NovelToon NovelToon
Logika Diatas Cinta

Logika Diatas Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Seeula

Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Provokasi Potong Gaji 20% dan Runtuhnya Pasal Ketiga

​Satu bulan kembali berlalu pasca malam retorika di ambang pintu kamar sayap barat. Ritme kehidupan harian di antara Kyle Ernest dan Nadine Lavena di dalam rumah mewah Menteng berjalan dengan sebuah dinamika perubahan yang teramat tipis, samar, namun memiliki ketegangan emosional yang kian mengental di antara celah-celah pasal kontrak mereka. Nadine tetap menjalankan perannya sebagai istri kontrak yang sempurna dan koki pribadi berbayar mahal dengan ketepatan waktu yang tanpa cacat. Di sisi lain, Kyle Ernest perlahan-lahan mulai mengubah pola interaksi sosialnya dengan Nadine menjadi sedikit lebih jail dan licik, namun tetap dibalut oleh keangkuhan wajah esnya yang khas.

​Sore itu, sekitar pukul lima lewat tiga puluh menit, udara di dalam area dapur bersih lantai satu terasa teramat hangat. Ruangan itu dipenuhi oleh keharuman yang luar biasa menggugah selera dari masakan sup buntut sapi bakar tradisional yang sedang diolah oleh Nadine di depan kompor gas premium berlapis baja antikarat yang berkilau bersih.

​Nadine sedang berdiri dengan celemek putihnya, membalikkan potongan buntut sapi yang kaya akan bumbu rempah, cengkih, dan pala di atas wajan panggangan. Gerakan tangannya teratur dan penuh konsentrasi tinggi, mengabaikan segala hal di luar konter dapurnya. Bunyi desis daging yang bersentuhan dengan permukaan besi panas berpadu dengan aroma manis gurih kecap yang mengaramel dengan sempurna.

​Suara langkah kaki tegap yang konstan terdengar memasuki area dapur dari arah lobi utama. Kyle baru saja kembali dari kantornya sore ini. Namun, alih-alih langsung berjalan menuju ruang kerjanya atau naik ke lantai dua seperti biasa, pria beraura es itu justru melangkah lurus menuju meja konter pulau di tengah dapur. Ia mengambil posisi duduk di atas kursi bar tinggi tepat di hadapan Nadine, menampilkan sikap yang teramat santai dan seulas senyuman smirk licik yang sengaja diperlihatkan khusus kepada Nadine.

​Jas formal abunya telah ditanggalkan, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung rapi hingga ke siku. Gulungan itu menampilkan urat-urat tangan maskulinnya yang kekar di bawah pijar lampu dapur yang kuning hangat.

​Kyle menghirup udara dapur dalam-dalam, menopang dagunya dengan satu tangan di atas konter marmer. "Aroma masakan dari dapurmu sore ini benar-benar sangat agresif mengganggu konsentrasi indra penciumanku sejak aku turun dari mobil di depan teras rumah, Nona Nadine."

​Nadine tidak langsung menoleh. Tangannya bergerak cekatan mematikan pemantik kompor gas, lalu memindahkan sepinggan buntut sapi bakar yang mengepulkan uap harum di hadapan Kyle. Gerakan itu disusul dengan peletakan semangkuk kuah kaldu rempah yang pekat dan sepiring nasi putih hangat yang mengepulkan aroma pandan.

​"Hidangan makan malam Anda sudah siap disajikan, Tuan Ernest. Sesuai dengan draf tagihan kompensasi memasak harian yang sudah berjalan otomatis di dalam sistem pengiriman dana rekening saya."

​Kyle tidak langsung menyentuh sendok peraknya. Ia memajukan tubuh tegapnya sedikit ke depan meja konter, mengunci pandangannya pada wajah unik Nadine dari jarak dekat dengan binar mata kelabunya yang dipenuhi kilat kelicikan yang jail.

​"Aku berniat untuk memotong alokasi pembayaran gaji bulanan seratus juta rupiah milikmu sebesar dua puluh persen mulai bulan depan, Nona Nadine."

​Gerakan tangan Nadine yang sedang merapikan botol bumbu merica di atas konter langsung terhenti seketika. Sifat dasarnya yang sangat sensitif, tegas, keras kepala, dan hanya mencintai uang mendadak terusik hebat oleh provokasi licik pria es di hadapannya itu. Nadine membalikkan tubuh anggunnya, menatap lurus ke dalam manik mata Kyle dengan pandangan mata yang menajam sedingin es utara. Ia bersedekap dada dengan pose menantang, mengabaikan jarak mereka yang terlalu dekat.

​"Atas dasar pembenaran logis atau pasal perjanjian nomor berapa Anda berani mengusulkan pemotongan alokasi gaji bulanan hak legal saya sebesar dua puluh persen itu, Pak Kyle? Seluruh performa akting publik saya dan kualitas pelayanan masakan dari dapur ini berjalan dengan sangat sempurna tanpa ada satu pun catatan cacat kerja selama tiga bulan terakhir!"

​Kyle meletupkan suara kekehan rendah yang teramat renyah, terdengar begitu menjengkelkan di telinga Nadine. Sepasang mata tajamnya berkilat penuh kemenangan melihat bagaimana ia berhasil memancing reaksi emosional dan meruntuhkan wajah acuh tak acuh milik istri kontraknya itu hanya dengan beberapa kata provokasi materi murah.

​"Alasannya sangat sederhana, Nona Nadine: karena kamu menolak untuk memberikan pelayanan senyuman manis yang tulus dan ramah kepada suamimu sendiri di dalam rumah ini jika tidak ada transferan dana tambahan kompensasi di luar draf kontrak utama kita. Kurasa denda pemotongan itu sangat sepadan dengan tingkat keacuhan sikap keras kepalamu ini selama tinggal bersamaku di bawah atap Menteng ini."

​Kyle mulai menyantap sup buntut bakarnya dengan ekspresi wajah yang teramat puas. Gerakan makannya terlihat sangat menikmati, meninggalkan Nadine yang berdiri mematung dengan rahang yang mengeras rapat. Wanita itu menahan kekesalan yang mendalam di dadanya terhadap kejailan licik dari suaminya yang kian hari kian pandai mencari celah pertahanannya.

​Hujan badai disertai kilatan petir yang menggelegar keras mengguyur seluruh kawasan elit Menteng sejak pukul delapan malam. Gemuruh air yang menghantam kaca-kaca jendela besar rumah mewah dua lantai tersebut menciptakan sebuah atmosfer kegelapan yang teramat pekat, dingin, dan bising. Di dalam area kamar tidur pribadi milik Nadine di lantai dua sayap barat, suasana terasa sangat sunyi di bawah siraman lampu tidur temaram yang memancarkan pijar kuning redup di sudut ruangan.

​Nadine sedang duduk bersandar di atas kepala ranjang pribadinya dengan mengenakan piyama satin hitam. Ia mencoba fokus membaca sebuah buku novel tebal di dalam genggaman tangannya, berusaha keras mengusir rasa penat di kepalanya akibat perdebatan urusan materi potong gaji di dapur sore tadi.

​BLAAARRR!

​Sebuah suara dentuman petir raksasa yang teramat keras mendadak menggelegar tepat di atas langit-langit atap rumah. Getaran hebat itu langsung disusul sekejap kemudian oleh padamnya seluruh aliran arus listrik utama di dalam rumah Menteng secara total.

​Kamar tidur Nadine seketika berubah menjadi gelap gulita. Kegelapan absolut yang pekat dan pengap merayap naik, menyisakan suara gemuruh air hujan di luar yang terdengar kian memekakkan telinga.

​Nadine menghela napas panjang dalam kegelapan yang pekat. Tangannya meraba-raba permukaan meja nakas di samping tempat tidurnya, berusaha mencari keberadaan ponsel pintarnya guna menyalakan lampu senter darurat. Namun, sebelum jemari tangannya yang lentik sempat menyentuh permukaan kaca benda tersebut, sebuah suara klik pelan dari arah pintu kamarnya memecah keheningan malam yang sunyi. Pintu kamarnya yang terpasang kokoh perlahan-lahan didorong terbuka lebar dari koridor luar tanpa menimbulkan derit kayu yang berarti.

​Aroma maskulin yang sangat pekat, mewah, dan teramat familiar dari parfum wood and amber bercampur dengan hawa dingin angin malam langsung menyeruak masuk ke dalam ruangan. Kehadiran bau tersebut menenggelamkan wangi lilin aromaterapi cendana milik Nadine dalam sekejap mata.

​Nadine menegang kaku di atas kasurnya. Sepasang matanya yang mulai terbiasa dengan kegelapan menangkap sesosok siluet tubuh tegap raksasa seorang pria sedang melangkah masuk ke dalam ruang pribadinya dengan langkah kaki yang teramat mantap, berbobot, dan dipenuhi oleh aura posesif yang mutlak.

​Kyle Ernest terus berjalan mendekati posisi tempat tidur Nadine di tengah kegelapan total tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Pria itu memancarkan sebuah tekanan energi maskulin yang teramat pekat, panas, dan dipenuhi oleh sebuah keputusan emosional yang tak lagi bisa dibendung oleh hukum draf kontrak mana pun malam itu.

​"Pak Kyle? Apa yang sedang Anda lakukan di dalam kamar pribadi saya di tengah kegelapan malam selarut ini? Anda melanggar batasan pasal ketiga dan keenam secara mutlak!"

​Nadine mencoba mempertahankan benteng ketegarannya di atas kasur, menolak untuk menunjukkan kelemahan meskipun jantungnya mulai berdegup kencang menahan getaran asing yang mendadak menyerang rongga dadanya dari jarak dekat.

​Kyle tidak menghentikan langkah kakinya hingga lutut tegapnya menyentuh pinggiran kasur sutra abu-abu milik Nadine. Dalam sekejap mata di bawah kegelapan malam yang dingin, pria beraura es yang biasanya selalu angkuh dan tak tersentuh itu mendadak merangsek maju. Ia menjatuhkan bobot tubuh tegap maskulinnya di atas permukaan ranjang pribadi Nadine.

​Sebelum Nadine sempat mengeluarkan reaksi penolakan atau melayangkan gerakan fisik pertahanan diri, sepasang lengan kekar milik Kyle sudah bergerak dengan sangat cepat. Gerakan itu mengunci kedua pergelangan tangan lentik Nadine ke atas kasur, memenjarakan seluruh tubuh anggun wanita berparas unik itu di bawah kungkungan dada bidangnya yang terasa sangat hangat dan dipenuhi detak jantung yang bergemuruh keras.

​Wajah tampan Kyle berada tepat beberapa senti di hadapan wajah Nadine. Napasnya yang terasa panas berembun di atas permukaan bibir Nadine di tengah kegelapan total kamar tidur tersebut, berpadu dengan aroma wood and amber yang memabukkan.

​"Aku sudah mengatakan padamu beberapa waktu lalu di ambang pintu ini, Nadine Lavena... bahwa mulai malam ini, aku tidak akan pernah peduli lagi dengan aturan konyol di dalam lembaran kertas draf kontrak pernikahan kita itu."

​Suara berat Kyle terdengar teramat rendah, serak, dipenuhi oleh sebuah ledakan obsesi posesif yang kian mengakar kuat. Keangkuhannya telah runtuh sepenuhnya malam ini di hadapan ketidakpedulian Nadine yang membekukannya selama ini. Kyle mengencangkan cengkeraman tangannya yang hangat di pergelangan tangan Nadine, mengunci seluruh eksistensi wanita di bawah kungkungannya di tengah badai malam Menteng yang kian menderu liar di luar jendela kaca.

​"Malam ini... aku yang akan menghapus seluruh batasan pasal ketiga dan keenam itu dari dalam kehidupan rumah ini, dan membuktikan kepadamu seberapa berharganya sosok suamimu ini daripada seluruh barisan nominal uang di rekening tabungan pribadimu itu, Istriku."

​{Gila... pria es ini benar-benar sudah gila. Dia mengunci tanganku, menahan tubuhku, dan menatapku dengan mata yang siap melelehkan seluruh es di dalam dadaku. Apa yang harus kulakukan dengan degup jantungku yang mulai lepas kendali ini?}

​Nadine menahan napasnya rapat-rapat, membiarkan kehangatan tubuh Kyle merayap masuk menembus piyama satin tipisnya, mengabaikan gemuruh badai di luar yang kini kalah bising dari detak jantung mereka berdua di atas ranjang yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!