Dua tahun menjalani hubungan rahasia (backstreet) dengan Dimas—pria matang keturunan darah biru—Kirana rela mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia melepaskan masa lalu, melawan restu keluarganya sendiri, hingga meruntuhkan tembok perbedaan besar demi menyamakan arah masa depan dan bersiap melangkah ke jalan yang sama dengan sang kekasih.
Namun, tepat di hari saat ia siap menyerahkan seluruh hidupnya, takdir menghempaskannya tanpa belas kasihan. Di sebuah gedung pesta yang megah, dunia Kirana seolah runtuh. Di atas pelaminan mewah, Dimas justru bersanding dengan wanita lain yang merupakan atasannya sendiri. Tanpa ada kata putus, tanpa perpisahan hangat. Kirana ditinggalkan begitu saja dalam kehampaan oleh pria yang berjanji menjadi kompas hidupnya.
Sanggupkah Kirana bertahan dan menemukan kembali jati dirinya setelah pengorbanan tulusnya diinjak-injak? Dan bagaimanakah takdir menjemput penyesalan terdalam sang lelaki darah biru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puing-Puing Istana Emas dan Air Mata Penyesalan
Malam yang dipenuhi oleh pembongkaran rahasia busuk mengenai utang budi biaya umroh itu akhirnya meninggalkan puing-puing kehancuran yang teramat mengenaskan di dalam kediaman besar keluarga Wijaya. Begitu kalimat terakhir Dimas selesai diucapkan dengan segala luka batinnya, Ayah Dimas langsung memegangi dadanya yang terasa teramat sesak. Wajah tua nya yang semula angkuh setinggi langit, mendadak berubah menjadi biru keunguan sebelum akhirnya tubuhnya ambruk terduduk di atas karpet beludru mahal.
"Ayah! Ada apa dengan Ayah?!" pekik Pramudya yang tiba-tiba muncul dari koridor dalam dengan wajah yang dipenuhi kepanikan luar biasa.
Pramudya, kakak sulung Dimas, langsung bergerak cepat memapah tubuh sang ayah yang terkulai lemas akibat serangan jantung ringan karena syok berat rahasia besarnya dikuliti habis. Di tengah kepanikan itu, Pramudya dibantu oleh beberapa pelayan langsung membopong Ayah Dimas keluar menuju mobil untuk segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Sementara seisi rumah sedang dilanda badai kepanikan, Dimas hanya berdiri mematung di tengah ruangan dengan pandangan mata yang kosong, dingin, seperti mayat hidup. Tidak ada lagi rasa takut, tidak ada lagi rasa bersalah di dalam hatinya. Bendungan emosinya sudah resmi habis tak bersisa.
Melihat suaminya hanya diam seperti patung batu, Ibu Ratna yang semula menangis histeris langsung bergerak menyadarkan Dimas. Dengan pergerakan tangan yang tergesa-gesa, Ratna menarik kuat lengan Dimas agar ikut juga pergi ke rumah sakit menyusul mobil Pramudya.
SREKKK!!!
Di titik itulah, Dimas menghempas kasar tangan Ibu Ratna hingga pegangan wanita itu terlepas seketika. Dimas menatap Ratna dengan sorot mata yang penuh dengan kilatan kebencian yang teramat mendalam.
"Kamu puas? Ini kan yang kamu mau, Ratna?!" desis Dimas dengan nada suara yang rendah teramat menancap tajam ke dalam dada.
Ibu Ratna tertegun, napasnya tersendat, namun dia mencoba menutupi kepanikannya. "Dimas... gak usah pikirkan hal itu dulu! Kita harus ke rumah sakit sekarang, Dimas! Kamu tidak khawatir dengan kondisi Ayah?!"
Dimas tersenyum sumbang—sebuah tawa getir yang sangat dingin. "Mas Pramudya sudah cukup."
Tanpa memedulikan teriakan atau tatapan terluka dari wanita di hadapannya, Dimas langsung melangkah lebar mendahului Ibu Ratna, berjalan cepat menuju mobilnya sendiri yang terparkir di halaman luar.
"Dimasssss!!! Kamu mau ke mana?! Kita harus ke rumah sakit, Dimas!!!" teriak Ibu Ratna berapi-api seperti orang gila yang kehilangan arah.
Namun, Dimas tidak peduli lagi. Mobilnya langsung melesat membelah kegelapan malam jalanan ibu kota. Ibu Ratna yang ditinggalkan di pelataran rumah mertuanya pun akhirnya memutuskan untuk tidak pergi ke rumah sakit. Ego dan ketakutannya kehilangan Dimas jauh lebih besar daripada rasa pedulinya pada mertua. Dengan wajah yang memerah padam menahan sesak, Ratna berlari masuk ke mobilnya sendiri. "Pak! Cepat susul mobil Dimas! Kejar dia sekarang juga!" perintah Ratna kepada supir pribadinya dengan nada histeris.
Ternyata, roda mobil Dimas membawanya menuju rumah pribadi milik Ibu Ratna—rumah mewah tempat mereka berdua tinggal selama berbulan-bulan semenjak resmi menikah. Begitu mobil Dimas berhenti di garasi, dia langsung melangkah masuk ke dalam kamar utama.
Hanya berselang dua menit setelahnya, Ibu Ratna juga sampai di rumah tersebut. Wanita itu berlari masuk ke dalam rumah dengan langkah yang sangat tergesa-gesa, menaiki anak tangga dengan napas yang memburu sesak. Begitu pintu kamar terbuka, pemandangan di depannya benar-benar bagaikan hantaman gada besi yang menghancurkan seluruh harga dirinya.
Di sana, Dimas sedang sibuk mengemasi semua pakaian dan barang-barang pribadinya ke dalam sebuah koper besar dengan pergerakan tangan yang teramat dingin dan tidak tersentuh.
"Dimas! Jangan, Dimas! Aku mohon jangan pergi!" pekik Ibu Ratna langsung melompat maju, memeluk erat tubuh Dimas dari belakang sembari menangis meraung-raung sejadi-jadinya. Tangisannya kali ini bukan lagi manipulasi, melainkan ketakutan nyata seorang istri yang tahu suaminya telah berada di titik batas paling akhir.
"Aku janji, Dimas... aku berjanji akan jadi istri yang baik untuk kamu! Aku tidak akan pernah lagi mengganggu kehidupan Kirana! Aku bersumpah akan menuruti semua kata-katamu dan semua permintaanmu, asalkan kamu tetap di sini bersamaku! Tolong jangan tinggalkan aku, Dimas! Aku mohon!" ratap Ibu Ratna dengan air mata yang membasahi kemeja bagian belakang Dimas.
Sayangnya, hati Dimas sudah menjelma menjadi bongkahan es yang tak lagi bisa dicairkan oleh air mata jenis apa pun. Perlakuan Ratna selama ini sudah teramat sangat meracuni hidupnya. Dengan perlahan tapi memiliki penekanan yang mutlak, Dimas melepaskan sepasang tangan Ratna yang melingkari pinggangnya, lalu berbalik menatap wanita itu.
Sebelum benar-benar melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan rumah mewah tersebut membawa kopernya, Dimas menatap lurus ke dalam sepasang mata Ratna yang sembab.
"Aku butuh waktu untuk memikirkan bagaimana nasib kedepannya rumah tangga kita," ucap Dimas dengan intonasi suara yang teramat dingin, datar, tanpa emosi yang meledak-ledak namun justru terasa sangat menyiksa batin Ratna. "Selama aku pergi... tolong jangan buat aku semakin membenci kamu dengan tindakan konyol mu kepada Kirana."
BAMM!!!
Dimas melangkah keluar, menutup pintu kamar dengan rapat, meninggalkan Ibu Ratna yang seketika ambruk terduduk di lantai kamar yang dingin. Ratna menangis meraung-raung, memukul-mukul lantai dengan kepalan tangannya meluapkan segala rasa frustrasi, penyesalan, dan dendam yang bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya. Istana emasnya kini resmi runtuh hancur berkeping-keping tanpa sisa!
----------------
Sementara itu, ratusan kilometer dari kekacauan di ibu kota, atmosfer di ruko konveksi milik Kirana keesokan paginya terasa teramat menyejukkan jiwa. Udara pagi bertiup lembut membawa kehangatan baru.
Kirana sedang sibuk menata pembukuan di atas meja kayu ketika tiba-kira terdengar ketukan pintu yang teramat santun diikuti ucapan salam yang bernada bariton lembut.
"Selamat pagi, Kirana," ucap dr. Adrian yang berdiri di ambang pintu ruko dengan stelan kemeja formal rajut berwarna biru dongker yang membuatnya terlihat tampan dan memancarkan wibawa seorang pria berbudi luhur terpelajar.
"Selamat pagi, Dokter Adrian... silakan masuk, Dok," sahut Kirana dengan senyuman tipis yang sangat anggun.
Kedatangan dr. Adrian bertujuan untuk mengantarkan dokumen resmi kontrak kerja sama pengadaan seratus helai busana ibadah premium untuk ruang ibadah rumah sakit.
Setelah meletakkan map dokumen di atas meja, dr. Adrian merogoh tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah kotak bungkusan premium berisi beberapa botol suplemen vitamin dan buah segar yang mahal.
"Ini... ada sedikit suplemen vitamin dan buah-buahan untuk kamu dan Mbak Aisyah," ucap dr. Adrian dengan nada suara yang tenang, dan sepasang matanya tetap terjaga menatap ke arah dokumen untuk menghormati batasan etika di antara mereka.
"Saya perhatikan kemarin wajah kamu tampak sedikit kelelahan. Sebagai seorang dokter, saya menyarankan agar kamu tidak mengabaikan kesehatan tubuh, Kirana."
Mendengar perhatian yang teramat tulus dan halus tersebut, jantung Kirana sempat berdesir halus... "Sungguh baik sekali, Dokter Adrian... ini terlalu merepotkan. Saya tidak enak menerimanya."
"Sama sekali tidak merepotkan, Kirana. Anggap saja ini bagian dari fasilitas agar kerja sama kita berjalan lancar," balas dr. Adrian dengan senyuman teduh.
Aisyah yang baru saja kembali dari dapur ruko membawa dua cangkir teh hangat, langsung menghentikan langkah kakinya begitu melihat adegan manis di depan matanya. Begitu dr. Adrian berpamitan dengan sangat sopan dan melangkah pergi, Aisyah langsung melompat heboh ke samping Kirana.
"HUWAAAA!!! KIRANA!!! Ini benar-benar nggak bisa dibiarkan!!! Pria mahal banget itu, Na!" pekik Aisyah dengan suara berbisik namun penuh kehebohan absurd.
"Kamu lihat tidak tadi?! Dokter Adrian itu ngasih vitamin mahal sama buah segar! Itu namanya perhatian terselubung tingkat tinggi, tahu! Kamu masih mau pura-pura nggak peka, hah?! Pipimu sudah merah merona tuh kayak udang rebus! Hahaha!"
"Aisyah! Jaga bicaramu, kamu ini ya!" seru Kirana dengan wajah yang kian merona merah jambu akibat godaan absurd sahabatnya itu. Kirana langsung memukulkan katalog kain ke lengan Aisyah untuk menyembunyikan rasa baper tersembunyi yang mulai mengetuk pintu hatinya yang sempat membeku.
pasti ada kekecewaan disitu ,wajar sih kalau mereka marah
malahan Ratna lebih peduli kehilangan Dimas,kalau ayahnya Dimas koid,Dimas bebas haha,dsar otak nya 😄
dia yang salah tapi tidak mau disalahkan
hasil merebut itu ga awet bu, inget umur
kamu wanita kaya ,mandiri knp harus merebut hak orang lain. percuma hartamu😄
udah merebut malahan dia merasa korban😄
kan bisa dibicarakan baik" ,kalian sudah mendzolimi kirana
rasakan akibatnya sendiri
setidaknya harus ada omongan, Ratna juga ksian hasil merampas itu ga akan tenang
kalau kamu itu seorang yang tau agama
tidak akua menawarkan nikah siri ,padahal baru 3hari
ayo tetap semangat
tapi semoga ini bisa jadi pelajaran buat kamu iya
cinta beda agama apakah mereka akan bahagia