NovelToon NovelToon
Please, Menikahlah Denganku!

Please, Menikahlah Denganku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:247
Nilai: 5
Nama Author: Nona Khansa

Aku tidak meminta banyak padamu, hanya satu hal. Menikahlah Denganku!

Cinta yang terpaut 2 tahun lebih tua dari Arhan, siapa bilang ia tidak bisa mendapatkannya? Ia bertekad pada dirinya, apapun yang terjadi Lula Khansa hanyalah miliknya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12-Kekhawatiran Arhan

Tanpa sadar, Lula merentangkan tangannya, memeluk Aska dalam kerapuhan dan kesedihannya malam ini. Lula janji, ini hanya sekedar perasaan kasian saja pada Aska, tidak ada yang lain.

Aska merasa tenang dalam pelukan cewek itu. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Lula, walaupun agak susah karena Lula yang mungkin pendek jadi membuat kepalanya harus lebih turun kebawah. Untuk pertama kalinya ia mendapatkan perlakuan seperti merasakan kembali kasih sayang yang sudah lama hilang. Ia seperti berada dalam pelukan sang ibu yang dulu ia pernah rasakan ketika masih sekolah dasar, pelukan yang sudah lama hilang sekarang ia kembali bertemu dengan cewek itu.

Lula terus mengusap pelan kepala Aska agar ia merasa jauh lebih tenang. Dan benar saja, isakan Aska semakin lama semakin menghilang pelan-pelan.

Aska memejamkan matanya sejenak. Melepaskan semua penat dan pikiran yang selama ini berada dalam kepalanya. "Lula, gue enggak papa kan kaya gini? Cuman malam ini aja kok." Lirihnya pelan namun dapat terdengar oleh Lula.

Lula mengangguk. "Gue bakal jadi pundak dan sandaran Lo malam ini. Tapi cuman malam ini loh ya?! Enak aja, tadi pagi Lo baru bully gue masa iya langsung dimaafin. Bukan cuman tadi pagi, tapi udah dari Minggu kemarin, bulan kemarin, bahkan dua tahun kemaren!." Tukasnya yang masih kesal saat mengingat kejadian tadi pagi disekolah.

Aska terkekeh kecil. "Hehe... Ya maap, gue minta maap selama ini udah sering bully Lo. Tapi, itu semua karena ada udang dibalik batu kok, gue punya alesan." Titah Aska kemudian yang masih nyaman dalam pelukan gadis itu walaupun posisi mereka yang masih duduk.

Lula mengeriyitkan matanya. "Alesan apa? Lo puas liat gue menderita gitu? Jahat banget tau gak sih Lo selama ini sama gue."

"Adalah alesannya mangkanya gue ngelakuin ini. Suatu saat Lo pasti bakal tau kenapa gue kaya gini." Pintanya kemudian.

Lula mendengus pelan. "Huh, sok rahasia! Kenapa? Gue jelek kan? Karena gue dekil kan? Item kan? Gembel kan mangkanya Lo selalu bully gue." Yang awalnya Lula mengelus kepala Aska denan penuh kelembutan kini malah tangannya menjambak rambut Aska dengan cukup keras hingga membuat Aska menjerit pelan.

"Argh!" Aska memegangi tangan Lula untuk menahan cewek itu agar tidak semakin menjambak rambutnya. "Lula! Ngapain jambak rambut gue?! Malam ini aja kenapa sih kasian sama gue." Titahnya dengan dengusan panjang.

Lula pun menyudahi jambakannya, menepis lengan Aska yang memegangi tangannya lalu kembali mengelus kepala Aska. "Habisnya gue greget sama Lo! Ini yang gue pengen waktu Lo bully gue terus, ngidam banget pengen Jambak rambut Lo ini." Cetusnya kemudian.

Hingga pukul tiga dini hari, barulah Aska berpamitan pada Lula untuk pulang. Beruntung besok adalah hari libur jadi tidak akan mepet dan takut mengantuk dikelas.

"Yakin jam segini mau pulang? Enggak takut diculik wewe gombel?" Tanya Lula pelan namun kesannya seperti menakut-nakuti Aska.

Aska menghela nafasnya kasar karena jengkel pada cewek itu. "Lo anggep gue apasih? Bayi? Anak kecil? Lo pikir gue takut sama hal begituan apa?"

Lula mengangkat bahunya. "Siapa tau Lo adalah salah satu cowok yang penakut. Kalo kaya bayi sama anak kecil sih enggak ya, soalnya terlalu imut." Titahnya jujur pada Aska.

"Terserah Lo! Makasih buat pelukan sama sandaran nya malam ini." Aska kemudian bangkit dari kursi dan berdiri.

"Buat malam ini ya. Inget, gue masih belom maafin semua perlakuan Lo selama ini sama gue!" Kecamnya dengan penuh peringatan pada Aska.

"Iyaa, terserah Lo deh." Aska pun mengalah pada Lula. Ia sadar, dirinya memang pantas mendapatkan balas dendam dari cewek itu. Ia pasrah jika besok-besok Lula akan gantian mengerjainya. "Pamit. Good night." Ucapnya sebelum benar-benar meninggalkan rumah Lula.

Melihat Aska yang sudah pergi dari rumahnya. Lula pun langsung menutup dan mengunci pintunya. Ia masuk kedalam kamar dan mengganti bajunya dengan baju biasa.

Selesai berganti, Lula merebahkan tubuhnya diatas kasur yang lumayan kecil itu, hanya cukup untuk satu orang. Ia memejamkan matanya untuk menghilangkan semua rasa penatnya hari ini.

Drttt...

Drtt...

Drttt...

Lula membuka matanya mendengar sebuah panggilan dari ponselnya. Ya, ia sudah memiliki ponsel sekarang. Lebih tepatnya ini bukan ponsel miliknya namun milik Arhan. Siapa lagi jika bukan cowok itu? Awalnya Lula menolak dan tidak mau saat Arhan memberikan ponsel itu padanya, tapi Arhan adalah tipe cowok yang jika tidak dituruti akan ngambek. Mau tidak mau Lula menerimanya dengan syarat ia hanya sekedar meminjam bukan diberi.

Dan diponsel barunya itu hanya ada satu kontak dengan nama "ngambekan" di kontaknya. Siapa lagi kalau bukan Arhan? Cowok yang meminjamkan ponselnya padanya.

Dengan tangan lemasnya, Lula mengambil ponsel itu didalam tas yang ia letakkan tak jauh darinya.

"Hallo, kak kamu marah sama aku?" Tanya Arhan dari seberang sana.

Lula merebahkan kembali tubuhnya. Alisnya berkerut dengan pertanyaan Arhan barusan. Ia menggeleng. "Enggak. Kenapa kamu ngomong gitu?" Tanya Lula balik.

Diseberang sana Arhan bernafas lega dengan ucapan Lula. "Aku pikir kakak marah. Aku nungguin chat dari kakak loh berjam-jam. Kenapa kakak enggak ngabarin aku kalo udah sampe? Aku chat juga ceklis dua doang. Kakak baik-baik aja kan?"

Lula diam sejenak mendengar Arhan yang seperti sedang khawatir akan keadaannya. Ia juga merutuki dirinya yang lupa untuk mengabari cowok itu setiap waktu jika Lula sudah sampai dirumah. Dan biasanya mereka juga akan chatting setiap malam namun tidak untuk malam ini. "Enggak Arhan. Aku tadi cuman kecapean aja kok, ketiduran jadi enggak sempet balas chat dari kamu ataupun ngabarin kamu." Jelas Lula bohong. Tidak mungkin ia memberitahukan yang sebenarnya terjadi pada Arhan. Biarlah ia dan Aska malam ini hanya menjadi rahasia dirinya dan Aska saja.

"Aku cuman mau pastiin aja kak, aku pikir kakak marah sama aku. Maaf kalo ganggu waktu istirahat kakak ya." Ucapannya kemudian Arhan mematikan sambungannya secara sepihak.

Lula meletakkan ponselnya disampingnya lalu memejamkan matanya. Ia benar-benar capek dan ingin beristirahat. Untung besok ia izin karena ia harus membantu Arhan mengerjakan tugas sekolah. Ia ia bisa agak sedikit siang bangunnya.

Sementara itu, ditempat yang berbeda yaitu kediaman keluarga Ardigo. Arhan meremas ponselnya cukup kuat tak kala sambungan telepon itu sudah terputus.

Ia benar-benar merasa frustasi karena ucapan Lula yang baru saja berbohong padanya. Ya, Arhan tau apa yang terjadi pada Lula malam ini karena orang suruhan nya yang memberitahukan nya. Arhan memang sudah sedari awal saat ia menyadari bahwa ia mencintai cewek itu. Setiap apapun yang Lula lakukan diluar sana, Arhan selalu tau karena orang-orang suruhannya lah yang selalu stay memberikan informasi padanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!