Aku tidak tahu.”
Jawaban itu membuat ruang di antara mereka terasa dingin.
Lalu ia menggenggam ujung rok Vivi dengan tangan yang tidak terluka, kecil dan keras seperti seseorang yang memastikan kain itu nyata.
Pengacara menutup map. “Kita boleh pulang.”
Sebastian berdiri dan langsung mengangkat Vivi ke dalam pelukannya.
“Aku bisa jalan.”
“Tidak malam ini.”
Ia membawa Vivi menuju pintu, tubuhnya masih tegang di bawah tangan perempuan itu.
“Kita pulang,” bisiknya. “Mulai sekarang, ke mana pun kamu pergi, aku akan tahu.”