Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.
Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25
Angela menatap Edward dengan bingung. Entah kenapa, ucapan itu membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Satu hal penting?
Tatapan gadis itu tanpa sadar beralih ke Raymond. Namun, pria itu tampak sama tenangnya seperti biasa. Wajah datarnya tidak memperlihatkan emosi apa pun, seolah sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan kedua orang tuanya.
Sebaliknya, Edward dan Diana saling bertukar pandang. Keduanya seperti sedang menyusun kalimat yang tepat agar pembicaraan nanti tidak terdengar terlalu mengejutkan.
"Tapi sebelum itu," ucap Diana sambil tersenyum hangat, "kita makan malam dulu."
Semua orang akhirnya berpindah ke ruang makan. Meja makan yang panjang telah dipenuhi berbagai hidangan rumahan. Ada sup ayam hangat, ikan bakar, tumis sayuran, hingga udang saus mentega yang aromanya begitu menggugah selera.
Angela sempat terpaku, sejak ayahnya meninggal, ia jarang sekali melihat meja makan semewah ini. Di rumah kontrakannya dulu, ia sudah sangat bersyukur masih bisa makan meskipun hanya dengan telor ceplok saja.
"Kenapa berdiri saja?" tanya Diana lembut.
"Duduk, Nak." Angela mengangguk pelan.
"Iya, Tante." Ia duduk dengan sedikit canggung. Posisi duduknya tepat berhadapan dengan Raymond. Pria itu tetap tenang menikmati makanannya tanpa banyak bicara. Sesekali Edward mengajak Raymond berdiskusi mengenai perkembangan perusahaan, sementara Diana beberapa kali mengambilkan lauk untuk Angela.
"Nak, coba ikan ini. Masih hangat."
"Terima kasih, Tante."
"Udangnya juga." Angela sampai merasa sungkan.
"Sudah cukup, Tante. Nanti saya malah tidak habis." Tolaknya halus, Diana hanya tersenyum.
"Kamu terlalu kurus. Harus makan yang banyak." Ucapan itu membuat hati Angela terasa hangat, sudah lama sekali tidak ada orang yang begitu memperhatikannya selain sang ibu.
Di sisi lain, Raymond diam-diam memperhatikan piring Angela. Ia menyadari gadis itu hanya mengambil nasi dalam porsi kecil. Tanpa mengatakan apa pun, Raymond menggeser satu piring kecil berisi ayam panggang ke arah Angela.
"Makan ini ."Angela mengangkat wajahnya.
"Hm?"
"Kamu belum menyentuh lauk ini."
"Oh." Angela menatap Raymond beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis.
"Makasih." Raymond hanya mengangguk kecil, lalu kembali makan seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, pemandangan sederhana itu tidak luput dari perhatian Edward dan Diana.
Diana bahkan hampir tersenyum lebar melihat perubahan putranya.
'Anak itu... biasanya bahkan tidak peduli siapa yang duduk di sebelahnya.'
Sementara Edward memilih tetap tenang. Biarlah semuanya mengalir secara alami.
Tak lama kemudian, makan malam pun selesai. Mereka pindah tempat menuju ruang keluarga. Kemudian, seorang pelayan datang membereskan meja, lalu menyajikan teh hangat dan potongan buah sebagai pencuci mulut.
Suasana kembali tenang. Edward meletakkan cangkir tehnya perlahan. Tatapannya bergantian mengarah kepada Raymond dan Angela.
"Nah, Inilah yang ingin Daddy bicarakan."
Angela tanpa sadar menggenggam ujung bajunya.
"Apa, ada sesuatu yang salah, Om?" Edward menggeleng.
"Tidak."
"Malah sebaliknya, Daddy dan Mama sudah memikirkan ini cukup lama." Ia menarik napas pelan sebelum melanjutkan.
"Mulai hari ini, Angela bukan lagi tamu di rumah ini." Angela mengernyit bingung.
"Maksud Om?" Edward tersenyum tipis.
"Kami ingin menganggapmu sebagai bagian dari keluarga kami.".Kalimat itu membuat mata Angela membulat. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendengar ucapan seperti itu.
Sementara Raymond yang duduk di sampingnya tetap tenang, tetapi sorot matanya perlahan berubah. Ia mulai bisa menebak ke mana arah pembicaraan kedua orang tuanya malam ini. Namun, apa yang akan mereka sampaikan berikutnya tetap membuat suasana berubah semakin menegangkan.
---
Angela masih terdiam. Kata-kata Edward terus terngiang di kepalanya.
Bagian dari keluarga kami.
Bagi orang lain mungkin kalimat itu terdengar biasa. Namun, bagi Angela yang sejak kecil hidup sederhana dan terbiasa menghadapi kerasnya kehidupan, ucapan itu terasa begitu hangat.
"Om, Tante, saya benar-benar berterima kasih. Tapi saya tidak enak kalau terus merepotkan." Perlahan ia menggeleng. Diana segera menggenggam tangan Angela.
"Kalau kamu masih menganggap diri sendiri sebagai beban, berarti kamu belum menganggap kami keluarga."
"Tante," lirihnya.
"Selama ibumu masih menjalani perawatan, kamu tinggal di sini tanpa perlu memikirkan apa pun. Fokus kuliah, bantu ibumu sembuh, dan kejar cita-citamu. Itu sudah lebih dari cukup." Mata Angela mulai berkaca-kaca.
"Terima kasih." Edward tersenyum tipis.
"Nah, sekarang masuk ke hal penting yang sebenarnya." Suasana yang semula hangat kembali berubah serius. Raymond yang duduk bersandar di kursinya menatap sang ayah.
"Daddy? Apa ini ada hubungannya denganku?"
Edward mengangguk.
"Tentu." ucapnya mantap.
"Aku sudah menduganya." Raymond menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Apa lagi kali ini?"
Edward tidak langsung menjawab. Ia lebih dulu melirik Diana, lalu kembali menatap putranya.
"Kamu ingat perjanjian keluarga Wijaya?"
Raymond mengembuskan napas pelan.
"Tentu." Angela hanya memandangi mereka bergantian. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan.
Perjanjian keluarga?
Edward melanjutkan dengan suara tenang.
"Sebagai pewaris tunggal Wijaya Group, cepat atau lambat kamu akan mulai diperkenalkan kepada para pemegang saham, mitra bisnis, dan keluarga-keluarga besar yang bekerja sama dengan kita." Raymond tidak menunjukkan reaksi.
"Aku tahu."
"Masalahnya." Edward meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja. "Dalam waktu dua minggu lagi akan diadakan Gala Charity Wijaya Group." Angela mendengarkan dengan saksama. "Itu adalah acara tahunan yang selalu dihadiri para pengusaha, investor, pejabat, dan media." Raymond mengangguk singkat.
"Lalu?" Edward menatap putranya dalam-dalam.
"Sebagai calon penerus perusahaan, kamu wajib hadir."
"Tidak masalah."
"Tapi kali ini," Edward berhenti sejenak. "Kamu tidak boleh datang sendirian." Ruangan kembali sunyi. Raymond mengangkat sebelah alisnya.
"Daddy ingin aku membawa siapa?" Diana tersenyum kecil.
"Seseorang yang bisa menghentikan gosip bahwa kamu akan dijodohkan dengan putri keluarga konglomerat mana pun."
Raymond mulai mengerti arah pembicaraan itu, sementara Angela justru merasa firasatnya semakin buruk.
Jangan-jangan...
Edward akhirnya mengucapkan kalimat yang membuat Angela membeku di tempatnya.
"Daddy ingin kamu datang ke gala itu bersama Angela."
"Hah?!" Angela spontan berdiri dari kursinya.
"S-Saya?" Raymond juga menoleh ke arah Angela. Meski wajahnya tetap datar, sorot matanya menunjukkan sedikit keterkejutan.
"Sebagai apa?" tanyanya singkat. Edward tersenyum penuh arti.
"Sebagai pendampingmu." Ucapan itu membuat jantung Angela berdegup kencang.
Belum sempat ia mencerna maksud perkataan Edward, Diana kembali menambahkan dengan nada lembut,
"Tenang saja, Angela. Kami tidak akan memaksamu. Tapi ada alasan yang jauh lebih besar mengapa kami memilihmu." Angela menatap mereka dengan bingung.
"Alasan... apa itu?" Edward dan Diana saling berpandangan. Edward menarik napas panjang, lalu berkata pelan,
"Karena sebenarnya... hubungan antara keluarga Wijaya dan keluargamu sudah terjalin sejak bertahun-tahun yang lalu. Hanya saja, kamu dan Raymond belum pernah mengetahuinya." Angela membeku. Kata-kata Edward seolah membuat waktu berhenti berputar.
"Apa maksud Om?" tanyanya lirih. Edward menghela napas panjang. Sorot matanya dipenuhi kenangan masa lalu.
"Sebenarnya, ayahmu, Hendra Gunawan, bukanlah orang asing bagi keluarga kami."
Mendengar nama mendiang ayahnya disebut, Angela langsung menegakkan tubuh.
"Ayah...?" Diana mengangguk pelan.
"Iya, Nak."
"Jauh sebelum kamu lahir, ayahmu dan Daddy Raymond sudah saling mengenal." Angela menoleh bergantian ke arah Edward dan Diana. Wajahnya dipenuhi kebingungan.
"Tapi... Ibu tidak pernah menceritakan hal itu."
"Karena memang tidak banyak orang yang mengetahuinya," jawab Edward tenang.
Raymond yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.
"Daddy, bukankah Paman Hendra hanya salah satu karyawan di perusahaan Kakek waktu itu?" Edward menggeleng.
"Bukan." Jawaban singkat itu membuat Raymond ikut terkejut.
"Bukan?"
"Banyak orang mengira seperti itu." Edward tersenyum tipis mengenang masa lalu. "Padahal kenyataannya, ayah Angela adalah sahabat terbaik Daddy sejak kami masih duduk di bangku kuliah." Angela mematung.
Sahabat?
Selama ini ia hanya tahu ayahnya pernah bekerja di sebuah perusahaan besar. Namun, ia tidak pernah menyangka perusahaan itu adalah milik keluarga Wijaya.
"Bahkan," lanjut Edward, "kami pernah membangun perusahaan dari nol bersama,kami sama-sama memiliki mimpi besar. Bedanya, setelah perusahaan mulai berkembang, Daddy memilih meneruskan bisnis keluarga. Sedangkan ayahmu memutuskan mundur." Angela menggigit bibirnya pelan.
"Kenapa Ayah mundur?" Edward tersenyum pahit.
"Karena saat itu ibumu sedang mengandungmu, beliau berkata tidak ingin terus hidup dalam dunia bisnis yang penuh persaingan. Yang diinginkannya hanya keluarga kecil yang sederhana dan bahagia."
Mata Angela mulai memerah. Kalimat itu sangat mirip dengan apa yang sering diceritakan ibunya.
Ayah memang selalu berkata bahwa keluarga lebih penting daripada harta.
Edward melanjutkan,
"Sebelum beliau pergi, kami membuat janji. Kalau suatu hari nanti salah satu dari kami mengalami kesulitan, yang lain wajib membantu tanpa syarat." Ruangan kembali hening. Edward menatap Angela dengan penuh kasih.
"Sayangnya... Daddy baru tahu kalau Hendra sudah meninggal dunia.itu pun dari Sulastri sendiri."
Angela menundukkan kepala. Setelah ayahnya meninggal, ibunya langsung membawa Angela ke kampung halamannya.
Pantas saja. Mereka tidak pernah bertemu lagi. Diana menggenggam tangan Angela dengan lembut.
"Jadi, saat Daddy mengetahui identitasmu di rumah sakit beberapa waktu lalu, kami langsung sadar bahwa kamu adalah putri Hendra. Itulah sebabnya kami membawa ibumu ke ruang VVIP dan menanggung seluruh biaya pengobatannya, bukan karena belas kasihan, tapi karena kami sedang menepati janji kepada sahabat kami, apalagi Sulastri juga sahabat kami."
Air mata Angela akhirnya jatuh. Ia menutup mulutnya agar isaknya tidak terdengar.
Selama ini ia mengira semua bantuan keluarga Wijaya diberikan karena mereka iba melihat keadaannya.
Ternyata, ada ikatan yang telah terjalin jauh sebelum dirinya lahir. Raymond memandangi Angela beberapa saat. Untuk pertama kalinya, ia memahami alasan kedua orang tuanya begitu perhatian kepada gadis itu.
Bukan sekadar rasa simpati. Melainkan sebuah janji persahabatan yang telah dijaga selama puluhan tahun.
Edward kemudian berkata dengan nada mantap,
"Mulai hari ini, kamu tidak perlu lagi merasa berutang budi kepada kami. Karena , apa yang kami lakukan adalah kewajiban kami kepada ayahmu."
"Tapi..." Edward berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "ada satu amanat terakhir dari Hendra yang selama ini Daddy simpan."
Mendengar itu, Raymond dan Angela serempak mengangkat kepala.
"Amanat... dari Ayah?" bisik Angela dengan suara bergetar.
Edward mengangguk pelan.
"Amanat itu dititipkan kepadaku bertahun-tahun yang lalu. Dan menurutku, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkannya."
Ruangan kembali diliputi keheningan.
Tak ada seorang pun yang berani menyela.
Tatapan Angela terpaku pada Edward. Air mata yang masih menggantung di pelupuk matanya membuat pandangannya sedikit kabur.
"Om... amanat apa yang Ayah tinggalkan?" tanyanya lirih.
Edward tidak langsung menjawab. Ia bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju lemari kayu di sudut ruang keluarga. Dari dalam laci paling atas, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu berwarna cokelat tua. Ukurannya tidak terlalu besar, tetapi terlihat sudah dimakan usia. Edward membawanya kembali ke meja.
Kotak itu diletakkan perlahan di hadapan Angela.
"Ini..."
"Adalah barang terakhir yang dititipkan ayahmu kepadaku." Angela menatap kotak itu tanpa berkedip. Tangannya mulai gemetar.
"Selama bertahun-tahun Daddy menyimpannya. Bukan karena ingin merahasiakannya, tetapi karena Daddy berjanji hanya akan menyerahkannya ketika kamu sudah cukup dewasa untuk memahami isi di dalamnya." Diana mengangguk pelan.
"Hari ini, kami rasa waktunya sudah tiba."
Dengan hati-hati Edward membuka pengunci kotak kayu itu. Di dalamnya tersimpan beberapa benda yang dibungkus kain putih.
Edward membuka kain tersebut satu per satu.
Sebuah jam tangan pria yang sudah berhenti berdetak, pulpen berwarna hitam dengan ukiran nama Hendra Gunawan dan sebuah amplop cokelat yang mulai menguning dimakan waktu.
Di bagian depannya tertulis rapi dengan tinta biru.
Untuk putri kecilku, Angela.
Begitu membaca tulisan itu, tubuh Angela langsung bergetar.
"Itu... Itu tulisan tangan Ayah..."Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya mengalir deras. Tangannya perlahan menyentuh amplop itu, seolah takut benda tersebut akan menghilang jika disentuh terlalu keras.
"Om..." Panggilnya lirih. "Boleh... saya membukanya?" Edward mengangguk pelan.
"Itu memang milikmu." Dengan jemari yang gemetar, Angela membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat selembar surat yang sudah mulai kusam. Tulisan tangan Hendra masih terlihat jelas.
Angela menarik napas panjang sebelum mulai membacanya.
"Untuk putri kecil Ayah..."
Baru kalimat pertama saja, air matanya kembali jatuh. Suaranya bergetar saat melanjutkan membaca.
"Kalau suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin Ayah sudah tidak bisa menemanimu lagi. Ayah minta maaf karena tidak bisa melihatmu tumbuh dewasa. Tetapi Ayah ingin kamu tahu satu hal. Jadilah perempuan yang kuat, jujur, dan baik hati. Jangan pernah membenci keadaan, karena setiap kesulitan akan membentukmu menjadi pribadi yang lebih kuat." Angela menangis tanpa suara.
Diana ikut menyeka air matanya, bahkan Raymond, yang biasanya selalu memasang wajah datar, kini menundukkan kepala.
Angela melanjutkan membaca.
"Kalau suatu hari kamu bertemu kembali dengan keluarga Wijaya, percayalah kepada mereka, Edward bukan hanya sahabat Ayah, dia adalah saudara yang Ayah pilih sendiri. Jika Ayah sudah tiada, anggaplah dia sebagai orang yang akan menjaga kalian berdua."
Angela tidak sanggup lagi melanjutkan.
Surat itu jatuh ke pangkuannya, tangis yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah.
"Ibu...Ibu tidak pernah memberitahuku semua ini..." Diana segera memeluk Angela erat.
"Mungkin ibumu ingin kamu tumbuh tanpa merasa memiliki beban." Edward mengangguk.
"Hendra memang berpesan agar surat ini tidak diberikan terlalu cepat. Dia ingin kamu menjalani hidupmu dengan usahamu sendiri, bukan bergantung pada siapa pun."
Beberapa menit kemudian, setelah Angela sedikit lebih tenang, Edward kembali berbicara.
"Masih ada satu benda lagi di dalam kotak itu." Angela mengusap air matanya, lalu melihat kembali ke dalam kotak kayu tersebut.
Di sudut kotak, tersimpan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua. Perlahan ia mengambilnya.
"Apa ini?" Edward tersenyum tipis.
"Bukalah." Angela membuka kotak beludru itu dengan hati-hati. Begitu tutupnya terbuka, semua orang di ruangan itu terdiam.
Di dalamnya terletak sepasang cincin bermotif ukiran sederhana yang masih berkilau meski telah disimpan selama bertahun-tahun. Angela menatapnya dengan bingung.
"Om? Kenapa Ayah menyimpan cincin ini?"
Edward menarik napas panjang. Tatapannya bergantian mengarah kepada Angela dan Raymond.
"Itulah amanat terakhir Hendra yang belum sempat kamu ketahui dan amanat itu... juga berkaitan langsung dengan Raymond."
kalau bisa up nya di tambahin
padahal seru kenapa sepi komen nan y