Berawal Dari sebuah kutukan. dari Hana yang mengutuk habis Tokoh kedua wanita bernama Elsa. Elsa (20thn) seorang gadis yang di jadikan jaminan hutang oleh orang tuanya. Elsa yang di dalam cerita di katakan terpaksa menikah menjadi istri kedua juragan Tama. pria tua. tak terima...pada akhirnya memilih berselingkuh pada bawahan Tama yang bernama Ardana. Nasib malang menimpa hana, gadis itu di tarik masuk oleh takdir, masuk kedalam buku Novel _The Jurag's Wife_ dan menjadi Tokoh Wanita yang sudah dia maki habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman 36
"Halo, Bik," sapa Elsa dengan senyuman ramah ketika melihat wanita paruh baya penjaga vila sedang merapikan area ruang tengah.
"Eh, Nyonya. Mau makan, ya? Ini biar saya siapkan," jawab Bik Lilis dengan sikap yang teramat sopan.
Mendengar panggilan formal itu, Elsa meringis pelan sambil mengibaskan tangannya. "Aduh, jangan panggil Nyonya, Bik. Panggil Elsa saja, orang saya masih muda begini."
"Eh, tapi... Ya sudah, iya, Neng Elsa... Neng Elsa mau makan?" tanya Bik Lilis menawarkan ulang dengan nada yang lebih santai.
"Iya, Bik, perutku lapar banget... Tolong siapin ya, Bik," ucap Elsa sopan.
Bik Lilis mengangguk patuh sembari tersenyum, lalu dengan langkah cepat berjalan menuju dapur untuk menyiapkan hidangan bagi majikan barunya.
Sembari menunggu makanan siap, Elsa memilih untuk duduk santai di atas sofa kotak yang empuk di area ruang tengah. Kepalanya bergerak menoleh ke kanan dan ke kiri, mengagumi interior bangunan tersebut. Vila milik Tama ini beneran luas. Uniknya, pembatas pintu masuknya pun bukan terbuat dari kayu tebal, melainkan menggunakan kaca transparan besar yang langsung mengarah ke pemandangan hamparan kebun teh hijau dan bukit-bukit berawan yang membentang indah di luar sana.
"Elsa, saya pulang ke rumah dulu, ya. Andini tadi menelepon, katanya perutnya terasa sakit lagi," ucap Tama memecah keheningan sembari berjalan mendekati posisi sofa Elsa.
"Ya sudah, sana," jawab Elsa cuek tanpa menoleh sedikit pun.
Tama menghentikan langkahnya, menatap heran pada istrinya. "Kenapa lagi...?" tanya Tama lembut, menyadari perubahan sikap Elsa yang mendadak judes.
"Enggak...! Sudah sana pergi, nanti Mak Lampir ngamuk," ucap Elsa ketus.
Wanita muda itu langsung bangkit berdiri, melangkah lebar membuka pintu depan yang terbuat dari kaca transparan. Dia berjalan keluar menembus udara pegunungan yang sejuk, menuju ke sebuah ayunan goyang yang terletak tepat di bawah pohon asem yang rindang di sudut halaman.
Dari atas tempatnya duduk di ayunan, pemandangan alam tersaji dengan begitu jelas. Karena posisinya yang tinggi di puncak, Elsa dapat melihat orang-orang yang berlalu-lalang di bawah sana. Mobil dan motor yang bergerak lambat tampak seperti semut-semut kecil dari kejauhan. Di lereng bukit, para pekerja kebun teh yang tengah memetik pucuk teh di sore itu juga terlihat begitu ramai.
"Ibuuukkk...! Bapakkkk...! Semangat metiknya, ya...!" teriak Elsa melengking dengan suara lantang dari atas halaman vila.
Mendengar teriakan ceria itu, para pekerja di lereng kebun lantas menoleh ke arah sumber suara. Mereka kemudian menyahut bersamaan dengan kompak sembari melambaikan tangan ke arah atas dengan penuh suka cita.
Tama yang berdiri di dekat pintu kaca menyaksikan seluruh pemandangan itu. Sepasang sudut bibir pria besar itu tertarik ke atas, membentuk senyuman lebar. Sungguh, sifat Elsa sangat supel dan ramah kepada siapa saja. Tama sangat menyukai kesederhanaan itu—sebuah pemandangan menyegarkan yang tidak pernah dia dapatkan dari Andini yang selalu bersikap formal dan kaku kepada para pekerja bawahannya.
"Eca...! Saya pulang dulu, ya. Malam nanti saya pasti kembali lagi kesini," ucap Tama yang kini berjalan menghampiri ayunan Elsa.
Elsa menoleh, menatap sosok suaminya dengan polos. "Loh, kirain suamiku sudah pergi," ucap Elsa spontan sembari melihat bingung pada Tama, sampai-sampai dia sendiri tidak sengaja menyebutkan kata "suamiku".
Tama seketika terdiam di tempatnya berdiri. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
"Ah... belum. Saya mau pamitan dulu sama kamu," kata Tama salah tingkah, mencoba menetralisir rasa gugup dan bahagianya yang membuncah.
Pria itu lantas maju selangkah, menundukkan tubuh tingginya, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di dahi Elsa.
"Pergi dulu, ya... Kalau kamu butuh apa-apa, bilang saja sama Bik Lilis di dalam," katanya memberikan perhatian.
Elsa mengangguk pelan, rasa kesalnya menguap begitu saja melihat perlakuan manis sang suami. "Dah, Juragan... Hati-hati di jalan." Elsa melambaikan tangannya dengan ceria mengiringi langkah Tama yang berjalan kembali menuju jipnya.