Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Sopir taksi yang baik hati itu membantu Diaz turun di depan sebuah losmen sederhana yang terletak di area tenang lereng Gunung Kawi.
Tempatnya cukup bersih, tersembunyi dari keramaian, dan cocok untuk menenangkan diri.
"Terima kasih ya, Pak," ucap Diaz dengan suara parau sembari menyerahkan beberapa lembar uang tunai terakhirnya.
Sopir taksi itu menganggukkan kepalanya dengan iba melihat kondisi Diaz.
"Sama-sama, Mbak. Istirahat yang cukup, wajah Mbak pucat sekali," pesannya sebelum akhirnya melajukan kembali taksinya membelah kabut pegunungan.
Sementara itu, Ganda menghentikan mobil dengan rem mendadak di depan pagar rumah masa lalu Diaz di kota.
Jantungnya bertalu-talu penuh harap saat ia melangkah lebar dan mengetuk pintu kayu rumah tersebut dengan tergesa-gesa.
Tok! Tok! Tok!
Pintu terbuka, menampilkan sosok mama Diaz yang tampak terkejut melihat kedatangan menantunya yang mendadak dengan gurat wajah berantakan.
Namun, sebelum Ganda sempat bertanya, sang mama sudah menggelengkan kepalanya.
"Ganda? Ada apa? Diaz tidak pulang ke rumah, Nak. Memangnya ada apa dengan anak itu?" tanya mama Diaz heran.
Mendengar konfirmasi tersebut, harapan Ganda di kota pupus.
"Tidak apa-apa, Ma. Nanti Ganda hubungi lagi. Ganda pamit, Assalamualaikum," ucap Ganda cepat, langsung berbalik tanpa sempat menjelaskan prahara yang terjadi.
Instingnya kini seratus persen meyakini satu tempat: Gunung Kawi.
Tanpa membuang waktu, Ganda memacu mobilnya naik menuju dataran tinggi Gunung Kawi.
Perjalanan satu jam yang berliku dan menanjak itu terasa seperti siksaan tak berujung bagi Ganda.
Pikirannya dipenuhi bayangan Diaz yang sedang sakit dan ketakutan sendirian.
Sesampainya di kawasan wisata religi dan penginapan Gunung Kawi, Ganda langsung turun.
Ia berjalan kaki dari satu penginapan ke penginapan lain, masuk ke semua losmen tanpa terkecuali.
Dengan tangan bergetar, ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto wajah Diaz kepada setiap resepsionis dan pemilik penginapan yang ia temui.
"Permisi, apa wanita di foto ini ada menginap di sini hari ini?" tanya Ganda berulang kali.
Namun, satu per satu dari mereka hanya melihat foto itu sebentar lalu menggelengkan kepalanya.
"Mboten wonten, Mas. Tidak ada yang mirip seperti ini."
Setengah putus asa dan kelelahan, peluh dingin mulai membasahi dahi Ganda.
Kini, hanya tinggal satu losmen kecil di ujung jalan berbatu yang belum ia datangi.
Jika di sini tidak ada, Ganda tidak tahu lagi harus mencari istrinya ke mana.
Ganda melangkah masuk dan langsung menyodorkan foto Diaz kepada pemilik losmen, seorang ibu paruh baya yang sedang merajut.
"Tolong, Bu. Apa wanita ini ada di sini?"
Ibu pemilik losmen itu memicingkan matanya melihat layar ponsel Ganda, lalu seketika menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Oh nggih, Mas! Benar, mbak ini baru saja masuk kamar sekitar satu jam yang lalu. Saya tadi sempat khawatir sekali melihat wajahnya yang pucat pasi dan jalan yang lemas seperti orang sakit."
Mendengar hal itu, lutut Ganda nyaris lemas karena rasa syukur yang membuncah.
"Di kamar mana, Bu?!"
"Mari, saya antarkan," ucap pemilik losmen, langsung mengambil kunci serep dari gantungan dinding karena tahu ada yang tidak beres dengan tamunya.
Mereka berjalan menyusuri lorong losmen yang remang-remang hingga berhenti di depan sebuah pintu kayu bernomor paling ujung.
Pemilik losmen memasukkan kunci serep, memutarnya dua kali, lalu membuka pintu tersebut perlahan.
Ganda langsung melangkah masuk ke dalam kamar yang dingin itu.
Pandangannya seketika terkunci pada sosok ringkih yang terbaring di atas ranjang kasur tipis. Diaz sedang tertidur, namun tidurnya sama sekali tidak tenang.
Tubuhnya meringkuk menahan dingin, sementara keringat dingin mengalir deras membasahi dahi dan pelipisnya akibat demam pasca-trauma yang mendadak menyerang tubuhnya yang lemas.
Hati Ganda mencelos melihat penderitaan istrinya yang begitu nyata.
Ia mendekati ranjang, lalu menoleh kepada pemilik losmen dengan tatapan memohon.
"Bu, bisa saya minta tolong diambilkan air hangat dan kain bersih untuk kompres?" tanya Ganda dengan suara bergetar rendah.
Pemilik losmen yang melihat ketulusan dan kepanikan di mata Ganda langsung menganggukkan kepalanya dengan iba.
"Nggih, Mas. Sebentar saya ambilkan dari dapur," ucapnya sebelum bergegas pergi, meninggalkan Ganda yang kini perlahan duduk di tepi kasur, menatap wajah wanita yang teramat dicintainya dengan rasa bersalah yang kembali mengiris kalbunya.
Ibu pemilik losmen kembali dengan membawa baskom kecil berisi air hangat dan selembar kain bersih, lalu meletakkannya di atas meja kecil sebelum berpamitan keluar untuk menjaga privasi mereka.
Ganda segera duduk di tepi kasur. Dengan gerakan yang sangat lembut dan hati-hati, ia memeras kain tersebut, lalu mulai mengompres dahi Diaz yang terasa panas karena demam.
Ia menatap wajah istrinya yang masih memejamkan mata rapat-rapat itu dengan sorot mata yang penuh permohonan.
"Dek..." bisik Ganda dengan suara yang sangat halus, hampir menyerupai hembusan napas.
"Tolong, jangan keras kepala lagi, nggih. Aku tidak sanggup melihatmu hancur seperti ini sendirian. Biarkan aku merawatmu, izinkan aku menebus semua kesalahanku."
Diaz hanya bergerak sedikit dalam tidurnya, napasnya yang tidak teratur masih terdengar berat.
Ganda memejamkan matanya sejenak. Dengan khusyuk, ia mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an serta doa-doa kesembuhan dengan suara lirih yang menenangkan.
Ruangan losmen yang dingin itu seketika terasa lebih damai oleh lantunan doa Ganda yang dipanjatkan dari lubuk hati yang paling dalam.
Setelah selesai berdoa, Ganda menunduk perlahan.
Dengan penuh rasa kasih sayang dan penyesalan yang mendalam, ia menempelkan bibirnya cukup lama pada kening Diaz yang basah oleh keringat.
Ia berharap melalui sentuhan itu, ia bisa mentransfer rasa cintanya sekaligus menghapus semua trauma dan luka yang telah ia biarkan terjadi pada istrinya.
Ganda tetap terjaga di sana, setia menjaga, menunggu Diaz membuka mata, siap melakukan apa pun agar istrinya mau memaafkannya dan kembali pulang ke sisinya.
Jam di dinding kamar losmen menunjukkan pukul sepuluh malam ketika keheningan pegunungan kian mencekam.
Diaz membuka matanya perlahan, merasakan sensasi hangat kain kompres di dahinya.
Namun, begitu pandangannya menatap dan menangkap sosok Ganda yang duduk setia di sisinya, matanya seketika membelalak panik. Emosi dan traumanya kembali tersulut.
"K-kamu...? Kenapa kamu di sini?!" seru Diaz, suaranya parau dan bergetar hebat.
Ia langsung menjauhkan kepalanya, melempar kain kompres itu ke kasur.
"Pergilah yang jauh, Ganda! Jangan mengikuti aku lagi!! Tolong... ceraikan aku!"
Ganda menatap istrinya dengan tatapan terluka yang teramat dalam.
Namun, ia berusaha menahan diri agar tidak membalas dengan emosi.
Dengan suara bariton yang bergetar rendah, Ganda bertanya, "Diaz... tolong tenang. Jawab pertanyaanku... apakah kamu benar-benar tidak mencintaiku?"
"Tidak!" jawab Diaz lugas, air matanya luruh membasahi pipinya yang pucat.
"Aku tidak pernah mencintaimu! Bukankah kamu juga tidak mencintaiku?! Anggap saja, hutang budiku sudah lunas karena kamu sudah menyelamatkan aku dari obat perangsang malam itu! Kita impas, Ganda!"
Mendengar kalimat yang begitu menusuk dari mulut wanita yang dipertahankannya, pertahanan batin Ganda runtuh. Ia tersenyum getir, mengangguk pasrah.
"Baiklah, aku akan keluar dari kamar ini dan tidak akan mengganggumu lagi," ucap Ganda dengan suara yang mendadak layu.
Ia bangkit berdiri, menatap Diaz untuk terakhir kalinya malam itu.
"Maaf, seharusnya aku tidak egois sejak awal, Diaz. Maaf..."
Ganda melangkah gontai keluar dari kamar, menutup pintu kayu itu dengan pelan dan meninggalkan Diaz yang terpaku menahan sesak.
Ganda tidak benar-benar pergi meninggalkan losmen.
Langkah kakinya membawanya ke halaman terbuka losmen yang sepi.
Pria itu terduduk di atas sebuah kursi semen, menunduk dalam dengan pikiran yang hancur.
Tiba-tiba, langit malam pecah. Hujan deras langsung mengguyur bumi, disertai kilatan petir yang menyambar-nyambar dengan suara menggelegar.
Dalam hitungan detik, jubah dan tubuh Ganda basah kuyup, namun ia bergeming.
Ia membiarkan hawa dingin pegunungan menusuk tulangnya.
Di dalam kamar, suara petir membuat Diaz terjaga.
Entah mengapa, hatinya mendadak gelisah. Dengan tubuh yang masih lemas, ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela, ingin memastikan apakah Ganda benar-benar sudah pulang.
Saat menyibak gorden, jantung Diaz mencelos. Di luar sana, di bawah amukan badai dan hujan yang begitu deras, ia melihat suaminya masih duduk mematung dengan keadaan basah kuyup, menerima setiap hantaman air hujan tanpa berniat mencari tempat berteduh.
Rasa kemanusiaan dan sisa-sisa kepedulian di hati Diaz mengalahkan egonya. Il
Ia bergegas keluar kamar, meminjam sebuah payung besar kepada pemilik losmen, lalu melangkah menerobos hujan menghampiri Ganda.
"Ayo masuk! Kamu nanti sakit!" seru Diaz setengah berteriak, mencoba mengalahkan suara gemuruh hujan sembari memayungi tubuh suaminya.
Ganda mendongak, wajahnya yang basah oleh air hujan dan air mata menatap Diaz dengan tatapan kosong.
"Masuklah, Diaz. Aku ingin menghukum diriku sendiri. Aku yang sudah memaksamu masuk ke dalam pernikahan ini."
Suara Ganda terdengar bergetar menahan gigilan dingin.
"Aku bodoh, Diaz. Aku tidak bisa melindungi kamu di pondokku sendiri. Biarkan aku seperti ini."
"Ganda, ayo masuk...!" titah Diaz, tidak tega melihat kondisi suaminya yang mulai membiru.
Diaz mengulurkan tangan kirinya yang bebas dari payung, memberi isyarat agar Ganda menggenggamnya.
Melihat uluran tangan itu, perlahan benteng pertahanan Ganda runtuh.
Ia berdiri dan mengikuti langkah Diaz kembali masuk ke dalam kehangatan koridor losmen.
Melihat Ganda yang pulang dalam keadaan mengenaskan dan menggigil parah, pemilik losmen yang sigap segera menghampiri dan memberikan sepasang baju ganti kering milik suaminya untuk digunakan oleh Ganda.
Di dalam kamar, suasana mendadak canggung namun sarat akan perhatian yang tersirat.
Diaz, dengan telaten meskipun wajahnya masih pucat, membantu Ganda melepas jubah luar dan pakaian atasnya yang basah kuyup dan menempel ketat di tubuh suaminya.
"Mandilah dulu dengan air hangat, nanti kamu benar-benar sakit," ucap Diaz pelan tanpa berani menatap mata Ganda langsung.
Ganda mengangguk patuh, mengambil baju ganti dari tangan Diaz, lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Begitu Ganda masuk, Diaz segera keluar kamar menuju dapur losmen.
Ia menemui sang pemilik losmen yang sedang merapikan meja.
"Ibu, permisi, apa saya bisa memesan dua gelas teh panas dan dua porsi nasi goreng?"
"Oh nggih, Mbak. Tentu bisa. Ditunggu sebentar ya, saya buatkan dulu," jawab ibu pemilik losmen dengan senyum ramah sembari menganggukkan kepalanya.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka.
Ganda keluar dengan pakaian kering yang sedikit kebesaran di tubuh tegapnya. Handuk kecil masih tersampir di lehernya.
Namun, begitu pandangannya menyapu sekeliling kamar, detak jantung Ganda kembali berpacu liar.
Kamar itu kosong. Diaz tidak ada di atas ranjang. Pikiran buruk langsung merayapi kepalanya; ia mengira Diaz memanfaatkan waktu mandinya untuk melarikan diri lagi darinya. Panic attack kecil seolah menyerang Ganda.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka dari luar. Diaz melangkah masuk ke dalam kamar.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Ganda langsung menghambur maju.
Ia mendekap tubuh ringkih istrinya itu dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Diaz.
Tubuh Ganda bergetar, memeluk Diaz seolah-olah wanita itu akan menghilang jika ia melepaskannya sedikit saja.
"Aku kira kamu pergi lagi, Dek... Aku takut..." bisik Ganda dengan suara serak yang dipenuhi keputusasaan.
Diaz sempat tertegun menerima pelukan tiba-tiba yang begitu erat itu.
Ada kehangatan yang menjalar di dadanya, namun ia berusaha mengontrol suaranya agar tetap terdengar santai.
"Pergi di saat hujan deras seperti ini?" ucap Diaz lirih, pelan-pelan menepuk lengan Ganda agar suaminya melonggarkan pelukan.
"Aku baru saja dari luar, memesan teh panas dan nasi goreng untuk kita."
Diaz menatap mata Ganda yang memerah. "Kita tunggu sebentar, ibunya masih memasak di dapur."
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡