"Kamu adalah budakku Radini Prastiwi Sukarna dan kamu tidak akan bisa lepas dari cengkramanku!"
"Aku adalah abdi setiamu wahai iblis..."
Radini Prastiwi Sumarna, seorang perempuan keturunan bangsawan yang menjadi pewaris sebuah tradisi keluarga, bukan tradisi sembarangan karena keluarga itu merupakan keturunan perempuan pemuja iblis dan Radini terpilih sebagai penerus keluarga untuk melanjutkan jejak leluhurnya.
Apakah dia akan tetap memegang teguh ritual keluarganya sebagai pemuja iblis atau justru dia akan bertaubat setelah dia bertemu Dirga Bintang Darmawan yang menjadi targetnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Efek hilangnya pagar gaib
Rumah Bintang yang sudah tidak memiliki pagar gaib menjadi sasaran empuk para dukun yang di minta saingan Bintang untuk mengirimkan guna guna mereka pada keluarga Bintang.
Radini juga tahu kalau banyak orang yang merasa tersaingi oleh Bintang yang sudah maju pesat ketika pertama datang ke kampung Curug, dan Bintang yang di anggap hanya pendatang oleh orang orang yang tidak menyukainya, selalu jadi target sasaran teluh dari sejak dia berdamai dengan Galuh.
Brak. Brak.
Pintu rumah Bintang sudah di dobrak hampir sepuluh kali dari sejak pukul sebelas malam, tapi tidak pernah ada yang bisa masuk karena di luar Rukmini juga yang lain menjaga rumah itu, tak hanya di rumah, lahan Galuh juga di jaga tokek, Uyung dan para pasukan Gandra.
Allahu Akbar Allahu Akbar...
"Alhamdulillah Adzan subuh sudah berkumandang, biasanya setelah adzan subuh gangguan itu akan hilang" ungkap Bintang duduk di samping Silvia yang tertidur di sofa.
"Iya pa, Dirga ambil wudhu karena kita akan bergiliran shalat dan berjaga" ucap Dimas
"Iya kak" jawab Dirga pergi ke arah lantai dua.
"Ngantuk pa" rengek si bungsu dari Dimas
"Kita shalat dulu ya, setelah itu kamu tidur nanti di bangunkan kalau waktunya sekolah" bujuk Dimas
"Ayo Abang gendong" bujuk Bimantara dan adiknya langsung naik ke punggung Bimantara dengan senang hati.
"Temani adik kamu, papa mau cek rumah dan luar nanti setelah shalat"
"Iya pa"
Bintang dan Dimas segera membangunkan istri mereka, mereka mengajak keduanya untuk shalat di ruang shalat rumah itu dan setelahnya Dimas memeriksa ke setiap sudut rumah sambil menaburkan garam Rukmini ke setiap sudut rumah itu. Dirga membantu setelah selesai shalat dan ikut memeriksa para mahluk gaib yang berjaga di luar takutnya ada yang terluka tapi ternyata tidak, mereka semua selamat.
"Malam tadi terasa begitu panjang" ucap Dimas yang kurang tidur karena menjaga istri dan anaknya dari gangguan teluh.
Pagi hari ketika sarapan, para keluarga Bintang membicarakan tentang gangguan semalam dan mereka yang merasa terancam meminta Bintang untuk menginap di rumah Galuh atau Sigit.
"Itu karena tanah ini sudah tidak ada pagarnya" jawab Bintang
"Di tempat bi Sumi bagaimana bi?" tanya Silvia
"Sama non, saya sampai tidak berani ke kamar mandi" jawab Sumi
"Kita menginap saja di rumah Opa Galuh Opa" rengek Bimantara
"Kita tunggu Om Badaruddin pulang dulu" jawab Bintang
"Nenek bilang besok akan di bangun pagar gaib baru, setelah Om Badarudin kembali dari tempat istrinya dan adiknya" ucap Bintang
"Bima semalam menemukan ini pa, ini ada di depan jendela kamar Bima" ucap Bimantara menunjukkan beberapa kuku berwarna putih dan hitam di sebuah kantung.
"Innalilahi, ini kuku jin, segera bakar" ucap Dimas
"Berikan pada Om biar Om urus, di kamar Om juga ada banyak" ucap Dirga
"Astagfirullah, kenapa tidak bilang sejak tadi, segera bakar" ucap Bintang
Dirga segera mengambil kantung yang di pegang Bimantara dan membawa kantung itu ke halaman belakang, dia juga memasukkan banyak buhul yang dia temukan di sekeliling rumah Bintang juga di area lahan Bintang yang di bawa Uyung subuh tadi.
"Siapapun kamu, kamu tidak akan aku biarkan membuat keluargaku menderita karena sakit gaib, aku tidak akan mengembalikan teluh ini tapi aku akan memastikan kamu tidak akan bisa mengirim apapun lagi pada keluargaku!" gumam Dirga membakar semua benda gaib itu setelah dia membaca Al-fatihah, tiga kul dan ayat kursi.
Dhuar. Dhuar. Dhuar.
Ledakan di sertai api berkobar itu sama sekali tidak membuat Dirga mundur, dia melihat siluet seseorang yang dia kenali dalam kobaran api itu dan dia sudah tahu siapa yang harus dia waspadai untuk sekarang.
"Radini, jadi kamu yang sudah membuat pagar gaib di tempat ini hancur" gumam Dirga
"Dirga..."
"Sahara, kamu tidak apa apa?" tanya Dirga saat Sahara muncul dan bersandar di pelukannya.
"Sahara lemas" jawabnya
"Kamu pasti semalaman melawan teluh teluh itu, maaf ya kalian jadi repot gara gara ini" ucap Dirga menggendong Sahara tapi ada sesuatu yang aneh, tubuh Sahara panas bahkan rambutnya juga panas.
"Sahara ada sesuatu yang aneh" ucap Dirga menurunkan Sahara di depan teras halaman belakang.
"Sahara lemas, pusing, lemah, lesu, lunglai, semua lelelele di borong" racau Sahara
"Ada yang tidak beres, Om Gandra!" panggil Dirga tapi Gandra tidak muncul.
"Astagfirullah aku lupa kalau Om Gandra sedang menyiapkan energinya untuk pemagaran gaib nanti, lalu bagaimana menyembuhkan Sahara" ucap Dirga
"Ada apa Dirga?" tanya Dimas yang mendengar teriakan Dirga memanggil Gandra
"Sahara panas kak" jawab Dirga
"Innalilahi, Sahara kamu makan bola api lagi?" tanya Dimas dan Sahara mengangguk.
"Apa Sahara pernah seperti ini?" tanya Dirga
"Iya, dulu dia memakan banyak bola api yang di tujukan untuk keluarga kita dan dia juga seperti ini, ayo bawa dia ke dalam saja, Sahara hanya perlu tidur seharian" jawab Dimas
"Sahara mau es... mau yang dingin dingin, mau berendam di kutub Utara" racau Sahara
Dirga menggendong Sahara ke dalam, padahal Dimas akan memberikan Dirga alas supaya kulit tangan Dirga tidak melepuh tapi melihat bagaimana Dirga menggendong Sahara dengan mudah, Dimas langsung mengerti kalau adiknya itu punya ilmu yang cukup besar yang dia sembunyikan.
"Kenapa Sahara?" tanya Bintang khawatir
"Sahara makan bola api, mungkin itu teluh banas Pati makanya Sahara jadi begini" jawab Dimas
"Amartha di sini, papa tenang saja karena Ibunda pasti baik baik saja" ucap Amartha yang muncul dari balik pintu.
"Amartha, kamu sudah kembali? apa ayahanda kamu juga sudah selesai?" tanya Dimas
"Belum, ayah kirim Amartha untuk menjaga Ibunda" jawab Amartha duduk di samping Sahara dan memeluk ibunya itu.
"Panas... mau yang dingin dingin" rengek Sahara
"Tapi kalau sedang seperti ini, es sedingin apapun akan meleleh Sahara, tidak akan berpengaruh, tidurlah" bujuk Dimas
"Dirga, kamu tidak apa apa? tangan kamu tidak kepanasan?" tanya Dimas memeriksa tangan Dirga.
"Tidak kak, Dirga baik baik saja" jawab Dirga
"Syukurlah, kamu di sini saja dan istirahat, kakak mau ke bengkel dulu karena ada mobil yang harus di perbaiki kata Gibran" ucap Dimas
"Iya kak, Sahara biar Dimas yang jaga, anak anak sudah ke kampus dan sekolah" tanya Dirga
"Sudah, di antar Harsa tadi" jawab Dimas
Setelah Dimas pergi ke bengkel, Dirga memberikan air minum pada Sahara agar Sahara bisa lebih nyaman, dia juga sempat mengusap rambut Amartha yang ternyata punya dingin yang sama seperti rambut Sahara jadi itu bisa membantu mendinginkan tubuh Sahara.
"Amartha, baru satu malam dan para penjaga gaib rumah juga lahan ini sudah kewalahan, aku harus bagaimana?" tanya Dirga