* Tolong jangan lompat Bab agar tidak merusak Retensi Penulis, Terima kasih sebelumnya *
Menjaga dua anak yang sangat nakal bukanlah hal mudah apalagi yang selalu di manja oleh papanya.
Ya, Violetta terpaksa menjadi baby sister mereka demi melanjutkan hidup keluarganya, sampai akhirnya dia terjebak dengan selembar kertas yang menjadikannya Istri kontrak dengan Arthur CEO kaya raya idaman semua kaum hawa.
Harga diri, cita-cita semuanya telah luruh hilang bersamaan dengan waktu yang harus menjadikannya wanita kuat.
Follow Sosmed Author juga ya 👇
Tiktok : cherrypen
IG : cherrypen_
Terima kasih sahabat sudah mampir membaca dan tidak lompat bab🥰
Salam Bahagia semoga rejeki kalian semua berlimpah. Amin🤲
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cherrypen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Violetta atau Keysa yang pantas?
Sesampainya di parkiran. Arthur dan Violetta berjalan masuk ke ruang lobbi kantor. Beberapa staff yang berpapasan dengan mereka menyapa Arthur dan Violetta. Violetta yang memang sikapnya ramah selalu membalas senyum dengan tulus.
"Hay Arthur, Violetta," sapa Evan.
"Hay Evan, gimana semua lancar dan sudah beres untuk meeting hari ini," tanya Arthur sedangkan Violetta hanya melempar senyum lebar pada Evan.
"Beres semuanya. Aku ke kantin sebentar cari kopi. Mataku rasanya berat semalam begadang sampai tengah malam,"
"Oke, jangan lama-lama dan jangan sampai terlambat meeting," titah Arthur seraya menepuk bahu kanan Evan pelan.
"Siap Bosku," ucap Evan sembari memberi dua jempol pada Arthur.
Melihat Evan. Violetta tertawa kecil sembari menutup mulutnya. "Lucu sekali Evan," batin Violetta.
Selesai berbicara dengan Evan. Arthur dan Violetta melanjutkan langkahnya kembali dengan berdampingan menuju ruang kantornya. Setiap meja staff yang mereka lewati selalu sedikit menundukkan bahunya menghormati Arthur dan Violetta.
"Di kantor ini, ruangan Arthur di mana sejarah baru aku mulai menjadi istri CEO meskipun kontrak," batin Violetta.
"Bagaimana enak bukan menjadi istri CEO yang di kenal banyak orang, kamu juga ikut merasakan menjadi orang terhormat," ucap Arthur pelan sembari memberi senyum pada staffnya.
"Biasa saja. Tidak ada yang istimewa menjadi istri CEO yang kaya raya. Lihatlah mereka makannya nasi, kita juga makan nasi, sama-sama makan nasi yang membedakan hanya status dan derajat. Akan tetapi di mata Tuhan kita sama. Jangan sombong kamu di hadapanku," sambung Violetta pelan.
Arthur terdiam mendengar ucapan Violetta yang rasanya seperti sebuah peringatan untuk dirinya. "Wanita ini memang beda dari yang lainnya. Dia tidak matre, bahkan rela mengorbankan cita-cita dan dirinya demi keluarga. Dia memang cantik dan baik hati jarang ada wanita jaman sekarang yang seperti dia," batin Arthur melirik Violetta di sampingnya. "Ya, benar ucapanmu," sahut Arthur pada Violetta yang tidak ingin berdebat lebih panjang.
Setelah sampai di depan ruangan kantor. Arthur memegang gagang pintu kemudian membukanya. Mereka berjalan masuk ke dalam, di sambut oleh Keysa yang duduk di kursi kebesaran Arthur sembari menaruh dagunya di punggung tangannya. Keysa tersenyum lebar menatap Arthur dan Violetta yang berdiri di depannya dengan tatapan angkuh. Bibirnya yang tipis dengan warna lipstik merah merona menambah kesan seksi dan cantik di tambah balutan baju kerja yang semi formal.
"Arthur. Oh, ada Violetta juga," ucap Keysa ramah sembari berdiri dari kursi kemudian melangkahkan kaki keluar dari meja kerja dan mendekati Arthur. "Lama sekali sampainya sayang. Gue sudah menunggu lama, kamu dari sekolahan Si Kembar langsung ke sini 'kan," tanya Keysa sembari telapak tangannya membetulkan kerah jas hitam Arthur.
Melihat sikap Keysa seketika Violetta membalikkan badannya. Dia berjalan menuju sofa yang ada di ruangan Arthur kemudian duduk seraya mengambil surat kabar yang ada di atas meja.
"Keysa, jelaskan ada apa," sahut Arthur seraya menangkis tangan Keysa. Akan tetapi Violetta tidak melihatnya sehingga membuat Violetta merasa tidak nyaman di dalam ruangan. "Apa kamu membawa berkas untuk meeting hari ini," tanya Arthur sambil berjalan dan duduk di kursi kebesarannya.
"Iya sayang, sabar dulu dong jangan terburu-buru," sambung Keysa lembut.
Sayang, sayang jadi aku kesini hanya untuk melihat mereka bermesraan. Keterlaluan kamu Arthur, sengaja ya kamu biar aku tahu seberapa romatis kalian batin Violetta sembari mengendus dingin menaruh surat kabar kembali di atas meja kemudian tangannya merogoh tas guna mengambil ponselnya.
Mendengar kata-kata manis dari Keysa seketika Arthur teringat akan masalalunya waktu masih bersama Keysa.
"sayang, cepatlah ke sini nanti makanannya keburu dingin," ucap Arthur sembari menunggu di meja makan. "Lama sekali sayang, kamu sedang apa?" tambah Arthur.
"Iya, sabar dong sayang. Ini gue baru saja membersihkan gaunku yang kotor terkena saos tomat," sahut Keysa. Selesai membersihkan gaunnya, keysa mendekati Arthur yang sudah mulai cemberut. "Aaa ... jangan marah dong cinta, sini gue suapin," ucap Keysa sembari menyodorkan makana ke mulut Arthur.
"Kamu ini selalu saja membuatku semakin hari semakin sayang," ujar Arthur.
BRAK ...
Ponsel Violetta tanpa sengaja terjatuh ke lantai dari genggaman tangannya. Spontan memecah lamunan Arthur akan masalalunya yang masih teringat jelas di pikirannya.
"Maaf, Aku tidak sengaja. Berisik, ya?" celetuk Violetta sembari menatap wajah Arthur.
Arthur hanya diam melihat Violetta, sepersekian detik mata mereka saling menatap seraya Violetta mengambil ponselnya.
Keysa menghela nafas kasar sembari matanya melihat Violetta dengan tatapan tajam. Tangannya dengan sengaja menjatuhkan pena dari genggamannya. "Oh," ucap Keysa sambil merundukkan bahunya guna mengambil pena.
DUG...
"Auw sakit," teriak Keysa dengan sengaja dia membenturkan kepalanya pelan di ujung meja.
"Key, mana yang sakit." Spontan Arthur langsung beranjak dari kursinya mengusap lembut puncak kepala Keysa. "Masih sakit?" tanya Arthur.
Keysa menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. "Sudah tidak sakit lagi," balas Keysa. "Kita lanjutkan lagi,ya?" tambah Keysa.
Tigapuluh menit telah berlalu, Violetta mulai bosan. Dia memutuskan untuk beranjak keluar dari ruangan Arthur.
"Mau kemana kamu," tanya Arthur disaat Violetta hendak membuka pintu.
"A - Aku mau ke toilet," sahut Violetta terbata-bata.
Ya, meskipun Arthur tengah sibuk mengoreksi beberapa berkas di meja. Dia masih bisa memperhatikan gerak-gerik Violetta. Matanya bisa dengan fokus mengamati sekeliling meskipun pikirannya terpecah.
"Cepatlah kembali," jawab Arthur tanpa melihat ke arah Violetta yang sedang melangkahkan kaki keluar.
Violetta melangkahkan kaki kesal sembari mengendus dingin. "Apa-apaan, Aku cuma jadi pajangan saja di kantornya melihat mereka berdua yang seperti romeo dan juliet, gitu," gumam Violetta seraya menarik pintu kamar mandi kemudian masuk guna buang air kecil.
Disaat Violetta masih berada di dalam, dua staff wanita tengah masuk ke toilet mereka membetulan make up di depan kaca wastafel sambil bergosip tanpa mengetahui ada Violetta di dalam.
"Eh Sara, menurut kamu antara Bu Violetta dan Bu Keysa yang lebih pantas menjadi pendamping Pak Arthur siapa?" tanya salah satu staff.
"Kalau menurut Aku 'sih lebih pantas Bu Keysa. Sayang sekali hubungan mereka putus di tengah jalan, kamu lihat sendiri 'kan kalau Bu Keysa itu sepadan dengan Pak Arthur. Yang satunya sangat tampan dan Bu Keysa cantik sama-sama kaya dan anak terpandang di kota ini. Kalau Bu Violetta memang cantik, tetapi sayangnya dia bukan dari kalangan terpandang seperti Bu Keysa," jawab Sara.
"Aku juga sepemikiran sama kamu," tambah salah satu staff sembari menepukkan spoon bedak di pipinya.
CEKLEK ....
Violetta tiba-tiba membuka pintu, spontan kedua mata mereka terbelalak melihat Violetta yang masih memberi senyum tulus.
"Bu Violetta," ucap salah satu staff sembari terburu-buru memasukkan alat make up ke dalam beauty case.
"Kita sudah selesai, permisi," ucap Sara kemudian mereka berdua pergi dengan tergesa-gesa.
Violetta berdiri di depan kaca melihat dirinya sembari merapikan rambut panjang nan indah. "Apa yang di katakan mereka benar. Aku hanya wanita miskin berbeda dengan Keysa, lagipula Aku hanyalah istri bayaran," gumam Violetta sembari mata berkaca-kaca. Kenapa Aku harus memikirkan ucapan mereka? Semua itu tidak penting, atau Aku mulai menyukai Arthur? Kenapa Aku cemburu melihat Arthur dan Keysa dekat bukankah mereka memang serasi dan Aku? Ya, balik lagi, Aku hanya di bayar jadi tidak boleh menaruh hati sama Arthur, Violetta memonolog dirinya sendiri.
***
"Kenapa Violetta lama sekali," lirih Arthur.
"Mungkin dia sedang sakit perut. Kamu keruangan meeting dulu sebentar lagi Gue ke sana. Gue mau toilet juga, sebentar doang kok," sahut Keysa sembari duduk di sudut sofa.
"Baiklah, kalau gitu Aku ke ruangan meeting terlebih dahulu, Evan juga sudah menunggu," tutur Arthur kemudian pergi meninggalkan Keysa di ruangan sendirian.
Keysa tersenyum miring sembari menyeringai sinis kemudian dia pergi menyusul Arthur dan Evan.
***
"Ke mana mereka? Apa sudah pergi rapat," ucap Violetta masuk ruangan Arthur setelah selesai dari kamar mandi. Dia duduk kembali di posisi sebelumnya di sudut sofa. "Eh ini 'kan tasnya Keysa tertinggal," tambah Violetta kemudian menaruhnya di atas meja.
Violetta yang mulai bosan berinisiatif memberi kabar pada Laura. Dia merogoh kantung celananya guna mengirim pesan melalui pesan pada ponselnya.
To: Laura
Akhir pekan ini Aku bisa keluar jalan dan makan-makan sama kamu. Tadi pagi, Aku sudah ijin dengan Arthur si galak kayak singa dan super duper menyebalkan.
Selesai mengirim pesan. Violetta hendak memasukkan ponsel ke dalam tasnya. Berkali-kali dia mengatur posisi barang-barang di dalam tas, tetapi karena merasa ada yang janggal dia memeriksa tasnya.
"Oh, kenapa terasa penuh tasku," gumam Violetta sembari membuka dengan lebar resleting tasnya. Dia melihat satu persatu apa saja di dalamnya sampai tangannya mengangkat dompet berwarna hijau. "Ini bukan dompetku, ini milik Keysa kalau tidak salah. Aku pernah melihatnya saat makan bersama dia mengeluarkan dompet dan menaruhnya di atas meja, Ya benar ini milik Keysa, mungkin karena terburu-buru dia salah memasukkan dompetnya ke dalam tas ku," ucap Violetta sendirian seraya menatap dompet warna hijau.
Bersambung 🍒✍️🫶❤️🙏