“Anda sudah gila?!” Nasya menutup bibirnya menggunakan kedua tangannya.
“Kegilaan yang menguntungkan bukan? Hanya sebatas kontrak saja. Saya tidak akan menggunakan status suami untuk menyentuhmu,” ujar Elgan dan mendekat ke telinga Nasya. “Rasanya tidak sudi juga jika bukan karena terpaksa.” Elgan menjauh setelah berbisik.
Elgan memberikan kartu namanya. Kemudian, dia meninggalkan Nasya yang masih mematung dengan menggenggam pemberiannya tadi. Nasya menggemnya erat, air matanya terus saja mengalir, semakin deras seperti hujan malam ini.
“Kenapa semuanya begitu menyedihkan? Dikhianati pujaan hati yang katanya berjanji akan menikahi dan sekarang apa? Nikah kontrak? Begitu menyakitkan menjadi miskin. Tidak ada pilihan, meski ingin memilih,” batin Nasya meratapi hidupnya.
Bagaimana kelanjutan kisah rumit ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cacctuisie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTIKCD - Bekerja
“Kamu jangan terlalu memikirkan ucapan Iren. Aku yakin dia paham dengan penjelasanku tadi. Maaf kalau membuat kamu tertuduh padahal kamu tidak melakukannya,” ucap Elan yang masih dengan Nasya mengobrol di ruang tamu.
Dengan kondisi Iren yang mentalnya sedang terguncang dengan berbagai keadaannya. Elgan memintanya untuk tenang dan masuk terlebih dahulu untuk mendengar penjelasannya. Akhirnya, Iren mulai mendengarkan ucapan Elgan, menjelaskannya pelan-pelan. Hingga dia pergi dengan kondisi lebih baik. Amarah dan kecewa masih terlihat jelas, tapi tidak seperti pertama kali dia datang.
“Kenapa kamu gak pernah bilang kalau selama ini Iren menganggapmu menjadi orang ketiga antara aku dan Reina? Andai kamu bilang, kesalahpahaman Iren menilaimu pasti tidak seburuk ini,” lanjut Elgan.
“Aku bingung harus bilang gimana ke kamu. Dari awal aku masuk ke keluarga kamu kan memang keadaannya begini. Aku takut kamu akan menganggapnya hal sepele,” jawab Nasya ragu.
Keberaniannya tak cukup besar mengadu pada suami yang hanya sebatas perjanjian kontrak. Dia mendapatkan keuntungan saja sudah beruntung. Mengurangi beban orang tuanya yang saat ini sudah hidup lebih nyaman. Nasya tidak ingin menuntut meski rasanya direndahkan dan dihina atas perbuatan yang gak dilakukannya menyakitkan.
“Mulai saat ini, bicaralah padaku. Aku akan berusaha melindungimu. Paham? Kalau paham aku mau mandi dulu. Perutku sudah minta diisi,” ucap Elgan memastikan Nasya mau membagi ceritanya.
Nasya mengangguk senang. Elgan selalu puas dengan respon Nasya yang mendengarnya. Sebelum bangkit dari tempat duduknya, Elgan mengacak rambut Nasya yang sudah dirapikan beberapa jam yang lalu. Sontak Nasya mengerucutkan bibirnya. Dia tidak tahu saja kalau Nasya sudah bersemangat menyambutnya sejak tadi.
“Ayolah, Mas. Rambut aku,” rengek Nasya yang hanya disahuti dengan senyuman.
“Aku mau mandi dulu.” Elgan meninggalkan Nasya.
***
Setelah makan malam, beberapa jam kemudian semua menjadi sunyi. Nasya dan Elgan berpisah di kamarnya masing-masing. Nasya juga tidak ingin tidur terlalu larut, mengingat dirinya sudah harus berangkat pagi untuk memulai usahanya. Sejujurnya, dia lumayan gugup untuk menjalankan bisnis ini.
Dahulu sebelum menikah, dia memang bekerja di rumah makan sebagai kasir. Akan tetapi, bukan berarti Nasya tahu segala hal. Banyak kekhawatiran yang membuatnya tak bisa tidur. Nasya juga mengesampingkan dulu masalah keluarga dan fokus pada pekerjaannya. Kesempatan seperti pasti datang karena keberuntungan. Nasya tidak ingin mengecewakan Elgan.
“Aduh … susah banget tidur. Besok mau ngapain dulu, ya? Mungkin cek menu dan apa? Gugupnya,” gumam Nasya seraya berusaha memejamkan matanya.
Ketika kegelisahan itu terus mendera, tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka. Dengan gerak cepat, Nasya menarik selimut sampai menutupi pucuk kepalanya. Nasya diam tak berkutik. Dia sampai lupa kalau setelah makan malam tadi, Elgan akan tidur di kamarnya setelah memeriksa pekerjaan.
“Astaga, dia beneran ke sini? Aku pikir dia bakalan lupa karena pekerjaannya,” batin Nasya.
Elgan tak mengatakan apapun, tapi dia tahu jika Nasya belum tidur. Perlahan-lahan, Elgan naik ke ranjang. Berada tepat di samping Nasya yang masih menahan selimutnya. Elgan iseng mencoba mengambil selimut yang membalut badan Nasya. Namun, Nasya lebih dulu menahannya.
“Keliatan banget kalau belum tidur,” sindir Elgan yang ikut berbaring.
Nasya pun membuka selimutnya. Tadinya membelakangi Elgan, kini mengganti posisinya menghadap suaminya. “Aku takut ngecewain kepercayaan kamu. Sebelum itu juga, makasih udah bantu jelasin semuanya ke Iren. Ya … walaupun dia tetap gak tahu aslinya kita memang nikah kontrak doang,” ucap Nasya.
Elgan menyelipkan beberapa rambut yang menghalangi wajah Nasya ke belakang telinga. “Aku sudah bilang, kalau ada kendala apapun. Bicarakan padaku, aku akan bantu. Mengenai rumah makan, orang-orang yang akan bekerja denganmu itu sudah memiliki pengalaman yang cukup. Jadi, kamu gak akan berjalan sendirian. Belajar pelan-pelan, kamu pasti bisa,” jelas Elgan memberikan semangat.
Nasya mengangguk-angguk paham, kekhawatirannya mulai berkurang. “Baik, Mas suami. Terus kamu mau ke kamar aku ngapain? Nanti kamu nyaman disini gimana?” balas Nasya.
Elgan menggeser badannya untuk lebih dekat dengan Nasya. Meletakkan salah satu tangannya di atas badan istrinya dan membuat posisi senyaman mungkin. Nasya menahan napasnya sejenak. jantungnya kembali berdetak diperlakukan seperti ini.
“Hati aku sakit, aku mau kamu sembuhkan dengan pelukan. Aku mau tidur nyenyak malam ini,” sahut Elgan.
“Masih kepikiran Reina?” celetuk Nasya.
Elgan mengangguk pelan. “Udah jangan dibahas. Aku udah ngantuk berat.”
***
“Selamat pagi, Bu,” sapa seorang pria berseragam hitam putih menyapa Nasya.
Nasya yang baru saja membuka pintu rumah makan sontak terkejut. Makanya, pintunya sudah tidak terkunci. Ternyata sudah ada yang datang lebih awal untuk bekerja.
“Aduh, maaf kaget. Kamu yang kerja disini? Oh, iya saya baru ingat yang bawa kunci dan surat, ya? Belum dateng yang lain?” balas Nasya dengan beberapa pertanyaan karena merasa panik.
“Sudah lengkap, Bu. Mereka sedang bersiap di belakang,” jawabnya.
Nasya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah, hm … untuk pertama kalinya kita berkumpul dulu saja, ya. Kita perkenalan dulu biar makin kenal dan dekat. Ini salah satu langkah awal yang jangan sampai terlewat,” titah Nasya.
“Baik, saya akan ajak mereka berkumpul di ruangan Bu Nasya.” Pria itu pun segera melangkah untuk mengajak teman kerjanya menemui Nasya.
Nasya senang mendapat respon yang baik. Hal ini juga dipikirkannya sejak semalam. Dengan langkahnya yang semangat menuju ruangan khusus di dekat kasir. Elgan benar-benar membuatkan tempat nyaman untuknya bekerja.
“Dulu aku yang kerja, sekarang beruntungnya punya pekerja. Semoga aku bisa menerapkan ilmu yang aku dapet waktu kerja dulu,” gumam Nasya.
Setelah beberapa menit berlalu, Nasya sudah berkenalan dan banyak berbincang dengan pekerjanya mengenai rumah makan yang akan dikelolanya ini. Dengan banyak masukan dan ada beberapa hal yang perlu ditambah seperti menu dan promosi. Nasya sangat terbantu, ternyata suaminya tidak berbohong mengenai pekerja yang sudah ada pengalaman.
“Semoga perkenalan ini menjadikan kita semakin dekat dan mudah bekerjasama. Mengenai catatan tadi, kita pikirkan lagi sejalan dengan bukanya rumah makan ini. Sama satu lagi, kalian bisa panggil saya dengan sebutan Mbak saja, ya. Soalnya agak canggung dengarnya kalau Ibu. Baiklah, mari kita bekerja sesuai dengan porsi masing-masing. Semangat!” ujar Nasya mengakhiri pertemuan pagi ini untuk memulai pekerjaan yang sesungguhnya.
Mereka semua keluar satu per satu sesuai dengan pekerjaannya. Ada yang bagian memasak, kasir, menata makanan, dan bersih-bersih. Elgan sudah mempersiapkannya dengan matang untuk mempermudah Nasya.
Nasya mulai membuka sebuah buku yang Elgan berikan untuk belajar mengelola rumah makan yang baik dan benar. Dengan begitu, Nasya bisa mempelajari serta mempraktekkannya. Mengenai tugasnya dan hal-hal yang perlu dilakukannya. Disaat fokusnya membaca, terdengar notifikasi masuk dari ponselnya.
“Apakah Mas Elgan? Pasti mau nanyain aku bisa apa nggaknya?” ujar Nasya semangat mengecek ponselnya.
Namun, senyumnya pudar saat mendapati pesan itu dari Revan. “Aku kangen, bisa gak siang ini kita ketemu? Kamu udah buka kado aku, kan? Suka nggak? Yang botol permen itu aku tulis sendiri, loh. Apa kamu gak suka?” Nasya membaca pesan Revan.
“Sekarang, harus bagaimana?” batinnya.