Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang Badai di Ujung Dermaga
Pagi itu, udara Bukit Permai diselimuti kabut yang lebih tebal dari biasanya, membawa hawa lembap yang menusuk tulang. Kirana berdiri di selasar lantai tiga, menatap ke arah gerbang utama. Tiga mobil SUV hitam yang biasanya terparkir rapi kini sudah menyala sejak pukul lima subuh, mengepulkan asap tipis dari knalpotnya ke udara pagi.
Atmosfer di dalam rumah terasa sangat berbeda hari ini—lebih kaku, lebih sunyi, dan dipenuhi oleh ketegangan yang tidak kasat mata.
Saat Kirana masuk ke dalam ruang kerja Adrian untuk mengantarkan sarapan berupa roti panggang gandum dan omelet putih telur, ia mendapati Hendra sedang berdiri di depan meja kerja Adrian dengan ekspresi wajah yang sangat serius. Di atas meja, sebuah peta digital pelabuhan lama kota berkilat redup.
"Mereka mulai berani menyabotase jalur logistik utama kita di sektor utara, Tuan Muda," lapor Hendra, suaranya berat dan penuh penekanan. "Keluarga gembong saingan kita, kelompok siberia hitam, sengaja memicu keributan di pelabuhan untuk memancing kita keluar. Ini jebakan, tapi jika kita tidak datang, wibawa Arseto di dunia bawah akan dipertanyakan."
Adrian yang sedang mengancingkan manset kemeja hitamnya hanya menatap peta itu dengan sorot mata yang begitu pekat. Kekejaman yang dingin terpancar dari garis rahangnya yang mengeras.
"Jika mereka ingin bermain dengan api, maka aku akan memastikan seluruh sarang mereka terbakar habis hari ini," ucap Adrian, suaranya datar namun sarat akan ancaman mematikan yang mutlak. "Siapkan seluruh personel. Kita berangkat sekarang."
Kirana meletakkan nampan sarapan di sisi meja dengan sangat tenang. Kecerdasannya menangkap setiap detail obrolan itu. Situasinya sedang sangat berbahaya. Ini bukan lagi sekadar urusan potong upah atau persaingan pelayan di dapur; ini adalah gesekan berdarah di puncak kekuasaan.
Hendra membungkuk hormat lalu segera melangkah keluar ruangan untuk mengoordinasi anak buahnya, meninggalkan Kirana berdua dengan Adrian.
Kirana tidak berbicara. Ia berjalan mendekati Adrian, lalu dengan gerakan yang sangat alami dan berani, tangannya terulur untuk merapikan kerah kemeja hitam Adrian yang sedikit terlipat. Sentuhan jemari Kirana yang hangat membuat Adrian sedikit tersentak, namun pria itu tidak menjauhkan tubuhnya.
"Anda tidak menyentuh sarapan Anda, Tuan Muda," ujar Kirana dengan nada suara yang lembut, kehilangan sebagian besar nada menggoda yang biasa ia gunakan, digantikan oleh rasa peduli yang jujur dan dalam. "Pertempuran membutuhkan energi. Setidaknya, minumlah air putih ini."
Adrian menatap langsung ke dalam mata bulat Kirana. Di dalam ruangan yang temaram itu, ia bisa melihat pantulan dirinya di mata gadis itu—tidak ada rasa takut terhadap bahaya yang baru saja ia bicarakan, hanya ada kekhawatiran yang murni untuk keselamatan dirinya.
"Pekerjaan hari ini tidak ada hubungannya dengan pelayan sepertimu, Kirana," ucap Adrian dingin, mencoba menegakkan kembali dinding esnya yang mulai terkikis dari hari ke hari. "Tetaplah di dalam rumah dan jangan lakukan hal-hal bodoh."
Kirana tersenyum kecil, sebuah senyuman riang yang dipaksakan untuk menenangkan ketegangan di antara mereka. Ia sedikit berjinjit, mendekatkan wajahnya ke arah Adrian, membiarkan aroma rambutnya yang wangi menenangkan saraf Adrian sejenak.
"Saya adalah pelayan Anda, Tuan Adrian. Jika Anda tidak kembali dalam keadaan utuh, siapa lagi yang akan maminum kopi jahe buatan saya malam-malam?" bisik Kirana dengan nada nakal yang samar namun tersirat janji kesetiaan yang kuat. "Kembalilah dengan selamat. Saya akan menunggu Anda di sini, di puncak tangga ini."
Adrian terdiam selama beberapa detik, menatap bibir Kirana yang tersenyum berani. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik, meraih jas hitamnya yang tergeletak di kursi, dan melangkah keluar ruangan dengan langkah besar yang berwibawa.
Suara deru mobil-mobil SUV yang meninggalkan halaman kediaman semenit kemudian menandai dimulainya hari yang sangat panjang dan menegangkan bagi semua orang.