Anggi sama sekali tidak bisa menolak ia harus menikahi seorang pria tajir yang belum pernah dilihatnya sekalipun.
Rumah tangga yang ia jalani ternyata penuh lika-liku karena seorang wanita muda mengaku-ngaku telah hamil anak Agus Soeripto.
Bagaimana nasib Anggi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paper Bag
Halima tidak peduli dengan apa yang dikatakan Jesika tetap ngotot untuk memiliki Agus.
"Ayah, aku harus bisa mendapatkan Agus bagaimanapun caranya," ucapnya kesal.
"Kita harus memiliki celah sayang, Agus bukan tipikal pria yang mudah berpindah hati," seru Holland.
"Aku yang bodoh dahulu meninggalkannya dan memilih menikah dengan pria yang tidak waras," gerutunya.
"Ayah besok akan kembali menemui Agus, mudah-mudahan dia mau mendengar ucapanku." Halima mengangguk mengerti dia begitu tergantung kepada Holland saat ini.
Di perusahaan Agus baru saja selesai bekerja dia sudah tidak sabar kembali ke rumah menghabiskan waktu bersama dengan Anggi.
"Tuan, apakah langsung ke rumah?" tanya supir.
"Mall sebentar karena aku ingin mau membeli mainan anak-anak," jawab Agus.
"Baik Tuan," angguk sopir.
Mobil Agus mendapatkan perhatian langsung para pengunjung. Kendaraan yang dia bawa berbeda dengan yang lainnya.
Agus masuk ke dalam dengan wajah yang terlihat datar tanpa ekspresi. Dia memutuskan naik ke lantai lima tempat mainan anak-anak.
"Halo Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita menghampirinya.
"Mainan anak-anak bocah baru beberapa bulan, ada?" tanya Agus datar.
"Maaf, anak ya bou atau girls Tuan?" tanyanya halus.
"Boy," jawab Agus mantap.
"Ikut saya Tuan!" Agus mengangguk mengerti dia menatap sekelilingnya bebas memilih.
"Bungkus ini dan ini!" tunjuk Agus.
"Baik Tuan." Agus langsung keluar dari dapat itu untuk membayar semua barang belanjaannya.
"Agus?" panggil seseorang.
Agus menoleh samping dia langsung tidak menyukai wanita yang berhadapan dengannya saat ini.
"Halimah?" ucapnya pelan.
"Kau sendiri? Kenapa tidak mengajakku kalau sendirian ke sini kak aku bisa menemanimu Agus," ucapnya manja.
"Aku hanya membeli mainan untuk putraku dan juga istriku," balasnya penuh penekanan.
"Agus, boleh kita bicara sebentar ada yang ingin mau ku katakan kepadamu,", pinta Halimah.
"Lain kali saja, istri dan putraku menunggu di rumah." Setelah menerima paper bag, Agus meninggalkan Halima begitu saja.
"Agus, hanya karena wanita itu kalau tidak mau melirikku?" batin Halima tidak terima.
Agus kembali melanjutkan perjalanannya ke rumah namun pikirannya terjadi kepada Halima mantannya terdahulu.
"Jangan sampai Anggi tahu aku bersama dengan Halima," batinnya.
Tidak lama kemudian mobil itu memasuki pekarangan rumah yang besar dan luas. Kedatangannya langsung disambut Anggi dan tidak lupa menggendong baby boy.
"Hai, apa yang kalian lakukan di sini panas?" protes Agus.
"Kami menyambut, tidak boleh ya?" Anggi terlihat cemberut langsung masuk ke dalam tidak melihat benda yang dibawa Agus.
"Terima kasih ya, coba sering-sering seperti ini aku semakin cinta," goda Agus.
Anggi menjadi salah tingkah, ia memalingkan wajahnya yang memerah. Untung baby boy menangis Agus tidak melihatnya.
"Kenapa boy? Apa yang kau inginkan?" tanya Agus lalu mengambil alih baby boy.
"Mungkin dia haus," tebak Anggi.
"Berikan dia susu," ucap Agus.
Anggi mengangguk mengerti, lalu Agus sudah menyuruh pelayan untuk membawa mainan anak-anak ke kamar.
Setelah memastikan baby boy baik Agus dan Anggi menuju ke kamar utama.
"Aku mau mandi, kau lebih baik membawa baby boy ke kamar ya agar bisa tidur dengan tenang," ucap Agus pelan.
"Lalu, air mu bagaimana?" Pertanyaan Anggi membuatnya ingin melayang kalau bukan karena baby boy, mereka berdua pasti sudah menghabiskan waktu bersama di bawah guyuran shower.
"Aku bisa melakukannya sayang." Agus mengusap kepala Anggi lalu masuk ke dalam kamar mandi.