Berawal Dari sebuah kutukan. dari Hana yang mengutuk habis Tokoh kedua wanita bernama Elsa. Elsa (20thn) seorang gadis yang di jadikan jaminan hutang oleh orang tuanya. Elsa yang di dalam cerita di katakan terpaksa menikah menjadi istri kedua juragan Tama. pria tua. tak terima...pada akhirnya memilih berselingkuh pada bawahan Tama yang bernama Ardana. Nasib malang menimpa hana, gadis itu di tarik masuk oleh takdir, masuk kedalam buku Novel _The Jurag's Wife_ dan menjadi Tokoh Wanita yang sudah dia maki habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman 37
Elsa kembali menoleh, melempar pandangannya ke arah lereng bukit untuk melihat para pekerja yang masih asyik memetik daun-daun teh hijau.
"Ibuuuk... Bapak... Sudah makan siang belum?!" teriak Elsa melengking, memecah kesunyian bukit.
"Sudahhh, Neng...!" balas para pekerja itu dengan teriakan yang tak kalah keras dan bersahut-sahutan.
Elsa tertawa girang mendengar jawaban kompak itu. 'Gila, seru banget...!' batinnya berkata penuh sukacita. Merasa hatinya sudah jauh lebih terhibur, Elsa lalu berbalik langkah masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke area dapur.
"Bik! Makanannya sudah siap?" tanya Elsa pada pelayan vila.
"Oh, sudah, Neng!" kata Bik Lilis dengan ramah. Elsa mengangguk senang, lalu segera mendudukkan diri untuk memulai ritual makannya yang sempat tertunda.
Sementara itu, di hamparan lereng hijau, atmosfer kebun teh mendadak dipenuhi oleh bisik-bisik penasaran dari para pemetik teh yang masih memegang bakul bambu mereka.
"Teh Roh, yang teriak dari atas vila tadi siapa sih?" tanya Siti, salah satu pekerja kebun teh milik Juragan Tama, membuka obrolan penuh rasa ingin tahu.
"Nggak tahu juga, Ti. Baru lihat ada orang di situ..." jawab Teh Iroh sembari tangannya tetap lincah memetik pucuk daun teh.
"Kayaknya istri kedua Juragan!" sahut Mang Darso, menimpali percakapan kedua wanita itu.
"Hah?! Istri kedua Juragan...? Juragan nikah lagi?!" tanya Siti dan Teh Iroh bersamaan dengan raut wajah kaget, memancing pekerja lain untuk ikut mendekat dan memasang telinga.
"Katanya Cecek, yang kerja di rumah utama Juragan gitu. Juragan katanya nikah lagi sama anaknya Pak Ujang," jelas Mang Darso membagikan informasi yang dia dengar.
"Loh, kenapa? Kok nikah lagi? Pan Neng Elsa masih muda ya, seumuran sama Amirah, anak saya," jawab Teh Iroh dengan dahi berkerut bingung.
"Paling masalah utang, Teh. Biasalah kalau begitu mah," jawab Mbak Tut, menyahut dari atas longgokan tanah yang agak tinggi.
"Hus! Sok tahu kamu mah, Tut!" tegur Mang Darso, meminta Mbak Tut tidak asal bicara.
"Tapi Teh, menurut aku mah... aku lebih suka Neng Elsa yang jadi istri Juragan," ucap Siti tiba-waktu membagikan opininya. Dia mengedarkan pandangan sekilas sebelum melanjutkan dengan suara berbisik, "Soalnya orangnya ramah, mulutnya ringan, cantik lagi. Ndak kayak... Nyonya Andini. Duh, judesnya... Kalau ndak suka sama orang, pokoknya terang-terangan nunjukinnya."
Kata-kata Siti itu seketika diangguki setuju oleh para pekerja yang lain. Di kalangan bawah, mereka memang diam-diam tidak menyukai tabiat istri pertama Juragan yang terkesan angkuh.
Di tempat lain, mobil jip besar milik Tama akhirnya tiba dan terparkir di halaman rumah utama. Pria itu melangkahkan kakinya yang lebar memasuki ruang tengah. Begitu menginjakkan kaki di dalam, dia langsung disambut oleh keberadaan Andini yang sudah menantinya dengan wajah masam.
"Mas! Dari mana sih...? Aku nungguin dari tadi loh. Perut aku enggak nyaman, sakit lagi ini," adu Andini dengan nada merengek, berharap mendapatkan simpati suaminya.
"Maaf Andini, tadi aku cari Elsa..." ucap Tama jujur, menatap istrinya datar.
"Loh! Mas, kamu ngapain cari dia lagi...?! Bukannya kamu bilang mau usir dia? Kok dicari lagi sih?!" ucap Andini kaget bercampur kesal. Wajahnya seketika menegang.
"Sayang, biar bagaimanapun Elsa itu istriku juga. Aku harus adil sama dia..." ucap Tama dengan suara yang diusahakan tetap lembut namun tersirat ketegasan yang mutlak.
"Tapi aku enggak suka ya, Mas! Aku enggak mau kalau dia harus tinggal di rumah ini lagi!" seru Andini, egoistisnya mulai keluar.
"Enggak, Elsa enggak akan tinggal di sini. Dia Mas suruh tinggal di tempat yang aman," ucap Tama memotong kalimat istrinya.
Tama menatap lekat sepasang mata Andini, membuat atmosfer ruangan mendadak mencekam. "Lagian... tadi pagi, yang mulai duluan itu kamu, kan? Kamu yang sudah mendorong Elsa duluan. Kenapa sih...?" lanjut Tama lagi, menuntut jawaban atas luka memar yang dia lihat di lutut Elsa tadi.
Andini seketika kicep. Wanita hamil itu membeku di tempatnya, lidahnya mendadak kelu dan tidak tahu harus menjawab apa untuk membela diri karena kebohongannya telah terbongkar. Sadar posisinya tersudut, Andini perlahan bangkit berdiri lalu berjalan cepat menuju kamar utamanya tanpa menjawab sepatah kata pun pertanyaan dari Tama.