NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

Gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ballroom malam itu terasa bagai ribuan jarum yang menusuk gendang telinga Clarissa. Angka penawaran lelang terus merangkak naik dengan cepat, melesat dari dua puluh miliar hingga menyentuh angka fantastis semuanya berkat kecerdasan tak terduga dari gadis panti asuhan yang baru saja mereka remehkan.

"Dua puluh delapan miliar rupiah, terjual kepada Tuan Bastian di kursi nomor dua belas!" Ketuk palu pembawa acara menutup sesi lelang pertama dengan kesuksesan luar biasa.

Milly turun dari panggung dengan langkah tenang yang anggun. Sorot lampu kamera jurnalis terus mengikutinya, mengabadikan senyum manisnya yang tampak begitu bersahaja namun sarat akan kemenangan. Begitu ia kembali mendudukkan diri di sebelah Arkan, tangan kokoh pria itu langsung menyelip, menggenggam jemarinya di bawah meja dan memberikan remasan lembut yang penuh kebanggaan.

"Kerja bagus, Pak Suami?" bisik Milly jenaka, memiringkan kepalanya sedikit.

"Lebih dari bagus, Nyonya Mahendra. Kamu baru saja menaikkan nilai saham moral kita malam ini," sahut Arkan dengan suara baritonnya yang rendah, matanya menatap Milly dengan binar protektif yang semakin pekat.

Di seberang meja, Clarissa mencengkeram garpu peraknya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya yang biasa dipoles senyum anggun kini tampak kaku menahan gejolak amarah. Niatnya untuk mempermalukan Milly justru berbalik menjadi panggung pembuktian bagi gadis itu. 'Ini tidak bisa dibiarkan,' batin Clarissa, sementara rasa benci di dadanya bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap yang lebih besar. 'Arkan harus menjadi milikku. Perempuan kasar ini tidak pantas berada di tempat ini!'

Begitu perjamuan amal selesai dan menyisakan sesi ramah tamah bebas, Clarissa segera melepaskan diri dari Sofia dan Nenek Ambar. Ia tahu, konspirasi di balik layar tidak lagi efektif jika Milly memiliki refleks dan otak taktis yang cepat. Cara satu-satunya adalah menyerang langsung ke pusat semesta Milly menarik perhatian Arkan dan membuktikan siapa wanita yang paling berguna bagi masa depan Mahendra Group.

Clarissa mengambil dua gelas sampanye dari nampan pelayan yang lewat, memperbaiki tatanan rambutnya sekilas, lalu melangkah dengan keanggunan sempurna mendekati Arkan yang saat itu sedang berdiri sedikit terpisah dari Milly untuk berbicara dengan beberapa kolega bisnis.

"Malam yang luar biasa, Arkan," suara Clarissa mengalun lembut, berpendidikan, dan penuh percaya diri saat ia menyelip di antara para pengusaha itu. Ia menyodorkan satu gelas sampanye kepada Arkan dengan senyuman paling memikat yang ia miliki.

Arkan menoleh, matanya mendingin seketika saat melihat sosok Clarissa. Ia tidak menerima gelas tersebut, membiarkan tangan Clarissa menggantung di udara selama beberapa detik yang canggung. "Ada perlu apa, Clarissa?"

Clarissa tidak kehilangan muka. Ia menurunkan gelasnya dengan tenang, lalu memajukan tubuhnya sedikit, memancarkan aroma parfum mahal yang sengaja ia semprotkan lebih banyak malam ini.

"Aku hanya ingin membicarakan tentang proyek pengembangan dermaga logistik baru di Surabaya Barat," ucap Clarissa, beralih ke mode wanita karier internasional yang cerdas. "Keluarga Gunarto baru saja mengakuisisi suplai baja struktural grade tinggi dari Eropa. Aku tahu Mahendra Group sedang mencari mitra strategis untuk memotong biaya anggaran hingga lima belas persen. Dan sebagai kepala divisi ekspansi, aku memegang kendali penuh atas kontrak itu, Arkan."

Clarissa melirik Milly yang sedang berdiri beberapa meter di dekat konter makanan penutup. "Aku hanya berpikir... seorang pria sukses sepertimu membutuhkan pendamping yang bisa diajak berdiskusi tentang pasar global dan efisiensi modal di atas meja makan, bukan seseorang yang hanya tahu cara menghitung pengeluaran panti asuhan."

Milly, yang sejak tadi memang memperhatikan pergerakan "ular sutra" itu, perlahan berjalan mendekat sambil membawa piring kecil berisi kue sus. Telinganya yang tajam menangkap jelas kalimat terakhir yang diucapkan Clarissa dengan nada merendahkan itu.

"Wah, pembicaraan yang sangat berat ya untuk ukuran malam amal," suara Milly memotong obrolan dengan santai, membuat beberapa kolega bisnis di sekitar Arkan menoleh. Milly berdiri tepat di samping Arkan, memakan satu kue sus kecilnya dengan cuek sebelum menatap Clarissa dari balik bulu matanya yang lentik.

"Millyanita, kami sedang membicarakan bisnis skala internasional. Kurasa ini bukan kapasitasmu untuk ikut campur," desis Clarissa dengan nada suara yang ditekan, mencoba menjaga wibawanya di depan kolega Arkan.

"Kapasitas?" Milly menahan tawa, menelan kuenya dengan anggun sebelum merapikan lipatan gaun beludrunya. "Clarissa yang pintar lulusan London... kamu bilang keluargamu bisa memotong biaya anggaran hingga lima belas persen dengan suplai baja Eropa?"

Milly memiringkan kepalanya, menatap Clarissa dengan pandangan kasihan yang sengaja ia tiru dari ekspresi Clarissa semalam. "Apakah di London kamu tidak diajarkan tentang fluktuasi pajak impor dan regulasi pelabuhan domestik yang baru disahkan bulan lalu? Suplai baja Eropa yang kamu banggakan itu akan terkena tarif proteksi tambahan sebesar dua puluh persen di pelabuhan Surabaya. Jadi, alih-alih memotong biaya lima belas persen, kamu justru akan membuat Mahendra Group rugi bandar karena membayari pajak kemewahan bisnismu."

Milly menjeda kalimatnya, lalu menepuk pelan pundak tegap Arkan. "Pak Suami ini perfeksionis dalam hal angka. Dia tidak akan mau bernegosiasi dengan seseorang yang bahkan tidak membaca berita pembaruan bea cukai nasional pagi ini."

Mendengar ucapan Milly, beberapa kolega bisnis di sekitar mereka langsung saling berbisik dan mengangguk setuju, sementara wajah Clarissa berubah menjadi merah padam menahan malu yang luar biasa. Otak taktis Milly yang terbiasa menghitung detail terkecil demi kelangsungan hidup panti asuhan ternyata jauh lebih peka terhadap angka dibanding teori teks Clarissa.

Sebelum Clarissa sempat membalas, Arkan sudah melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Milly, menarik istrinya mendekat dengan pose posesif yang sangat kentara di depan semua orang.

"Istriku benar, Clarissa," ucap Arkan, suaranya sedingin es namun sarat akan penekanan mutlak. "Urusan bisnis silakan hubungi sekretarisku di jam kerja. Dan satu hal lagi... jangan pernah mencoba membandingkan nilaimu dengan Milly. Karena bagiku, seluruh pabrik baja milik keluargamu pun tidak akan pernah setara dengan keberadaan Nyonya Mahendra di sampingku."

Setelah kalimat tajam Arkan membungkam Clarissa sepenuhnya, suasana di sudut ballroom itu tidak lagi bersahabat bagi putri konglomerat Gunarto tersebut. Dengan wajah merah padam dan dada yang naik turun menahan malu, Clarissa berbalik pergi tanpa pamit, membiarkan puluhan pasang mata kolega bisnis menatapnya dengan pandangan mencemooh.

Arkan tidak memedulikan kepergian Clarissa. Fokusnya kini sepenuhnya beralih kepada wanita mungil di dalam rangkulannya. Sepasang mata elang Arkan menyipit, menatap Milly dengan dahi berkerut dalam. Rasa bangga yang tadi sempat membubung kini berganti menjadi rasa penasaran yang amat besar.

Bagaimana bisa seorang gadis panti asuhan yang ceroboh, yang biasanya membutuhkan waktu lama hanya untuk mencerna instruksi sederhana, tiba-tiba mengetahui regulasi pelabuhan domestik, tarif proteksi tambahan, hingga fluktuasi pajak impor? Topik seberat itu bahkan sering kali membuat para manajer senior di Mahendra Group pusing tujuh keliling.

"Milly," panggil Arkan rendah, suaranya sarat akan tuntutan penjelasan saat mereka berjalan menjauh menuju sudut ballroom yang lebih sepi. "Sejak kapan kamu mempelajari hukum bea cukai dan perdagangan internasional? Jangan bilang kamu diam-diam membaca laporan keuangan perusahaanku di malam hari."

Milly tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan gerakan taktis, memastikan tidak ada mata-mata Sofia atau Clarissa yang menguping. Begitu dirasa aman, pundak tegaknya yang tadi memancarkan aura aura Nyonya Besar seketika merosot. Jiwa aslinya yang tulalit kembali mendominasi.

"Aduh, Pak Suami... jangankan membaca laporan keuangan, melihat angka dengan nol lebih dari sembilan saja kepala saya sudah langsung loading lama," keluh Milly sambil mengembuskan napas lega yang panjang.

Milly memajukan bibirnya, lalu dengan gerakan cepat, tangan kanannya meraba ke balik helaian rambut yang sengaja disisakan di sisi telinga kanannya. Dengan sekali petikan jari, ia mengeluarkan sebuah benda super kecil sewarna kulit sebuah earpiece atau earphone nirkabel mini mikro dan menunjukkannya di depan wajah Arkan.

"Saya tidak tahu apa-apa tentang baja Eropa atau Surabaya Barat, Pak suami. Saya cuma modal nekat," bisik Milly dengan cengiran tanpa dosa.

Arkan membeku di tempatnya berdiri. Jantungnya yang tadi berdesir hebat karena mengagumi "kecerdasan" sang istri mendadak terasa berhenti berputar selama satu detik. Sepasang matanya menatap bergantian antara benda mikro di tangan Milly dan wajah polos wanita itu.

"Maksudmu...?" Arkan menggantung kalimatnya, berusaha mencerna situasi yang di luar nalar dinginnya ini.

"Iya, Pak Suami! Tadi itu saya cuma menjiplak murni!" seru Milly setengah berbisik dengan penuh semangat. "Waktu si ular sutra itu mulai mendekati Bapak dengan gaya sok pintar membawa-bawa proyek Surabaya, saya langsung panik. Saya tahu saya kalah telak kalau adu otak bisnis. Tapi untungnya, ingatan saya mendadak kembali ke kejadian sepuluh menit lalu sebelum lelang dimulai!"

Milly mendekatkan wajahnya ke arah Arkan, membuat Arkan secara refleks mundur selangkah karena terkejut dengan keagresifan istrinya yang mendadak.

"Sepuluh menit lalu, waktu saya mau ke toilet, saya tidak sengaja berpapasan dengan asisten Bapak, Kak Benny. Dia sedang menelepon seseorang dengan panik di lorong sepi. Saya dengar dia memaki-maki tentang 'Keluarga Gunarto bodoh yang mau menipu kita dengan baja Eropa tanpa membaca regulasi bea cukai terbaru pagi ini'. Karena kalimatnya terdengar keren dan penuh dendam, diam-diam saya rekam pakai handphone saya, Pak!"

Arkan memijat pangkal hidungnya yang mendadak terasa pening. "Lalu... apa hubungannya dengan earpiece ini?"

"Nah, itu dia jeniusnya saya!" Milly menepuk dadanya bangga. "Begitu Clarissa mulai bicara tentang potongan lima belas persen, saya langsung menyalakan rekaman suara Kak Benny di handphone yang saya selipkan di dalam belahan gaun ini, lalu menyambungkannya ke earpiece kecil ini. Jadi, apa pun yang diucapkan Kak Benny di dalam rekaman, langsung saya tiru bulat-bulat dengan gaya bicara yang lambat agar kelihatan pintar! Hebat kan, Pak?"

Arkananta Mahendra, seorang CEO muda yang dikenal kejam, dingin, dan paling membenci orang bodoh, malam ini dibuat tak berkutik oleh logika di luar nalar seorang gadis panti asuhan. Seluruh penjelasan berkelas tentang teknik impasto di atas panggung dan regulasi bea cukai di bawah panggung ternyata hanyalah hasil dari kombinasi keberuntungan, kenekatan, dan kemampuan meniru yang luar biasa.

Gadis di hadapannya ini benar-benar tidak tahu apa-apa tentang perdagangan internasional. Dia hanyalah Milly yang ceroboh, yang kebetulan memiliki bakat akting setingkat Hollywood dan refleks tubuh seorang pengasuh panti.

Arkan menatap Milly lama. Alih-alih marah karena merasa dibohongi, sudut bibirnya justru perlahan terangkat. Sebuah tawa rendah yang tulus sesuatu yang belum pernah didengar oleh siapa pun di mansion Mahendra selama bertahun-tahun lolos begitu saja dari tenggorokannya.

"Kamu benar-benar... tidak bisa ditebak, Nyonya Mahendra," gumam Arkan, matanya melembut dengan binar kegemasan yang tak lagi bisa disembunyikan. Ia mengulurkan tangannya, menjewer pelan telinga Milly yang tidak lagi terpasang earpiece.

"Aduh! Sakit, Pak Suami! Ini namanya efisiensi taktik memanfaatkan sumber daya yang ada!" protes Milly sambil mengusap telinganya, bibirnya mengerucut sebal.

"Memanfaatkan rekaman asistenku untuk mengancurkan mental putri konglomerat di depan umum... itu bukan efisiensi, Milly. Itu namanya kegilaan yang terencana," sahut Arkan, namun tangannya beralih merapikan helai rambut Milly yang sempat berantakan karena jewerannya tadi. "Tapi harus kuakui, aktingmu malam ini sangat sempurna. Clarissa bahkan mungkin tidak akan bisa tidur nyenyak selama seminggu penuh karena memikirkan bagaimana caranya mengalahkan 'otak panti asuhan' milikmu."

Milly tersenyum lebar, merasa mendapat pujian tertinggi. Di bawah benderang lampu kristal ballroom, Arkan menyadari satu hal yang pasti hidupnya yang dulu datar dan penuh dengan kalkulasi bisnis yang dingin, kini telah berubah total sejak kehadiran gadis tulalit bin taktis ini. Dan ia, entah sejak kapan, mulai menikmati setiap detiknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!