Aditya permana, dokter muda yang terpaksa harus kehilangan cintanya, lantaran kekasihnya yang bernama Nadia mahardika, menikah dengan ayahnya sendiri, tanpa sepengetahuannya. Hubungan yang tidak harmonis antara Adit dan ayahnya, semakin memanas ketika mengetahui kekasihnya menjadi ibu tirinya. Sejak kematian ibunya, hanya Nadia lah tempatnya mengadu.
Suatu ketika, pertemuan tidak sengaja Aditya dan Alexa terjadi, Alexa bekerja di bawah tanggung jawab Aditya, Aditya yang selalu bersikap dingin, suatu saat menjadi luluh dan mulai mencintai Alexa.
Tapi sebuah teror melanda, Aditya harus bekerja keras bersama Rangga, sahabatnya untuk dapat mengungkap sang peneror.
Hingga sebuah insiden terjadi, membuat Aditya harus kembali hancur untuk kedua kalinya, tapi sebagai seorang dokter, Aditya harus profesional dalam pekerjaannya, di tengah kesibukannya, Aditya tetap menjalankan misinya untuk mengungkap pelaku kejahatan itu.
Lalu bagaimana setelah itu?
Siapakah sang peneror sebenarnya?
Dan ada motif apa dibaliknya?
yuk baca kelanjutan ceritanya.
beri dukungan untuk author ya, terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Dini Thamara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelidik.
Alexa mulai menceritakan semua kejadian sejak awal dia dan lelaki itu bertemu, sesekali Alexa menangis saat menceritakannya membuat Adit semakin geram mendengar perlakuan lelaki itu kepada Alexa.
"Apa? jadi kau di culik beberapa hari yang lalu?" tanya Rangga terkejut.
Alexa mengangguk dan mengusap air matanya.
"Apakah kau di sembunyikan di rumah kecil di ujung jalan sana?" tanya Rangga lagi.
Adit dan Alexa mengeryitkan dahinya, mereka berfikir darimana Rangga tahu soal rumah kecil itu, padahal mereka belum menceritakannya sampai ke arah sana.
"Saat aku mengantar kau pulang, aku melihat seorang lelaki dan perempuan sedang bertengkar, saat aku ingin mendekatinya, eh tiba-tiba seorang lelaki lain mengancamku dengan pistol" ucap Rangga menjelaskan sambil menatap Adit.
"Apa? kenapa kau tidak ceritakan itu padaku?!" Adit bangun dari tempat duduknya dengan mengepalkan tangan.
"Hei, tenang, jangan marah padaku, aku fikir mungkin mereka memang pasangan" jawab Rangga.
"Perempuan itu adalah aku tuan, saat aku melihat mobilmu aku mencoba mendekatinya, tapi dia malah memukulku hingga aku tidak sadar" jawab Alexa.
"Lalu, bagaimana keadaanmu, kau baik-baik saja kan?" Adit memeriksa wajah dan tubuh Alexa.
"Aku tidak apa-apa tuan, kau tenang saja".
"Wah, ini sudah sangat berbahaya Dit, kita harus menyewa detektif untuk kasus ini" Rangga memberi saran.
"Tidak, kita akan selidiki kasus ini sendiri dulu, jangan libatkan orang lain" ucap Adit.
Rangga dan Alexa mengangguk, mereka setuju dengan saran Adit. Tanpa mereka sadari, seseorang sedang mendengarkan pebincangan mereka dengan senyum sinis di wajahnya.
**
Siang ini Adit dan Rangga akan melakukan operasi kepada pasien penyakit jantung, mereka sudah siap akan menyelamatkan pasien itu, mereka segera bergegas masuk ke ruang operasi bersama Alexa dan dokter lain.
"Dokter Adit, operasi ini sangat berbahaya bagi pasien, karena ada pembekuan darah di jantungnya" ucap Rangga.
Adit kembali memperhatikan layar monitor sebelum mulai pembedahan, Adit memperhatikan satu persatu masalah pada pasien itu.
Setelah berfikir cukup lama, Adit membuat keputusan yang sangat mengejutkan, dia akan tetap melakukan operasi itu bagaimana pun caranya.
"Apa kau sudah tidak waras, bagaimana kalau pasien meninggal?" Rangga sedikit khawatir.
Adit menatap Rangga dengan penuh kekesalan.
"Bukan aku tidak mau Dit, tapi ini beresiko" ucap Rangga mencoba menjelaskan.
"Kalau kau tidak yakin, kau boleh pergi" ucap Adit.
Rangga tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia memutuskan untuk tetap membantu Adit.
Operasi segera dilakukan, ruangan itu terasa sunyi hanya ketegangan yang berada disana, sesekali asisten Adit mengelap keringatnya.
Operasi berjalan hingga 12 jam, semua ketegangan berakhir setelah operasi berhasil dilakukan, Rangga yang sangat khawatir akhirnya bisa bernafas lega.
Mereka keluar dari ruang operasi dengan wajah bahagia, karena sekali lagi mereka menyelamatkan nyawa seseorang, begitu juga dengan keluarga pasien, mereka sangat berterima kasih kepada Adit.
"Bawa dia keruang perawatan, terus awasi dan segera laporkan hasil pemeriksaan berikutnya" ucap Adit kepada Anita.
Anita dan yang lain mengantar pasien itu menuju ruang perawatan, Anita terus memeriksa keadaan pasien dengan teliti.
"Ini"
Anita melihat kearah sumber suara, dia sangat terkejut melihat Justin sedang berdiri di hadapannya dengan senyum di wajahnya yang biasanya terlihat dingin.
*Cast Justin pramadya*
"Dokter Justin, kau sedang apa disini?" tanya Anita.
"Aku sedang memperhatikanmu, sepertinya kau sangat bekerja keras hari ini, ini ambilah!" Justin memberikan sebotol minuman dingin untuk Anita.
Anita menerima minuman itu dan meminumnya, kini mereka duduk berdua di dalam ruang perawatan bersama pasien.
"Hm, mau makan malam?" tanya Justin.
"Ah, makan malam?, hm maaf dokter malam ini aku harus berada di rumah sakit, pasien ini menjadi tanggung jawabku" jawab Anita sambil menatap pasien yang terlihat sangat pucat.
"Oh, iya baiklah. Mungkin lain kali" Justin kembali mengembangkan senyuman.
"Hei, sedang apa kau disini? apa kau mengganggu dokterku?" tiba-tiba Adit masuk kedalam ruangan itu.
"Tidak, aku hanya ingin melihat pasienmu, bisa saja terjadi sesuatu yang tidak di inginkan" jawab Justin sambil meneguk minumannya dan keluar meninggalkan mereka.
Adit menatap kepergian Justin sambil tersenyum sinis.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Adit.
"Pasien stabil dokter, anda tidak perlu khawatir" jawab Anita.
"Hm, baiklah, kau terus awasi dia, kalau kau ingin keluar, minta dokter lain untuk mengawasinya!"
"Baik dokter" Anita menundukkan kepala mengiring kepergian Adit.
**
Sudah waktunya mereka kembali kerumah masing-masing, kali ini Adit berencana akan mengantar Alexa pulang.
Saat dalam perjalanan, tiba-tiba Adit membelokan mobilnya kerumah papan itu, Alexa benar-benar terkejut dengan keputusan Adit.
"Kita mau apa kesini tuan?" tanya Alexa panik.
"Aku ingin lihat, seperti apa wajah lelaki bodoh yang sudah mengancam kita itu!" Adit sangat geram.
Mereka sudah berada di depan pintu rumah papan itu, malam ini rumah itu tidak terkunci, membuat Adit semakin mudah untuk memasukinya.
"Tuan, kau mau apa?" tanya Alexa berbisik.
"Sstt..!" Adit meletakan jari telunjuknya di bibir Alexa.
Adit berjalan mengendap-ngendap masuk kedalam rumah itu sambil terus menggandeng tangan Alexa yang berada di belakangnya.
"Tuan, sebaiknya kita kembali, kalau dia melihat, bisa berbahaya" ucap Alexa berbisik.
"Dia berbahaya? aku juga bisa lebih berbahaya!" jawab Adit, membuat Alexa geleng-geleng kepala.
Mereka sudah menyusuri seluruh isi rumah papan itu, tapi mereka tidak menemukan petunjuk apapun, Adit dan Alexa duduk didepan rumah itu karena lelah.
"Apa mungkin kalau dia sudah mengetahui rencana kita" gumam Adit.
Alexa mengeryitkan dahinya menatap Adit yang berada disampingnya.
"Bagaimana mungkin tuan, hanya kita bertiga yang tahu rencana penyelidikan ini" ucap Alexa.
Adit sedikit berfikir, siapa informan untuk lelaki itu, karena hari sudah semakin larut Adit memutuskan untuk mengantar Alexa pulang.
"Terima kasih tuan" Alexa menundukan kepala mengiring kepulangan Adit.
Adit melajukan mobilnya meninggalkan rumah Alexa, dia mengendara dengan pelan malam ini, sambil masih berfikir siapa lelaki misterius itu.
Setelah perjalanan yang melelahkan, Adit akhirnya sampai di sebuah apartemen berlantai 30, Adit segera masuk kedalam lift dan menekan tombol kelantai 5.
Tokk... tokk...
Adit mengetuk pintu salah satu penghuni apartemen itu, tidak berapa lama penghuni rumah itu keluar dari dalam.
"Adit? tengah malam begini?" ucap Rangga.
Adit langsung masuk ke dalam rumah Rangga tanpa permisi, dia duduk di sofa sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa itu, sementara Rangga pergi kedapur untuk mengambil minuman.
"Kau darimana malam-malam begini? ini minumlah!" Rangga memberikan minuman kaleng kepada Adit dan ikut duduk di sofa didepannya.
"Apakah kau orangnya?" tanya Adit menatap tajam Rangga.
"Iya, aku orangnya? lantas, kau mau apa?" Rangga balik bertanya.
"Jadi benar kau orangnya?!!" Adit berteriak membuat Rangga terkejut.
"Aku memang orangnya yang memberikan minuman itu" jawab Rangga sambil menunjuk minuman kaleng yang di pegang Adit.
"Aish, sial! bukan itu maksudku"
"Lalu apa?" Rangga kembali meminum minumannya.
Adit menceritakan saat dia datang ke rumah papan itu, Rangga hanya mendengarkan sambil menganggukan kepala.
"Jadi, kau curiga kepadaku?"
Adit sedikit mengangguk.
"Haha... Ya tuhan Adit, kenapa kau begitu sensitif dengan masalah ini, sampai kau tega menuduh sahabat terbaikmu ini?" Rangga memasang wajah memelas.
"Bagaimana aku tidak curiga, hanya ada kita bertiga diruangan saat itu" jawab Adit.
"Hm, jangan-jangan ada mata-mata di rumah sakit kita?"
"Apa mata-mata?!"
"Iya, mungkin saja dia juga bekerja di rumah sakit kita"
"Benarkah? Hmm, apa rumah sakit kita? itu rumah sakitku!" Adit melempar sebuah bantal kearah Rangga, dengan sigap Rangga menangkisnya.
"Aku bekerja disana, aku direkturnya, jadi itu rumah sakitku juga kan? hehe"
"Hah, enak saja".
Mereka kembali membicarakan rencana selanjutnya untuk mencari tahu siapa sosok lelaki itu, Rangga masih menyarankan Adit untuk menyewa seorang detektif tapi Adit tidak mau melakukan itu, dia masih bersikeras untuk menjaga Alexa dengan kemampuannya.
feedback nya ya kk
SIMPANAN OM AROGAN
jangan lupa mampir semua
CUKUP! Aku Dan Anakku
Semangat