Dinda Amelia seorang wanita mandiri yang sukses dalam karir nya tapi ia harus rela melepaskan karirnya itu karena harus menuruti perintah suaminya Arya baskara yang baru ia nikahi selama satu tahun atas perjodohan orang tuanya, pada awalnya pernikahan mereka berjalan lancar Dinda merasa bahagia menjadi istri Arya yang sabar dan penyayang, tetapi ternyata semua sikap dan kasih sayang nya hanya sebuah kepalsuan belaka, selama ini Arya telah berbohong karena di belakang Dinda ia telah menyembunyikan wanita lain yang ternyata adalah istri simpanannya, apa sebenarnya motif Arya untuk menikahi Dinda dan bagaimana Dinda melepas kan diri dari jebakan pria pembohongan itu??
simak kisah selengkapnya hanya di noveltoon...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niya_23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Makan siang kali ini Alvin nekat menggandeng Dinda untuk makan siang di kantin kantor, semua mata tertuju kepada dua insan yang sedang jatuh cinta itu.Gumaman riuh terdengar dari banyak meja.
Mungkin sedang membicarakan hubungan Alvin dan Dinda yang terlihat bukan sebagai hubungan antara sekretaris dan boss lagi melainkan sebagai pasangan kekasih di lihat dari cara Alvin memperlakukan Dinda, dari mulai membawakan makanan untuk Dinda dan cara ia berbicara seperti layaknya orang yang sedang menjalin kasih. Dinda tampak canggung karena orang-orang terus memperhatikannya sedangkan Alvin tetap memasang muka datar dan cuek akan keadaan sekitar yang riuh karena dirinya.
Setelah jam makan siang usai mereka berdua kembali ke pekerjaan mereka masing-masing, notif di HP Dinda terus berdering ia sudah menduga pasti seseorang dengan Intel yang banyak itu yang terus saja mengirimi Dinda pesan siapa lagi kalau bukan Karin sekarang pasti ia sedang menunggu penjelasan Dinda perihal kejadian di kantin tadi.
Yang terbaca oleh Dinda sekilas pesan dari karin adalah
Karin: Gue tunggu lo nanti sepulang kerja di lobby!!
Dinda: iya, balasnya singkat.
Dinda hanya tersenyum kecil karena ia berhasil menutup rapat rahasianya selama ini dari sahabat nya itu karena Dinda masih ragu akan hubungan nya dengan Alvin sehingga ia belum berani terbuka kepada Karin ia takut gagal lagi seperti hubungannya yang lalu.
Setelah jam pulang kerja, Karin yang sedari tadi menunggu Dinda di lobby seketika langsung menarik Dinda ke tempat sepi di sudut kantor.
"Sini! Sini!" ucap Karin dengan ekspresi kesal.
"Eh, Dinda gila yah lo bisa-bisanya lo maen rahasia-rahasiaan Sama gue!" bentuknya kesal.
"Iya maaf sebenarnya gak bermaksud gitu emang kejadiannya cepet kilat sat set gitu jadi gue belum sempet ngasih tau lo maaf yah janji gak gitu lagi udah yah jangan marah lagi," Pinta Dinda.
"Oke untuk kali ini gue maafin tapi kalau sampe lo mau nikah gue gak tau duh gak tau lagi deh gue kick lo dari pertemanan gue!" Ancam Karin.
"Ya gak mungkin lag gue nikah gak ngasih tau lo rin lo kan yang bakal jadi bridesmaid gue!" sahut Dinda.
"Janji yah, " ujar Karin.
"Iya janji, " sahut Dinda.
"Terus kalau udah gini bukannya harusnya lo traktir gue!" Pinta Karin.
"Ye bilang aja mau ditraktir pake acara ngambek-ngambek segala, " Ledek Dinda.
"Ngambek kan tadi sekarang kan udah nggak, traktir yah yuk ke restoran depan, " ajak Karin.
"Eh, gak ngajak Rani dulu?" tanya Dinda.
"Gak usah tadi gue udah chat dia katanya gak bisa ikut mau jalan sama cowoknya, " jelas Karin.
"Oh gitu ya udah yuk eh tapi gue gak bisa lama yah Nanti soalnya gue mau jalan juga sama pak Alvin, " ucap Dinda malu-malu.
"Yah ko gitu? Gue kira kita bisa jalan juga ke mall hari ini, " ucap Karin cemberut.
"Gak bisa sekarang nanti aja oke sekarang makan aja yah, " bujuk Dinda.
"Ya udah deh," Ujar Karin pasrah.
Tak terasa Sudah satu jam Dinda berada di restoran bersama karin sampai-sampai ia menghiraukan pesan dari Alvin yang sedang menunggunya, karena Alvin sudah terlalu lama menunggu ia kemudian menghampiri Dinda yang sedang asik ngobrol dengan Karin sampai lupa waktu.
"Din, belum selesai ngobrol nya?" Suara bariton Alvin terdengar tegas sehingga mengejutkan Dinda dan Karin yang sedang terbahak entah membicarakan apa.
"Mas Alvin?" Air muka Dinda berubah panik ia lupa akan janjinya yang akan mengajak Alvin ke rumahnya.
"Maaf Mas aku lupa kamu nunggu lama yah?" tanya Dinda yang melirik jam di layar ponselnya.
"Nggak lama ko cuma aku udah pegel aja nungguin balesan chet kamu!" Imbuh Alvin menyindir halus.
Karin yang tidak enak kemudian buru-buru untuk pamit dan meninggalkan mereka berdua di restoran.
"Din, gue balik dulu yah udah malem nih Makasih juga yah traktirannya sampe ketemu besok, mari pak Alvin saya duluan, " sahut Karin terburu-buru.
"Hati-hati di jalan yah Rin," imbuh Dinda.
Alvin yang menunjukkan wajah kesal langsung terduduk di kursi samping Dinda terapi wajah kesal Alvin yang terlihat lucu baginya.
"Kamu marah Mas? " tanya Dinda. Alvin terdiam tidak menjawab, wajahnya bak anak kecil yang tidak di kasih permen.
"Udah ya ngambeknya kan kamu mau ketemu calon mertua masa mukanya masam begitu senyum dong, " goda Dinda.
Alvin berusaha tersenyum menuruti perkataan Dinda muka masamnya kini berubah menjadi muka cerah ceria.
"Nah gitu dong kan tambah ganteng, " puji Dinda
"Udah yah mujinya nanti kita kemalaman kan gak enak kalo malem-malem ngapelin ke rumah perempuan," ujar Alvin.
"Iya deh yuk kita berangkat, " ajak Dinda.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit akhirnya ia sampai di rumah Dinda, yang berkonsep white house itu. Ibu Dan ayahnya sudah berada di ruang tamu untuk bertemu dengan Alvin yang diakui Dinda sebagai calon suami nya.
"Halo om, tante," kata Alvin sambil mencium tangan keduanya orang tua Dinda.
"Silahkan duduk nak Alvin," ayah Dinda mempersilahkan Alvin untuk duduk.
"Terimakasih om," sahutnya.
Sementara Dinda masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian ia membiarkan Alvin bersama kedua orangtuanya untuk mengobrol.
Di Akhir obrolan nya Alvin kemudian mengungkapkan niatnya untuk melamar Dinda di akhir bulan ini Ia akan membawa serta keluarga nya untuk memancing Dinda segara.
Kedua orang tua Dinda tentu saja agak terkejut dengan ucapan Alvin yang mengatakan akan melamar putri mereka di kunjungan pertamanya kerumah. Sedikit khawatir dan bingung akan niat Alvin kedua orang tua Dinda sampai terdiam dan tidak mengatakan apapun mungkin karena masih trauma akan kegagalan Dinda di masa yang lalu.
Jangan lama- lama upnya