NovelToon NovelToon
MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:755
Nilai: 5
Nama Author: yurisii

Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Malam itu, suasana di rumah Elio terasa sangat sunyi dan tenang. Hanya suara jangkrik dari halaman luar serta hembusan angin malam yang berdesir melewati pepohonan yang mengisi keheningan. Semua penghuni rumah sudah masuk ke kamar masing-masing dan terlelap dalam tidur, termasuk Kakek Baskara yang biasanya tidur paling awal.

Di kamar tamu yang kini menjadi tempat tinggal Alena, cahaya lampu sudah dimatikan, hanya tersisa cahaya remang dari lampu taman yang masuk lewat celah jendela. Namun, Alena belum juga terlelap. Ia membaringkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, namun pikirannya terus melayang, membayangkan hari-hari yang akan ia lalui selama tinggal di sini bersama Elio. Rasanya asing namun juga sangat menyenangkan, membuatnya sulit untuk segera memejamkan mata.

Sementara itu, di kamar sebelah, Elio juga masih terjaga. Ia berulang kali melihat jam dinding, lalu melangkah mondar-mandir dengan perasaan gelisah. Meskipun sudah meyakinkan dirinya sendiri bahwa Alena pasti aman dan nyaman, rasa ingin memastikan keadaan gadis itu tidak bisa ia hilangkan begitu saja. Akhirnya, dengan langkah hati-hati agar tidak menimbulkan suara, Elio membuka pintu kamarnya dan melangkah menuju kamar Alena.

Jantungnya berdegup kencang saat berdiri di depan pintu kamar itu. Ia ragu sejenak, takut mengganggu jika Alena sudah terlelap. Namun, setelah mendengar suara gerakan samar dari dalam, ia memberanikan diri mengetuk pintu dengan suara sangat pelan.

“Alena? Kamu sudah tidur?” bisiknya dari balik pintu.

Tidak lama kemudian, suara Alena terdengar dari dalam. “Belum… ada apa, Elio?”

Mendengar jawaban itu, Elio membuka pintu perlahan dan menyelipkan kepalanya masuk. “Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja dan merasa betah. Kalau ada yang kurang atau tidak nyaman, bilang saja padaku.”

Alena tersenyum melihat perhatian itu, lalu menggeser tubuhnya ke sisi tempat tidur. “Aku baik-baik saja, tidak ada yang kurang. Hanya saja… rasanya masih agak sulit untuk tidur di tempat baru.”

Elio melangkah masuk sepenuhnya dan menutup pintu pelan-pelan. Di tangannya tergenggam dua cangkir berisi minuman yang masih mengepulkan uap hangat. “Kalau begitu, aku membawakan susu hangat. Katanya bisa membantu menenangkan pikiran dan membuat tidur lebih nyenyak. Mau kita duduk di balkon saja? Di sana udaranya lebih sejuk dan pemandangannya juga indah.”

Alena langsung setuju. Mereka berdua melangkah menuju pintu kaca yang menghubungkan kamar dengan balkon luas yang menghadap ke taman belakang rumah. Begitu dibuka, udara malam yang sejuk langsung menyambut mereka, disertai aroma bunga melati yang tumbuh di dekat pagar.

Mereka duduk berdampingan di kursi rotan yang tersedia, sambil menikmati susu hangat dalam cangkir masing-masing. Langit malam itu terlihat sangat cerah, bertabur bintang yang bersinar terang, sama seperti malam yang mereka lalui di puncak bukit tempo hari.

“Terima kasih sudah membawakan ini,” ujar Alena sambil menyesap sedikit susunya, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. “Kamu benar-benar sangat perhatian.”

Elio tersenyum sambil menatap wajah gadis itu dalam cahaya remang. “Bagaimana bisa tidak perhatian? Sekarang kamu sudah tinggal di rumahku, jadi tanggung jawabku untuk memastikan kamu merasa seperti di rumah sendiri. Lagipula… rasanya senang bisa melakukan hal-hal kecil seperti ini untukmu.”

Mereka pun mengobrol ringan, membahas hal-hal sepele, kenangan masa lalu, hingga harapan-harapan di masa depan. Suasana terasa begitu hangat dan akrab, seolah tidak ada jarak lagi di antara mereka. Tanpa mereka sadari, di balik jendela ruang tamu di lantai bawah, Kakek Baskara telah berdiri cukup lama mengamati mereka dengan senyum lebar dan tatapan penuh kebahagiaan.

Kakek Baskara merasa sangat puas melihat perkembangan hubungan kedua cucu itu. Dulu ia sempat khawatir melihat mereka yang selalu bertengkar dan saling bermusuhan, namun kini melihat mereka berdampingan dengan tatapan yang lembut dan penuh perhatian, hatinya terasa sangat lega.

“Ternyata perjodohan ini bukanlah kesalahan, melainkan jalan terbaik yang telah ditentukan,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri sambil mengusap janggutnya. “Mereka sudah saling mencintai dan cocok satu sama lain. Tidak ada alasan lagi untuk menunda. Sebaiknya rencana pernikahan kita siapkan secepatnya saja, sebelum ada hal lain yang mengganggu.”

Malam itu, Kakek Baskara langsung memutuskan untuk menghubungi Kakek Wijaya keesokan harinya untuk membicarakan rencana itu. Ia ingin memastikan ikatan antara Elio dan Alena segera diresmikan, agar mereka bisa hidup bersama dengan tenang dan bahagia.

Keesokan harinya, kehidupan di sekolah berjalan seperti biasa. Namun, suasana di hati Alena terasa jauh lebih berbeda. Ia merasa lebih percaya diri, tenang, dan bahagia karena tahu ada seseorang yang selalu melindungi dan mencintainya. Elio tetap menjalani rutinitasnya, termasuk mengikuti latihan sepak bola pada jam istirahat siang itu.

Saat itu, Alena sedang berjalan sendirian di koridor menuju ruang perpustakaan untuk mengambil buku pelajaran. Namun, baru saja melangkah beberapa langkah, sosok yang tidak diinginkan tiba-tiba muncul menghadangnya.

Itu adalah Dinda, yang selama ini menyimpan rasa iri dan benci terhadap Alena. Di belakangnya berdiri dua orang temannya yang selalu setia mengikuti perintahnya. Wajah Dinda terlihat cemberut dan penuh kemarahan, seolah sedang menahan amarah yang sudah lama meluap.

“Ternyata kamu benar-benar sudah berani melangkah seenaknya saja, ya?” ujar Dinda dengan nada tajam, menghalangi jalan Alena. “Sekarang kamu sudah tinggal serumah dengan Elio, bukan? Berita itu sudah menyebar ke seluruh sekolah. Kamu pikir dengan cara itu kamu bisa merebutnya sepenuhnya dariku?”

Alena berhenti melangkah, menatap Dinda dengan tatapan tenang namun tegas. Berbeda dengan sebelumnya yang hanya diam atau menjawab seperlunya, kali ini Alena merasa sudah memiliki kekuatan dan alasan untuk membela dirinya sendiri.

“Dinda, aku tidak pernah merebut siapa pun. Hubunganku dengan Elio adalah urusan kami berdua, dan juga sudah diketahui oleh keluarga kami. Kamu tidak berhak ikut campur atau menghakimi sesuka hati,” jawab Alena dengan nada datar namun tegas.

Mendengar jawaban itu, Dinda semakin marah. Ia tidak menyangka gadis yang selama ini dianggapnya lemah itu berani melawan. “Berani sekali kamu bicara! Kamu pikir karena Elio membela kamu, kamu bisa bersikap sombong begitu? Ayo kita lihat apakah kamu masih bisa bersikap tenang setelah aku membuatmu malu di depan semua orang!”

Tanpa berpikir panjang, Dinda mengangkat tangannya hendak menampar wajah Alena. Namun, Alena sudah lebih sigap. Ia menangkis pergelangan tangan Dinda dengan cepat dan kuat, lalu mendorong tubuh gadis itu mundur hingga terhuyung ke belakang.

“Jangan coba-coba menyentuhku lagi, Dinda. Aku sudah bersabar cukup lama, tapi kesabaran itu ada batasnya,” bentak Alena dengan suara keras yang mulai menarik perhatian siswa-siswa lain yang lewat di koridor.

Suasana seketika menjadi ramai. Semua mata tertuju pada kedua gadis itu. Dinda yang merasa dipermalukan di depan umum semakin hilang kendali. Ia mencoba menyerang lagi, namun kali ini Alena menghindar dan membalas dengan dorongan yang cukup kuat hingga Dinda jatuh duduk ke lantai.

“Lihatlah dirimu sendiri, Dinda. Kamu membuang waktumu hanya untuk membenci dan mengganggu orang lain, padahal Elio tidak pernah menganggapmu lebih dari sekadar teman sekelas. Berhentilah bersikap seperti ini, karena itu hanya akan membuat dirimu sendiri terlihat buruk di mata orang lain,” ujar Alena lantang, membuat semua orang yang mendengarnya terdiam.

Sementara itu, di lapangan olahraga, Elio yang sedang berlatih bola basket tiba-tiba mendengar suara keributan dari arah koridor. Ia melihat banyak siswa berlarian menuju tempat itu, dan hatinya langsung merasa gelisah. Tanpa berpikir dua kali, ia langsung melemparkan bolanya dan berlari secepat mungkin menuju sumber keributan, meninggalkan teman-temannya yang terkejut melihat reaksinya.

Begitu tiba di koridor, Elio melihat Dinda duduk di lantai dengan wajah marah, sementara Alena berdiri tegak dengan napas yang sedikit memburu namun tetap tenang. Segera ia melangkah mendekat dan berdiri tepat di samping Alena, melindungi gadis itu dari pandangan orang lain.

“Ada apa ini?” tanya Elio dengan nada tegas, matanya mengamati keadaan sekeliling.

Melihat Elio datang, Dinda langsung bangkit berdiri dan mendekatinya dengan wajah menangis pura-pura. “Elio! Lihatlah dia! Alena menyerangku tanpa alasan! Dia mendorongku hingga jatuh, tolonglah aku!”

Namun, Elio tidak memandang Dinda sedikit pun. Ia justru menoleh ke arah Alena, memeriksa wajah dan tangan gadis itu dengan cemas. “Kamu tidak apa-apa? Ada yang terluka?”

Perhatian itu membuat Dinda tertegun dan merasa semakin tersingkir. “Elio! Kamu tidak percaya padaku? Dia yang mulai duluan!”

Elio baru menoleh sebentar ke arah Dinda dengan tatapan dingin. “Aku tidak butuh penjelasan darimu. Aku tahu seperti apa sifat Alena. Dia tidak akan bertindak berlebihan tanpa alasan yang jelas. Sebaiknya kamu kembali ke kelas dan jangan mengganggu dia lagi, atau aku akan melaporkan kejadian ini kepada guru bimbingan konseling.”

Setelah berkata begitu, Elio tidak mempedulikan Dinda lagi. Ia langsung menggenggam tangan Alena dengan lembut, lalu membawanya pergi dari kerumunan siswa yang masih berbisik-bisik penasaran.

“Kita ke ruang UKS dulu, biar aku periksa apakah ada yang terluka,” ujar Elio sambil melangkah cepat namun tetap hati-hati.

Sesampainya di ruang UKS yang saat itu kosong, Elio meminta Alena duduk di atas tempat tidur periksa. Ia memeriksa telapak tangan, lengan, dan wajah Alena dengan cermat, napasnya terasa sedikit memburu karena tadi sempat merasa cemas.

“Kamu benar-benar tidak apa-apa? Tidak ada yang tergores atau sakit?” tanyanya lagi dengan nada lembut.

Alena tersenyum melihat kekhawatiran itu, lalu menggeleng. “Aku baik-baik saja, Elio. Jangan khawatir. Tadi aku hanya membela diri saja, dia yang menyerang duluan.”

Elio menghela napas panjang, lalu duduk di samping Alena dan memegang kedua bahunya. “Aku tahu, aku percaya padamu. Tapi janji padaku, lain kali jika ada masalah seperti ini, segera hubungi aku. Jangan memaksakan diri sendirian, meskipun kamu sudah bisa membela diri. Aku tidak suka membayangkan kamu terlibat pertengkaran dan terluka.”

“Baiklah, aku janji,” jawab Alena sambil menunduk malu, lalu mengangkat wajahnya kembali menatap Elio. “Terima kasih sudah datang dan membela aku lagi. Rasanya sangat aman saat ada kamu di sampingku.”

Elio tersenyum lembut, lalu mencium kening Alena dengan lembut. “Itu sudah tugasku, sayang. Aku akan selalu ada untukmu, apa pun yang terjadi.”

Di luar ruang UKS, kabar tentang kejadian itu segera menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Semua orang semakin yakin akan hubungan antara Elio dan Alena, sementara Dinda hanya bisa pergi dengan perasaan malu dan kecewa, menyadari bahwa usahanya untuk memisahkan mereka justru semakin mempererat ikatan keduanya.

Sore harinya, saat pulang sekolah, mereka berjalan berdampingan dengan perasaan lega dan bahagia. Di dalam hati mereka, masing-masing memiliki harapan yang sama: bahwa hubungan ini akan terus berlanjut, dan rencana masa depan yang sedang dipersiapkan oleh kedua kakek mereka akan segera menjadi kenyataan yang membahagiakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!