Kesalahan yang dilakukan Azalea Calista membuat suaminya kecewa dan berakhir ingin menceraikannya. Namun demi cinta yang tumbuh di hati Alea, dia bertekad untuk mengejar kembali cinta sang suami.
Sayangnya Alea harus kehilangan Fathan karena laki-laki itu pergi tanpa berpamitan. Hingga suatu hari, keduanya kembali dipertemukan dalam keadaan berbeda.
Akankah mereka kembali bersama atau justru memilih saling melepaskan bersama pasangan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 - Rencana Gavin
Tidak pernah mereka sangka hidup Alea seperti ini, mereka pikir keadaan keluarganya harmonis jika di lihat cara Gavin memberi sikap, terlihat baik-baik saja tidak banyak masalah, tapi ternyata ada kisah pilu tersimpan rapi di balik keceriaan Alea.
Dengan bukti dari Gavin makin meyakinkan pak RT dan Rahmat.
"Tes DNA ini sangat akurat, Alea dan pak Rahmat memang anak dan ayah kandung," kata pak RT seraya membaca hasil tes DNA dari rumah sakit ternama.
"Enggak, itu gak bener, Alea jelas bukan anak Kang Rahmat." Yuni mengelak, menolak percaya. Dia bertanya-tanya kapan Gavin melakukan ter DNA terhadap suaminya?
"Anda ingat kejadian 3 hari yang lalu dimana ada seseorang menjambak rambut suami Anda secara tiba-tiba?" tanya Gavin pada Rahmat dan Yuni juga ada di sana.
Mata Yuni terbelalak. "Kamu ..."
"Dia orang suruhan saya untuk mengambil rambutnya dan melakukan tes sama Alea, ini hasilnya. GAK LIHAT ADA TANGAL PENGELUARANNYA? BACA YANG BENER! JANGAN HANYA BISA BACA MANTRA PELET BUAT MELET DIA!"
Deg.
Alea langsung menoleh pada Gavin, terkejut omnya bicara seperti itu. "Om."
"Jangan iku ..." tapi lagi-lagi suara Yuni di potong segera sama Gavin.
"Diam! Saya belum selesai bicara, syetan!" sentak Gavin gamblang menyebut Yuni syetan.
"Anda kira saya tidak tahu kalau anda itu menggunakan pelet untuk memikat dia."
"Om gimana sih, masa jadi bahas pelet," tegur Alea.
"Dia itu pakai pelet sampai bapakmu manut saja dan berubah makanya bapak kamu tergoda sama ajian dia."
Beberapa hari setelah tahu Alea dan Fathan kembali dipertemukan, perasaanya merasakan sesuatu kalau keduanya masih memiliki perasaan yang sama. Itulah sebabnya Gavin diam-diam mencari tahu mengenai perubahan ayahnya Alea. Hasilnya sangat tidak pernah terduga, Yuni ternyata menggunakan pelet pengikat supaya Rahmat mau sama Yuni dan mengikuti serta mempercayainya.
"Jangan fitnah ya, saya tidak..." namun belum juga selesai ucapnya Yuni sudah di potong.
"Kalau kalian tidak mau menganggap kami mengganggu kalian legi ebih baik sekarang kalian ikut kata saya dengan syarat ..."
"Saya setuju! Pak, lebih baik terima saja syarat dari mereka agar tidak banyak bicara lagi di sini. Ibu pusing mendengarkan ocehan mereka," kata Yuni sebelum Gavin selesai bicara. Lebih baik cepat selesai dan saat mereka pergi dia bisa melakukan apapun terhadap orang-orang yang sudah membuatnya malu. "Lihat saja nanti, aku akan buat kalian gila seperti Kirana dan mati mengenaskan," ucapnya dalam hati.
"Cih, pelakor pelet ternyata, emang iya sih kagak cantik makanya nekat ke dukun, sinting lu," seru Bu Rima mencibir tindakan Yuni.
"Berisik! Sini lo gue robek mulut lo," sahut Yuni kesal.
Pak Rahmat masih diam menyimak dengan segala kebingungannya.
"Mau tawuran pun hayu agak takut sama nenek Lampir kayak situ," balas Bu Rima sudah menarik baju di lengannya ke atas.
Pak RT memijat dahinya, cukup pusing melerai mereka. Gavin seakan paham dan dia pun mencari Ayumi dan Aldi.
"Permisi, Om aku udah bawa pak Ustadz sesuai perintah Om Gavin," balas Ayumi berdiri di depan pintu bersama seorang ustadz.
Vale mengernyit sebab Ayumi tidak balik sama Aldi padahal tadi pergi bareng malah datang berdua sama Ustadz seharusnya bertiga bareng Aldi.
Tadi sebelum Gavin masuk ke dalam rumah Yuni, dia meminta Ayumi dan Aldi mencari ustadz di sekitar sana untuk mengantisipasi kejadian saat ini. Meski awalnya Ayumi dan Aldi tidak paham tapi mereka tetap mencari.
Fathan mengernyit bingung kenapa harus ada pak ustadz segala.
Sedangkan keadaan di luar semakin ramai, mengundang banyak perhatian orang dan juga sudah terdengar pembicaraan mereka.
"Tidak menyangka ya kalau Yuni selingkuhannya Rahmat, pantas saja waktu itu mereka ngebet mau nikah rupanya sudah punya hubungan sebelum itu."
"Kalian baru tahu ya, saya mah udah tahu lama dan lihat mereka lagi pelukan di jalan tapi takut sama Yuni."
"Iya ih, saya juga takut, tapi gak sampai kepikiran dia menggunakan pelet buat gaet Rahmat."
"Saya juga dulu sering lihat mereka di warung depan mesra-mesraan."
"Warung yang ada di ujung jalan kampung ini, bukan?"
"Iya, Bu. Yang itu. 'kan tempat itu cukup jauh dari sini, mereka berdua suka ketemu di sana."
"Tidak menyangka ya."
"Saya jadi menyesal pernah termakan sama pengakuan Yuni tentang Karina pergi sama selingkuhannya."
"Saya juga, ternyata ceritanya begitu."
Tidak lama kemudian bapak-bapak berpeci datang.
"Apa-apaan ini? Kenapa ustadz di datangkan kesini?" tanya Rahmat heran.
"Hari juga saya minta Anda menikahkan Alea dan Fathan kalau tidak saya akan bawa masalah ini ke jalur hukum dan kalian berdua akan dipenjara. Dan anda Yuni ..." Gavin melirik Bu Yuni bengis. "Jika tidak ingin terbongkar makin malu lagi lebih baik suruh suamimu menikahkan Alea SE KA RANG!" ujar Gavin penuh penekanan dalam setiap katanya.
Yuni gelagapan, dia tidak mau makin panjang urusannya dan memilih mengalah dulu.
"Ini gimana konsepnya sih, Bu? Jadi begini. Tadi tegang, sekarang membingungkan, terus pak ustadz ngapain datang kesini juga?" tanya Fathan pada ibunya.
"Mau sunat kamu lagi."
"Jangan!" Sontak tangan Fathan memegang si otan. "Kalau di sunat abis dong, Bu. Gimana bikin anaknya? Tega bener jadi orangtua."
"Makanya diam! Mau nikah gak? Gunanya ustadz di sini mau menikahkan kamu sama Alea. Makanya otak mu kondisikan, jangan kayak dua orang bodoh di hadapan kita, planga plongo kagak jelas, emang efek samping pelet mah gitu, mendadak oon," kata Bu Rima makin julid dan makin tidak terkendali ucapannya, nyelekit.
Reaksi Fathan mendengar hal itu malah girang. "Nikah, Bu? Fathan sama Alea mau nikah hari ini? Wah yang benar aja Bu? Tapi ... Alhamdulillah akhirnya nikah juga"
Fathan langsung mengangkat keduanya tangannya mendongak keatas mengusap sukur. "Akhirnya gak jadi duda lagi, gak bobo sendiri lagi." Lalu menoleh ke samping menatap Alea dengan binar bahagia. "Yank, kita mau dinikahkan, akhirnya bisa bobo bareng kamu lagi, bisa unyel-unyel kamu lagi, bisa bikin anak lagi."
Alea meringis malu diperhatikan semua orang sampai bersembunyi di balik bahu Gavin tersenyum malu.
Pletak.
Dengan gemas Bu Rima menjitak kepala anaknya hingga Fathan mengaduh. "FATHAN!! DASAR OTAK MESUM!"