Terbangun di masa lalu, tepat sebelum jerat takdir Daniel menjebaknya, Erica menolak menjadi korban untuk kedua kalinya.
Mengubah alur permainan adalah satu-satunya pilihan. Jika Daniel menggunakan nama besar Megantara untuk menghancurkannya, maka Erica akan menduduki takhta tertinggi di keluarga itu.
Ketika bidak catur mulai digerakkan dan rahasia satu per satu terkelupas, siapakah yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peluru di Balik Kabut dan Darah sang Jenderal
Ketegangan pasca penyergapan kapal penyelundup ternyata belum sepenuhnya menguap dari udara perbatasan utara.
Sore itu, kabut turun lebih cepat dan tebal dari biasanya, sehingga menelan deretan barak kayu dalam suasana hening yang terasa ganjil.
Di dalam rumah dinas, Erica Fiorenza sedang merapikan beberapa berkas laporan pembukuan konveksi Persit. Dia memaksakan diri untuk tetap fokus, meski instingnya sejak siang tadi merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan sunyinya pangkalan.
Eshar sedang berada di markas komando untuk mengurus berkas laporan Daniel bersama Axelo, meninggalkan rumah dinas dalam penjagaan dua prajurit di gerbang luar.
Kreekk...
Suara derit halus dari arah jendela dapur langsung membuat gerakan tangan Erica terhenti.
Kewaspadanya yang ditempa oleh trauma masa lalu membuatnya tidak berteriak. Dia meletakkan pulpennya dengan hati-hati, lalu perlahan berjalan mundur dengan sangat pelan menuju sudut ruangan yang gelap.
Tiba-tiba, daun jendela dapur terbuka secara paksa. Sesosok pria tegap berpakaian hitam dengan penutup wajah merayap masuk dengan gerakan yang terlatih.
Di tangannya, pria itu memegang seutas tali tambang nilon tebal dan sebuah saputangan yang berbau menyengat, sepertinya obat bius.
Penyusup! gumamnya dalam hati.
Erica membelalakkan mata.
Orang-orang Daniel atau jaringan penyelundup yang tersisa? pikirnya cepat.
Pria itu menyadari keberadaan Erica dan langsung melangkah maju dengan kecepatan tinggi.
Erica tidak tinggal diam.
Dengan memanfaatkan kegesitannya, dia menyambar sebuah vas bunga keramik tebal di atas bufet dan menghantamkannya tepat ke arah wajah penyusup itu, kemudian berlari kencang ingin keluar rumah.
Prang!
"Bangsat!" umpat pria itu saat keramik hancur di pelipisnya.
Amarah itu justru membuatnya semakin beringas. Dia segera berlari mengejar dan mencengkeram lengan Erica dengan kasar sebelum Erica berhasil membuka pintu, lalu berusaha membekap mulut wanita itu dengan saputangan beracun.
Erica meronta sekuat tenaga, mentalnya menolak untuk menyerah pada rasa takut. Dengan kekuatan yang ada, dia mencoba memukul tangan dan badan pria itu agar aksinya gagal.
"Tolong!" teriak Erica, berharap ada bantuan yang datang.
Di tengah pergulatan yang semakin terdesak itu, pintu depan rumah dinas dihantam terbuka dari luar dengan kekuatan penuh.
Brak!
"Lepaskan istriku!" Sebuah raungan berat dan menggambarkan murka seorang Jendral menggetarkan dinding papan rumah.
Jenderal Eshar Megantara berdiri di ambang pintu. Paras tampannya yang misterius kini tertutup oleh badai amarah yang mengerikan.
Melihat kedatangan sang Jenderal, penyusup itu panik. Dia melepaskan cengkramannya pada Erica dan mencoba berlari untuk melompat kembali dari jendela dapur untuk melarikan diri.
Tapi gerakan Eshar jauh lebih cepat bagai macan tutul yang menerkam mangsanya. Dengan satu sentakan taktis militer, Eshar menarik kaki pria itu hingga terjatuh ke lantai, lalu menghantamkan tinju ke rahang sang penyusup hingga tak sadarkan diri dalam sekali pukul.
Eshar segera berbalik, meraih pundak Erica dengan tangan yang gemetar, sebuah gerakan yang menjelaskan rasa khawatir yang belum pernah diperlihatkan sang Jenderal dingin itu sebelumnya.
"Erica! Kau terluka? Apakah ada yang sakit?"
Erica mendongak, menatap wajah suaminya dengan eskpresi takut, dan nafas sedikit terengah-engah.
"Aku baik-baik saja, Eshar. Untung kamu datang tepat waktu..."
Belum sempat Erica menyelesaikan kalimatnya, insting tajam Eshar menangkap sebuah kilatan cahaya kecil dari arah bukit seberang menembus kabut tebal melalui jendela yang terbuka. Sebuah bidikan teleskop senapan runduk (sniper).
"Menunduk!" teriak Eshar.
Dengan sisa kekuatannya, Eshar memeluk tubuh Erica dan memutarnya ke posisi aman di balik dinding beton pembatas ruang tengah.
Dor!
Suara desing peluru kaliber besar memecah suasana hening sore itu.
Sesaat setelah suara tembakan berlalu, Erica merasakan cairan kental yang hangat menetes di atas punggung tangannya.
Erica tersentak saat melihat seragam hijau lapangan milik Eshar di bagian bahu kanan mulai berubah warna menjadi merah pekat.
Peluru penembak jitu itu ternyata berhasil mengenai pundak sang Jenderal saat dia memposisikan dirinya sebagai perisai hidup untuk melindungi Erica.
"Eshar! Kau tertembak!" pekik Erica, wajah manis itu seketika memucat.
Eshar pun mengerang pelan, paras misteriusnya langsung menegang menahan rasa sakit yang luar biasa. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya, tapi mata coklatnya tetap menatap Erica dengan aura posesif yang tak padam.
"Jangan keluar rumah... tetap menunduk.." bisiknya dengan suara yang mulai melemah sebelum tubuh tegapnya ambruk bersandar pada bahu Erica.
Suasana pangkalan militer seketika berubah menjadi kacau. Sirine tanda bahaya meraung-raung membelah kabut. Axelo bersama satu regu pasukan bersenjata lengkap langsung menyerbu masuk ke dalam rumah dinas beberapa menit kemudian, sementara tim medis darurat pangkalan dengan cepat membawa tandu.
"Jenderal!" teriak Axelo yang kaget melihat keadaan atasannya.
"Cepat panggil tim dokter bedah sekarang!" teriak Axelo, wajah humorisnya hilang total, yang ada hanya rasa panik yang diberikan oleh seorang ajudan setia.
Rencana kepulangan mereka ke Jakarta minggu depan untuk mengeksekusi Daniel Megantara runtuh total dalam beberapa saat.
Fokus seluruh pangkalan perbatasan utara kini dialihkan sepenuhnya pada satu hal, yaitu menyelamatkan nyawa sang Panglima tertinggi.
Malam harinya, ruang perawatan darurat di dalam markas dikunci rapat dan dijaga ketat oleh pasukan elite Batalyon Infanteri.
Operasi pengangkatan peluru berlangsung selama dua jam yang menegangkan.
Erica berdiri di luar koridor, menolak untuk duduk atau beristirahat. Gaun terusan wolnya yang abu-abu kini ternoda oleh bercak darah kering milik Eshar.
Dia tetap berdiri tegap, meski jemarinya terkepal kuat hingga memutih. Rasa bersalah dan amarah bercampur aduk di dalam dadanya. Pria sedingin es itu, pria yang awalnya hanya terikat kontrak dengannya, baru saja mempertaruhkan nyawanya demi melindunginya.
Pintu ruang operasi akhirnya terbuka, dan dokter militer keluar seraya menyeka keringat.
"Bagaimana kondisi Jenderal, Dok?" Axelo langsung bertanya.
"Peluru berhasil diangkat, hampir mengenai arteri utama di pundaknya. Beruntung fisik Jenderal sangat kuat," ujar dokter tersebut lega.
"Tetapi, beliau kehilangan banyak darah dan mengalami demam tinggi pasca operasi. Jenderal harus istirahat total dan fokus pada penyembuhan selama beberapa minggu ke depan. Beliau tidak boleh melakukan pekerjaan berat dan perjalanan jauh, apalagi ke Jakarta."
Axelo menghela napas panjang, lalu menoleh pada Erica.
"Nyonya Besar... perjalanan kita ke Jakarta terpaksa ditunda. Kita harus fokus pada kesembuhan Jenderal dulu di sini."
Erica menatap pintu ruang rawat. Di dalam sana, tubuh tegap Eshar terbaring lemah dengan perban tebal yang membalut pundak kanannya. Wajah cemas Erica kini sepenuhnya menguap, digantikan oleh tatapan mata yang sedingin es perbatasan.
Dia berjanji akan menghancurkan siapapun yang menjadi dalang di balik serangan ini.
"Aku mengerti, Axelo," ujar Erica, suaranya terdengar jernih, tenang, tapi menyimpan getaran ancaman yang mematikan.
"Biarkan Daniel dan Bianca merasa aman di Jakarta untuk sementara waktu. Mereka mengira serangan ini bisa menghentikan kita. Mereka tidak tahu, bahwa saat Eshar sembuh nanti, singa yang mereka lukai ini akan kembali ke Jakarta untuk menguliti mereka tanpa sisa."
"Mulai malam ini, aku sendiri yang akan merawat suamiku sampai benar-benar pulih." Erica langsung melangkah masuk ke dalam kamar rawat, mengambil tempat di sisi ranjang Eshar, dan menggenggam tangan suaminya yang dingin dengan erat.
Pertempuran di perbatasan ternyata belum usai, dan Erica siap menjadi benteng pertahanan bagi sang Jenderal yang telah menjadi perisainya.
😁😁😁😁
kalian udh punya harta masing2 , keluarga masing2 Dan kebahagiaan masing2 ( tu pun kalo bnran punya) ,,,,
Masih aj ganggu hidup org lain ,, Masih aj ngurusin yg bukan hak ny ,,
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
😒😒😒😒😒😒
km slah justru dy pergi krn sedang menyiapkan serangan balasan yg lebih dr kejam ,, 😏😏😏😏😏😏
semangat 💪💪💪
liat kuat imronmun saja pak eshra 🤭🤭
begitulah kalau berhadapan dengan seorang yg berpangkat jendral, apa lagi plis tampan nya ga ketolongan 🤣🤣🤣
awas jangan pingsan 🤭🤭🤭