NovelToon NovelToon
Takhta Berdarah Sang Don

Takhta Berdarah Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Daneen_Nis

Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.

Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.

Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 - Luca Romano

Mansion Alvaro diselimuti keheningan.

Semua mata tertuju pada foto kecil yang tergeletak di atas meja ruang kerja.

Seorang anak laki-laki berusia lima tahun tersenyum ke arah kamera. Wajahnya sangat mirip dengan Raven.

Di balik foto itu tertulis sebuah nama.

Luca Romano.

Raven mengembuskan napas panjang.

"Jadi... ini nama saudaraku."

Leo membuka laptop dan mulai menelusuri semua data yang dimiliki organisasi.

"Hasil pencarian awal sudah keluar, Tuan."

"Apa yang kau temukan?"

Leo menampilkan beberapa dokumen di layar.

"Luca Romano memang ada."

"Tapi identitasnya menghilang sekitar lima belas tahun yang lalu."

"Menghilang?"

Leo mengangguk.

"Tidak ada catatan pekerjaan, pendidikan, ataupun alamat."

"Seolah-olah seseorang menghapus seluruh jejaknya."

Aurora menyilangkan kedua tangannya.

"Berarti ada orang yang sengaja melindunginya."

Atau...

Raven menyambung kalimat itu.

"...mengurungnya."

Ruangan kembali sunyi.

Di sisi lain kota...

Damian berdiri di depan jendela sebuah gedung tua.

Salah seorang anak buahnya datang membawa laporan.

"Tuan, Raven sudah mengetahui nama Luca Romano."

Damian tersenyum tipis.

"Lebih cepat dari yang kuduga."

"Apakah kita harus menangkap Luca sekarang?"

Damian menggeleng.

"Tidak."

"Biarkan Raven menemukannya."

"Semakin dekat mereka..."

"...semakin mudah menghancurkan keduanya sekaligus."

Keesokan paginya, Leo kembali memasuki ruang kerja.

"Kami menemukan satu petunjuk baru."

Raven langsung berdiri.

"Di mana?"

"Sebuah rekening bank lama atas nama keluarga Romano."

"Apa hubungannya?"

"Setiap bulan masih ada seseorang yang mengirim uang ke rekening itu."

"Siapa pengirimnya?"

Leo menggeleng.

"Nama pengirim disamarkan."

"Tapi lokasi transaksi terakhir berada di Kota Ardent."

Raven segera mengambil jasnya.

"Kita berangkat hari ini."

Aurora ikut berdiri.

"Aku ikut."

"Tidak."

Aurora menatap Raven kesal.

"Kau selalu bilang tidak."

"Karena aku tidak ingin kau dalam bahaya."

"Aku sudah berkali-kali berada dalam bahaya bersamamu."

Raven terdiam.

Aurora benar.

Ia tak lagi bisa menjauhkan wanita itu dari dunia yang telah menyeret mereka berdua.

Akhirnya Raven mengangguk pelan.

"Baik."

"Tapi kau harus tetap di dekatku."

Aurora tersenyum kecil.

"Itu memang rencanaku."

Perjalanan menuju Kota Ardent memakan waktu hampir lima jam.

Mereka berhenti di sebuah bank tua yang menjadi tujuan transaksi terakhir.

Manajer bank yang sudah lanjut usia menerima mereka di ruang kerjanya.

"Maaf, data nasabah bersifat rahasia."

Raven meletakkan lencana organisasi Alvaro di atas meja.

"Aku hanya mencari keluargaku."

Pria tua itu memandang Raven beberapa saat.

Tatapannya berubah terkejut.

"Wajahmu..."

"Kau sangat mirip Adrian Valerio."

Raven langsung maju selangkah.

"Anda mengenalnya?"

Pria tua itu mengangguk perlahan.

"Dulu Adrian sering datang ke bank ini."

"Terakhir kali..."

"...ia datang bersama dua anak kecil."

Raven menahan napas.

"Dua anak?"

"Ya."

"Salah satunya menangis terus."

"Sedangkan yang satu lagi terus menggenggam tangan ayahnya."

Pria tua itu membuka lemari arsip.

Setelah beberapa menit mencari, ia menemukan sebuah amplop cokelat.

"Ini titipan Adrian."

"Beliau berkata, kalau suatu hari ada anak yang wajahnya mirip dengannya datang ke sini, serahkan surat ini."

Raven menerima amplop itu dengan tangan bergetar.

Perlahan ia membukanya.

Di dalamnya hanya ada satu lembar surat.

"Raven, jika kau membaca surat ini, berarti kau berhasil bertahan hidup."

"Jangan mencari adikmu."

"Semakin jauh dia darimu, semakin besar peluangnya untuk tetap hidup."

Tatapan Raven berubah tajam.

"Ayah..."

Belum sempat ia melanjutkan membaca, suara ledakan besar terdengar dari luar bank.

Boom!

Kaca-kaca gedung bergetar.

Leo segera mengeluarkan pistol.

"Tuan!"

"Musuh datang!"

Dari jendela, mereka melihat puluhan pria bersenjata mengepung seluruh bangunan.

Di antara mereka berdiri Damian dengan senyum penuh kemenangan.

"Raven!"

"Akhirnya aku menemukanmu lagi."

Raven melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam saku.

Tatapannya berubah dingin.

"Kali ini..."

"...tidak ada lagi tempat untukmu melarikan diri."

1
Sunflower_6520
Nurut ae Ra, dr pada nyawa lo melayang...
Sunflower_6520
Itu tandanya Aurora punya hati Raven... emang kayak elo? jangan kan hati, simpati aja kayaknya lo gak punya🗿
Sunflower_6520
Urusan Aurora lah, orang dia kan dokter? dimana" dokter itu tugasnya menyelamatkan, gak mungkin ada orang kritis dia biarin gitu aja
Sunflower_6520
Lama kelamaan sih Aurora bisa trauma...
Sunflower_6520
Tamu modelan apa? ini namanya penculikan 🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!