Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasehat yang di ingat.
Dengan jantung yang berdegup kencang, Rindu melangkah masuk ke dalam kabin lift yang dingin dan sunyi.
Jemarinya yang bergetar hebat terangkat, menempelkan kartu akses perak pada panel sensor, lalu menekan tombol angka empat belas.
Pintu stainless steel merapat sempurna. Angka indikator di atas pintu mulai bergerak naik secara perlahan, 1, 2, 5, 10... hingga akhirnya terdengar denting halus yang bergema di dalam kabin.
Ting.
Pintu lift terbuka, menyapa Rindu dengan lorong panjang berkarpet tebal yang sepi dan berudara dingin. Pendar lampu dinding yang hangat tak mampu mengusir rasa mencekam yang merayapi seluruh tubuhnya.
Rindu melangkah keluar. Suara langkah kakinya terserap sempurna oleh karpet mewah di bawah pijakannya.
Ia berjalan menyusuri deretan pintu unit bernomor emas di dinding, hingga matanya terhenti tepat pada satu sudut, Unit 1404.
Rindu mematung tepat di depan pintu berpelitur kayu gelap tersebut. Napasnya terasa sesak dan patah-patah, seolah pasokan udara di lorong itu mendadak menguap habis. Tepat di balik pintu inilah, kebenaran rahasia yang disimpan rapat oleh Arsen bersembunyi.
Sesuai nasihat Fina, Rindu menarik napas panjang, berusaha menegakkan bahunya dan menguasai gejolak amarah di dadanya. Ia menolak untuk histeris. Ia menolak untuk menggedor pintu itu seperti wanita yang kehilangan martabat.
Dengan jemari yang dingin dan bergetar pelan, Rindu mengulurkan tangannya, lalu menekan tombol bel di samping pintu Unit 1404.
Denting bel yang bergema halus di dalam unit seketika memicu naluri Rindu. Ia sadar, apartemen semewah ini pasti dilengkapi dengan sistem video intercom atau lubang pengintai di balik pintu.
Jika Arsen atau siapa pun di dalam sana melihat wajahnya melalui layar monitor, pintu itu tidak akan pernah terbuka.
Dengan sigap namun tanpa menimbulkan suara, Rindu bergeser beberapa langkah ke samping. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding lorong, tepat di area sudut yang tak terjangkau oleh sudut pandang kamera intercom.
Ia menempelkan telapak tangannya ke dada, berusaha menahan gema detak jantungnya yang kian liar. Napasnya ditahan rapat-rapat.
"Mungkin itu layanan kamar yang aku minta tadi, Mas. Aku minta handuk baru," ujar wanita itu bergelayut manja di lengan Arsen, saat mendengar suara bel.
"Kamu aja yang buka," ucap wanita itu dengan nada yang sangat manja. Tanpa ragu, ia melingkarkan kedua tangannya di leher Arsen, lalu mendaratkan ciuman bertubi-tubi di pipi pria itu dengan penuh kemesraan.
Arsen yang belum menyadari siapa yang sebenarnya berada di balik pintu, terkekeh renyah merespons rengekan manja tersebut. Rasa manis dari belaian itu membuatnya terlena.
Dengan tatapan penuh gairah, Arsen membalas ciuman wanita itu tepat di bibirnya, menikmati momen mesra yang mereka bangun di dalam unit apartemen rahasia itu.
"Iya, sebentar ya, Sayang," bisik Arsen lembut seraya menepuk pelan pinggul wanita yang kini berstatus sebagai istri keduanya itu.
Wanita itu melonggarkan pelukannya seraya tersenyum menggoda, lalu melangkah santai menuju sofa.
Sementara itu, Arsen berjalan menuju pintu utama untuk mengambil pesanan handuk yang ia duga dibawakan oleh petugas room service.
Arsen menarik engsel pintu kayu gelap itu dan membukanya lebar-lebar tanpa rasa curiga sedikit pun.
"Mbak, handuknya ditaruh di...."
Kalimat Arsen terhenti seketika di udara. Lidahnya mendadak kelu, dan seluruh darah di tubuhnya serasa menyusut habis, meninggalkan rasa dingin yang mencengkeram hingga ke ulu hati.
Wajahnya yang semula hangat dan dihiasi senyum puas mendadak pucat pasi bagai mayat, saat melihat siapa yang berdiri disana.
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰