Bebas dari tuduhan konspirasi penculikan yang dirancang mantan kekasihnya, Michaela Hokked (24) memilih mati demi melepaskan diri dari masa lalu yang busuk.
Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam.
Pelariannya menuju Los Angeles hancur bersama taksi yang ia tumpangi dalam kecelakaan maut yang meremukkan wajahnya.
Enam bulan koma dan melewati enam
Kali operasi wajah, Michaela terbangun dengan rupa baru: wajah cantik milik Cecilia Lynch, wanita bermata teduh yang kecelakaan bersamanya.
Kini, Michaela terjebak sebagai 'Cecilia' di hadapan Killian Vale-Knight (28 th) pria berkuasa yang mengaku sebagai kekasih jarak jauh Cecilia.
Tanpa kecurigaan, keluarga miliarder itu menghujaninya dengan kasih sayang yang tak pernah ia miliki.
Namun, kenyataan pahit menghantam: Cecilia asli tewas dalam keadaan hamil, Mencuri identitas Cecilia adalah tiket kebebasannya, atau justru awal dari labirin misteri yang mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
028
Gagang pintu kayu ek itu berputar tanpa suara.
Killian Vale-Knight melangkah keluar dari dalam dinginnya kamar mandi, bertransformasi kembali dalam sekejap mata. Seluruh kilat amarah, senyuman mengerikan, dan tatapan penuh curiga yang baru saja ia tumpahkan di depan cermin wastafel, kini lenyap tak berbekas.
Wajahnya kembali melunak, digantikan oleh gurat kecemasan yang teramat pas dan ekspresi hangat seorang suami yang dipenuhi rasa bersalah.
Di atas ranjang perawatan VIP yang diterangi temaram lampu dinding, Michaela Hokked masih memejamkan matanya.
Napasnya teratur, namun sisa-sisa air mata yang mengering di sudut matanya mempertegas kerapuhan yang ia miliki.
Killian berjalan mendekat dengan langkah yang sengaja diperlambat, nyaris tanpa suara. Ia duduk di tepi kasur, tepat di samping tubuh istrinya.
Tangan kanannya yang besar bergerak perlahan, mengusap dengan lembut anak rambut pirang madu milik Michaela yang menempel di dahi, menyalurkan kehangatan semu yang terasa begitu nyata.
Kau sangat pandai bermain peran, Michaela, bisik Killian di dalam hatinya, sementara matanya menatap wanita itu dengan binar yang tampak begitu penuh cinta.
Mari kita lihat seberapa jauh kepura-puraan ini bisa membawamu kedalam neraka.
Michaela melenguh pelan.
Sentuhan lembut di dahinya perlahan menarik kesadarannya kembali dari kegelapan tidur.
Sepasang mata cokelat keemasannya terbuka perlahan, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan.
Hal pertama yang ia tangkap adalah wajah tampan Killian yang sedang menatapnya dengan senyuman tipis yang teramat tulus—atau setidaknya, terlihat sangat tulus.
"Yin..." bisik Michaela, suaranya masih serak khas orang yang baru bangun tidur. Ia mencoba menegakkan tubuhnya, namun Killian dengan cepat menahan bahunya dengan lembut.
"Tetaplah berbaring, Sayang," ucap Killian, suaranya baritonnya terdengar begitu merdu dan menenangkan, seolah pria yang beberapa menit lalu mengutuk kebohongannya di dalam toilet adalah orang yang berbeda.
"Kau masih lelah. Dokter bilang imun tubuhmu belum sepenuhnya stabil setelah syok emosional tadi."
Michaela tersenyum tipis, merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya. Genggaman tangan Killian yang erat di jemarinya membuat rasa takut yang sempat ditanamkan oleh makian kakaknya, Gabriella, perlahan menyusut.
Gadis itu merasa, untuk pertama kalinya dalam hidup, ada sebuah pelabuhan kokoh yang siap melindunginya dari badai apa pun di luar sana.
Dia tidak pernah tahu bahwa pelabuhan itu kini telah berubah menjadi perangkap yang tak kasatmata.
"Kau tidak tidur?" tanya Michaela, jemari kecilnya bergerak mengusap punggung tangan Killian.
"Bagaimana aku bisa tidur setelah mengetahui bahwa aku hampir saja kehilangan wanita sehebat dirimu karena dendam bodohku?" Killian membawa jemari Michaela ke bibirnya, mengecupnya dengan takzim sembari menatap lurus ke dalam manik mata istrinya.
"Aku menghabiskan waktu di kamar mandi untuk merenungi betapa beruntungnya aku. Tuhan mengirimkanmu, Michaela... bukan Cecilia. Dan aku bersumpah tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua ini."
Mendengar nama aslinya disebut dengan begitu penuh penghormatan oleh Killian, air mata haru kembali menggenang di sudut mata Michaela.
Dia merasa seluruh penderitaannya selama enam bulan ini terbayar lunas. Kebohongannya di masa lalu kini terasa dimaafkan sepenuhnya oleh cinta pria ini.
...ΩΩΩΩΩΩ...
Fajar menyingsing di ufuk timur Los Angeles, menembus celah tirai putih kamar VIP nomor 402.
Tepat pukul enam pagi, ketukan pelan di pintu kamar menandakan dimulainya babak baru dari sandiwara yang telah dirancang dengan matang.
Daddy Kaelor datang dengan orang kepercayaan Killian, melangkah masuk dengan setelan jas hitam yang rapi.
Di belakangnya, seorang pria paruh baya mengenakan jubah pendeta putih dengan kalung salib perak berjalan dengan langkah anggun yang tenang.
Di tangan Kaelor, sebuah map kulit hitam berisi dokumen pernikahan yang baru, yang telah diurus melalui jalur hukum khusus keluarga Knight semalaman penuh, siap untuk ditandatangani.
Killian berdiri dari duduknya, merapikan kemejanya yang sedikit kusut sebelum menatap Michaela yang kini sudah bersandar pada bantal ranjangnya.
"Pendeta sudah tiba, Sayang," ucap Killian lembut, membantu Michaela merapikan pakaian rumah sakitnya yang longgar agar terlihat lebih pantas.
"Seperti janjiku semalam. Hari ini, di dalam ruangan ini, kita akan menghapus nama Cecilia Lynch dari takdir kita. Kau akan mengikat janji denganku atas namamu sendiri. Michaela Hokked."
Michaela mengangguk dengan dada yang bergemuruh hebat oleh rasa bahagia yang bercampur aduk.
Prosesi itu berlangsung dengan sangat khidmat di dalam kamar rumah sakit yang sunyi.
Pendeta mulai membacakan ayat-ayat suci pernikahan, suaranya yang berat menggema, memberikan kesucian semu di tengah badai kebohongan yang sedang dirajut oleh sang mempelai pria.
Killian menggenggam kedua tangan Michaela.
Matanya menatap lekat pada wajah wanita itu, mengucapkan setiap bait sumpah pernikahan baru dengan intonasi yang begitu tegas, meyakinkan, dan terdengar sangat emosional.
Di depan pendeta dan saksi, Killian berjanji untuk mencintai, menjaga, dan melindungi Michaela Hokked dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan mereka.
"Aku menerimamu, Michaela Hokked, sebagai istriku yang sah," ucap Killian, menyelipkan sebuah cincin berlian baru yang dibawa oleh Kaelor ke jari manis Michaela.
Cincin itu adalah simbol baru, menggantikan cincin lama yang pernah ia sematkan atas nama Cecilia.
Michaela mengucapkan sumpahnya dengan suara yang bergetar menahan tangis bahagia.
Ketika pena beralih ke tangannya, dengan jemari yang gemetar, ia membubuhkan tanda tangan di atas dokumen hukum yang baru.
Di sana, tertulis dengan jelas namanya yang asli: Michaela Hokked.
Air matanya jatuh tepat di samping guratan tintanya, sebuah simbol dari kebebasan jiwanya yang selama ini terperangkap dalam identitas orang lain.
Killian tersenyum sangat manis, mendekat untuk mengecup dahi istrinya dengan durasi yang lama setelah pendeta menyatakan pernikahan mereka sah secara hukum dan agama.
Namun, di balik mata elangnya yang terpejam saat mengecup dahi itu, Killian sedang menatap dokumen yang baru saja ditandatangani.
Sekarang, kau resmi menjadi milikku di atas kertas, Michaela, batin Killian dingin.
Kau berada di dalam teritorial hukum keluarga Knight. Tidak ada jalan kembali ke jalanan, dan tidak ada jalan kembali pada Hidupmu.
...***...
Setelah prosesi sumpah baru selesai dan pendeta serta Kaelor meninggalkan ruangan, Dr. Helen masuk bersama seorang perawat senior.
Di tangannya, sebuah nampan perak berisi botol infus baru dan sebuah suntikan berukuran sedang telah siap.
"Selamat atas pernikahan barunya, Nyonya Knight," ucap Dr. Helen dengan senyuman profesional yang ramah, menjabat tangan Michaela yang tampak masih memerah wajahnya karena sisa kebahagiaan tadi.
"Terima kasih, Dokter," jawab Michaela tulus.
Killian berdiri di samping ranjang, melipat kedua tangannya di dada sembari memperhatikan setiap pergerakan Dr. Helen dengan tatapan yang sangat tenang, namun sarat akan instruksi rahasia yang tersembunyi.
"Helen, pastikan istriku mendapatkan vitamin dan penguat imun terbaik pagi ini. Kejadian semalam benar-benar menguras energinya," ucap Killian dengan nada suara yang penuh perhatian seorang suami pelindung.
"Tentu saja, Tuan Knight. Ini adalah formula khusus untuk memulihkan kelelahan ekstrem dan menstabilkan hormon Nyonya setelah syok emosional," jawab Dr. Helen, memutar katup infus dan menyuntikkan cairan bening dari spuit ke dalam selang infus yang mengalir langsung ke pembuluh darah di pergelangan tangan Michaela.
Michaela hanya memandangi cairan yang masuk ke dalam tubuhnya itu dengan kepasrahan yang murni.
Dia tidak pernah tahu, bahwa cairan bening yang baru saja disuntikkan oleh Dr. Helen ke dalam selang infusnya bukanlah sekadar vitamin penguat imun.
Itu adalah hormon kontrasepsi dosis tinggi jangka panjang yang telah diperintahkan oleh Killian semalam—sebuah pelindung mutlak yang memastikan rahim Michaela tidak akan pernah bisa mengandung ahli waris keluarga Knight selama situasi ini berada di bawah kendalinya.
"Bagaimana rasanya, Sayang? Apa lenganmu terasa sakit?" tanya Killian lembut, duduk kembali di tepi kasur dan mengusap pelan punggung tangan Michaela yang dipasangi infus.
"Sedikit dingin, Yin... tapi tidak apa-apa," jawab Michaela dengan senyuman manis, menatap suaminya dengan binar mata yang dipenuhi oleh rasa percaya yang seutuhnya.
"Terima kasih karena selalu menjagaku."
Killian membalas senyuman itu dengan sangat menawan, merapatkan tubuhnya untuk memberikan pelukan hangat.
Di balik punggung Michaela, mata elang Killian menatap lurus ke arah botol infus yang perlahan meneteskan cairan pencegah kehamilan itu ke dalam tubuh istrinya.
Permainan kepura-puraan ini telah dimulai dengan sempurna, dan Killian memastikan bahwa dialah satu-satunya sutradara yang memegang naskah hingga akhir babak.
itu Mischa kenapa muntah? mungkin kah hamil 🤨🤨🤨