Sekte kuno Pedang Langit yang berjaya selama seribu tahun, dalam lima ratus tahun terakhir mengalami kemunduran akibat seluruh guru besar dan murid sekte bahkan sesepuh serta ketua sekte tewas dalam perang melawan Klan Iblis. Hanya tersisa, seorang murid luar Li Tianchen dan mendapatkan warisan dari guru besar. li Tianchen menjadi ketua sekte Pedang Langit.
Hidup damai dan nyamannya mulai terusik, saat Sekte -sekte baru menyerang dan ingin menguasai wilayah sekte Pedang Langit.
Mampukah Li Tianchen mempertahankan sekte pedang Langit? Dapatkah Tianchen mendapatkan murid untuk membantu sekte meraih puncak tertinggi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKTE KUNO 34
Dua murid Sekte Awan Surya yang menyaksikan hal tersebut gemetaran hebat. Lutut mereka lemas, dan senjata di tangan mereka terjatuh ke tanah. Rasa takut yang teramat sangat mencengkeram jiwa mereka saat menatap pemuda berjubah putih itu.
Tianchen tidak lagi mempedulikan rombongan sekte yang kini ketakutan setengah mati. Ia berbalik perlahan, melangkah menuju Kakek Lu yang masih terbaring lemas di tanah bersama Xiao Chen yang menangis.
Tianchen berjongkok di samping Kakek Lu. Matanya memindai struktur fisik kakek tua tersebut.
"Tubuh Sakti Tempur yang belum bangkit..." gumam Tianchen pelan, sebuah senyuman tipis terbit di bibirnya. "Ternyata keberadaanku turun gunung hari ini tidak sia-sia sama sekali."
Tianchen merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah botol giok kecil. Dari dalamnya, ia mengambil sebuah pil berwarna emas murni yang memancarkan aroma obat yang sangat harum, Pil Pemurni Sumsum.
Ia memasukkan pil tersebut ke dalam mulut Kakek Lu, lalu menempelkan telapak tangannya di dada kakek tua itu untuk membantu menyalurkan khasiat obatnya.
Sreeeeeng!
Dalam hitungan detik, keajaiban terjadi! Luka-luka dalam di tubuh Kakek Lu sembuh secara instan! Warna rambut putihnya perlahan berubah menjadi agak gelap, kerutan di wajahnya berkurang drastis, dan yang paling luar biasa... aura fisik yang begitu dahsyat mendadak meledak dari dalam dadanya saat Tubuh Sakti Tempur miliknya bangkit secara penuh!
Kakek Lu membuka matanya lebar-lebar, mendudukkan tubuhnya dengan napas terengah-engah namun dipenuhi oleh tenaga luar biasa yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya!
"K-Kakek?!" seru Xiao Chen terperanjat gembira, memeluk kakeknya erat-erat.
Kakek Lu menatap kedua tangannya yang kini kekar dan bertenaga, lalu mendongak menatap Tianchen dengan rasa takjub dan haru yang meluap-luap. Ia menyatukan kedua tangannya dan membungkuk hingga dahinya menyentuh tanah.
"Tuan Dermawan! Terima kasih atas anugerah kehidupan kedua ini!" seru Kakek Lu dengan suara lantang dan penuh rasa hormat. "Hamba dan cucu hamba bersedia memberikan jiwa dan raga kami untuk membalas kebaikan Tuan!"
Tianchen tersenyum tipis, berdiri tegak kembali.
"Kakek tua, anak perempuan ini memiliki bakat Elemen Air yang luar biasa, dan kau memiliki Tubuh Sakti Tempur yang sangat langka," ucap Tianchen dengan suara yang tenang namun penuh wibawa. "Sekte Awan Surya tidak memiliki kualifikasi untuk menampung kalian. Apakah kalian bersedia ikut denganku dan menjadi murid dari Sekte Pedang Langit?"
Mendengar tawaran tersebut, tanpa ragu sedikit pun, Kakek Lu dan Xiao Chen bersujud bersama di hadapan Tianchen.
"Hamba berdua sangat bersedia, Guru!" seru Kakek Lu dan Xiao Chen secara serempak.
Tianchen mengangguk puas. Dengan begini, dua dari empat kuota murid perwakilan yang ia cari telah berhasil didapatkan! Roda takdir Sekte Pedang Langit kini berputar semakin kencang menuju panggung kejayaan benua!
Melihat kondisi Kakek Lu yang baru saja membaik dan auranya yang belum sepenuhnya stabil, Kakek Lu serta Xiao Chen melangkah mendekat dengan gestur ragu-ragu. Kakek Lu menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, membungkuk perlahan kepada Tianchen.
"Guru... jika diizinkan, bisakah hamba dan cucu hamba kembali sebentar ke gubuk kami di ujung desa?" tutur Kakek Lu dengan suara yang masih agak parau. "Ada beberapa barang peninggalan almarhumah istri hamba dan pakaian lama Xiao Chen yang ingin kami bawa sebelum berangkat ke sekte."
Xiao Chen menarik-narik ujung jubah Kakek Lu, menatap Tianchen dengan mata bulatnya yang jernih. "Benar, Guru... Kami tidak akan lama, hanya ingin berkemas sebentar."
Tianchen memindai denyut nadi dan aliran energi dalam dada Kakek Lu yang masih bergejolak akibat kebangkitan paksa Tubuh Sakti Tempur. Ia mengangguk pelan.
"Kondisi tubuhmu memang belum sepenuhnya membaik untuk perjalanan jauh," ucap Tianchen tenang. "Baiklah, kita akan menginap di rumahmu malam ini. Sekaligus aku akan memberikanmu pil khusus agar kau bisa segera memulai langkah awal kultivasimu."
Mendengar hal itu, mata Xiao Chen berbinar gembira. "Terima kasih, Guru! Rumah kami sangat sederhana, tapi kami akan berusaha menyiapkan tempat beristirahat yang nyaman!"
Kediaman Kakek Lu terletak di pinggiran Desa Kayu Hijau, agak terpisah dari pemukiman warga lainnya. Rumah itu sangat sederhana, hanya terbuat dari susunan kayu tua dan atap jerami tebal. Namun, begitu Tianchen melangkah ke pelataran belakang rumah tersebut, matanya menyipit halus.
Di belakang gubuk kayu itu, terhampar sepetak tanah kecil seluas sepuluh meter. Murni, pekat, dan memancarkan pendar uap tipis berwarna kehijauan dari dalam celah tanahnya.
Tanah Spiritual Murni Tingkat Menengah... batin Tianchen. Pantas saja beberapa tanaman herbal liar yang tumbuh di sini memiliki kualitas yang cukup murni. Tempat ini sangat cocok untuk menanam obat-obatan herbal.
"Guru, mari masuk," panggil Kakek Lu ramah seraya membukakan pintu kayu gubuknya.
Setelah memasuki ruangan utama yang hanya berisi sebuah meja kayu dan beberapa bangku bambu, Tianchen mengibaskan lengan bajunya. Sebuah botol giok kecil berwarna hijau zamrud bermunculan di atas meja.
"Kakek Lu, duduklah," perintah Tianchen.
Kakek Lu dengan patuh duduk di atas bangku bambu, sementara Xiao Chen berdiri di sampingnya dengan cemas. Tianchen membuka tutup botol giok tersebut, mengeluarkan sebutir pil berwarna merah tua yang memancarkan aroma manis obat-obatan alam.
"Ini adalah Pil Panjang Umur," tutur Tianchen seraya menyodorkan pil tersebut. "Pil ini sanggup menambahkan usia harapan hidupmu sebanyak sepuluh tahun secara instan."
Kakek Lu terperanjat, matanya membelalak lebar. "S-Sepuluh tahun?! Guru, barang berharga seperti ini... bagaimana bisa diberikan padaku yang tua renta ini?!"
"Ambillah," sahut Tianchen datar namun tegas. "Ingatlah ini, Kakek Lu. Pil ini hanya sebagai penopang awal. Jika kau berhasil menembus ranah kultivasi dan mengumpulkan qi dalam tubuhmu, secara otomatis batas umurmu akan bertambah dengan sendirinya. Semakin tinggi tingkat kultivasi yang kau capai, semakin panjang usiamu. Bahkan jika kecepatan kultivasimu cukup pesat, perubahan fisik menjadi jauh lebih muda bisa terjadi padamu."
Xiao Chen menutupi mulutnya dengan kedua tangan, matanya berkaca-kaca oleh rasa haru. "Kakek... Kakek bisa muda lagi? Kakek bisa hidup lebih lama bersamaku?"