Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.
Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18
Amara menatap Sonia yang masih berdiri menghadapnya tanpa ekspresi, dengan dua koper besar di sebelahnya.
"Oh, ada mama mertua! Apa kabar?" Celetuk Abimanyu, nadanya sedikit sinis. Ia menelisik Sonia beserta dua koper besar di sebelah perempuan yang dulu menjadi sahabat baiknya itu.
Sonia tak menghiraukan tatapan dan ucapan Abimanyu, wanita empat puluh tahun itu menggeser kopernya ke arah Amara. "Maaf menganggu waktu kalian, aku ke sini cuma mau nganterin ini." Katanya dengan tatapan fokus pada Amara. "Ini barang-barang dan pakaianmu yang masih tertinggal di rumah, sengaja di antar ke sini soalnya mulai besok rumah harus segera dikosongkan." Tuturnya dengan raut yang sedikit berubah.
"Maksud mama?" Amara menatap Sonia dengan raut penasaran, perasaannya mulai tidak enak dengan dada yang tiba-tiba terasa sesak teringat rumah tempatnya tumbuh yang selama ini menjadi istana ternyamannya sebelum kejadian terbongkarnya kasus perselingkuhan sang papa.
Sonia menarik napas. "Rumah itu sudah di jual, papamu meninggalkan utang ke Ba-nk, dan besok kami akan pindah dari situ." Ucapnya datar, namun kedua sudut matanya terlihat mengembun.
"Di jual? Pindah? mama mau pindah ke mana?" Tanya Amara dengan tatapannya yang meredup, berharap Sonia hanya sedang bercanda atau putus asa sesaat yang kemudian akan kembali berubah pikiran.
"Belum tahu," jawab Sonia datar. "Transaksi sudah dilakukan kemarin setelah acara pengajian tujuh hari papamu.
Hati Amara terasa di remas mendengar kata tujuh hari sang papa, dirinya yang notabene anak dari almarhum Reno tidak diundang ke acara tujuh hari kepergian papanya itu, atau minimal dikasih tahu tepat waktunya kapan.
"Ma... Rumah itu peninggalan papa satu-satunya, apa mama yakin enggak akan menyesal melepas rumah yang membersamai kami tumbuh? Rumah yang mama bangun dari nol." Ucap Amara pelan, ada nada tak rela disetiap kata yang diucapkannya.
"Penyesalan terbesarku adalah mempercayai dan mencintai papamu." Jawab Sonia penuh kecewa. "Memusnahkan semua peninggalannya, adalah healing terbaik bagiku." Ucapnya lagi penuh keyakinan.
Amara terdiam, ia berusaha menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya tercekat menahan tangis, mengingat semua yang terjadi menimpa keluarganya sudah tak bisa lagi di perbaiki. Keluarganya hancur berantakan, kecewa dan sakit hati Sonia terlalu dalam sehingga perempuan itu tak pernah lagi menganggapnya ada.
Sonia menatap lurus Amara, kedua tangannya saling bertautan di depan perut langsingnya. "Kedatanganku ke sini cuma untuk menyampaikan itu, dan menyerahkan semua barang-barangmu. Untuk uang hasil penjualan rumah, sebagian besar dipakai buat menutup hutang papamu ke Ba-nk sedangkan sisanya untuk biaya Azarine dan Aziel sekolah." Pungkasnya kemudian membalikkan badannya.
Tanpa pamit perempuan itu melangkah meninggalkan Amara, menyusuri lorong apartemen menuju lift untuk segera turun.
Kepergian Sonia yang tanpa pamit, diantar netra Amara hingga sosok langsing itu menghilang dibalik pintu lift.
Amara menghela napas berat, ia menundukkan kepala sesaat kemudian tangannya bergerak meraih koper satu persatu dan menyeretnya masuk ke dalam.
"Jangan dibawa ke kamarku, taruh di kamar mama. Dan barang-barang serta pakaianmu yang ada di kamarku, sebaiknya pindahkan juga." Suara Abimanyu menghentikan langkah Amara yang tengah menyeret koper besar hendak memasuki kamar yang baru empat hari di tempatinya, atau lebih tepatnya kamar Abimanyu.
Tanpa bersuara Amara membelokkan langkahnya, ia sadar selama empat hari kemarin Abimanyu yang membiarkannya tidur satu kamar meskipun dirinya tidur di sofa. Bukan karena kewajiban dan kesadarannya bahwa mereka pasangan suami istri, tapi karena menjaga dirinya sendiri dari pertanyaan dan teguran bu Halimah dan Pak Rusdan.
Melihat Amara yang terdiam dan menuruti semua perintahnya, hati Abimanyu sedikit gelisah. Ia tak menyangka gadis itu akan diam seribu bahasa, padahal dirinya berharap Amara akan merajuk atau mengomel dan mengingatkan posisi dirinya sebagai suami yang bertanggung jawab untuk melindungi istri seperti kemarin-kemarin saat sang mama belum pulang ke Bandung. Dirinya dan Amara sering terlibat perdebatan-perdebatan yang berujung pada kekalahan dirinya, karena Amara selalu dibela sang mama.
"Ehem!" Abimanyu berdehem, ia maju beberapa langkah dan berdiri di tempat lalu lalang Amara yang tengah memindahkan pakaian dari kamarnya. "Kenapa diam?" Tanyanya menyelidik. Namun Amara tetap tak menghiraukannya, seolah dirinya itu hanya dianggap patung tak bernyawa, dan itu membuat harga diri Abimanyu seperti berceceran.
"Mara! Kamu marah?" Kali ini Abimanyu menahan langkah Amara dengan mencengkram lengan gadis yang kembali melewatinya. Membuat perempuan itu seketika menghentikan langkah, Amara menatap Abimanyu dengan raut yang sulit dibaca.
"Marah? Marah untuk apa?" tanya Amara dingin. Ia menarik tangannya, namun cekalan Abimanyu terlalu kuat sehingga tangannya tak bisa dilepaskan dengan mudah.
Abimanyu kembali berdehem, berusaha menetralkan kegelisahannya. "Marah karena kamu di suruh pindah kamar." Ucapnya berusaha sesantai mungkin.
Mendengar itu sudut bibir Amara terangkat sebelah, "kenapa harus marah om? Aku cukup tahu diri kok, om tidak menginginkan pernikahan ini. Bagaimana aku bisa marah sama orang yang telah menampungku, cuma satu hal yang aku sesalkan kenapa om tidak berusaha menolak dengan tegas kalau memang benar-benar tidak mau. Om seorang laki-laki, punya kuasa, punya uang, berbeda denganku yang hanya seorang anak ingusan, yatim piatu yang tidak punya modal untuk kabur dan hidup mandiri." Ucapnya telak menohok Abimanyu.
"Aku cuma mau ngasih tahu om, kita disini sama-sama korban. Aku menyetujui pernikahan kita karena aku tidak punya apa-apa, tidak punya tempat pulang, aku masih menggantungkan hidup. Sedangkan om... Om tidak punya hutang budi, tidak menggantungkan hidup pada orang lain termasuk mamaku sahabat om sendiri. Jadi kalau om berniat mencurangiku, atau ingin menyingkirkan aku, itu salah besar karena aku bukan pelaku. Dan satu hal lagi, aku berada di sini tinggal bersama suami yang enggak menginginkan aku bukan karena nyaman, tapi terpaksa om karena aku tidak punya uang." Lirih Amara kemudian menghentakkan tangannya dari cengkraman Abimanyu.
Mendengar kalimat panjang lebar yang dilontarkan Amara tanpa berteriak, Abimanyu gelagapan. Pria itu menarik napas, "maksudku bukan gitu Mara."
Amara yang sudah mendorong pintu kembali menghentikan langkahnya, ia berbalik menatap Abimanyu. "Enggak apa-apa om, aku paham maksud om." Ucapnya tersenyum pahit. "Om enggak usah khawatir, nanti kalau aku sudah punya uang yang cukup buat ongkos dan bekal sebelum dapat pekerjaan, aku akan keluar dari sini, om bebas kembali membujang."
"Sudah bicaranya?" Desis Abimanyu dengan wajah yang mulai mengeras, perlahan ia melangkahkan kakinya memangkas jarak dengan Amara yang masih berdiri di pintu kamar.
Menyadari keberadaan Abimanyu yang semakin mendekat, raut Amara seketika berubah panik. Gadis itu memundurkan tubuhnya, namun baru satu langkah punggungnya sudah mentok dan menabrak daun pintu.
"Kenapa panik?" Abimanyu menyeringai, tubuhnya hanya berjarak tidak lebih dari satu jengkal dengan Amara. "Mana Amara yang tadi mengataiku dengan lantang." Tangan kekarnya terangkat, jemarinya mencengkram rahang Amara. "Ayo, bicara lagi!" Ucapnya dingin, menundukkan wajah menatap tajam mata bulat Amara yang terlihat panik. Jarak keduanya hanya hanya beberapa centimeter, sehingga keduanya bisa saling merasakan napas hangat yang berlawanan.
"O-om..."
Cup!
"Hmmppt..." Mata Amara membeliak, seolah hendak keluar dari rongganya.
Ngeri kalau mantan bujang lapuk udah tersinggung, eh btw kenapa dia tersinggung? Apa gara-gara Amara mau pergi? Kira-kira Amara diapain ya 🤔
Jangan lupa tinggalkan jejak cintanya ya😘
Like, komen, Vote, dan kalau enggak keberatan iklan juga ya hehe... Makasih banyak, love you all🥰