NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Abadi

Kebangkitan Kaisar Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bagus Dwi

Tahun 2042.
Manusia hidup seperti biasa dengan teknologi modern. Tidak ada yang tahu bahwa energi spiritual di Bumi mulai bangkit kembali setelah menghilang selama ribuan tahun.
Arkana Wijaya, mahasiswa berusia 20 tahun, menjalani hidup biasa hingga menemukan cincin kuno peninggalan kakeknya. Saat darahnya menyentuh cincin itu, jiwa seorang kultivator legendaris dari ribuan tahun lalu terbangun.
Namun, alih-alih mengambil alih tubuh Arkana, jiwa itu justru menghilang setelah mewariskan seluruh ingatan dan teknik kultivasinya.
Arkana menjadi satu-satunya orang yang mengetahui cara kultivasi sejati.
Sementara dunia mulai berubah, organisasi rahasia, keluarga kuno, dan makhluk yang selama ini bersembunyi juga mulai bergerak.
Bumi ternyata hanyalah dunia tingkat terendah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Ancaman Pertama di Balik Kabut

​Matahari pagi di tahun 2042 seharusnya membawa kehangatan yang familiar bagi warga Jakarta. Namun, pagi ini, sang surya seolah enggan menembus kabut tebal berwarna hijau keunguan yang menyelimuti langit kota. Dari balkon kosnya, Arkana Wijaya bisa merasakan bahwa kabut itu bukanlah polusi asap industri biasa. Itu adalah uap padat yang terbentuk dari benturan antara polusi modern dan gelombang energi spiritual (Qi) yang baru saja bangkit. Kabut itu membawa hawa dingin yang menusuk, sekaligus getaran energi liar yang membuat bulu kuduk manusia biasa berdiri.

​Setelah berhasil menerobos ke ranah Spirit Gathering Tingkat Satu, tubuh Arkana terasa sangat bertenaga. Pusaran energi di dalam Dantian-nya—perut bagian bawah—berputar dengan ritme yang konstan, mengirimkan kehangatan ke setiap ujung saraf dan ototnya. Namun, ada satu efek samping yang tidak ia duga setelah melakukan kultivasi semalaman penuh tanpa henti: rasa lapar yang luar biasa.

​Kruuuk...

​Perut Arkana berbunyi sangat keras, seolah-olah ia tidak makan selama satu minggu penuh.

​"Ah, benar juga," batin Arkana sambil memegangi perutnya. "Di ranah awal seperti Body Tempering dan Spirit Gathering, tubuh fisik masih membutuhkan asupan kalori yang sangat besar untuk menyokong proses evolusi biologis. Hanya para kultivator tingkat atas di ranah Immortal Realm atau Heavenly Sovereign yang bisa sepenuhnya berhenti makan dan hidup hanya dengan menyerap energi alam semesta."

​Arkana membuka lemari kecil di sudut kamarnya. Kosong. Hanya ada satu bungkus mi instan kedaluwarsa dan botol air mineral yang sudah habis. Mau tidak mau, ia harus keluar untuk mencari pasokan makanan sebelum situasi kota Jakarta benar-benar dikunci total oleh militer akibat rentetan anomali semalam.

​Ia mengenakan jaket hoodie hitam longgar, menarik topinya ke bawah untuk menyembunyikan wajahnya, dan melangkah keluar dari kamar kos.

​Koridor gedung kos lantai empat itu tampak sepi. Sebagian besar penghuni kos—yang mayoritas adalah mahasiswa dan pekerja kantoran kelas bawah—memilih untuk mengunci diri di dalam kamar. Suara televisi dari balik pintu-pintu kayu terdengar seragam, semuanya menyiarkan berita darurat mengenai "kebocoran partikel misterius" dan instruksi pemerintah agar warga tetap tinggal di dalam ruangan.

​Ketika Arkana melangkah turun ke jalanan aspal Jakarta Barat, atmosfer di luar terasa sangat mencekam. Jalanan yang biasanya padat oleh motor listrik dan bus otonom kini sepi melompong. Toko-toko kelontong modern dan kedai kopi holografik semuanya menutup rapat pintu geser baja mereka. Hanya ada satu atau dua orang yang berlari tergesa-gesa sambil membawa kantong belanjaan besar, wajah mereka dipenuhi kecemasan yang mendalam.

​Arkana berjalan menyusuri trotoar beton yang retak. Indra pendengarannya yang super tajam menangkap suara desas-desus dari kejauhan—suara sirene mobil polisi, dengungan mesin drone militer di balik kabut tebal, dan sesuatu yang lain... suara lolongan yang aneh. Itu bukan lolongan anjing biasa. Suaranya lebih berat, memiliki resonansi frekuensi rendah yang membuat kaca-kaca jendela rumah di sekitar bergetar pelan.

​Arkana mempercepat langkahnya, menuju sebuah minimarket swalayan yang terletak sekitar lima ratus meter dari kosnya. Untungnya, minimarket itu masih buka, meskipun sang pemilik—seorang pria paruh baya dengan implan mata sibernetik murah di wajahnya—berdiri di depan pintu dengan raut wajah tegang, memegang sebuah tongkat kejut listrik pelindung diri.

​Tanpa membuang waktu, Arkana masuk dan mengambil beberapa kornet kaleng, roti gandum, dan beberapa botol besar air mineral. Ia membayar menggunakan dompet digital di tablet transparannya. Sang pemilik toko bahkan tidak menatap wajah Arkana, matanya yang mekanis terus berputar waspada menatap ke arah kabut di luar jalanan.

​"Anak muda, kalau sudah selesai, langsung pulang," ucap pemilik toko itu dengan suara parau saat Arkana mengemas barang belanjanya ke dalam tas ransel. "Sesuatu yang buruk sedang berkeliaran di distrik ini. Polisi baru saja merilis peringatan bahaya tingkat dua di forum lokal."

​"Terima kasih atas peringatannya, Pak," jawab Arkana sopan, lalu segera melangkah keluar dari toko.

​Saat Arkana baru berjalan sekitar seratus meter di jalur pulang, melewati sebuah gang sempit yang diapit oleh dua gudang kontainer tua yang terbengkalai, insting kultivatornya tiba-tiba berdenyut kencang. Cincin hitam di jarinya memberikan sensasi dingin yang mendadak.

​Grrr...

​Sebuah suara geraman rendah dan penuh kebencian terdengar dari dalam kegelapan gang yang tertutup kabut keunguan. Bau busuk yang sangat pekat—perpaduan antara darah segar dan daging membusuk—menyembur keluar dari gang tersebut, menusuk hidung Arkana.

​Arkana menghentikan langkahnya. Ia tidak lari. Dengan ketenangan yang luar biasa, ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah gang sempit itu. Di dalam kegelapan dan kabut, sepasang mata berukuran sebesar bola tenis menyala dengan cahaya merah darah yang mengerikan.

​Perlahan, makhluk itu melangkah keluar dari bayang-bayang gudang.

​Jantung Arkana berdesir pelat, bukan karena takut, melainkan karena takjub melihat dampak nyata dari kebangkitan energi spiritual pada fauna Bumi. Makhluk di depannya adalah seekor anjing liar jarian. Namun, ukurannya kini telah bermutasi menjadi sebesar seekor anak sapi. Bulunya yang semula tipis telah rontok, digantikan oleh lapisan kulit tebal berwarna hitam legam yang dipenuhi oleh tonjolan-tonjolan tulang tajam mirip duri di sepanjang tulang belakangnya. Air liurnya yang kental menetes ke tanah, mengeluarkan asap tipis yang menunjukkan bahwa cairannya telah mengandung zat asam yang korosif akibat distorsi energi.

​"Ini adalah Binatang Spiritual tingkat rendah yang gagal berevolusi dengan sempurna," batin Arkana, memindai makhluk itu dengan pandangan batinnya. "Energi Qi di dalam tubuhnya sangat kacau dan kotor, menghancurkan kewarasannya dan menyisakan insting membunuh yang murni. Energi fisiknya mungkin setara dengan manusia di ranah Body Tempering Tingkat Tiga atau Empat."

​AHOOOO!

​Melihat ada manusia yang berdiri diam di depannya, anjing mutan itu mengeluarkan lolongan mengerikan. Dengan kecepatan yang sangat mengejutkan bagi makhluk sebesar itu, ia melompat maju. Kuku-kukunya yang sepanjang belasan sentimeter mencakar aspal hingga hancur, melesat lurus menuju leher Arkana dengan rahang yang terbuka lebar, siap mengunyah kepala pemuda itu dalam satu gigitan.

​Jika ini adalah Arkana dua hari yang lalu, dia pasti sudah mati sebelum sempat berkedip. Namun, bagi Arkana yang sekarang—seorang kultivator ranah Spirit Gathering—gerakan anjing mutan yang secepat kilat itu terlihat sangat lambat di matanya, seolah-olah makhluk itu sedang bergerak di dalam air yang kental.

​Arkana tidak mundur satu langkah pun. Ia hanya menggeser kaki kirinya sedikit ke belakang, membiarkan tubuhnya berputar dengan keanggunan yang mutlak.

​Syuut!

​Rahang anjing mutan itu menerkam ruang kosong, hanya berjarak beberapa milimeter dari ujung hidung Arkana. Angin kencang yang dibawa oleh lompatan makhluk itu menerbangkan topi hoodie Arkana, menampilkan sepasang mata perak jernih yang memancarkan ketenangan sedalam lautan.

​Saat tubuh anjing mutan itu masih melayang di udara di sampingnya, Arkana menggerakkan pikiran batinnya. Aliran Qi Primordial berwarna perak keemasan dari Dantian-nya langsung melesat naik melalui jalur meridian lengannya, berkumpul secara instan di telapak tangan kanannya. Kulit telapak tangannya memancarkan pendaran cahaya perak samar yang memadatkan udara di sekitarnya.

​Arkana membentuk tangansnya menjadi posisi telapak terbuka, lalu menghantamkannya secara horizontal tepat ke arah perut samping anjing mutan tersebut.

​"Telapak Pemecah Gunung!" Arkana menggunakan salah satu teknik serangan dasar yang ia temukan di dalam memori Kitab Primordial Kaisar Abadi.

​BLAAAM!

​Suara benturan yang dihasilkan terdengar seperti dua buah truk baja yang saling bertabrakan dengan kecepatan tinggi. Gelombang kejut dari hantaman telapak tangan Arkana menciptakan riak angin yang membersihkan kabut di radius lima meter seketika.

​Energi perak murni menembus lapisan kulit tebal anjing mutan tersebut tanpa merusak bagian luarnya secara drastis, namun langsung meledak di dalam organ interior makhluk itu. Tulang-tulang rusuk anjing raksasa itu hancur berkeping-keping dalam sekejap.

​Kyaaaark!

​Anjing mutan itu mengeluarkan jeritan melengking yang penuh rasa sakit. Tubuhnya yang seberat dua ratus kilogram terpental sejauh sepuluh meter ke udara, menabrak dinding kontainer baja di dalam gang dengan sangat keras hingga kontainer tersebut penyok sedalam setengah meter. Makhluk itu jatuh ke tanah, tubuhnya kejang-kejang selama beberapa detik sebelum akhirnya mati total dengan darah hitam yang mengucur deras dari mulut, hidung, dan matanya.

​Arkana menurunkan tangan kanannya, membiarkan sisa Qi perak menyerap kembali ke dalam tubuhnya. Ia menatap telapak tangannya sendiri dengan mata berbinar-binar penuh rasa takjub.

​"Luar biasa... Ini adalah kekuatan sejati dari ranah Spirit Gathering," gumam Arkana, napasnya tetap teratur tanpa ada tanda-tanda kelelahan. "Aku bahkan tidak menggunakan sepuluh persen dari total Qi di Dantian-ku, tapi dampaknya bisa menghancurkan struktur internal makhluk setingkat ranah Body Tempering dengan satu serangan."

​Namun, sebelum Arkana memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat kejadian, ia teringat sesuatu dari catatan kuno sang Kaisar Abadi tentang Binatang Spiritual. Meskipun anjing ini adalah produk mutasi yang gagal dan kotor, tubuh makhluk yang telah terpapar Qi dalam jumlah besar biasanya menyimpan satu benda berharga di dalam tubuh mereka.

​Arkana melangkah masuk ke dalam gang yang gelap, mendekati bangkai anjing raksasa tersebut. Ia berlutut di samping kepala makhluk itu. Menggunakan kuku jarinya yang kini telah diperkuat oleh energi spiritual hingga setajam pisau bedah siber, Arkana Membedah bagian tengah dahi anjing mutan tersebut dengan satu gerakan rapi.

​Di balik lapisan tengkorak yang hancur, Arkana menemukan sebuah benda kecil berbentuk bulat sebesar kelereng. Benda itu berwarna merah redup yang kotor, memancarkan fluktuasi energi spiritual yang sangat tidak stabil.

​"Inti Binatang (Beast Core) tingkat rendah," batin Arkana, mengambil benda bulat itu dan membersihkannya dengan selembar tisu dari sakunya. "Energinya terlalu kotor untuk diserap langsung oleh kultivator biasa karena bisa memicu penyimpangan Qi. Tapi bagiku, dengan bantuan teknik pemurnian dari Kitab Primordial Kaisar Abadi, aku bisa menyaring kotorannya dan mengubahnya menjadi batu roh buatan untuk mempercepat kultivasiku."

​Arkana memasukkan inti merah tersebut ke dalam saku celananya. Cincin hitam di jarinya kembali berdenyut hangat, seolah memberikan persetujuan atas tindakan cerdas pemilik barunya.

​Tiba-tiba, suara dengungan mesin yang familier terdengar dari atas langit gang. Cahaya lampu sorot berwarna putih terang membelah kabut, menembus masuk ke dalam gang sempit tempat Arkana berdiri. Sebuah drone patroli militer berbentuk cakram siber dengan logo "Kementerian Pertahanan" di lambungnya baru saja tiba, mendeteksi adanya fluktuasi energi abnormal dari pertarungan barusan.

​"Sial, radar mereka sangat cepat," pikir Arkana.

​Tanpa membuang waktu satu detik pun, Arkana menarik kembali tudung hoodie hitamnya. Tubuhnya merendah, lalu dengan satu sentakan kaki yang diperkuat Qi, ia melesat pergi dari gang tersebut, bergerak secepat bayangan hantu yang menyatu dengan kabut keunguan Jakarta. Ketika drone militer itu berhasil mengunci kamera sensornya ke bawah gang, yang tersisa hanyalah bangkai anjing raksasa yang hancur dan jejak penyok misterius pada kontainer baja, tanpa ada tanda-tanda keberadaan manusia sedikit pun.

​Krisis pertama di dunia baru telah berhasil dilewati, namun Arkana tahu bahwa ini barulah permulaan kecil dari badai besar yang akan segera melanda seluruh negeri.

1
Jujun Adnin
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!