Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raja Iblis Tidak Makan Anak Kecil
Kael tidak langsung bergerak.
Boneka kelinci di pelukan Aelora baru saja berbicara menggunakan suaranya—lebih tua, lebih serak, dan terdengar seperti seseorang yang telah melewati terlalu banyak malam tanpa tidur.
Eirna membeku dengan botol obat masih di tangan.
“Kau mendengarnya?” tanya Kael.
“Saya berharap tidak.”
Mata kancing boneka itu kembali diam. Jahitan di perutnya berhenti bergerak. Jika Kael tidak mendengar sendiri, benda tersebut akan terlihat seperti mainan buruk yang kebetulan dibawa seorang anak dari hutan.
Kael mengulurkan tangan.
Sebelum jarinya menyentuh telinga boneka, Aelora menggeliat dalam tidur dan menarik Piko lebih erat ke dadanya.
“Jangan,” gumamnya.
Kael berhenti.
“Aelora.”
Anak itu tidak membuka mata.
“Kau akan membangunkannya,” kata Eirna.
“Itu boneka baru saja mengancamku dengan suaraku sendiri.”
“Secara teknis, ia memperingatkan Anda.”
“Perbedaannya tidak banyak.”
Eirna menyimpan kembali botol obatnya. “Kita bisa memeriksanya setelah tiba di istana. Di dalam kereta, rune yang salah dapat meledakkan seluruh atap.”
Kael melirik langit-langit kereta.
“Kereta ini seharusnya tahan ledakan.”
“Bukan alasan untuk menguji.”
Boneka itu tidak berbicara lagi.
Kael akhirnya menarik tangannya dan duduk kembali. Tatapannya tetap tertuju pada Piko, seolah sedang menunggu benda itu membuka mulut sekali lagi.
Kau akan membunuhnya lagi.
Bukan membunuhnya.
Membunuhnya lagi.
Kata terakhir itulah yang mengganggunya.
Kael belum pernah melihat anak ini sebelum sore tadi. Setidaknya, ia yakin belum pernah. Wajah kecil Aelora tidak mengingatkannya pada siapa pun, tetapi gelang perak di pergelangan anak itu adalah perkara lain.
Ia pernah melihat gelang serupa bertahun-tahun lalu.
Di tangan Mirael Arvand.
Kael memandang keluar jendela. Hutan bergerak di balik kaca, gelap dan basah. Ia seharusnya hanya memeriksa perbatasan, memastikan kawanan serigala bayangan tidak masuk terlalu dekat ke jalur perdagangan. Tidak ada rencana membawa pulang anak manusia, apalagi anak dengan tanda malaikat dan benda terkutuk yang menggunakan suaranya.
Namun membiarkan Aelora di hutan juga bukan pilihan.
“Yang Mulia,” kata Eirna pelan, “Anda mengenali gelangnya?”
Kael tidak menoleh. “Tidak.”
“Jawaban Anda terlalu cepat.”
“Aku tidak membayar tabib untuk menginterogasiku.”
“Saya juga tidak dibayar cukup untuk menangani boneka yang berbicara dengan suara masa depan.”
Kael menatapnya.
Eirna mengangkat kedua tangan. “Baik. Saya diam.”
Kereta terus bergerak.
Tidak lama kemudian, pohon-pohon mulai jarang. Kabut menipis dan memperlihatkan dinding batu hitam yang membentang di sepanjang perbatasan Nocthara. Menara-menara penjaga berdiri pada jarak tertentu, masing-masing diterangi api ungu.
Penjaga gerbang sudah membuka jalan sebelum kereta tiba.
Mereka membungkuk ketika lambang kerajaan terlihat pada pintu, lalu mengangkat kepala saat salah seorang prajurit pengiring berbisik bahwa Raja membawa seorang anak manusia.
Kabar itu bergerak lebih cepat daripada kereta.
Di pos kedua, lima penjaga berdiri berdesakan untuk mengintip ke jendela. Pada pos ketiga, seorang kapten datang bersama dua penyihir pertahanan dan sebuah tombak yang biasanya digunakan untuk menangkap binatang suci.
Kael membuka jendela sedikit.
“Apa yang kalian lakukan?”
Kapten itu menegakkan punggung. Tanduk kirinya belum tumbuh sempurna dan tampak lebih pendek daripada tanduk kanan.
“Kami menerima laporan bahwa ada manusia di dalam kereta, Yang Mulia.”
“Laporan itu benar.”
“Manusia kecil.”
“Masih benar.”
Kapten tersebut menatap ke balik bahu Kael. Ia berhasil melihat ujung rambut basah Aelora dan telinga boneka hitam yang muncul dari balik mantel.
“Apakah dia tahanan?”
“Tidak.”
“Upeti?”
“Tidak.”
“Bahan pemeriksaan?”
Eirna menutup wajah dengan telapak tangan.
Kael memandang kapten itu sampai warna wajahnya berubah.
“Dia anak-anak,” kata Kael.
“Ya, Yang Mulia.”
“Anak-anak bukan bahan pemeriksaan.”
“Tentu. Saya hanya—”
“Dan simpan tombak itu sebelum dia bangun dan mengira Nocthara sama buruknya dengan manusia.”
Kapten itu buru-buru memberi isyarat kepada bawahannya. Tombak panjang tersebut disembunyikan di belakang pos, meski ujungnya masih terlihat dari samping dinding.
Kereta melanjutkan perjalanan.
Eirna bersandar dan menghela napas. “Saat tiba di istana, seluruh pelayan pasti sudah mendengar.”
“Bagus. Mereka bisa menyiapkan kamar.”
“Kamar mana?”
Kael berpikir sejenak.
Istana Bulan Merah memiliki ratusan kamar, tetapi sebagian besar tidak pernah digunakan. Kamar tamu terlalu dekat dengan ruang dewan. Sayap timur sedang direnovasi setelah salah satu gargoyle atap jatuh dan menghancurkan tiga jendela. Sayap utara terlalu dingin bagi anak manusia.
“Kamar dekat taman dalam,” katanya.
Eirna menoleh. “Kamar keluarga kerajaan?”
“Letaknya paling hangat.”
“Dewan akan bertanya.”
“Dewan selalu bertanya.”
“Dan Anda selalu marah ketika mereka bertanya.”
“Mereka seharusnya belajar.”
Aelora bergerak lagi.
Dahinya berkerut. Napas yang tadi tenang berubah pendek-pendek. Tangannya mencengkeram tubuh boneka sampai buku-buku jarinya memutih.
“Tidak,” gumamnya. “Jangan buka.”
Eirna segera berpindah tempat dan menyentuh dahinya.
“Demamnya naik.”
Kael melihat butir keringat di pelipis Aelora, meski tubuhnya masih menggigil.
“Apa yang dia lihat?”
“Mungkin mimpi buruk.”
Aelora menggeleng di dalam tidur.
“Gerbangnya… tutup gerbangnya.”
Kael menegang.
Eirna menatapnya, tetapi tidak berkata apa-apa.
Aelora mulai meronta. Mantel di tubuhnya terlepas dari salah satu bahu. Garis hitam di pergelangan tangannya bersinar, lalu cahaya tipis merambat sampai ke siku.
Eirna mengambil ramuan penenang.
Sebelum sempat memberikannya, Aelora terbangun.
Ia menarik napas panjang, lalu memandang sekeliling dengan panik. Butuh beberapa detik sampai matanya mengenali bagian dalam kereta.
“Tenang,” kata Eirna. “Kau hanya bermimpi.”
Aelora tidak menjawab. Pandangannya langsung mencari Kael.
Ia masih ada.
Duduk di tempat yang sama, dengan satu tangan pada lutut dan wajah yang berusaha terlihat biasa saja.
Aelora menunduk pada Piko. Boneka itu tidak bergerak.
“Apa kita sudah sampai?”
“Belum,” jawab Kael. “Sebentar lagi.”
Aelora memperhatikan mantel yang menutupi tubuhnya. “Maaf.”
“Untuk apa?”
“Mantelmu kotor.”
Kael melihat bekas lumpur pada ujung kain. “Bisa dicuci.”
“Orang-orang di rumah lama marah kalau aku mengotori barang.”
“Orang-orang di rumah lamamu tampaknya mudah marah.”
Aelora memikirkan itu, lalu mengangguk.
Eirna menyodorkan cangkir. “Minum sedikit.”
“Apa itu?”
“Air.”
Aelora mencium isinya terlebih dahulu.
Eirna memandang Kael, lalu kembali menatap anak tersebut. “Benar-benar hanya air.”
Aelora minum dua teguk.
“Apakah Piko berbicara?” tanyanya tiba-tiba.
Kael dan Eirna saling pandang.
“Kenapa kau menanyakan itu?” ujar Kael.
Aelora meneliti wajah mereka. “Berarti dia bicara.”
“Kau tahu bonekamu bisa berbicara?”
“Kadang-kadang.”
Eirna mengerutkan dahi. “Sejak kapan?”
“Di hutan.”
“Apa yang dia katakan?”
Aelora ragu. “Hal-hal aneh.”
“Seperti apa?”
“Dia pernah menyuruhku lari.”
“Dengan suara siapa?”
Aelora memegang telinga boneka yang hampir putus. “Aku tidak tahu.”
Kael mencondongkan tubuh sedikit. “Tadi dia menggunakan suaraku.”
Aelora berhenti mengelus Piko.
Ia tidak tampak terkejut. Justru itulah yang membuat Kael semakin curiga.
“Apa yang dikatakannya?” tanya Aelora.
Kael tidak langsung menjawab. “Dia menyuruhku tidak membawamu ke istana.”
Wajah Aelora memucat.
“Lalu?”
“Katanya aku akan membunuhmu lagi.”
Roda kereta menghantam batu. Tubuh Aelora bergeser sedikit, tetapi ia tidak bereaksi. Tatapannya tertuju pada boneka di tangannya.
“Dia berbohong,” katanya.
“Kau terlihat seperti sedang meyakinkan dirimu sendiri.”
Aelora mengangkat wajah. “Kau tidak membunuhku.”
“Benda itu berkata lain.”
“Kau tidak membunuhku,” ulangnya, lebih keras.
Kael memperhatikan mata ungunya. Ada ketakutan di sana, tetapi bukan ketakutan seorang anak yang baru mendengar ancaman. Itu lebih mirip ketakutan seseorang yang sedang menjaga rahasia agar tidak jatuh dari mulutnya.
“Kita pernah bertemu?” tanya Kael.
Aelora menggeleng.
“Pikirkan baik-baik.”
“Aku belum pernah ke Nocthara.”
“Bukan itu yang kutanyakan.”
Aelora menunduk lagi.
Kereta mulai menanjak. Dari balik jendela, Istana Bulan Merah akhirnya terlihat di kejauhan. Bangunan itu berdiri di atas bukit batu, dikelilingi menara tinggi dan dinding berlapis. Bulan merah yang belum sepenuhnya muncul tergantung di belakangnya, membuat seluruh istana tampak seperti bayangan besar.
Aelora mengenal setiap menaranya.
Menara barat tempat Ryn pernah bersembunyi setelah dihukum. Balkon kecil dekat perpustakaan tempat Nira menjatuhkan tiga pot bunga karena mencoba mengintip rapat. Jendela tinggi ruang takhta yang kelak pecah saat perang pertama mencapai ibu kota.
Rasa rindu datang begitu cepat hingga dadanya sakit.
Ia kembali.
Belum menjadi rumah, tetapi tetap tempat pertama yang pernah menerima dirinya.
“Menakutkan?” tanya Kael.
Aelora menghapus sudut matanya sebelum air mata jatuh. “Tidak.”
“Kebanyakan manusia menangis saat pertama kali melihat istana.”
“Aku tidak menangis.”
“Matamu basah.”
“Itu karena demam.”
Eirna mengangguk seolah sedang mendukung alasan tersebut. “Demam memang sering membuat mata berair.”
Kael tidak percaya, tetapi membiarkannya.
Kereta melewati jembatan batu. Di bawahnya mengalir sungai berwarna hitam dengan ikan-ikan kecil yang mengeluarkan cahaya biru. Para penjaga di gerbang istana berdiri dalam dua baris.
Begitu pintu kereta dibuka, Aelora mendengar keributan dari halaman.
Puluhan pelayan berkumpul di tangga depan. Mereka berusaha terlihat seperti sedang menjalankan tugas, padahal sebagian membawa benda-benda yang tidak masuk akal.
Seorang pelayan bertanduk membawa nampan penuh daging mentah.
Pelayan lain memegang kandang besi kecil.
Kepala dapur datang bersama panci besar.
Kael turun lebih dulu. “Apa ini?”
Kepala pelayan, lelaki tinggi bernama Orin, membungkuk. “Kami mendengar Yang Mulia membawa anak manusia.”
“Lalu?”
“Kami tidak tahu apa yang dimakan anak manusia.”
Aelora masih duduk di dalam kereta. Ia melihat nampan daging mentah, kemudian panci yang isinya mengeluarkan gelembung hijau.
Kael mengikuti arah pandangnya.
“Singkirkan itu.”
Kepala dapur tampak tersinggung. “Ini sup sumsum naga, Yang Mulia.”
“Dia tujuh tahun.”
“Anak naga memakannya sejak usia tiga.”
“Dia bukan naga.”
Pelayan yang membawa kandang mengangkat tangan ragu-ragu. “Apakah anak manusia perlu dimasukkan ke sini agar tidak menggigit?”
Semua orang menoleh kepadanya.
“Aku pernah mendengar manusia menggigit kalau ketakutan,” lanjutnya, lalu perlahan menurunkan kandang.
Kael memijat pangkal hidung.
“Raja Iblis tidak makan anak kecil,” katanya kepada seluruh halaman. “Anak kecil juga tidak disimpan dalam kandang. Siapa pun yang menyebarkan cerita lain akan membersihkan kandang chimera selama satu bulan.”
Para pelayan langsung berpencar. Kandang besi menghilang paling cepat.
Kael berbalik ke arah kereta dan mengulurkan tangan.
Aelora menatap telapak tangannya.
Ia dapat turun sendiri. Namun pergelangan kakinya masih sakit, dan halaman dipenuhi mata yang mengawasi.
Akhirnya ia menerima bantuan itu.
Kael mengangkatnya dari kereta. Ia bermaksud menurunkannya setelah kedua kaki Aelora mencapai tanah, tetapi anak itu meringis begitu berat badannya bertumpu pada kaki kanan.
Tanpa berkata apa-apa, Kael mengangkatnya kembali.
Aelora memeluk Piko dengan satu tangan. Tangan lainnya mencengkeram bagian depan pakaian Kael agar tidak jatuh.
Orin memperhatikan dengan mata melebar. Eirna berdeham, memberi isyarat agar ia tidak berkomentar.
Kael membawa Aelora menaiki tangga.
Istana terasa sama seperti dalam ingatannya: lantai hitam mengilap, pilar tinggi, lampu-lampu ungu yang melayang tanpa rantai. Namun sekarang semuanya tampak jauh lebih besar karena ia melihatnya dari tubuh anak tujuh tahun.
Saat memasuki aula utama, dua gargoyle batu di atas pintu menoleh.
Salah satunya mengendus.
“Bau manusia,” katanya.
Gargoyle kedua membuka satu mata. “Kecil sekali.”
“Diam,” ujar Kael.
Kedua patung kembali kaku.
Aelora menahan tawa.
Kael melihatnya. “Apa?”
“Mereka selalu bicara terlalu banyak.”
Langkah Kael berhenti.
Aelora menyadari kesalahannya terlambat.
“Selalu?” tanyanya.
Ia berusaha mencari alasan. “Maksudku… patung bicara biasanya begitu.”
“Berapa banyak patung bicara yang pernah kautemui?”
Aelora menatap bahunya dan berpura-pura tertarik pada sulaman mantel.
Kael kembali berjalan, tetapi ia tidak melupakan jawaban itu.
Mereka melewati tangga besar menuju sayap keluarga kerajaan. Beberapa pelayan mengikuti dari jauh sambil berbisik. Aelora dapat merasakan tatapan mereka pada rambut pucat, pakaian manusia, dan tanda di tangannya.
Semakin banyak mata memandang, semakin erat ia mencengkeram pakaian Kael.
“Kau akan jatuh kalau terus bergerak,” katanya.
“Aku tidak bergerak.”
“Kau gemetar.”
Aelora menarik napas.
Mungkin karena demam. Mungkin juga karena lorong ini membawa terlalu banyak kenangan. Di ujungnya terdapat ruang yang kelak dipakai Kael untuk menyembunyikannya saat istana diserang.
Ruang tempat ia menunggu sampai suara pertempuran berhenti.
Ruang tempat Kael tidak pernah kembali.
Tanpa sadar, Aelora menempelkan wajah pada bahunya.
Kael merasakan kain pakaiannya menjadi basah.
“Aelora?”
Anak itu mencoba menjawab, tetapi tangisnya keluar lebih dulu. Bukan tangisan keras. Hanya sesenggukan kecil yang selama ini berusaha ia tahan sejak ditinggalkan di hutan.
Kael berhenti di tengah lorong.
Para pelayan ikut berhenti.
Ia tampak benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
“Apakah kakimu sakit?”
Aelora menggeleng.
“Demam?”
Ia kembali menggeleng.
“Lalu kenapa menangis?”
Aelora ingin berkata bahwa ia merindukannya. Bahwa di kehidupan lain ia menunggu bertahun-tahun untuk kembali ke lorong ini. Bahwa ia masih mengingat darah Kael di tangannya sendiri.
Namun kalimat yang keluar jauh lebih sederhana.
“Aku takut kau pergi.”
Kael memandang wajah kecil yang tersembunyi di bahunya.
“Aku tidak pergi ke mana-mana.”
“Kau pernah.”
Ucapan itu nyaris tidak terdengar.
“Apa?”
Aelora mengangkat wajah. Air mata memenuhi matanya. Dalam keadaan lelah dan demam, ia lupa bahwa lelaki di depannya belum mengenal panggilan itu.
“Jangan tinggalkan aku lagi, Kae.”
Seluruh lorong mendadak sunyi.
Orin menjatuhkan buku catatannya.
Eirna menoleh cepat kepada Kael.
Wajah Raja Iblis kehilangan seluruh ekspresi.
Tidak ada seorang pun di istana yang memanggilnya Kae.
Tidak ada seorang pun yang masih hidup.
Panggilan itu hanya pernah digunakan oleh satu orang bertahun-tahun lalu.
Mirael Arvand.