Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.
Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.
Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sisi lain yang terbuka
Kelas praktikum Basis Data bersama Pak Bambang berakhir tepat pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Begitu pintu laboratorium dibuka, koridor lantai tiga langsung dipenuhi oleh riuh rendah suara obrolan mahasiswa yang tampak kelelahan setelah dua jam penuh bergelut.
"Aduh, Rin, kepalaku rasanya mau pecah. tadi bener-bener bikin pusing," keluh Dinda sembari meregangkan kedua tangannya ke atas saat kami berjalan menyusuri tangga menuju lantai dasar.
"Tapi untung kamu bisa menyelesaikan semua studi kasusnya tepat waktu, Din," sahutku sembari tersenyum tipis, mencoba menyemangatinya.
"Iya sih, berkat contekan logika dari kamu juga tadi," cengir Dinda tanpa dosa. "Eh, omong-omong, kamu ada kelas lagi nggak setelah ini? Mau nemenin aku ke koperasi mahasiswa bentar beli buku modul?"
Aku melirik layar ponselku sejenak. Tidak ada pesan masuk dari Mas Arkan, yang berarti aku bebas hingga sore nanti. "Boleh deh, yuk. Aku juga mau beli beberapa pulpen baru."
Kami berjalan beriringan melintasi taman tengah fakultas yang asri menuju gedung koperasi. Namun, saat melewati area lobi gedung dekanat yang berlantai marmer bersih, langkah kaki Dinda mendadak melambat. Matanya menatap lurus ke arah papan pengumuman besar di dekat ruang administrasi dosen.
"Eh, Rin, lihat deh. Itu bukannya Pak Arkan ya?" bisik Dinda sembari menyenggol lenganku pelan.
Aku menoleh ke arah yang ditunjuk Dinda. Di dekat pintu masuk ruang rapat utama, Mas Arkan tampak sedang berdiri bersama beberapa dosen senior dan perwakilan dari pihak luar kampus. Hari ini dia terlihat sangat berwibawa dengan kemeja batik lengan panjangnya. Ia sedang menjelaskan sesuatu pada lembaran dokumen di tangannya dengan gestur tubuh yang sangat tenang, tegas, dan penuh percaya diri.
Para dosen senior di sekelilingnya tampak mengangguk-angguk setuju mendengarkan penjelasannya, sementara perwakilan pihak luar terlihat beberapa kali menjabat tangannya dengan senyum penuh hormat.
"Gila ya, Pak Arkan itu masih muda banget tapi karirnya udah melesat gitu," gumam Dinda dengan nada kagum yang jarang ia tunjukkan untuk dosen killer. "Dengar-dengar dari anak angkatan atas, beliau itu salah satu lulusan terbaik luar negeri dan punya sertifikasi keamanan informasi tingkat internasional yang susah banget didapetin."
Aku terdiam menatap sosok Mas Arkan dari kejauhan. Ada rasa bangga yang tiba-tiba membuncah di dalam dadaku mendengar pujian Dinda untuk pria itu. Pria hebat yang sedang menjadi pusat perhatian di lobi dekanat itu adalah suamiku—seseorang yang beberapa jam lalu berdiri sabar di dapur apartemen kami, memegang pengering rambut untuk mengeringkan rambut basahku dengan sangat lembut.
"Karin? Kok malah melamun sih? Yuk ah, keburu rame koperasinya," ajak Dinda menarik lenganku kembali, memecah lamunanku.
"E-eh, iya, Din. Yuk," sahutku buru-buru memalingkan wajah sebelum Mas Arkan tidak sengaja menoleh dan menangkap basah aku yang sedang memperhatikannya dari kejauhan.
Sore harinya, tepat pukul empat, aku sudah kembali berada di dalam apartemen unit 1507. Suasana di luar sedang gerimis tipis, membuat suhu di dalam ruangan terasa semakin dingin dan sejuk.
Aku memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah mandi dan keramas, aku mengenakan celana kulot santai berwarna cokelat muda dan kaos lengan panjang rajut tipis berwarna putih tulang. Rambut panjangku yang masih setengah basah sengaja kubiarkan terurai di punggung agar lebih cepat kering dengan bantuan hembusan angin dari jendela balkon yang kubuka sedikit.
Saat sedang asyik merapikan beberapa buku kuliah di meja belajar kamarku, terdengar suara pintu utama apartemen terbuka otomatis dari luar.
Klik.
Aku melangkah keluar dari kamar dan mendapati Mas Arkan baru saja masuk dengan membawa sebuah kantong plastik putih berukuran sedang dari salah satu toko obat herbal terkenal di dekat kampus. Wajahnya tampak sedikit lelah, dengan lingkaran hitam tipis yang samar di bawah matanya karena kesibukannya yang padat seharian ini.
"Eh, Mas Arkan sudah pulang?" sapaku lembut sembari mendekatinya.
Mas Arkan meletakkan kantong plastik tersebut di atas meja konter dapur, lalu melonggarkan letak kerah kemeja batiknya dengan gerakan tangan yang sangat maskulin. "Iya. Rapat evaluasi kurikulum tadi selesai lebih cepat dari perkiraan."
Matanya kemudian tertuju pada rambut panjangku yang masih sedikit basah dan terurai bebas di pundak. "Rambut kamu masih basah lagi, Karin. Kenapa tidak dikeringkan dengan benar?"
"Ini mau dikeringin pakai handuk kok, Mas. Tadi habis mandi langsung beres-beres buku dulu sebentar," jawabku defensif sembari tersenyum canggung.
Mas Arkan tidak menyahut lagi. Ia meraih kantong plastik putih yang dibawanya tadi, lalu mengeluarkannya satu per satu di atas meja. Di sana ada beberapa botol minyak aromaterapi, jahe merah instan kemasan premium, dan sebuah kotak kecil berisi teh herbal hangat.
"Ini untuk apa, Mas?" tanyaku penasaran, memperhatikan barang-barang tersebut.
"Untuk Ibu kamu," jawab Mas Arkan tenang, menatapku lurus-lulut dengan sepasang mata cokelat gelapnya yang sangat teduh. "Tadi siang saya sempat menghubungi pihak rumah sakit tempat Ibu kamu dirawat untuk menanyakan perkembangannya. Dokter bilang kondisi fisiknya mulai membaik, tapi beliau sering mengeluh sulit tidur karena udara malam yang dingin di ruang perawatan."
Jantungku seketika berdegup kencang mendengar penjelasannya. Rasa haru dan hangat yang luar biasa hebat langsung menyerbu seluruh relung hatiku, membuat mataku mendadak terasa sedikit panas karena genangan air mata yang menahan haru.
"Mas Arkan... sampai segitunya mikirin Ibu?" bisikku lirih, menatap botol-botol minyak herbal di hadapanku dengan perasaan campur aduk yang sangat mendalam.
"Ibu kamu adalah prioritas kita saat ini, Karin," ujar Mas Arkan sembari melangkah satu kali lebih dekat, meletakkan tangan kanannya di atas pundakku dengan remasan yang sangat lembut dan menenangkan. "Saya sudah berjanji pada Kakek Danu dan juga pada diri saya sendiri untuk memastikan keluarga kamu mendapatkan perawatan terbaik. Jadi, kamu tidak perlu sungkan atau merasa tidak enak hati."
Aku mendongak, menatap langsung ke dalam sepasang mata tajamnya yang kini memancarkan ketulusan yang sangat murni tanpa ada kepura-puraan sedikit pun di sana. Di balik penampilannya yang super dingin, kaku, dan ditakuti di kampus, Mas Arkan terbukti memiliki hati yang sangat lembut dan luar biasa penuh perhatian pada hal-hal kecil yang bahkan tidak terpikirkan olehku sendiri.
"Terima kasih banyak ya, Mas... Karin bener-bener gak tahu harus balas kebaikan Mas Arkan pakai apa lagi," ujarku tulus, setitik air mata akhirnya lolos membasahi pipi kananku.
Mas Arkan tertegun sejenak melihat air mataku yang jatuh. Dengan gerakan tangan yang sangat perlahan dan canggung khas seorang pria yang jarang berinteraksi dekat dengan perempuan ia mengangkat ibu jari tangan kanannya untuk mengusap sisa air mata di pipiku dengan sangat lembut.
Sentuhan kulit jarinya yang hangat di pipiku terasa sangat nyata, mengirimkan getaran debaran yang sangat hebat hingga membuatku refleks menahan napas selama beberapa detik penuh di dalam kesunyian dapur apartemen kami sore itu.
"Jangan menangis, Karin. Saya tidak suka melihat kamu bersedih seperti ini," bisiknya dengan suara berat yang sangat rendah dan serak dari jarak dekat, menatapku dengan sorot mata yang dipenuhi oleh kehangatan yang membuat seluruh duniaku seolah-olah berhenti berputar malam itu.