Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta pembatalan pertunangan
Langkah kaki itu terdengar berirama dan tegas sangat kontras dengan langkah seret nan manja yang biasanya menggema di sepanjang koridor kediaman agung Duke Volkov.
Bellatrix Alexandra Volkova berjalan dengan punggung tegak lurus. Sebagai mantan kapten unit infanteri taktis di dunia modern, ia tidak terbiasa berjalan lambat seolah-olah kakinya terbuat dari kaca.
Penampilannya kini jauh berbeda dari sebelumnya. Kulitnya bersih, bercahaya, dan halus bak porselen sempurna, rambut birunya terurai rapi dan berkilau lembut tanpa riasan tebal yang dulu menutupi keaslian wajahnya. Keindahan alami yang terpancar dari dirinya membuat siapa saja yang melihatnya tertegun, termasuk sosok yang sedang menatapnya dari sudut ruangan.
Matahari siang menyelinap masuk melalui jendela-jendela kaca patri yang menjulang tinggi, memantulkan bayangan siluet tubuhnya di atas lantai marmer yang mengilap. Di sepanjang jalan, para pelayan dan pengawal yang berpapasan dengannya buru-buru menundukkan kepala dalam-dalam. Tubuh mereka gemetar, atmosfer ketakutan menyelimuti mereka bagai kabut tebal. Bellatrix tahu mengapa mereka begitu ketakutan. Dalam ingatan sisa-sisa pemilik tubuh ini, Bellatrix adalah definisi dari mimpi buruk.
Dia sangat sombong, angkuh, kejam, dan tidak segan-segan melemparkan cangkir teh panas ke wajah pelayan yang melakukan kesalahan kecil.
Namun, Bellatrix tidak peduli pada reputasi buruk itu. Fokus utamanya saat ini hanyalah satu. Bertahan hidup dengan damai bersama keluarga baru yang luar biasa hangat ini, dan membuang semua beban tak berguna yang ditinggalkan oleh Bellatrix asli. Dan beban terbesar itu bernama Thiago Felipe Albarado, sang Putra Mahkota Kekaisaran.
"Aku harus menyelesaikannya sekarang," bisik Bellatrix pada dirinya sendiri. Suaranya terdengar lembut namun memiliki intonasi yang tajam dan dingin.
Dari memori yang terserap di kepalanya selama empat hari koma, Bellatrix telah melakukan segala cara kotor mulai dari ancaman politik hingga mogok makan hanya untuk memaksa ayahnya, Duke Volkov, menekan pihak istana agar mengesahkan pertunangan dengan Putra Mahkota. Hubungan itu beracun. Thiago membencinya setengah mati, dan Bellatrix asli terus-menerus menyiksa dirinya sendiri dengan mengejar pria yang hatinya sudah terkunci untuk wanita lain.
Bellatrix berhenti di depan sepasang pintu kayu ek raksasa berukir lambang serigala besi lambang kebanggaan keluarga militer Volkov. Ini adalah ruang kerja sang Duke.
Dua orang pengawal berbaju zirah yang menjaga pintu langsung menegakkan posisi berdiri mereka, memberikan penghormatan militer yang kaku.
"Lady Bellatrix," sapa salah satu pengawal dengan suara yang tertahan. "Apakah Anda membutuhkan sesuatu? Duke sedang—"
"Aku ingin bertemu dengan Ayah," potong Bellatrix cepat, tatapan matanya lurus dan tak tergoyahkan. "Apakah ayah ada di dalam?"
"Benar, My lady. Tetapi saat ini Duke sedang menerima tamu penting dari—"
"Tidak apa-apa. Ini urusan darurat yang menyangkut masa depanku," Bellatrix tidak memberikan kesempatan bagi pengawal itu untuk menyelesaikan kalimatnya.
Dengan gerakan tangan yang anggun namun penuh penekanan, ia memberi isyarat agar pintu dibuka.
Kedua pengawal itu saling pandang dengan cemas. Mereka tahu watak keras kepala Bellatrix. Jika mereka menolak, wanita ini bisa saja mengamuk dan menghancurkan pintu tersebut dengan sihir atau memecat mereka di tempat.
Akhirnya, dengan berat hati, mereka mendorong pintu besar itu hingga terbuka perlahan, memperlihatkan interior ruangan yang luas, berbau aroma kayu cendana dan kertas perkamen kuno.
Bellatrix melangkah masuk ke dalam ruangan. Pandangannya langsung tertuju pada meja kerja besar yang terletak di dekat jendela besar di ujung ruangan. Di sana, duduk sang Duke ayah barunya seorang pria paruh baya dengan pundak lebar dan wajah tegas yang menyiratkan wibawa seorang jenderal tertinggi kekaisaran. Namun, begitu melihat Bellatrix masuk, gurat ketegangan di wajah pria itu mendadak melunak, digantikan oleh rasa khawatir yang mendalam.
Di sudut ruangan, sosok yang sedang duduk di sofa itu adalah Thiago Felipe Albarado. Sejak Bellatrix melangkah masuk, matanya langsung terpaku padanya. Ia sudah diberitahu oleh Duke Volkov sebelumnya bahwa tunangannya itu mengalami benturan keras di kepala, kemungkinan besar hilang ingatan dan berubah sikap, tapi ia tidak menyangka perubahannya akan sedrastis ini. Melihat penampilan barunya yang alami, anggun, dan memancarkan keindahan yang jauh lebih menawan daripada sebelumnya, Thiago tanpa sadar terpesona sejenak, hingga ia lupa bernapas sebentar. Namun rasa terkejutnya makin bertambah ketika Bellatrix hanya melirik sekilas ke arahnya seolah ia hanyalah benda mati, lalu mengalihkan pandangannya sepenuhnya.
"Bellatrix?" suara berat Duke Volkov menggema di ruangan luas itu. Pria itu meletakkan pena bulunya. "Kenapa kau sudah turun dari ranjang? kenapa kesini, Nak? Harusnya katakan saja pada pelayan tidak perlu datang kesini"
Bellatrix tersenyum manis, membuat Duke Volkov sempat terpaku sejenak. "Aku baik-baik saja, Ayah. Makanan siang tadi sangat enak, dan kekuatanku sudah pulih."
Saat berjalan mendekati meja kerja ayahnya, Bellatrix menyadari ada sosok lain di dalam ruangan itu. Di sudut sofa beludru dekat jendela, duduk seorang pemuda bertubuh tegap mengenakan jubah beludru hitam dengan sulaman benang emas yang rumit di bagian kerah.
Pemuda itu memiliki rambut pirang platinum yang tertata rapi dan sepasang mata biru safir yang tajam, yang saat ini sedang menatap Bellatrix dengan pandangan dingin, menyelidik, dan sarat akan rasa jijik yang tertahan.
Bellatrix melirik sekilas ke arah pemuda itu. 'Ah, pengawal baru Ayah atau mungkin ajudan militer yang sedang memberikan laporan mingguan,' pikir Bellatrix acuh tak acuh. Di dunia modern, ia terbiasa melihat perwira muda berpakaian rapi yang duduk menunggu perintah di ruang jenderal.
Lagipula, memori visual Bellatrix tentang wajah tunangannya agak kabur akibat benturan keras di kepala saat kecelakaan kereta kuda kemarin. Bagi Bellatrix, pemuda tampan di sofa itu hanyalah ornamen pelengkap di ruang kerja ayahnya yang tidak perlu ia pedulikan.
Tanpa memberikan salam atau bahkan melirik dua kali ke arah pemuda berambut pirang itu, Bellatrix langsung berdiri tegak di depan meja kerja Duke Volkov. Ia menaruh kedua tangannya di depan perut, menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk menjatuhkan bom yang sudah ia rancang sejak terbangun dari koma.
"Ayah," kata Bellatrix, suaranya terdengar jernih dan bergaung di setiap sudut ruangan. "Aku datang ke sini dengan tujuan yang sangat penting. Aku ingin meminta bantuan Ayah untuk melakukan satu hal."
Duke Volkov mengernyitkan dahi, merasakan ada perubahan atmosfer yang aneh dari putri bungsunya. "Katakan, Putriku. Apa yang kau inginkan? Apakah kau ingin gaun baru, permata dari wilayah selatan, atau—"
"Tidak, Ayah," potong Bellatrix tegas. Ia menatap lurus ke dalam mata ayahnya dengan keseriusan yang mematikan. "Aku ingin Ayah membatalkan pertunanganku dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Tolong serahkan surat pembatalan itu ke istana kekaisaran secepatnya."
Keheningan yang mencekam langsung menjalar di dalam ruangan. Suasana mendadak menjadi begitu sunyi hingga suara detak jam dinding kuno terdengar seperti dentuman genderang perang.
BRAK!
Pemuda berambut pirang yang duduk di sofa tiba-tiba berdiri dengan sentakan keras, hingga cangkir teh di atas meja kecil di sampingnya bergetar hebat. Mata biru safirnya melebar penuh kilat amarah dan keterkejutan yang luar biasa. Ia menatap Bellatrix seolah-olah wanita itu baru saja menumbuhkan kepala kedua di pundaknya.
Namun, Bellatrix sama sekali tidak menoleh. Ia mengabaikan reaksi "pengawal" ayahnya yang ia anggap tidak sopan karena memotong pembicaraan majikan.
Fokusnya tetap terkunci pada Duke Volkov yang kini mulutnya sedikit terbuka, kehilangan kata-kata.
"Bella... apa yang kau katakan?" suara Duke Volkov bergetar, bukan karena marah, melainkan karena syok yang teramat sangat. "Kau... meminta pembatalan? Kau yang memohon-mohon pada Ayah sampai menangis agar pertunangan ini terjadi! Ada apa denganmu?"
Duke Volkov segera melirik ke arah Thiago, lalu melanjutkan dengan nada menenangkan sekaligus menjelaskan,
Bellatrix menurunkan bahunya sedikit, memasang ekspresi wajah yang tampak rapuh, lelah, dan yang paling penting penuh ketakutan yang dibuat-buat. Ini adalah taktik negosiasi militer. Tunjukkan kelemahan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.
"Ayah... sejujurnya, setelah kecelakaan kemarin, saat aku berada di ambang kematian selama empat hari, aku merasa sangat takut," ucap Bellatrix dengan nada suara yang bergetar pelan, seolah-olah ia sedang menahan tangis. "Aku tersadar dari kebodohanku selama ini. Pernikahan atau pertunangan yang dipaksakan hanya akan membawa kutukan bagi keluarga kita."
Bellatrix menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan kalimat yang sudah ia susun rapi untuk merendahkan dirinya sendiri.
"Putra Mahkota Thiago... beliau adalah matahari kekaisaran yang agung. Beliau berhak mendapatkan wanita yang anggun, lembut, dan memiliki cinta yang tulus dari hatinya. Sedangkan aku? Aku hanyalah wanita sombong, pemarah, dan egois yang selalu membuat kekacauan. Aku tidak pantas bersanding di sampingnya. Aku sadar aku terlalu rendah untuk menjadi calon Permaisuri masa depan."
Di sudut ruangan, Thiago Felipe Albarado sang Putra Mahkota yang dikira pengawal oleh Bellatrix merasakan rahangnya mengeras hingga berbunyi. Dadanya naik turun menahan gelombang emosi yang campur aduk.
Dia shock. Benar-benar syok. Wanita di depannya ini, yang biasanya akan berlutut di tanah dan menjerit histeris jika ia tidak membalas suratnya, kini sedang menceramahi ayahnya tentang bagaimana dirinya "tidak pantas" untuknya? Permainan gila apa lagi ini?
"Lagipula, Ayah," Bellatrix melanjutkan, nadanya kini terdengar agak sinis namun tetap dijaga agar terdengar seperti kepasrahan seorang wanita yang patah hati. "Semua orang di kekaisaran ini tahu bahwa Putra Mahkota sudah memiliki pilihan hatinya sendiri. Beliau sangat mencintai Lady Eleanor, putri dari Count Valdo yang anggun itu. Selama ini, Lady Eleanor selalu memprovokasiku, menunjukkan betapa Putra Mahkota lebih memilih menghabiskan waktu bersamanya daripada denganku. Dan dia benar, Ayah. Aku lelah menjadi penghalang di antara hubungan mereka. Aku tidak mau lagi mengemis cinta yang tidak akan pernah menjadi milikku. Biarkan Yang Mulia Thiago bahagia dengan cintanya, dan biarkan aku hidup tenang di sini sebagai putri bungsu Ayah."
Duke Volkov menggebrak meja kerjanya dengan sangat keras hingga berkas-berkas perkamen berhamburan ke lantai. Wajah sang Duke memerah padam, pembuluh darah di pelipisnya berdenyut tegang. Namun, kemarahannya bukan karena perkataan Bellatrix tentang rasa takutnya, melainkan karena kelancangan putrinya yang mengabaikan protokoler istana di depan orang yang sedang mereka bicarakan.
"Ayah...?" Bellatrix berkedip, sedikit terkejut dengan reaksi ekstrem ayahnya.
Duke Volkov segera keluar dari balik mejanya, lalu dengan cepat berlutut dengan satu kaki di lantai, menghadap ke arah pemuda berambut pirang yang kini melangkah maju dari sudut sofa dengan aura mengintimidasi yang sangat pekat.
"Yang Mulia Putra Mahkota, mohon ampuni kelancangan putri hamba!" seru Duke Volkov dengan nada penuh penyesalan dan ketakutan yang nyata. "Putri hamba baru saja terbangun dari koma yang panjang. Kepalanya pasti masih belum jernih akibat kecelakaan itu, sehingga dia melantur dan tidak mengenali kehadiran Anda di ruangan ini! Hamba memohon kemurahan hati Anda untuk tidak membawa masalah ini ke pengadilan istana!"
Bellatrix membeku di tempatnya berdiri. Seluruh saraf di otaknya mendadak macet selama beberapa detik.
'Yang Mulia... Putra Mahkota?' Ia menolehkan kepalanya perlahan, menatap pemuda berambut pirang yang kini sudah berdiri hanya berjarak beberapa langkah di sampingnya. Pria itu menatapnya dengan mata safir yang menyala-nyala oleh amarah dan ego yang terluka parah. Lambang naga emas yang tersulam samar di bagian dalam jubahnya kini terlihat jelas di bawah cahaya matahari.
'Sialan,’ batin Bellatrix berteriak. ‘Jadi cowok ini Thiago? Pangeran brengsek yang dikejar-kejar tubuh ini? Kenapa dia tidak memakai mahkota atau pengawal pribadi di sekelilingnya?!’
Thiago tidak mengindahkan ucapan Duke Volkov. Pandangannya terkunci sepenuhnya pada wajah Bellatrix yang tampak terkejut namun anehnya tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan yang semestinya.
"Jadi..." Thiago bersuara, nadanya rendah, dingin, dan bergetar karena emosi yang tertahan. "Kau meminta pembatalan pertunangan di depanku, dengan alasan kau 'rendah' dan menuduhku berselingkuh dengan putri seorang Count, Lady Bellatrix?"
Thiago melangkah satu kali lagi mendekat. Berdasarkan pengalaman masa lalunya dengan Bellatrix, wanita ini pasti sedang melakukan trik psikologis terbalik. Setelah ini, Bellatrix pasti akan menangis, berpura-pura pingsan, lalu melemparkan dirinya ke dalam pelukan Thiago sambil memohon ampun dan mengatakan bahwa semua itu dilakukan hanya karena dia terlalu mencintainya. Thiago sudah bersiap untuk menepis tubuh wanita itu jika dia berani menyentuhnya.
Melihat Thiago yang berjalan mendekat dengan aura mengancam, insting militer Bellatrix langsung bergejolak. Ia tidak akan membiarkan ada orang yang mengintimidasi ruang pribadi ayahnya, bahkan jika orang itu adalah seorang pangeran sekalipun.
Bukannya mundur atau menangis seperti yang diperkirakan semua orang di ruangan itu, Bellatrix malah mengambil langkah maju yang berani. Jarak di antara mereka kini sangat dekat, hingga Thiago bisa mencium aroma samar minyak mawar dari rambut wanita itu. Thiago menegang, mengira detik ini juga Bellatrix akan melingkarkan tangannya di pinggangnya untuk memeluknya erat-erat.
Namun, dugaan Thiago salah besar.
Sret! Bellatrix mengangkat tangan kanannya, lalu mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan hidung Thiago, hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah sang Putra Mahkota. Tindakan yang sangat tabu, tidak sopan, dan bisa dihukum pancung di bawah hukum kekaisaran.
"Dengar ya, Thiago Felipe Albarado," desis Bellatrix dengan mata yang menyipit tajam, membuang semua embel-embel formalitas bangsawan. "Aku tidak peduli kau ini pangeran, matahari kekaisaran, atau apa pun. Tapi satu hal yang harus kau tahu, aku tidak sedang bermain drama atau trik murahan! Pertunangan di antara kita berdua ADALAH SEBUAH KESALAHAN BESAR. Kau membenciku, dan sekarang aku juga tidak sudi melihat wajahmu! Jadi, pertunangan ini TIDAK BOLEH DAN TIDAK AKAN PERNAH DILANJUTKAN! Catat itu baik-baik di kepalamu itu!"
Thiago tersentak mundur satu langkah, matanya membelalak sempurna. Ia benar-benar kehilangan kemampuan berbicara. Bellatrix baru saja menunjuk mukanya? Bellatrix baru saja memanggil nama aslinya tanpa gelar? Dan yang paling membuat egonya hancur adalah... wanita itu menatapnya dengan pandangan muak, seolah-olah Thiago adalah seonggok sampah yang mengotori pemandangannya.
"BELLATRIX!!! JAGA KELANCANGANMU!!!"
Suara Duke Volkov menggelegar bagai petir di siang bolong. Pria paruh baya itu bangkit berdiri dengan wajah yang pucat pasi karena syok melihat tindakan gila putrinya yang sudah melewati batas pengkhianatan terhadap mahkota.
Duke Volkov langsung mencengkeram lengan Bellatrix, menariknya mundur dari hadapan Putra Mahkota yang masih mematung.
"Kau benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu setelah kecelakaan itu!" bentak Duke Volkov dengan napas yang memburu.
"Berani-beraninya kau menunjuk wajah Yang Mulia Putra Mahkota dan berbicara sekasar itu! Di mana sopan santunmu sebagai putri keluarga Volkov?!"
Bellatrix meringis sedikit karena cengkeraman tangan ayahnya cukup kuat, namun ia tetap mempertahankan tatapan matanya yang menantang ke arah Thiago.
Duke Volkov berbalik menghadap Thiago, membungkuk sedalam-dalamnya hingga dahinya hampir menyentuh lututnya sendiri. "Yang Mulia, hamba benar-benar meminta maaf atas kegilaan putri hamba hari ini. Hamba sendiri yang akan mendisiplinkannya. Hamba pastikan dia akan menerima hukuman yang setimpal atas kelancangannya!"