"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."
Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Jam 11. 00 Taman sudah sepi.
Ilona masih duduk di bangku besi taman bersama Elang. Beberapa kali menelepon Arya, tapi ponselnya tidak aktif. Arya bekerja sebagai perawat di sebuah klinik. Ia bisa kenal dengannya, atas perantara Eliana yang menjadi dokter gigi di tempat yang sama dengan Arya.
"E...biasa pulang jam berapa?" Elang basa-basi, tak enak menawarkan diri untuk langsung mengantar. Selain itu, ia juga tidak tahu, seperti apa biasanya Ilona pulang, mungkin sudah ada jemputan.
"Jam 10." Jawabnya sambil senyum. "Arya bilang mau jemput, tapi belum tiba sampai sekarang."
"Arya itu, yang waktu itu, pacar kamu itu?"
"Hem," Ilona mengangguk sambil tersenyum.
"Jadi yang kamu telepon sejak tadi itu dia?"
Ilona kembali mengangguk.
"Kalian udah lama?"
"Lumayan, jalan 2 tahun."
"Belum ada niatan ke jenjang yang serius?"
"Ada sih, tapi belum tahu kapan."
Elang bernafas lega mendengarnya. Setidaknya meski kondisi Ilona tidak sempurna, ada laki-laki yang mau menerima kondisinya. Ia masih disana, mengobrol sekaligus menunggu Arya datang. Namun hingga tengah hari dan taman semakin panas, Arya belum juga kelihatan batang hidungnya.
"Masih mau nunggu atau..."
"Aku pesen taksi online aja." Ilona menyalakan ponsel di tangannya.
"Gak usah. Aku anterin aja," ujar Elang cepat.
"Hah!" Ilona terperangah. Beberapa detik kemudian, saat sudah bisa menguasai diri, ia tersenyum. "Tidak perlu. Kamu sudah banyak membantu hari ini. Kalau aku masih mau merepotkan kamu, itu namanya keterlaluan."
"Aku sekalian mau tahu rumah kamu, ambil jas." Ia bersyukur, ada jas yang bisa dipakai untuk alasan.
"Ah iya," Ilona tersenyum.
"Sekaligus aku mau pesen buket."
"Untuk pacar kamu?"
"Hari Sabtu depan aku tunangan."
Ilona tersenyum lebar. "Selamat ya. Wanita itu, pasti beruntung sekali."
Kening Elang mengernyit. "Beruntung?"
"Kamu laki-laki yang baik."
Elang tersenyum kecut. "Kamu terlalu cepat menilai, aku tidak sebaik itu."
"Baiklah, kalau memang bukan baik, setidaknya kamu suka membantu orang, dan kamu kaya. Beruntungkan wanita itu?" Sambil tersenyum, Ilona menelengkan sedikit kepala.
Elang tak bisa menatan tawa. "Apa perempuan akan selalu merasa beruntung jika punya suami orang kaya?"
"Setidaknya setengah masalah hidup selesai saat punya suami kaya." Ilona terkekeh.
"Kalau begitu, carilah suami yang kaya."
Kekehan Ilona makin keras. "Ada yang mau menerima kondisiku saja, aku sudah sangat bersyukur, mana mungkin masih tak tahu diri pengen punya suami kaya."
Kalimat itu langsung menusuk ke jantung Elang. Sebagai laki-laki normal, ia tak bisa memungkiri, jika Ilona sebenarnya sangat cantik. Sayangnya, gadis berparas cantik itu hilang kepercayaan dirinya akibat kakinya yang cacat, bahkan bermimpi punya suami kaya saja, ia tak berani.
Elang membawakan keranjang bunga Ilona, berjalan beriringan menuju mobil di tempat parkir.
Di mobil, AC dinyalain penuh karena di taman tadi, mereka kegerahan. Ilona yang duduk di sebelah Elang, tampak sedikit canggung. Keranjang bunga disimpan Elang di bagasi.
Sepanjang jalan, mereka ditemani suara lagu dan berisik penyiar radio. Elang mengikuti petunjuk map mobilnya, alamat rumah Ilona.
"Apa Arya sering begini?" tanya Elang. "Maksudku, apa dia terbiasa ingkar janji."
Ilona terdiam, raut wajahnya berubah. Ucapan Elang barusan, seperti tamparan untuk menyadarkannya. Beberapa bulan terakhir, Arya sedikit berubah. Selain jarang ketemu, intensitas chat dan telepon juga berkurang. Alasannya sibuk dengan pekerjaan, tapi entahlah. Ia melihat perubahan Arya, tapi selalu berusaha membesarkan hatinya, berfikir positif, jika Arya memang sibuk. Arya mau menerima kekurannya, bukti cinta seperti apa lagi yang masih mau ia tuntut.
Sampai di depan pagar warna biru, Elang menghentikan mobilnya. Ia menatap rumah di depannya. Bertingkat dua, tak terlalu besar, tapi bagian depannya sangat asri. Kenan pernah cerita, kalau Ayah Eliana, seorang TNI dulunya. Bahkan seorang TNI pun, tak bisa menguak kasus 8 tahun silam yang membuat putri kesayangannya kehilangan kaki. Pengaruh keluarganya memang sangat besar, uang bisa membeli segalanya.
"Elang, kamu mau turun atau nunggu disini?"
Melihat Elang hanya bengong, Ilona kembali memanggil. "Elang, Lang!" Ia mengibas telapak tangan di depan wajah Elang.
"Ah iya, apa?" Elang gelagapan.
"Ngelamunin apa sih? Kangen pacar ya?" Goda Ilona yang membuat Elang tersenyum simpul. "Kamu mau turun atau nunggu disini? Kalau disini, aku masuk dulu, ambilin jas kamu."
"A, aku boleh ikut turun?"
Ilona mengangguk, "Kalau kamu mau."
Elang turun lebih dulu, mengambil keranjang bunga Ilona yang tersimpan di bagasi, lalu masuk ke halaman rumah Ilona, berjalan di belakang gadis itu.
"Makasih ya. Udah bantuin jualan dari pagi sampai nganterin pulang."
Sesampainya di depan pintu, Ilona langsung membuka pintu yang memang jarang sekali dikunci itu. Mengucap salam, lalu mengajak Elang masuk.
Elang sibuk memperhatikan ruang tamu bergaya minimalis yang bisa dibilang sempit tersebut. Dipojokan, ada beberapa bunga potong yang di simpan dalam ember, yang menebarkan aroma wangi ke seluruh ruangan.
"Duduk Lang, aku masuk dulu, ambilin jas kamu." Ilona masuk ke dalam.
Di satu sisi dinding, terpasang sebuah foto keluarga yang menarik perhatian Elang. Ayah Ilona yang berseragam TNI, dan ibunya yang memakai baju persit, diapit oleh kedua putri mereka yang terlihat seusia. Ilona masih belum kehilangan kakinya difoto tersebut. Senyumnya sangat manis, cantik sekali.
Elang bergeser, melihat etalase yang berisi beberapa piala, juga medali. Selain nama Ilona, dan nama Eliana juga. Ternyata kedua kakak beradik itu, sama-sama berprestasi. Namun ada sebuah medali yang membuat hati Elang mencelos. Ilona pernah menjadi juara dua lomba renang pelajar tingkat provinsi.
"Lang. Elang!" Panggil Ilona agak kencang, sampai membuat Elang yang terpaku pada tulisan di medali, sedikit kaget.
"Ka, kamu atlit renang?" Suara Elang bergetar saat menanyakan itu, tenggorokannya tercekat.
Ilona mengangguk sambil tersenyum getir. "Dulu, sebelum aku kehilangannya." Menunduk, mengangkat sedikit rok, menitikkan air mata melihat kakinya yang dulu, kini berganti dengan kaki prostetik.
Elang membuang pandangan ke arah lain, tak kuasa melihat wajah Ilona. Ternyata selain kaki, banyak hal yang ia renggut dari gadis itu.