Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?
Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?
"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.
____
"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.
Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.
____
"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.
"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.
-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --
Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Lyra dan teman-temannya di Kantin sekolah
kriiiiiiingg......
Bunyi bel istirahat yang nyaring seolah menjadi melodi paling merdu bagi setiap siswa di sekolah.
Tap.. tap... tap...
Di tengah hiruk-pikuk lorong, Lyra dan Rian berjalan beriringan menuju kantin sekolah.
Mereka berdua adalah sahabat karib sejak tahun pertama masuk sekolah menengah atas.
Lyra, dengan rambut yang dikuncir kuda, sesekali merapikan seragamnya sambil berjalan cepat.
Sementara Rian, yang selalu tampak santai, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana abu-abunya.
"Hari ini aku mau beli bakso kuah favorit itu lho, Yan. Yang sambalnya pedas dan kuahnya gurih," kata Lyra antusias, matanya berbinar membayangkan makanan favoritnya.
"Boleh, asal nanti jangan sampai kamu sakit perut lagi kayak bulan lalu," goda Rian sambil tertawa kecil, mengingat insiden ketika Lyra menangis karena salah makan di kantin.
Mereka berdua adalah sahabat yang saling melengkapi.
"Itu kan waktu aku khilaf, sekarang aku sudah kapok," balas Lyra pura-pura cemberut.
_________________
Kantin sudah dipenuhi oleh puluhan siswa yang kelaparan.
Aroma masakan yang menguar memenuhi udara, menciptakan suasana yang bising namun menyenangkan.
Berbagai macam jajanan dijajakan di setiap sudut, mulai dari stan nasi goreng, batagor, hingga es buah yang menyegarkan.
Lyra dan Rian segera mengantre di stan bakso.
Setelah beberapa menit menunggu, mereka akhirnya mendapatkan dua mangkuk bakso hangat dan dua gelas es teh manis.
"Ayo kita cari tempat duduk," ajak Rian sambil membawa nampannya dengan hati-hati.
Mereka menyapu pandangan ke seluruh penjuru kantin yang hampir penuh.
Akhirnya, mata Lyra menangkap sosok dua gadis yang melambaikan tangan dari salah satu meja sudut kantin yang strategis.
"Eh, itu Minda sama Amel!" seru Lyra sambil menunjuk ke arah meja tersebut.
Tap, tap....
Mereka pun segera melangkah menuju meja yang dimaksud. Minda dan Amel adalah sahabat mereka, meskipun mereka berempat tidak satu kelas sama seperti Lyra dan Rian.
Minda berasal dari kelas X5 yang dikenal serius, sedangkan Amel adalah anggota ekskul teater dari kelas X6 yang ekspresif.
Pertemuan mereka berempat di kantin seperti ini selalu menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu setelah berjam-jam terpisah oleh dinding kelas dan jadwal pelajaran yang berbeda.
"Hai, kalian lama banget sih! Keburu lumut nih nungguinnya," sapa Amel dengan gaya bicaranya yang selalu dramatis, menggeser sedikit duduknya untuk memberikan ruang bagi Lyra.
"Tadi antre bakso panjang banget, Mel. Berjuang dulu baru bisa makan," jawab Lyra sambil mendudukkan diri di sebelah Amel.
Rian pun duduk di kursi kayu berhadapan dengan Lyra, meletakkan mangkuknya.
"Gimana pelajaran Fisika tadi, Minda? Masih aman otakmu?" tanya Rian meledek Minda yang sedang memegang sebuah buku catatan tebal.
Minda memang dikenal sebagai murid yang rajin dan sering menghabiskan waktu istirahat untuk belajar.
Puk... (Suara menutup buku pelan)
Minda menutup bukunya dan tersenyum tipis.
"Lumayan bikin pusing, tapi untunglah masih bisa paham. Kalau kalian sendiri gimana pelajarannya? Seru nggak kelas kalian hari ini?" tanya Minda balik, menunjukkan perhatiannya pada teman-temannya.
"Wah, kalau di kelasku tadi seru banget. Guru Bahasa Indonesia lagi nggak masuk, jadi kita disuruh bikin cerpen bebas. Aku nulis cerita detektif yang agak horor gitu," cerita Lyra dengan semangat, tangannya bergerak-gerak di udara memperagakan ketegangan ceritanya.
Duh, Lyra.
"Punya teman kok imajinasinya liar banget ya," sahut Rian sambil menyeruput es teh manisnya. Mereka berempat tertawa bersama.
"Hahaha..."
Suara tawa mereka seakan menyatu dengan riuhnya kantin sekolah.
"Kalau kamu gimana, Yan? Tumben kelihatan agak santai hari ini," tanya Amel sambil mencolek bakso milik Minda tanpa izin, yang hanya dibalas dengan gelengan kepala pasrah oleh Minda.Rian tersenyum misterius.
"Ya iyalah santai. Tugas Matematika sudah selesai semua, dan aku lagi nunggu kabar dari Kak Dion soal jadwal tanding basket minggu depan. Doain ya biar tim kita menang lagi."
"Pasti dong! Kita pasti dukung kamu. Nanti kita nonton bareng-bareng ke lapangan, ya kan?" kata Lyra, meminta persetujuan dari Minda dan Amel.
"Setuju banget! Biar seru dan rame," jawab Minda dengan anggukan mantap. Bagi mereka, mendukung satu sama lain adalah hal yang paling utama dalam persahabatan.
Obrolan hangat di meja kantin itu pun mengalir semakin seru.
Mereka berempat membahas berbagai macam topik, mulai dari gosip hangat seputar sekolah, guru-guru yang paling killer, hingga rencana untuk menghabiskan waktu liburan akhir pekan mendatang.
Walaupun mereka berada di kelas yang berbeda dan memiliki aktivitas serta teman pergaulan yang tidak sama di lingkungan kelas masing-masing, ikatan persahabatan di antara mereka tidak pernah memudar.
Bagi mereka, perbedaan kelas justru membuat cerita yang mereka bagikan di kantin setiap harinya menjadi lebih berwarna.
Lyra bisa menceritakan kelakuan teman-teman kelasnya yang heboh, Minda sering memberikan pandangan yang logis dan bijak jika ada di antara mereka yang sedang menghadapi masalah, Amel selalu membawa unsur hiburan dengan lelucon dan cerita-cerita teaternya, sedangkan Rian menjadi sosok pelindung dan pendengar yang baik ketika mereka bertiga sedang mengeluh tentang tugas-tugas sekolah yang menumpuk.
Saat sedang asyik tertawa, tiba-tiba Amel teringat sesuatu.
"Eh, kalian tahu nggak sih? Anak kelas X-1 yang sering bikin masalah itu lho, katanya kemarin kena tegur guru BK gara-gara bolos pelajaran pas jam pertama." Mata Lyra membulat seketika.
"Serius, Mel? Wah, nekat banget. Memangnya dia ke mana sampai berani bolos segala?"
"Katanya sih nongkrong di warung belakang sekolah sama anak-anak dari sekolah lain. Ketahuan deh sama guru piket yang lagi sidak," jawab Amel dengan nada berbisik, seolah sedang menyampaikan rahasia negara yang sangat penting.
Minda menghela napas panjang mendengar cerita Amel. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Duh, ada-ada saja kelakuan anak zaman sekarang. Padahal kan sayang banget waktunya kalau dipakai buat bolos. Nanti pas ujian pasti bakal susah sendiri ngejar materinya."
"Iya, betul itu. Minda emang selalu jadi anak yang paling lurus pemikirannya," puji Rian sambil terkekeh pelan.
"Tapi bener kata Minda, kita nggak boleh ikutan kayak gitu. Rugi di kita sendiri." Lyra mengangguk setuju dengan pendapat kedua sahabatnya.
Ia menatap ketiga temannya secara bergantian, rasa hangat tiba-tiba menyusup ke dalam dadanya.
Lyra merasa sangat bersyukur bisa memiliki sahabat-sahabat yang tidak hanya asyik diajak bersenang-senang, tetapi juga saling mengingatkan dalam kebaikan.
Di tengah-tengah masa-masa sekolah yang terkadang terasa sangat melelahkan dengan segala tugas dan ujian, keberadaan sahabat seperti Rian, Minda, dan Amel adalah tempat ia bisa menjadi diri sendiri sepenuhnya.
"Kalian sadar nggak sih? Waktu cepat banget berlalu," ucap Lyra tiba-tiba dengan nada suara yang sedikit melow. Ia mengaduk-aduk sisa kuah bakso di mangkuknya.
"Perasaan baru kemarin kita MOS, sekarang kita sudah mau naik ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Nanti kalau kita sudah lulus, bakalan jarang ya bisa kumpul kayak gini lagi."
Suasana di meja itu mendadak menjadi sedikit hening. Minda, Amel, dan Rian menghentikan aktivitas makan mereka dan menatap Lyra.
"Hei, kok jadi sedih gitu sih," ujar Rian mencoba mencairkan suasana. Ia menepuk pelan bahu Lyra.
"Tenang aja, persahabatan kita nggak akan putus cuma gara-gara kita pisah kelas atau nanti sudah lulus kuliah. Zaman sekarang kan gampang banget buat tetap komunikasi." Amel mengangguk setuju.
"Benar kata Rian, Lyra. Jarak itu bukan masalah besar. Lagipula, kita kan masih punya banyak waktu sampai kelulusan. Kita harus bikin banyak kenangan indah selama masa sekolah ini. Waktu kita masih panjang!"
"Iya, Lyra. Jangan terlalu dipikirin dulu masa depan yang masih jauh. Yang penting sekarang kita nikmati kebersamaan kita selagi bisa. Kita harus saling mendukung biar semuanya sukses dan bisa mencapai cita-cita kita," tambah Minda dengan senyuman tulus yang menenangkan.
Mendengar kata-kata bijak dari sahabat-sahabatnya, Lyra kembali tersenyum. Beban di pikirannya seolah terangkat.
Ia menyadari bahwa yang terpenting bukanlah di kelas mana mereka belajar, melainkan bagaimana mereka menjaga kebersamaan dan saling mendukung satu sama lain.
_________________
kriiiiiiingg.....
Waktu istirahat perlahan-lahan mulai menipis. Suara bel masuk kelas yang berbunyi nyaring kembali menggema di seluruh penjuru sekolah.
Para siswa yang tadinya bersantai di kantin mulai bergegas merapikan barang bawaan dan berjalan kembali menuju kelas masing-masing.
Suasana kantin yang tadinya bising perlahan mulai terasa lebih lengang.
Meja tempat Lyra, Rian, Minda, dan Amel duduk pun mulai ditinggalkan oleh siswa-siswa lain di sekitarnya.
"Yah, belnya sudah bunyi," keluh Amel dengan wajah cemberut yang dibuat-buat, sambil meneguk sisa minumannya.
"Iya nih, waktunya masuk. Padahal ceritanya belum selesai," timpal Lyra.
kriet..
Minda berdiri dari tempat duduknya dan merapikan seragamnya.
Ia kemudian mengambil tas ranselnya yang sedari tadi diletakkan di kursi sebelah.
"Nanti kita bisa lanjutin lagi pas istirahat siang kedua atau waktu pulang sekolah. Masih banyak waktu."
"Betul tuh. Nanti pulangnya kita barengan lagi ke gerbang depan ya," usul Rian.
"Siap! Aku duluan ya ke kelas. Soalnya pelajaran Bahasa Inggris bakal dimulai sebentar lagi, dan gurunya galak banget kalau ada yang telat," kata Amel sambil melambaikan tangan dan setengah berlari menuju kelasnya.
"Kita juga harus balik ke kelas nih. Sampai ketemu nanti sore ya!" seru Lyra pada Minda dan Amel.
Mereka berempat pun berpisah di depan pintu kantin, berjalan menuju arah yang berlawanan sesuai dengan letak kelas mereka masing-masing.
Tap.. tap.. tap...
Lyra berjalan cepat menuju kelasnya yang berada di gedung sayap barat ditemani oleh Rian. Sementara Minda dan Amel berjalan bersama menuju gedung sayap timur.
Meski langkah mereka harus terpisah menuju kelas yang berbeda, ada satu hal yang pasti di dalam hati mereka.
Yaitu sebuah keyakinan bahwa bel istirahat esok hari dan hari-hari selanjutnya akan kembali menyatukan mereka di meja kantin yang sama, berbagi tawa, makanan, dan cerita tentang kehidupan sekolah yang tidak akan pernah terlupakan.
Persahabatan mereka akan terus tumbuh dan menjadi kenangan yang paling indah di masa remaja mereka.
Bersambung~~~
Hallo gess!! Semoga suka cerita nya ya!! 🤗 Persahabatan itu menyenangkan kan? apalagi kompak ^^
Jangan lupa follow akun ini, like, komen dan share cerita nya ya!! 😉
Instagram: @dinndaayu_64
Wattpad: @dinda.glow
See you~~