NovelToon NovelToon
Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.

Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.

Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.

Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.

Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.

Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Masih Bisa Kita Perbaiki

"Simpul dasimu terbalik, Daniel."

Suara Stefanus memecah keheningan ruang kerja di ruko yang mereka sulap menjadi kantor aliansi.

Daniel mendongak dari cermin kecil di sudut ruangan. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia buru-buru melepas ikatan dasi sutra biru tua itu.

Stefanus meletakkan berkas di atas meja, lalu melangkah tenang menghampiri analis keuangan muda tersebut.

"Biar aku bantu."

"Tidak usah, Pak Stefanus." Daniel buru-buru menggeleng. "Saya bisa merapikannya sendiri."

"Tanganmu gemetar dari tadi." Stefanus berdiri di belakang Daniel. "Rapat dewan logistik pertama kita dimulai satu jam lagi. Kamu tidak bisa masuk ke ruang rapat dengan penampilan seperti ini."

Stefanus mengambil dasi itu dari tangan Daniel. Jemarinya bergerak luwes dan terampil, merapikan simpul yang sempat berantakan.

"Lipat bagian yang lebar menindih bagian yang kecil," ujar Stefanus pelan. Suaranya rendah dan sabar. "Lalu tarik ke atas lewat celah kerah."

Daniel menelan ludah. Tatapannya terpaku pada pantulan Stefanus di cermin. Wajah pria itu tetap tenang, tanpa sedikit pun menunjukkan kecurigaan.

Justru kebaikan sederhana itulah yang paling menyiksa batin Daniel. Ia memejamkan mata sejenak. Rasa bersalah terus menggerogoti dadanya.

"Saya belum pernah pakai dasi sebelumnya," gumam Daniel dengan suara parau. "Waktu masih kuliah, saya cuma punya satu kemeja putih lengan panjang. Itu pun warnanya sudah pudar."

"Semua orang pernah menjalani yang pertama." Stefanus merapikan simpul dasi itu hingga pas di tengah kerah Daniel. "Pakaian formal bukan untuk pamer. Ini perlengkapanmu saat berhadapan dengan para petinggi Mahendra Group nanti."

Nama Mahendra Group menghantam dada Daniel seketika.

Pikiran Daniel langsung melayang ke rentetan kejadian beberapa hari terakhir. Ia teringat koper hitam berisi tumpukan uang dari Theo. Utang rumahnya yang mendadak lunas. Biaya pengobatan adiknya di rumah sakit yang tiba-tiba sudah dibayar seseorang tanpa nama.

Lalu pesan-pesan ancaman dari orang suruhan Sebastian yang terus memenuhi ponselnya setiap malam.

"Apakah Bapak tidak takut membawa saya masuk ke ruang rapat penting itu?" tanya Daniel. Dadanya naik turun menahan beban yang terasa semakin berat.

Stefanus merapikan kerah jas hitam Daniel, lalu menepis setitik debu di bahunya.

"Kenapa aku harus takut?" balas Stefanus tenang.

"Saya cuma mahasiswa yang sedang kena skorsing." Daniel mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Matanya memerah menahan gejolak emosi. "Saya tidak punya keluarga yang bisa dibanggakan. Saya bahkan belum tentu pantas dipercaya. Saya bisa saja menghancurkan rencana besar kalian hari ini."

Stefanus menghentikan tangannya. Ia memutar tubuh Daniel hingga mereka berdiri saling berhadapan.

"Kamu ada di sini karena kemampuanmu, Daniel." Tatapan Stefanus lurus menatap mata pemuda itu. "Shaquena percaya pada kemampuan analisismu. Dan aku selalu percaya pada pilihan istriku."

Kepercayaan.

Satu kata itu meruntuhkan sisa pertahanan Daniel. Ia memalingkan wajah. Napasnya mulai memburu.

Menjalani hidup sebagai mata-mata ganda perlahan mengikis kewarasannya. Setiap hari ia bekerja di ruangan ini. Menyantap masakan hangat yang dibawakan Shaquena. Mengenakan setelan jas yang baru dibelikan Stefanus.

Namun di balik semua kebaikan itu, ia tetap harus mengirim laporan tentang aktivitas mereka kepada tangan kanan Sebastian.

Pengkhianatan ini membuat Daniel merasa begitu kotor. Bahkan lebih kotor daripada lumpur di selokan.

"Tarik napas yang dalam, Daniel," ujar Stefanus, membuyarkan lamunannya. "Orang-orang di ruang rapat itu juga manusia. Mereka bisa panik, bisa serakah, dan bisa membuat kesalahan."

"Tapi mereka punya uang dan kuasa, Pak."

"Uang tidak bisa membeli kecerdasan. Logika dan kejernihan pikiranmu jauh lebih berharga daripada jas yang sedang kamu pakai."

Daniel menunduk. Jemarinya meremas ujung jas.

"Bapak dan Bu Shaquena terlalu baik kepada saya."

Stefanus tersenyum tipis. "Kami bukan orang baik. Kami hanya tahu cara menghargai orang yang kemampuannya diabaikan orang lain."

Daniel menelan ludah. Kepalanya dipenuhi pertentangan.

Satu sisi dirinya ingin tetap diam demi utang yang sudah dilunasi Sebastian. Namun, hati kecilnya menjerit setiap kali memandang pria di hadapannya. Pria yang memberinya tempat bernaung saat seluruh kampus menutup pintu untuknya.

"Pak Stefanus," Daniel akhirnya memberanikan diri. "Orang-orang dari Mahendra Group tidak akan pernah bermain bersih. Mereka pasti sudah menyiapkan jebakan lain untuk menghancurkan aliansi ini."

"Aku tahu."

"Mereka bisa menyuap siapa saja. Mereka juga bisa memanfaatkan informasi sekecil apa pun untuk menyerang kelemahan Bapak."

Stefanus mengangguk pelan. Ia mundur selangkah, memperhatikan simpul dasi Daniel. Kini letaknya sudah rapi, pas di tengah kerah.

"Itulah sebabnya Shaquena membentuk aliansi ini secara diam-diam," jawab Stefanus. "Kita sedang berperang melawan raksasa. Fitnah, jebakan, dan kekalahan kecil adalah hal yang pasti kita hadapi di awal."

Daniel menggigit bibir bawahnya. Kata fitnah itu terasa seperti tamparan untuk dirinya sendiri.

"Bagaimana kalau ada pengkhianat di dalam tim kita?" tanyanya nekat. Suaranya bergetar hingga terdengar asing di telinganya. "Bagaimana kalau ada orang yang membocorkan rahasia Bapak demi biaya berobat keluarganya?"

Stefanus menatap wajah pucat Daniel. Ruangan itu seketika diliputi keheningan.

Daniel bersiap menerima amarah. Ia bahkan siap jika Stefanus mencengkeram kerahnya dan menghajarnya saat itu juga. Memang itulah yang pantas ia terima.

Namun Stefanus hanya tersenyum tipis. Senyum yang tenang, seolah memahami sesuatu.

"Orang yang berkhianat karena tamak pada uang akan mengkhianat lagi saat ada yang membayar lebih mahal." Stefanus menepuk bahu Daniel pelan. "Tapi orang yang berkhianat karena putus asa ingin menyelamatkan keluarganya, terkadang hanya butuh satu uluran tangan untuk keluar dari neraka itu."

Daniel membeku. Kalimat tenang itu seolah membuka semua rahasia yang selama ini ia sembunyikan.

Stefanus tahu. Pria pendiam itu tahu segalanya.

Air mata menggenang di pelupuk mata Daniel. Belum pernah ia merasa sehina ini. Stefanus dan Shaquena tahu ia adalah penyusup, tetapi mereka tetap melunasi utang keluarganya dan memperlakukannya seperti keluarga sendiri.

"Pak, saya..." Suara Daniel pecah.

Ia ingin mengaku sekarang juga. Meminta maaf. Menebus kesalahannya karena telah membocorkan jadwal hotel Stefanus semalam.

"Nanti kita bicarakan setelah rapat dewan selesai," sela Stefanus lembut. "Sekarang fokus pada data kelemahan logistik mereka. Itu tugasmu hari ini."

Daniel mengangguk cepat sambil mengusap sudut matanya.

"Saya minta maaf, Pak. Saya benar-benar minta maaf."

Stefanus menggeleng pelan. "Kamu tidak perlu meminta maaf untuk kesalahan yang masih bisa kita perbaiki bersama."

Stefanus berbalik menuju meja kerjanya. Ia merapikan kerah kemeja, lalu memasukkan beberapa map laporan logistik ke dalam tas kulit hitam yang selalu dibawanya.

Pagi itu ruko terasa lengang. Shaquena belum datang karena masih mengurus dokumen pengalihan aset pabrik Mahardika di kantor notaris. Sementara Maya berada di kampus untuk menyelesaikan administrasi ujian skripsinya.

Di ruangan sederhana itu, hanya ada mereka berdua.

Stefanus melirik jam tangan peraknya. Jarumnya menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit.

Sudah waktunya berangkat menghadiri rapat dewan logistik.

Stefanus baru saja meraih tas kerjanya ketika suara decitan ban memekakkan telinga terdengar dari luar ruko.

Bukan satu mobil.

Tiga kendaraan berhenti mendadak hampir bersamaan di depan kantor mereka.

Pintu-pintu mobil dibanting keras. Disusul derap sepatu bot yang berlari cepat menuju pintu masuk. Jumlahnya lebih dari lima orang.

Daniel refleks mundur hingga punggungnya membentur meja. Jantungnya berdegup kencang.

"Ada tamu, Pak?"

Stefanus tidak menjawab. Nalurinya langsung memberi peringatan. Ia melepaskan tas kerjanya begitu saja hingga jatuh ke lantai, lalu berdiri menghadap pintu masuk.

Brak! Brak! Brak!

Gedoran keras mengguncang pintu kaca. Daun pintu bergetar hebat menahan hantaman dari luar.

Stefanus baru hendak melangkah ketika pintu itu didobrak dengan paksa.

Brak!

Engsel besinya berderit keras. Pecahan kaca berhamburan ke lantai.

Belasan polisi berseragam menerobos masuk.

"Stefanus Mahendra?" tanya seorang perwira sambil mengangkat selembar surat. "Kami membawa surat panggilan paksa terkait laporan dugaan pelecehan terhadap Saudari Clarissa."

1
watno antonio
lanjut thor
Carisoy
Baca nti ajh tunggu kalau sudah selesai revisi deh👍
DdCantik
Emang bisaan bikin cerita seru, jadi si shqena paling udah gila, mantaplah ayok lanjut
DdCantik
Semangat 💪💪💪💪
Fahreziy
👣👣👣
falea sezi
jd saquena uda gila kali q 😓
falea sezi
baru aja baca😕 uda nyesek😓 air mata keluar sendiir😓
DdCantik
ribet banget jadi orang kaya🤭
Pratiwiajah
kaya gini palingan beneran ada di Konoha sini ya????🤭
Pratiwiajah
ok Fik aku benci si basbas ini
Pratiwiajah
tragis bgt/Sob/
NolaRona
up🙏
Betharia Anggita Dominique
thor, bikin cerita mesti sadis👍
Betharia Anggita Dominique
bagussss👍👍👍👍
Betharia Anggita Dominique
wih, kaga bisa bayangin begimana jadi shaqena duh
Betharia Anggita Dominique
keluarga lucknut
Jitison
ditunggu 🙏
Jitison
kasihan skali
Carisoy
lanjutkan yu
DdCantik
makin seru👍👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!