NovelToon NovelToon
The Last Crown

The Last Crown

Status: tamat
Genre:Fantasi / Drama / Tamat
Popularitas:652
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.

Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.

📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Greymere

Kami meninggalkan Lakeview Inn sebelum matahari benar-benar muncul. Langit di atas Blue Lake baru berubah dari hitam menjadi biru kelabu. Garis tipis berwarna pucat membentang di timur, tetapi cahaya itu belum cukup untuk menghangatkan udara. Kabut rendah mengambang di atas permukaan danau, menelan bagian bawah tiang-tiang dermaga dan membuat perahu yang berlabuh tampak seolah mengapung tanpa menyentuh air.

Aku turun dari lantai atas dengan kepala masih nyeri. Bengkak di sekitar mata terasa berat. Bibirku pecah pada bagian dalam, dan rahang sebelah kiri berdenyut setiap kali aku menggigit terlalu kuat. Pakaian yang kucuci malam sebelumnya sudah hampir kering, meskipun masih lembap pada bagian pinggang dan bahu. Bau sabun murah bercampur dengan aroma kayu kamar, air danau, dan sedikit darah yang belum sepenuhnya hilang dari kerah.

Marlow sudah menunggu di ruang makan. Ia berdiri dekat pintu dengan kedua tas terikat pada bahunya. Rambut pirangnya masih basah setelah mandi, disisir ke belakang dengan jari. Pakaiannya tampak lebih bersih daripada sebelumnya, tetapi tidak ada air hangat yang dapat menghapus kelelahan dari wajahnya. Ia menatapku saat aku mendekat, lalu pandangannya turun pada bengkak di mataku.

Tidak ada teguran baru.

Itu lebih buruk daripada bila ia memarahiku.

Aku tidak tahu apakah ia mengetahui ke mana aku pergi setelah mengejar Ishar. Ia tidak menanyakan kapan aku kembali ke kamar, meskipun saat itu ia belum tidur. Ketika aku membuka pintu, Marlow hanya berbaring menghadap dinding dengan satu tangan dekat gagang pedang. Napasnya terlalu teratur untuk membuatku yakin ia benar-benar tertidur.

Aku juga tidak menceritakan apa pun. Apa yang terjadi di gudang dekat dermaga terasa terlalu dekat dengan kulit untuk dibawa ke dalam kata-kata. Bahkan ketika mengingatnya, aku masih mencium debu, garam, dan kayu tua. Aku masih merasakan tangan Ishar pada kerah kemeja, napasnya yang tidak teratur, serta keheningan setelahnya ketika kami berbaring berdekatan tanpa tahu apa yang harus dikatakan.

Tidak ada janji di antara kami ketika meninggalkan gudang. Ishar berjalan lebih dahulu, merapikan gaunnya dalam gelap dan menghindari tatapanku sepanjang perjalanan kembali. Di depan penginapan, ia berhenti cukup lama untuk mengatakan bahwa apa yang terjadi malam itu tidak mengubah apa pun.

Aku tidak membantah.

Namun sekarang, ketika aku melihatnya turun dari tangga, aku tahu sesuatu memang telah berubah, meskipun bukan menjadi lebih mudah.

Ishar memakai gaun biru yang diberikan istri pemilik penginapan. Rambutnya kembali dikepang dan dirangkai menjadi sanggul rendah, tetapi kali ini ia menatanya sendiri. Hasilnya tidak serapi malam sebelumnya. Beberapa helai terlepas pada sisi leher dan dekat telinga. Mantel Rosh terlipat di lengannya.

Ia tidak memandangku saat mencapai lantai bawah.

Istri pemilik penginapan berjalan di belakangnya sambil membawa sebungkus roti, dua apel, dan sedikit keju yang dibalut kain. Wajah wanita itu masih menyimpan rasa iba setiap kali melihat Ishar, seolah satu malam sudah cukup baginya untuk memutuskan bahwa gadis tersebut perlu dirawat.

Pemilik penginapan berdiri di balik meja dengan kedua tangan bersilang. Pecahan gelas sudah dibersihkan, kursi-kursi dikembalikan ke tempatnya, tetapi satu meja masih memiliki goresan baru akibat perkelahian. Noda darah pada lantai ditutupi abu dan pasir agar dapat disapu setelah kering.

Tatapan pria tua itu berpindah dariku kepada Ishar.

“Jadi dia kakakmu?”

Aku menahan ekspresi agar tidak berubah.

Ishar berdiri dengan tenang di dekat meja, meskipun aku melihat jarinya mencengkeram ujung mantel Rosh.

“Ya,” jawabnya. “Kakakku sangat posesif dan tidak terlalu pandai berpikir setelah kepalanya dipukul.”

Marlow menundukkan wajah sedikit. Aku tidak yakin apakah ia sedang menyembunyikan senyum atau hanya lelah.

Pemilik penginapan memandangku lama, lalu mendengus.

“Dia juga tidak terlalu pandai berpikir sebelum kepalanya dipukul.”

Aku membuka mulut untuk membela diri, tetapi Marlow menyentuh lenganku dari samping. Tidak keras, hanya cukup untuk mengingatkan bahwa satu malam sudah menghasilkan cukup banyak kerusakan.

Ishar melanjutkan penjelasannya dengan suara yang lebih rendah.

“Dia melihatku duduk bersama orang yang tidak dikenalnya. Dia marah. Seharusnya dia tidak menyentuhku dan tidak seharusnya memukul tamu Anda. Aku sudah menjelaskan hal itu kepadanya.”

Cara Ishar mengatakan kalimat terakhir membuatku merasa seperti anak kecil yang baru dimarahi di depan orang tuanya.

Pemilik penginapan melihat bengkak di wajahku.

“Sepertinya orang lain juga sudah menjelaskannya.”

Istrinya memukul pelan lengan pria tersebut.

“Sudahlah. Mereka masih muda.”

“Yang muda memecahkan gelas sama mudahnya dengan yang tua.”

Wanita itu mengabaikannya. Ia memberikan bungkusan makanan kepada Ishar, lalu merapikan kerah gaun biru yang sedikit terlipat.

“Untuk perjalanan. Jangan biarkan kakakmu menghabiskan semuanya.”

Ishar tersenyum tipis.

“Aku akan menjaganya.”

Kalimat itu bisa berarti makanan atau aku. Dari nada suaranya, mungkin keduanya sama-sama tidak layak dipercaya.

Pemilik penginapan akhirnya mengibaskan tangan, menyuruh kami pergi sebelum ia berubah pikiran mengenai gelas pecah dan kursi yang rusak. Aku mengucapkan terima kasih, meskipun ia hanya mendengus dan berbalik untuk membuka penutup jendela.

Ishar memeluk istri pemilik penginapan sebelum keluar.

Gerakan itu singkat, tetapi cukup untuk membuat wanita tua itu menepuk punggungnya beberapa kali. Ishar menarik diri lebih dahulu. Ketika wajahnya kembali terlihat, matanya sedikit basah, tetapi ia tidak membiarkan air mata jatuh.

Kami meninggalkan Lakeview Inn dan berjalan menuju dermaga.

Evergreen hampir sepenuhnya diam. Hanya para nelayan dan pekerja pelabuhan yang sudah terjaga. Beberapa orang menyalakan lampu di atas perahu, sementara yang lain mengangkat peti kosong atau memeriksa jaring sebelum berlayar. Bau ikan mentah, ter, tali basah, dan kayu berlumut bercampur dengan udara dingin dari danau.

Papan dermaga licin oleh embun. Aku berjalan lebih berhati-hati daripada biasanya karena kepalaku masih terasa ringan setiap kali melihat ke bawah. Air Blue Lake berada beberapa kaki di bawah, hitam dan jernih, memantulkan cahaya lampu dalam garis-garis panjang yang bergoyang.

Marlow memimpin kami menuju bagian pelabuhan yang dipenuhi kapal pengangkut barang. Kapal-kapal itu lebih besar daripada perahu nelayan, tetapi tidak cukup besar untuk menyeberangi laut. Lambungnya lebar, dibuat untuk membawa peti, tong, gandum, ikan asin, serta hasil bumi dari desa-desa di sekitar danau.

Salah satunya sedang dipenuhi muatan.

Peti-peti kayu disusun pada bagian tengah geladak, diikat dengan tali agar tidak bergeser ketika kapal bergerak. Beberapa tong besar diberi tanda Evergreen pada sisinya. Bau apel, ikan asin, kulit hewan, dan minyak lampu keluar dari berbagai wadah.

Nama kapal itu dicat pada lambung dengan huruf putih yang mulai mengelupas.

The Greymere.

Seorang pria berbahu lebar berdiri dekat papan naik. Usianya mungkin lima puluhan. Janggut hitamnya sudah dipenuhi warna kelabu, sedangkan satu matanya tampak lebih kecil akibat luka lama yang membelah alis sampai pipi. Ia memakai mantel laut tebal dan sepatu bot tinggi yang basah sampai betis.

Marlow menyuruh kami menunggu beberapa langkah dari kapal, lalu menghampiri pria tersebut.

Aku tidak dapat mendengar seluruh pembicaraan mereka. Suara peti yang digeser, tali ditarik, dan orang-orang berteriak di geladak menutupi sebagian kata. Pada awalnya kapten itu menggeleng beberapa kali. Ia menunjuk muatan, kemudian ke arah kantor pelabuhan, seolah menjelaskan bahwa ia tidak membawa penumpang atau bahwa nama kami tidak tercatat.

Marlow tetap berdiri di hadapannya.

Ia tidak mengeluarkan pedang. Bahkan tangannya tidak mendekati gagang. Namun tubuhnya sedikit condong ke depan dan suara yang semula tidak dapat kudengar menjadi terlalu rendah untuk ditangkap dari jarak kami.

Kapten itu menatap wajah Marlow lama.

Kemudian pandangannya berpindah kepada Ishar dan aku.

Ia melihat kembali kepada Marlow, mengucapkan sesuatu melalui gigi yang terkatup, lalu menunjuk bagian belakang kapal.

Marlow kembali kepada kami.

“Kita ikut sampai Kirren.”

Aku melihat kapten yang masih berdiri dekat papan naik. Wajahnya tidak menunjukkan keramahan seorang pria yang baru saja dengan sukarela menerima tiga penumpang.

“Apa yang kau katakan kepadanya?”

“Bahwa kami tidak akan mengganggu pekerjaannya.”

Aku menunggu penjelasan lain.

Marlow berjalan melewatiku menuju kapal.

Aku melirik Ishar. Ia juga memandang punggung Marlow dengan sedikit keraguan, tetapi tidak bertanya.

Aku yakin kalimat Marlow mengandung ancaman. Mungkin tidak terang-terangan, tetapi cukup jelas bagi kapten untuk memahami bahwa menolak kami akan lebih merepotkan daripada membiarkan kami naik.

Kami melewati papan sempit menuju geladak. Kapal bergerak sedikit di bawah kaki, mengikuti riak lembut danau. Ishar kehilangan keseimbangan pada langkah terakhir. Tanganku bergerak refleks untuk menangkap lengannya, tetapi ia sudah meraih tali yang tergantung di sisi tiang.

Ia melihat tanganku yang berhenti di udara.

Untuk beberapa detik, kami saling menatap.

Tatapannya tidak selembut setelah apa yang terjadi semalam. Tidak ada senyum atau rasa malu yang membuatnya menunduk seperti gadis-gadis dalam cerita istana. Namun kebencian yang sebelumnya memenuhi matanya juga tidak lagi berada di sana dalam bentuk yang sama.

Kini ia memandangku seperti seseorang yang belum memutuskan apa yang harus dilakukan dengan keberadaanku.

Aku menarik tangan.

Ishar melepaskan tali dan berjalan menuju bagian kapal yang ditunjuk Marlow.

Kami mendapat tempat di dekat tumpukan peti apel, terlindung sebagian oleh kanopi kecil yang dipasang untuk menjaga barang dari hujan. Marlow langsung memilih posisi yang membuatnya dapat melihat seluruh geladak, dermaga, dan bagian dalam kapal. Ia meletakkan tas dekat kakinya, lalu bersandar pada salah satu peti tanpa terlihat benar-benar santai.

Ishar duduk di sisi seberang. Mantel Rosh diletakkan di pangkuan. Ia membuka bungkusan pemberian wanita penginapan, memeriksa roti, keju, dan apel, lalu membungkusnya kembali dengan rapi.

Aku duduk beberapa kaki darinya.

Jarak itu tidak terlalu jauh, tetapi cukup untuk membuatku mengingat semua hal yang belum kami bicarakan.

Awak kapal melepaskan tali dari tiang dermaga. Sebuah layar kecil dinaikkan, sementara dua orang menggunakan galah panjang untuk mendorong lambung menjauh dari kayu. Air beriak di sepanjang sisi kapal. Evergreen mulai bergerak perlahan ke belakang.

Matahari muncul ketika kami mencapai bagian danau yang lebih terbuka.

Cahaya merah pucat menembus kabut. Rumah-rumah Evergreen berubah menjadi susunan atap gelap di tepi air, lalu semakin kecil bersama dermaga dan kapal-kapal yang masih tertambat. Lereng cemara di belakang desa memantulkan warna hijau hampir hitam.

Di hadapan kami, Blue Lake terbentang luas menuju Kirren.

Aku tidak dapat melihat kota pelabuhan itu. Hanya garis gelap daratan di kejauhan, hampir menyatu dengan langit. Permukaan danau tenang, tetapi gerakan kapal membuat tubuhku bergoyang perlahan. Kepalaku yang masih nyeri tidak menyukai irama tersebut. Aku menyandarkan punggung pada peti dan menutup mata sebentar.

“Kepalamu masih sakit?”

Aku membuka mata.

Ishar sedang memandangku.

Itu hanya pertanyaan kecil. Tidak ada kehangatan besar di dalamnya, tetapi ia mengatakannya tanpa ejekan dan tanpa dipaksa oleh siapa pun.

“Sedikit.”

Ishar menatap bengkak di sekitar mataku. “Kau pantas mendapatkannya.”

Aku mengangguk. “Aku tahu.”

Ia membuka bungkusan makanan lagi, mengambil salah satu apel, kemudian melemparkannya kepadaku.

Tanganku hampir terlambat menangkap.

“Jangan muntah di dekatku,” katanya. “Aku tidak ingin mencium baunya sepanjang perjalanan.”

Aku memandang apel di tangan. Kulitnya merah dengan satu memar kecil pada sisi.

“Terima kasih.”

Ishar sudah mengalihkan wajah ke danau.

Ia belum memaafkanku. Apa yang terjadi di gudang tidak menghapus kematian Rosh, kebohonganku, atau tanganku yang mencengkeram lengannya di ruang makan. Pagi itu ia masih memilih duduk jauh dariku. Ia masih membatasi setiap kata dan menolak membiarkan satu malam membuat kami berpura-pura bahwa semuanya telah selesai.

Namun tatapannya tidak lagi sedingin sebelumnya.

Sesekali ia menanyakan hal-hal kecil: apakah aku merasa mual, apakah rusukku masih sakit, apakah Kirren pernah kukunjungi saat masih tinggal di istana. Pertanyaannya singkat dan sering diucapkan tanpa melihat langsung kepadaku. Aku menjawab secukupnya, takut bila terlalu banyak bicara akan membuatnya kembali menutup diri.

Untukku, itu sudah lebih dari cukup.

The Greymere terus bergerak menyeberangi Blue Lake. Angin pagi memenuhi layar, tali-tali menegang, dan Evergreen perlahan hilang di balik kabut. Marlow tetap diam dekat tumpukan peti, seolah tidak mendengar percakapan kecil kami.

Namun sekali, ketika Ishar menanyakan apakah bibirku masih berdarah, aku melihat Marlow menutup mata dan menggeleng sangat pelan.

1
Annabelle
Oke lah
Annabelle
Numpang mampir
Nomnom Yumyum
ceritanya seru, serasa baca novel translate an luar. ditunggu eps selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!