Dirumah sakit Camilla bertemu Tante Itoh. tantenya yang kebetulan bekerja disana. Tiba-tiba tanpa sepengetahuan Camilla, Tante Itoh merencanakan pernikahan Camilla dengan anak temannya yang merupakan seorang dokter yang bekerja di Belanda. Yang dimana pernikahan mereka harus segera terjadi secepatnya.
mengapa Tante Itoh bersikeras menikahkan Camilla dengan teman anaknya?
baca terus sampai habis jika ingin mengetahui kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella cantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Pulang ke Belanda
H+2 Setelah Wisuda, Bandara Soekarno Hatta → Schiphol Amsterdam
Penerbangan 18 jam itu sepi.
Camilla tidur di bahu Raffa dari Dubai ke Amsterdam. Toga udah masuk koper, diganti sweater tebal. Kalung liontin nggak dilepas.
Raffa nggak tidur. Dia jagain koper, jagain Camilla, jagain selimut yang sering melorot dari pangkuan istrinya.
Di pengumuman: “Welcome to Amsterdam Schiphol Airport. Local time is 06.45.”
Dingin. 7°C. Kontras banget sama Indonesia yang 32°C kemarin.
Camilla merem melek. “Mas… kok Belanda dingin lagi.”
Raffa narik jaketnya, pasangin ke Camilla.
“Makanya jangan buka jaket. Masuk angin, repot.”
Camilla cuma senyum. “Hmmmm”
---
Jam 08.30, Apartemen Amstelveen
Pintu dibuka. Apartemen sepi, bau kopi sisa 3 hari lalu masih nempel.
Koper dibanting di ruang tamu. Camilla langsung rebah di sofa.
“Akhirnya… kasur sendiri.”
Raffa naroh koper di kamar, keluar bawa dua gelas teh anget.
“Minum dulu. 18 jam nggak makan bener.”
Camilla duduk, nerima teh. “Mas nggak capek?”
“Capek. Tapi nggak boleh rebah dulu. Jemuran masih basah.”
Camilla ngak. “Mas baru pulang 30 menit udah ngurus jemuran.”
Raffa ngelirik. “Kalau nggak dijemur, jamur. Repot.”
Selalu alasan yang sama. Kaku. Tapi tangannya nggak pernah berhenti ngurusin hal kecil.
---
Sore, 16.00 – Supermarket Albert Heijn
Mereka belanja bareng. Keranjang penuh: beras, rendang kaleng, mie instan, sama susu buat Camilla.
Di kasir, kasirnya ngelirik kalung Camilla.
“Kalung nya bagus”
Camilla tersenyum “makasih”
“Saya tertarik sama kalungnya, beli dimana?”
“Dikasih, kado seseorang hehe”
“Kado ulang tahun?”
“Bukan, aku baru wisuda kemarin” camilla senyum malu
“Oh, congrats!”
Raffa di belakang, diem. Tapi pas kasir nanya, “Suami?”
Raffa angguk kecil. “Iya.”
Cuma satu kata. Tapi cukup bikin Camilla senyum-senyum sendiri sepanjang jalan pulang.
Di rumah, belanjaan dibongkar. Raffa nyimpen rendang di freezer, nulis tanggal kadaluarsa pake spidol.
Camilla duduk di meja makan, mainin kalungnya.
“Mas…”
“Hm.”
“Besok kerja lagi ya?”
“Iya. Shift pagi.”
Camilla diem. “Rasanya… kayak mimpi. Tadi pagi masih di Indonesia, sekarang udah di sini.”
Raffa berhenti nyimpen barang. Dia jalan ke meja, duduk di depan Camilla.
“Ini bukan mimpi. Ini hidup kita. Indonesia kemarin, Amsterdam sekarang.”
Dia dorong gelas teh ke arah Camilla. “Minum. Besok pagi bangun jam 6. Jangan telat.”
Camilla ketawa. “Dokter kaku… romantisnya cuma 10 detik.”
Raffa nggak jawab. Tapi pas Camilla bangun mau ke kamar, dia narik selimut kecil, nyelimutin bahu Camilla.
“Jalan pelan. Lantai licin.”
“Siap dok”
“Jangan panggil dokter terus lah, saya kan dirumah suami kamu”
“Hmm suami banget nih?” Ledek camilla
“Ya kalau kamu nganggep juga si itu”
“Hahahha baper nih” ucap camilla tertawa
---
Malam, 23.15 – Kamar
Camilla udah ganti baju tidur. Di nakas, ada foto wisuda mereka.
Raffa masuk, rambut masih basah. Dia liat foto itu, diem 3 detik.
“Bagus” katanya pelan.
Camilla ngelirik. “Yang bagus apanya?”
“Fotonya. Kamu senyum lebar. Aku… nggak malu-maluin.”
Camilla ketawa. “Mas di foto kaku banget. Tapi di kelingking kita nyambung.”
Raffa nggak jawab. Dia matiin lampu tidur, naik ke kasur.
Hening 5 menit.
Terus Raffa ngomong, pelan banget:
“Selamat datang kembali di belanda, Camilla putri wijaya S.Sos.”
Camilla narik selimut. “Makasih, Dokter.”
Di luar, hujan Amsterdam turun pelan.
Di dalam, dua orang yang kaku tapi saling jaga, akhirnya pulang ke rumah yang bener-bener rumah.
---