NovelToon NovelToon
RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.

​Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Penggusuran Warisan Ratu Dapur

Bab 22: Penggusuran Warisan Ratu Dapur

​Peluncuran "Menu Spesial Tradisional" racikan Santi di ketiga cabang restoran "Rasa Hana" resmi berjalan sejak dua hari lalu. Adrian sengaja menggelontorkan sisa dana kas daruratnya untuk membuat papan promosi besar di depan restoran, memajang foto ayam goreng lengkuas dan sambal bajak manis buatan pelayannya. Baginya, ini adalah perjudian terakhir untuk menyelamatkan bisnisnya dari kebangkrutan.

​Di rumah mewah kota, atmosfer kemenangan semu itu membuat Ibu Broto dan Santi semakin di atas angin. Pagi itu, suara gaduh terdengar dari arah dapur bawah. Bunyi benturan besi dan kaca yang beradu memecah keheningan rumah.

​Hana, yang baru saja turun dari lantai dua dengan langkah yang semakin berat karena kondisi fisiknya yang melemah, tertegun di ujung lorong. Ia melihat Ibu Broto sedang berdiri di dekat tempat sampah besar di area belakang, sementara Santi sibuk mengeluarkan beberapa set panci stainless steel premium, cobek batu pusaka milik keluarga Hana, hingga buku catatan resep usang bersampul kulit dari dalam lemari kabinet.

​"Santi, buang saja semua barang-barang lama ini ke gudang belakang atau sekalian ke tempat sampah luar," perintah Ibu Broto dengan nada suara yang sengaja ditinggikan. "Dapur ini sekarang sudah punya ratu baru. Panci-panci berat begini tidak cocok untuk masakan tradisional buatanmu. Kita pakai wajan cekung yang baru Ibu belikan kemarin saja."

​Santi menerima barang-barang itu dengan senyuman miring yang penuh kemenangan. "Baik, Ibu. Ini buku catatan resep lama milik Mbak Hana juga mau langsung dibuang saja?" tanya Santi sengaja memancing reaksi, melirik ke arah Hana yang kini berjalan mendekat.

​"Buang saja! Buat apa menyimpan catatan resep yang sudah terbukti bikin restoran anakku hampir bangkrut? Era kebesaran Hana di dapur ini sudah selesai!" seru Ibu Broto ketus, menatap Hana yang kini berdiri di hadapan mereka dengan wajah yang teramat pucat.

​Hana menatap buku catatan resepnya—buku yang berisi seluruh eksperimen rasa yang ia bangun bersama almarhum ayahnya sebelum ia bertemu dengan Adrian. Rasa perih yang teramat sangat menghantam dada Hana, terasa seperti ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk jantungnya. Penggusuran ini bukan lagi sekadar urusan domestik, melainkan penghancuran harga diri dan warisan hidupnya yang paling berharga di depan seorang pelayan yang telah meniduri suaminya.

​Bersamaan dengan rasa sakit di dadanya, Hana mendadak merasakan cram hebat yang luar biasa mencekam di perut bagian bawahnya. Tubuhnya sedikit limbung, tangannya dengan refleks mencengkeram tepi meja konter dapur untuk menahan bobot tubuhnya yang bergetar.

​"Mbak Hana kenapa? Kok mukanya pucat sekali? Jangan akting di depan Ibu ya, Mbak," sindir Santi dengan nada suara yang berpura-pura cemas namun terselubung kepuasan.

​Hana menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan rasa sakit fisik dan batinnya yang bertumpuk. Ia menatap lurus ke sepasang mata Santi dengan sorot yang teramat dingin dan tajam. "Simpan tanganmu baik-baik dari barang-barangku, Santi. Sesuatu yang direbut dengan cara yang kotor... biasanya tidak akan pernah bertahan lama di tangan seorang pencuri."

​Siang harinya, suasana rumah kembali sepi setelah Ibu Broto pergi ke restoran untuk memantau penjualan. Adrian yang baru saja pulang dari bank untuk mengurus penangguhan utang modal, melangkah masuk ke dalam rumah dengan dasi yang sudah dilonggarkan. Wajahnya kusut dan dipenuhi beban.

​Saat ia berjalan melewati lorong menuju kamarnya di lantai bawah, sebuah tangan halus tiba-tiba menarik lengannya masuk ke dalam kamar mandi bawah. Adrian terkejut, namun suaranya tertahan ketika melihat Santi sudah berdiri di sana, mengunci pintu kayu dari dalam.

​Santi meletakkan kedua tangannya di dada Adrian, mendongak dengan tatapan mata yang basah dan penuh godaan liar. "Mas Adrian... Santi rindu," bisik Santi manja, merapatkan tubuhnya hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka.

​"Santi, jangan sekarang... nanti kalau Hana lihat bagaimana?" bisik Adrian panik, namun matanya tidak bisa berbohong. Hasrat kelelakiannya yang tertekan oleh stres finansial seketika menyala kembali saat mencium aroma tubuh Santi.

​"Mbak Hana sedang tidur di atas, Mas. Ibu juga sedang tidak ada di rumah," goda Santi lagi. Ia dengan berani menuntun tangan Adrian untuk meraba pinggangnya, lalu berjinjit untuk mengecup rahang Adrian dengan lembut. "Santi cuma mau memberi Mas Adrian semangat. Restoran kita pasti sukses karena menu baru buatan Santi."

​Kata-kata "restoran kita" dari mulut Santi terasa begitu manis di telinga Adrian, memberikan ilusi kepemilikan dan dukungan yang tidak pernah ia dapatkan dari Hana yang kini selalu bersikap dingin. Adrian kehilangan kendali diri sepenuhnya. Di dalam kamar mandi bawah yang sempit dan remang itu, mereka kembali melakukan hubungan intim yang panas dan terlarang—sebuah interaksi penuh syahwat yang semakin mempertegas posisi Santi sebagai selingkuhan yang kini merasa berhak mengatur jalannya rumah tangga tersebut.

​Di lantai atas, Hana berbaring di atas ranjang kamarnya dengan posisi meringkuk. Kedua tangannya mendekap perutnya yang kembali terasa melilit hebat. Air mata kegetiran akhirnya menetes di sudut matanya yang lelah. Rasa kecewa, sedih, dan dikhianati secara berlapis dari orang-orang di bawah atap ini merayap seperti racun yang perlahan mengikis kekuatan fisiknya, membuat janin di dalam kandungannya ikut terancam oleh badai stres akut yang tak kunjung mereda.

1
THE GIRL COOL😑
good jop 👍👍👍👍 lanjut kan😍😍😍
gendiz: terimakasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!