Karena cinta bertepuk sebelah tangan, Aldin sulit untuk menerima cinta yang baru.
Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang wanita sampai keduanya melakukan hubungan terlarang dan menyebabkan gadis itu hamil.
"Kau harus menikahiku! Aku tidak ingin anak ini lahir tanpa seorang Ayah!" Renata Aprilia.
"Aku akan menikahi mu, tapi hubungan kita hanya sampai anak itu lahir." Aldin Maldives.
Lantas, akankah cinta hadir di antara keduanya? Lalu bagaimana kisah rumah tangga mereka?
*****
Lanjutan dari novel I'm Fine
JANGAN LUPA TEKAN LIKE, KOMEN DAN FAVORITNYA YA GUYS!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat Lama.
"Melani?" Rere berseru kaget melihat sosok sahabat lamanya tengah berdiri didepannya.
"Astaga Rere, udah lama banget kita nggak ketemu, kamu apa kabar, Re?" Melani langsung menghambur kedalam pelukan Rere dengan begitu bersemangat. Gadis berkacamata tebal itu tampak sangat antusias sekali bertemu dengan sahabat lamanya.
"Aku baik, kamu sendiri gimana? Ya ampun, udah lama banget ya," ujar Rere membalas pelukan Melani tak kalah eratnya.
"Iya, terakhir ketemu pas kelulusan SMA waktu itu 'kan? Kamu udah banyak berubah, Re." Melani menatap penampilan Rere yang menurutnya sangat berubah drastis. Dulu Rere yang ia kenal adalah wanita dengan penampilan tomboy, menggunakan kaos oblong dan celana sobek, itulah gaya Rere. Tapi, sekarang Rere sangatlah berbeda.
"Berubah gimana? Aku ya gini-gini aja Mel," ucap Rere menggelengkan kepalanya.
"Oh iya, aku udah telat banget nih. Kamu kuliah disini juga? Nanti kita ngobrol lagi ya, aku harus masuk kelas dulu." Rere teringat akan dirinya yang sudah terlambat masuk kelas.
"Bukan, aku udah nggak kuliah, Re. Aku ngajar disini," sahut Melani mengulas senyumnya.
"Wah, keren banget kamu. Jangan bilang kamu dosen dikelas aku?" Tebak Rere dengan mata yang membulat sempurna.
"Kamu kuliah dikelas bisnis ini?" Melani sama-sama membulatkan matanya.
Rere mengangguk cepat-cepat sebagai jawaban.
"Kebetulan banget, aku juga harus ngisi kelas disini," kata Melani dengan senyumnya.
"Wih keren-keren, kalau gitu aku mohon izin masuk ya Bu Mel, maaf untuk keterlambatannya," seloroh Rere dengan gayanya.
"Bisa aja kamu." Melani tertawa kecil melihat tingkah Rere.
Melani dan Rere memang seumuran, tapi Rere yang tidak kuliah sudah tertinggal jauh dengan temannya. Banyak temannya yang sudah bekerja seperti Melani saat ini. Rere sangat kagum sekali melihat sahabatnya bisa menjadi dosen diusia muda.
"Andai aku bisa kuliah dulu," gumam Rere menatap kagum pada sahabatnya yang dengan luwes menjelaskan materi.
"Sekarang aku nggak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, aku harus belajar bersungguh-sungguh agar bisa sukses. Dan yang pasti bisa membuat Aldin bangga." Rere memotivasi dirinya sendiri untuk terus bersemangat belajar. Tidak ada yang namanya terlambat dalam pendidikan.
Hampir dua jam Rere belajar dikelas, ia mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Melani. Sekarang dia juga sudah mengelola bisnis meksipun kecil-kecilan, jadi dia sudah bisa menerapkannya langsung semua poin penting yang baru saja di dapatkan.
"Kelas hari ini selesai, jika ada yang ditanyakan boleh ditanyakan," ujar Melani menutup kelas siang itu.
Semua siswa hanya bungkam menandakan kalau tidak ada yang perlu ditanyakan. Melani akhirnya segera mengakhiri kelas siang itu dan anak-anak keluar meninggalkan kelas masing-masing.
"Keren banget kamu Mel, aku kagum loh sama kamu." Rere sendiri lebih mementingkan menemui sahabatnya ini.
"Biasa aja kali, Re." Melani menggelengkan kepalanya atas pujian itu.
"Biasa aja gimana, umur masih muda tapi udah jadi dosen aja. Keren lah pokoknya," puji Rere dengan tatapan kagumnya.
Secara fisik sahabatnya ini belum banyak berubah, mungkin sekarang menjadi lebih pintar berdandan dan tubuhnya sangat langsing. Sedangkan Melani yang dulu ia kenal waktu SMA memiliki tubuh yang cenderung gempal.
"Kamu gimana, Re? Sekarang kerja apa?" Melani berganti bertanya pada sahabatnya. "Masih suka bantu-bantu Ibu kamu diwarung?" Tanyanya lagi, ia ingat dulu waktu SMA Rere sering membatu Ibunya di warung nasi milik keluarganya.
"Aku nggak kerja Mel, lagi coba buka usaha sendiri," sahut Rere seadanya.
"Oh." Melani terlihat terkejut mendengar jawaban Rere. "Usaha apa? Warung juga kayak Ibu kamu?" Tanya Melani mengernyitkan dahinya.
"Bukan, toko kue Mel. Kamu main dong ke toko kue aku, baru aja buka kemarin," sahut Rere tersenyum bangga jika mengingat toko kue kecil miliknya.
"Next time aja kali ya, Re. Aku siang ini ada janji sama temen aku, nggak apa-apa 'kan?" Ujar Melani tidak enak sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi.
"Oh nggak apa-apa dong." Rere menyahut tanpa keberatan sama sekali.
"Atau kamu kasih alamatnya aja, nanti biar aku mampir kalau ada waktu," ujar Melani sama tidak enaknya.
"Boleh." Rere mengangguk-angguk singkat, ia kemudian menuliskan alamat tokonya lalu mereka berpisah karena harus menyelesaikan urusan masing-masing.
Rere langsung melihat jam di ponselnya, sudah cukup siang. Ia harus segera pergi ke toko kue, ia ingin melihat perkembangan tokonya setelah sehari buka.
Lokasi toko kue yang sangat strategis dan dekat dari kawasan jantung kota Jakarta, membuat aksesnya pun sangat mudah. Tidak sampai 30 menit, Rere sudah sampai ditoko kuenya. Dilihatnya satu pegawainya terlihat sibuk melayani pelanggan.
"Hai, apakah butuh bantuan?" Ucap Rere.
"Bu Rere, mengagetkan saja," ucap Salsa pegawai yang bekerja ditoko kue Rere.
"Gimana hari ini? Rame ya kelihatannya?" Ujar Rere melihat etalase depan yang sudah terlihat kosong.
"Rame banget, Bu. Banyak yang suka kue Ibu, tadi juga ada yang pesan buat besok," sahut Salsa mengulas senyum tipisnya.
"Oh ya? Maaf ya kalau buat kamu capek, sini aku bantu," ujar Rere mengelus lengan pegawainya dengan lembut, ia kemudian membantu Salsa menambahkan topping pada cake pesanan pelanggan.
"Nggak capek kok, Bu. Ini kan memang tugas aku," ucap Salsa sama sekali tidak capek, ia malah tidak enak kalau Rere lebih perhatian padanya.
"Nggak apa-apa kalau mau istirahat, kamu udah makan belum? tokonya tutup jam 5 aja deh, nanti kita siapin pesanan buat besok," kata Rere lagi.
"Boleh Bu." Salsa mengangguk singkat.
Setengah hari sisa waktu yang Rere lakukan adalah membuat kue Red Velvet yang paling diminati pelanggan. Ia juga menjelaskan pada Salsa tentang beberapa resep kue yang belum wanita itu ketahui.
Pokoknya setengah hari itu Rere sangat sibuk sampai tidak menyadari suaminya datang ke toko.
"Tuan Aldin?" Salsa yang lebih dulu mengetahuinya sedikit kaget saat melihat Aldin.
"Ssssttt, mana Ibu?" Tanya Aldin memberikan gestur untuk Salsa diam.
"Ibu ada di dalam," sahut Salsa menunjuk bagian dapur.
Aldin mengangguk singkat. "Ini, kamu siapkan diruangan Ibu," ujar Aldin menyerahkan paper bag yang berisi makanan, ia curiga kalau istrinya itu belum makan karena sejak tadi Rere juga belum mengangkat panggilannya.
Aldin segera masuk ke area dapur kecil yang ada di toko itu, ia menggelengkan kepalanya saat melihat Rere yang begitu fokus membuat kue sampai tidak peduli rambut dan pipi wanita itu terkena tepung semua.
"Hm, bisakah aku meminta Nona Rere untuk berhenti bekerja dulu?" Ucap Aldin mendudukan tubuhnya di pantry dapur seraya melipat tangan diatas perut.
"Al?" Rere tersentak melihat sosok suaminya, namun sedetik kemudian ia mengulas senyum tipisnya. "Sejak kapan aku ada disana?" Tanya Rere.
"Baru saja, kau tidak ingin menyambut suamimu?" Ucap Aldin mengerutkan dahinya.
"Hahaha, sebentar-sebentar Tuan manja, aku akan menyelesaikan ini dulu." Rere tertawa kecil, ia mengambil kue yang masih di dalam oven lalu meletakkannya diatas pantry baru menemui suami manjanya.
"Kenapa tidak bilang dulu mau kesini? Kamu udah selesai kerja?" Tanya Rere berdiri dihadapan suaminya.
"Tidak bilang?" Aldin mendengus kecil mendengar ucapan istrinya. "Coba lihat ponselmu Nona, aku sudah menghubungimu sampai lelah, tapi kau sama sekali tidak mengangkatnya," ujar Aldin dengan wajah kesalnya, ia mengusap pelan pipi Rere yang terkena tepung.
"Lihatlah, baru satu hari bekerja, kau sudah jadi seperti ini. Bagaimana kalau satu bulan?" Gerutu Aldin berganti membersihkan rambut istrinya.
"Hahaha, aku senang kalau kau seperti ini." Rere kembali tertawa, ia memeluk pinggang suaminya seraya menatapnya penuh cinta.
"Senang karena sudah melupakanku?" Sergah Aldin balas memeluk pinggang istrinya.
"Tentu saja tidak, aku senang kau perhatian padaku. Makasih ya Tuan Manja," kata Rere memberikan senyuman manis dan wajah menggemaskannya pada Aldin.
"Dasar, beraninya kau menggodaku," ujar Aldin semakin mengeratkan pelukannya, dengan gemas ia mencium bibir istrinya, tapi hanya sebentar lalu melepaskannya.
"Kalau aku tidak ingat kau belum makan, pasti aku akan menerkam mu disini. Ayo kita makan dulu," kata Aldin mengusap pelan bibir Rere yang basah karena ulahnya barusan.
"Kau tahu aku belum makan?" Tanya Rere sedikit kaget.
"Semua tentangmu aku tahu."
Happy Reading.
TBC.
Rere keras kepala 👎😡
buta itu gelaff
gelap itu banyak nyamuknya 😂😂😂🤣🤣🤣