NovelToon NovelToon
Jodohku Gadis BAR-BAR

Jodohku Gadis BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Romansa Fantasi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Fey

Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Mobil hitam milik Hanan Arkan berhenti perlahan di depan gedung fakultas yang mulai dipadati mahasiswa.

Dari dalam, Kanza Arumi turun dengan langkah mantap meski wajahnya masih menyimpan sisa-sisa rona merah karena insiden "mandikan istri" yang dilakukan suaminya pagi tadi.

Hanan menurunkan kaca jendela, menyodorkan sebuah kotak bekal kecil berwarna pastel.

“Sayang, ini bekalnya. Jangan sampai lupa dimakan, ya. Mas sudah siapkan porsi ekstra biar kamu tidak jajan sembarangan.”

Kanza menerima kotak itu dan mengangguk singkat, berusaha terlihat cuek meski hatinya menghangat.

“Iya, Mas. Makasih... udah nganterin sampai lobi.”

Hanan tersenyum teduh, tipe senyum yang sanggup membuat mahasiswi yang lewat mendadak lupa jalan pulang.

“Belajar yang benar. Jangan membahas teori kecoa mutasi di tengah kelas, tolong jaga martabat Mas sebagai dosen.”

“Yah, padahal Kanza udah siapin presentasi tentang mutasi cupang menjadi tokek raksasa...”

Hanan Arkan hanya mampu menghela napas sabar, sudah kebal dengan imajinasi istrinya. “Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam,” jawab Kanza.

Ia berdiri diam di trotoar, menatap mobil suaminya hingga hilang di belokan jalan, memastikan tidak ada mahasiswi genit yang mencoba mencegat mobil itu di gerbang kampus.

Tak lama kemudian, sebuah lengkingan familiar membelah udara pagi yang tenang.

“KANZAAA!! ADA GOSIP PANAS BARUUUU!!” Tasya melambai-lambaikan tangan dari bawah tangga kampus dengan wajah penuh antusiasme kriminal.

Kanza langsung menghampiri, semangat detektifnya langsung terpacu.

“Cepet briefing! Lokasi biasa, jangan sampai ada intel yang dengar!”

Beberapa menit kemudian, mereka sudah nangkring di bawah pohon besar dekat taman kampus markas rahasia duo absurd itu.

Kanza membuka bekal dari Hanan, menemukan roti isi daging premium, telur dadar gulung, dan buah potong yang ditata sangat rapi dan estetik.

Tasya mengintip isinya dengan mata berbinar iri.

“Suami lo tuh... benar-benar paket lengkap. Pantes didewakan sama penghuni kampus.”

“Jangan gitu, ntar gue yang jadi nabi palsunya karena terlalu memuja beliau,” gumam Kanza sambil menggigit rotinya dengan lahap.

Tasya cengengesan.

“Tapi serius deh. Tau nggak, si Zahira itu kemarin nge-like semua foto Pak Fadil, dosen muda baru yang masih bujang itu. Nggak ada satupun yang dilewatin! Kalo itu bukan kode keras 'butuh sandaran', gue rela nyebur ke kolam lele depan rektorat.”

Kanza mendelik tajam.

“Gue sih udah curiga dari zaman dia ngasih komentar ‘aamiin’ di semua story dakwah Mas Hanan. Lah, dia pikir itu akun kajian online pribadi apa?”

Tasya mengangguk dramatis.

“Bisa jadi dia lagi nyusun proposal ta’aruf sepihak yang revisinya lebih banyak dari Tesisnya.”

Sambil mengunyah roti, Kanza tiba-tiba berdiri mendadak dan berteriak lantang ke arah taman yang agak ramai:

“HEY ZAHIRA! CINTA ITU IKHLAS DAN BERMARTABAT, BUKAN NGINTIPIN DOSEN ORANG DI LORONG LAB!”

Seketika orang-orang menoleh. Tasya panik luar biasa dan menarik ujung jilbab Kanza agar kembali duduk.

“WOY! Suara lo kayak pengumuman evakuasi gempa bumi! Malu, Kanza!”

“Cek CCTV kampus, siapa tahu dia lagi ngumpet di bawah meja panitia BEM buat dengerin gosip kita,” bisik Kanza penuh kecurigaan.

Tasya buru-buru membuka buku catatannya yang isinya lebih banyak jadwal gosip daripada materi kuliah.

“Oke, agenda hari ini: jam sembilan kuliah dosen killer, waktu istirahat gosipin anak baru yang katanya cucu pemilik pabrik sosis, terus observasi Pak Satpam yang diduga punya kembaran karena ada di dua gerbang sekaligus.”

“Dan jangan lupa, jam dua siang ke taman belakang. Gue mau klarifikasi sama kucing kampus yang belang itu. Dia ngelihatin Mas Hanan kemarin kayak Mas Hanan punya utang cicilan whiskas.”

Tasya bengong. “Mungkin itu kucing reinkarnasi anak pesantren yang gagal move on.”

Dan tawa pecah dari keduanya, mengundang tatapan heran dari mahasiswa lain yang lewat.

Tapi bagi Kanza dan Tasya, dunia kampus adalah panggung sandiwara yang harus dinikmati dengan penuh tawa dan keabsurdan.

Dosen killer, Pak Rifa’i, berdiri tegak di depan kelas sambil menatap tajam ke arah mahasiswa.

Suasana mendadak mencekam, seolah oksigen di ruangan itu ditarik paksa. Di bangku dekat jendela, Kanza dan Tasya duduk berdampingan, berusaha menekan aura chaos mereka.

“Bismillah,” gumam Kanza sambil membuka laptop, namun matanya justru mencari sesuatu di internet.

Tasya mengintip. “Lo lagi cari jurnal internasional buat referensi?”

“Nggak, gue lupa cara baca tabel distribusi normal. Gue cari versi TikTok-nya aja yang pake backsound lucu, biar ilmunya masuk lewat kuping kanan dan nggak langsung kabur lewat kuping kiri.”

Tasya ketawa cekikikan di balik telapak tangannya.

Pak Rifa’i melirik tajam ke arah mereka.

“Saudari Kanza dan Tasya... sudah bisa fokus ke depan atau mau saya suruh diskusi di luar?”

Kanza langsung pasang tampang alim nan bersahaja.

“InsyaAllah, Pak. Saya sudah siap menerima kucuran ilmu dari langit yang Bapak sampaikan.”

Tasya nyengir kaku. “Aminin saja deh, Pak.”

“Bagus. Kita masuk ke materi regresi linear berganda. Siapkan kalkulator dan kertas grafik kalian masing-masing.”

Tasya panik, menyikut lengan temannya.

“Lo bawa kertas grafik, kan?”

Kanza pelan-pelan merogoh tasnya... dan mengeluarkan selembar kertas kado motif bunga-bunga.

“Kotak-kotaknya mirip kok, Tas... warnanya pink gini biar kita ngerjain tugasnya penuh cinta dan ceria.”

Tasya melotot. “Gue suruh lo siapin alat perang, bukan buat dekorasi kado ulang tahun Pak Rektor!”

Pak Rifa’i berjalan mendekati meja mereka dengan langkah berat.

“Itu bukan kertas grafik yang sesuai standar, Saudari Kanza.”

“Ini namanya kertas motivasi visual, Pak. Setiap lihat warna pinknya, semangat saya untuk tidak bolos langsung naik lagi.”

Pak Rifa’i mengelus dadanya, beristighfar dalam hati, lalu jalan balik ke depan kelas.

“Saya ulangi. Regresi linear berganda digunakan untuk…”

Suara dosen mulai terdengar seperti lagu lo-fi yang sangat menenangkan di telinga Kanza.

Matanya mulai merem-melek… kepalanya miring ke kanan... dan...

~~~NEXT~~~

1
Feyfey98
LANJUTTTTT👍👍
partini
tau agama tapi hati penuh iblis no good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!