NovelToon NovelToon
Mantan Istri Rahasia Sang CEO

Mantan Istri Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Pertiwi Dian

​"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."

​Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.

​Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.

​Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kilau Sungai Seine dan Janji di Bawah Menara Eiffel

​Matahari Paris mulai tenggelam, membiaskan cahaya jingga keemasan yang memantul indah di permukaan air Sungai Seine. Setelah kekacauan "genial" yang dilakukan Leon di Grand Palais, nama Eleanor Vance kini menjadi topik pembicaraan terhangat di seluruh media mode dunia. Tidak ada lagi yang meremehkan bakatnya; sebaliknya, antrean para pemilik rumah mode legendaris Eropa untuk sekadar mengajak Elena makan siang kini mengular panjang.

​Namun, di sore yang tenang ini, Elena hanya ingin menghabiskan waktu bersama keluarganya. Arthur telah menyewa sebuah kapal pesiar privat yang sangat eksklusif, Le Reve, untuk berlayar menyusuri Sungai Seine sepanjang malam.

​Di dek kapal yang didekorasi dengan puluhan rangkaian bunga mawar putih dan lilin aromaterapi, Arthur berdiri di samping Elena. Mereka menyaksikan pemandangan ikonik kota Paris yang mulai bermandi cahaya lampu saat malam tiba.

​"Kamu terlihat luar biasa hari ini, Elena," bisik Arthur, membelai punggung Elena yang terpapar gaun malam sutra berwarna biru safir. "Terima kasih sudah membawaku ke Paris. Ini adalah salah satu momen paling membahagiakan dalam hidupku."

​Elena tersenyum, menatap mata Arthur yang kini hanya memancarkan ketulusan. "Bukan aku yang membawa kita ke sini, Arthur. Tapi takdir. Dan mungkin... sedikit campur tangan dari dua penyelundup kecil kita."

​Di meja makan yang berada di dek depan, Leon dan Lia sedang sibuk dengan makanan penutup berupa cokelat fondue yang lezat. Leon, meski terlihat menikmati cokelatnya, tetap sesekali memantau tabletnya untuk memastikan tidak ada ancaman keamanan yang mendekati kapal mereka. Lia, di sisi lain, tampak sibuk menirukan gaya pramugari pesawat tadi pagi, membuat para pelayan kapal menahan tawa melihat tingkah bocah empat tahun yang sangat lucu itu.

​Tiba-tiba, Evan menghampiri Arthur dengan sebuah map dokumen berwarna emas. "Tuan Besar, ini kontrak kerja sama strategis dari tiga rumah mode terbesar di Paris yang Anda minta untuk dipersiapkan. Mereka setuju dengan segala persyaratan yang diajukan oleh Nyonya Besar Elena tanpa ada perdebatan sedikit pun."

​Arthur menerima dokumen itu dan menyerahkannya kepada Elena dengan senyum bangga. "Ini milikmu, Elena. Mereka menawarkan hak eksklusif untuk koleksi musim dinginmu dan posisi direktur kreatif di lini utama mereka. Kamu tidak hanya diakui, kamu sekarang memegang kendali atas industri mode Paris."

​Elena menatap dokumen itu dengan mata berkaca-kaca. Perjuangannya selama lima tahun dimulai dari titik nol di jalanan asing hingga kini diakui sebagai ratu di pusat dunia mode akhirnya membuahkan hasil. Bukan karena bantuan Arthur semata, tapi karena Arthur memberinya panggung untuk menunjukkan bakatnya sendiri.

​"Ini lebih dari sekadar kontrak, Arthur," ucap Elena pelan. "Ini adalah bukti bahwa aku bisa bangkit kembali."

​"Dan aku akan selalu berada di sampingmu untuk memastikan tidak ada satu pun orang yang bisa meredupkan cahayamu lagi," sahut Arthur tegas. Dia kemudian memberi isyarat kepada nakhoda kapal untuk memelankan laju kapal tepat saat mereka melewati kaki Menara Eiffel yang sedang menyala berkedip-kedip spektakuler.

​Arthur menggenggam tangan Elena, membawa wanita itu ke tengah dek. Tanpa musik pengiring pun, Arthur mengajak Elena berdansa perlahan di bawah taburan bintang malam Paris.

​"Elena," suara Arthur menjadi sedikit parau, penuh emosi yang dalam. "Lima tahun lalu, aku adalah pria yang bodoh dan buta. Aku membiarkanmu pergi dan menanggung beban yang tidak seharusnya kamu pikul sendirian."

​Arthur berhenti berdansa, dia menatap Elena begitu intens. "Hari ini, di kota ini, aku ingin mengulang segalanya dengan cara yang benar. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi rasa ragu. Maukah kamu membangun masa depan yang baru bersamaku, tidak lagi sebagai mantan istri, tapi sebagai satu-satunya wanita yang akan aku cintai sampai napas terakhirku?"

​Lia yang melihat pemandangan itu dari meja makan langsung bersorak girang, "Papa sedang melamar Mama lagi! Lihat, Kak Leon!"

​Leon yang biasanya cuek pun tidak bisa menahan senyum tipis di wajahnya. Dia menutup laptopnya, memberikan perhatian penuh pada pemandangan di dek kapal.

​Elena merasakan air mata haru mengalir di pipinya. Dia tidak butuh cincin baru, dia hanya butuh keyakinan yang selama ini dia cari. "Aku sudah memaafkanmu sejak lama, Arthur. Dan melihatmu sekarang... aku tidak bisa membayangkan menghabiskan hidupku dengan orang lain selain kamu."

​Arthur kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku tuksedonya, berisi cincin berlian dengan potongan unik yang didesain khusus oleh Leon dan Lia beberapa minggu lalu. Arthur memasangkan cincin itu di jari manis Elena, sebuah ikatan baru yang jauh lebih kuat dari pernikahan lima tahun lalu yang penuh ketidakpastian.

​Ciuman lembut mereka di bawah cahaya Menara Eiffel menjadi penyegel janji baru tersebut. Di kejauhan, lampu-lampu kota Paris seolah ikut merayakan kebahagiaan mereka.

​Namun, kedamaian malam itu mendadak terusik oleh sebuah notifikasi mendesak di tablet Leon. Wajah Leon yang santai seketika berubah menjadi serius.

​"Papa, Mama," suara Leon memecah momen romantis itu. "Ada enkripsi asing yang mencoba membobol sistem navigasi kapal kita. Seseorang baru saja mengirimkan drone pengintai dari gedung apartemen di seberang sungai."

​Arthur seketika berubah menjadi mode pelindung. Dia menarik Elena ke belakang tubuhnya dalam satu gerakan tangkas. "Evan! Aktifkan protokol keamanan level tertinggi! Pastikan kapal ini segera menjauh dari lokasi pengintai!"

​"Siapa yang berani melakukan ini?" tanya Elena, rasa takut mulai menyelinap namun segera dia tekan.

​"Itu adalah sepupu Seline Wijaya," sahut Leon yang sudah sibuk dengan jari-jarinya di papan ketik. "Dia mencoba membalas dendam karena dia tidak terima sisa aset keluarga mereka disita oleh pihak berwenang tadi pagi. Tapi dia terlalu bodoh untuk tidak tahu bahwa dia sedang mencoba meretas sistem keamanan milik keluarga Arkananta."

​Leon memberikan perintah suara pada sistem kapal. Drone pengintai tersebut mendadak kehilangan kendali setelah terkena serangan balik digital dari Leon, dan jatuh tercebur ke dalam Sungai Seine dengan suara dentuman kecil. Tidak hanya itu, Leon langsung mengirimkan koordinat lokasi sang pelaku kepada kepolisian Paris.

​"Masalah selesai," ucap Leon santai, seolah baru saja mematikan lampu kamar. "Sepuluh menit lagi mereka akan dijemput oleh pihak berwenang."

​Arthur menatap putranya dengan tatapan takjub, lalu beralih ke Elena yang tampak terkejut. Arthur tertawa kecil, memecah ketegangan. "Sepertinya kita tidak akan pernah bisa memiliki liburan yang benar-benar tenang jika ada bocah genius ini di samping kita."

​Elena tertawa lepas, menyandarkan kepalanya di bahu Arthur. "Setidaknya kita tahu anak-anak kita akan selalu menjaga kita, bukan?"

​Malam itu, di tengah Sungai Seine, keluarga Arkananta bukan hanya merayakan kemenangan bisnis atau lamaran romantis, tetapi mereka merayakan sebuah ikatan yang telah diuji oleh waktu, badai, dan musuh-musuh yang bertekuk lutut di hadapan kebersamaan mereka. Paris telah memberikan segalanya bagi mereka: pengakuan, romansa, dan sebuah keluarga yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.

​Saat kapal pesiar Le Reve perlahan berlabuh kembali ke dermaga, Arthur menatap langit malam Paris dengan penuh kepuasan. Masih ada banyak hal yang harus mereka selesaikan saat kembali ke Jakarta nanti, tetapi untuk malam ini, mereka benar-benar menang.

​"Besok kita pulang ke rumah," bisik Arthur pada Elena.

​"Rumah kita yang sesungguhnya," balas Elena lembut.

​Dan di bawah cahaya lampu kota yang tak pernah tidur, keluarga Arkananta melangkah pulang, menutup bab Paris dengan catatan kemenangan yang akan tertulis manis dalam sejarah dinasti mereka.

1
Indah Wahyuni
bagus ceritanya, alurnya tidak bertele-tele, penokohannya kuat. tinggal bertumbuh dan berkembang SJ authornya.
Dian Pertiwi: Baik siap kakak Terimakasih atas masukannya dan penilaian nya 🙏🏻🥰😘🩷
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!